Posted in fiction, romance

Wine Day

Aku…

Seharusnya tidak berada di sini.

Karena melihatmu… membuatku semakin berat untuk pergi.

Tapi…

Aku…  walau sesingkat apapun, aku ingin melaluinya bersamamu…

 

Dakara ima ai ni yuku sou kimetanda
— sekarang kuputuskan untuk bertemu dengamu

***

“JeBi, neon wasseo?”

Sebuah senyum menyambut kemunculanku dalam ruang yang sama besarnya dengan satu bangunan rumah susun yang kutinggali sekarang. Ruangan yang akan segera kutinggalkan. Rumah susun yang dalam beberapa jam tidak akan lagi menjadi tempat tinggalku.

Sabeum.” Aku beranjak ke hadapannya dan membungkuk memberi hormat. “Sabeum seorang diri?” tanyaku, mengedarkan pandang ke seisi ruangan, pada sosok-sosok berpakaian serba putih yang seluruhnya mengenakan ikat pinggang berwarna.

“Park Sabeumnim sedang berganti pakaian.”

Oh…

Tak berapa lama seorang pria paruh baya keluar dari satu-satunya ruang ganti di tempat ini. “Sabeumnim.” Kembali aku bungkuk memberi hormat.

Kerut membingkai bibir sosok paling dihormati itu ketika dia tersenyum usai membalas hormatku. “JeBi-ya~ kapan pindah ke Seoul?”

“Sore ini, Sabeumnim.”

“Cepat sekali. Hari ini latihan terakhir di sini kalau begitu.”

Dengan enggan aku mengangguk. Geurae, hari ini latihan terakhirku. Kesempatan terakhirku. Untuk menyentuh lantai ruang ini dengan tubuhku… mencium aroma kayu yang samar-samar tercium setiap kali aku melakukan push up. Untuk mendengar instruksi dari Park Sabeumnim… memperhatikan demo dari Jang Sabeum… oh, kurasa taegeuk 7 kemarin adalah taegeuk terakhir yang kupelajari di sini.

Setelah ini, tidak akan ada lagi berseru bersama tim ini… latihan menendang target yang dipegang oleh Lee Sabeum… Lee Sabeum…

***

Kali ini Park Sabeumnim membagi kami dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan 4 orang. Secara bergiliran salah seorang dari kami memegang target sementara anggota yang berada di urutan setelahnya menyarangkan dolyo pada target tersebut. Awalnya semua baik-baik saja sampai rasa lelah merontokkan semangat satu demi satu anggota timku. Aku hanya bisa memandang pasrah pada mereka yang mulai merapat ke dinding lalu merosot begitu saja ditarik gravitasi. Saat menimbang apa sebaiknya aku menyusup ke kelompok lain, suara dua benda beradu terdengar dari belakangku. Target yang tadi ditinggalkan begitu saja di lantai kini berada di tangan Lee Sabeum. “Ayo.” Lee Sabeum memposisikan target itu pada jangkauan dolyo-ku. Kuarahkan kaki kananku dan benda berwarna hitam itu mengeluarkan suara “tak” saat punggung kakiku berhasil menamparnya. Tidak sampai sedetik target itu lenyap ke balik punggung Lee Sabeum, sebagai gantinya target dalam genggaman tangan kirinya menungguku. Kembali aku menendang. Suara itu kembali terdengar. Aku bergerak maju. Lee Sabeum mundur seirama. Kami menyebrangi ruangan. Lalu kembali. Menyebrang lagi. Dan kembali lagi.

Sesekali tendanganku meleset dan mengenai jemarinya. Otomatis aku menggigit bibir bawahku, tapi Lee Sabeum tidak bereaksi apapun. Dia tetap mengulurkan target itu bergantian, kanan kiri kanan kiri. Ekspresinya sangat serius. Aku suka melihatnya. Aku bahkan suka melihat kakinya yang bergerak mundur teratur. Aku suka melihat kuda-kudanya yang mantap. Aku suka caranya memegang target.

Setelah beberapa kali menyebrangi ruangan, Lee Sabeum mendongak dan mendapati aku yang sedang mengusap keringat dengan lengan dobog. “Masih kuat?”

 Aku mengangguk, “Ne, Sabeum.” Kembali Lee Sabeum memasang target. Dolyo-ku langsung tepat mengenai tangannya.

 

Ya! JeBi, jangan melamun!” Jang Sabeum menjentikkan jarinya di depan wajahku. “Ayo sparing denganku.” Sembari berkata demikian, Jang Sabeum melemparkan sebuah body protector ke arahku.

Ne!” sahutku sesemangat mungkin seraya melewatkan kepalaku melalui lubang pada body protector dan berlari ke arah Jang Sabeum. Dua setengah jam, kami sudah melakukan pemanasan, sudah melatih chagi, jireugi, dan makki. Pun sudah mengulang seluruh taeguk yang telah kami pelajari dan sekarang dojang berisi anak-anak yang kelelahan serta sakit sekujur tubuh usai melakukan sparing. Tapi alasanku datang hari ini… dia… tidak ada.

Body protector serasa semakin ketat melekat pada tubuhku setiap kali tarikan kuat Jang Sabeum terasa saat menjalin menjalin pita pengikat di punggungku. Ini… tiga tahun lalu adalah pertama kalinya aku merasakan sensasi ini. Dinding sewarna telur asin di seberang sana semakin menarik ingatanku kembali ke masa itu. Saat aku menghadapi sparing-ku yang pertama.

Kami duduk bersimpuh di sepanjang dinding, menunggu giliran. Setiap kali Park Sabeumnim akan memanggil 2 orang untuk berpasangan dalam sparing. Segera saja ruangan dipenuhi pasangan-pasangan yang saling melemparkan tendangan dan berteriak. Kanan kiriku pun mulai lengang. Hanya tersisa aku dan beberapa anak dari tingkatan yang lebih tinggi. Aku mulai menatap bosan, berpikir mungkin sampai di sini saja latihanku hari ini. Dengan kepala bertumpu pada lengan yang kuletakkan di atas lutut, aku menerima nasibku sebagai penonton. Kemudian aku melihatnya, Lee Sabeum, menjadi wasit bagi pasangan bersabuk biru. Kali inipun dia tampak begitu serius. Berulang kali terdengar suaranya yang memberi instruksi. Sekali waktu dia menghentikan pertempuran yang semakin membabi buta dan membawa mereka kembali ke posisi siap. Tiba-tiba dia melihat ke arahku. “Sparing?” kedua bibirnya mengucap tanpa suara. Aku mengangguk. “Setelah ini.” Dia kembali pada pasangan mungil yang agaknya siap bertarung hingga mati itu dan aku kembali mengikuti setiap gerak yang dibuatnya.

Setelah pasangan tersebut selesai, Lee Sabeum mengulurkan protector padaku dan menjalin pita pengikatnya. Saat itu rasanya lebih mendebarkan dari menghadapi sparing itu sendiri. Aku harus berharap perutku tidak mulas dan mati-matian membekukan wajahku agar senyum lebar tidak terbentuk. “Oke, tunggu dulu di sini,” katanya begitu protector sudah melekat erat di tubuhku.

Dia menghampiri sekumpulan sonbae berikat pinggang biru. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Lee Sabeum, tapi sonbae-sonbae itu menyerukan hal-hal seperti, “Pigonhaeyo, Sabeum...”, “Apayo…”, dan “Andwaeyo, Sabeum…”. Aku menggigit bibir, berterima kasih untuk kepedulian Lee Sabeum, hanya saja seandainya dia tahu saat itu hatiku menjerit, “Tidak perlu, Sabeum. Aku ingin dengan Sabeum saja. Ayo kita sparing.” Sayangnya, telepati bukanlah milik kami dan kemampuan membaca pikiran bukanlah jatahnya.

“Akh!” jeritku tanpa sadar. Jemariku kebas. Di hadapanku, Jang Sabeum,yang baru saja meletakkan telapak kakinya kembali ke lantai, berjalan mendekat.

Gwaenchanha?”

 

Gadis kecil itu menangis ketika tulang keringnya beradu dengan tulang kering lawannya. Yoon Sabeum segera menggendongnya, membawanya keluar arena. Sementara wajah gadis kecil yang lain dihiasi senyum yang mengambang, senyum yang menunjukkan bahwa dia merasa bersalah, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai gantinya, dia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya seraya berjalan ke arahku. Langkah ragu-ragu yang makin lama makin cepat.

“Waaa, kau nakal sekali, Hyun Woo-ya. Kau apakan hoobae kita?” godaku ketika gadis bermata belo itu, Hyun Woo, menjatuhkan tubuhnya ke atas pangkuanku. Aku dan Hyun Woo berada pada tingkat yang sama. Ban biru melilit pinggang kami. Meski begitu usianya tidak jauh berbeda dengan MinJi yang tiga tingkat di bawah kami. Maka dari itulah, mereka dipasangkan dalam sparing.

“Aku tidak sengaja~~,” rengeknya.

“Aku tahu. Kakimu baik-baik saja? Tidak sakit?” kuusap betis mungilnya.

Dia menggeleng. “Bagus. Sekarang minta maaflah padanya.” Detik itu juga, Hyun Woo berdiri dan berlari dengan kaki kecilnya menuju gadis kecil yang tangislah telah surut itu.

“JeBi, ayo, habis ini giliranmu.” Tiba-tiba Jang Sabeum muncul di depanku dan dengan gayanya yang santai serta seenaknya menjebloskan protector melalui kepalaku.

Aku memasang tampang bertanya dan menengok kiri-kanan. “Dengan siapa?”

“Aaaaa~~ bagaimana kalau…”

Sabeeeeuuuummm…” Seorang sonbae muncul dan langsung mengaitkan tangannya pada lengan Jang Sabeum. “Ayo, sparing denganku,” ujarnya manja dengan mata dibesar-besarkan.

“Ah,” Jang Sabeum menjentikkan jarinya, “kau dengan kau.” Telunjuknya berganti mengarah padaku dan sonbae yang kutahu bernama MiRae ini.

Mwo?” Orang yang melihat ekspresinya akan berpikir dia mendapat tugas menguasai hanja  dalam semalam. “W-w-wae??”

“Ayo, bersiap.” Tanpa menunggu, Jang Sabeum menyeret kami berdua ke arena.

Charyeot,” Jang Sabeum memberi aba-aba. “Kyeongrae.” Kami saling membungkuk. Ketika kami mengangkat kepala,  sesuatu dalam tatapan MiRae sonbae mengirmkan rasa dingin yang menjalari tulang belakangku.

Aku tahu reputasinya. Aku tahu bagaimana mereka yang pernah menjadi lawannya mengeluh kesakitan seraya menunjukkan lengan atau tungkai yang membiru. Aku tidak menyangka akhirnya aku akan berdiri di sini, berhadapan dengannya.

MiRae sonbae memang kuat dan cepat. Dalam lima gerakan dia sudah membuat nyeri seluruh lengan dan kakiku. Tapi apakah yang kulihat itu benar? Ekspresinya… sepertinya dia kesal. Bahkan lebih dari itu, sepertinya dia… benci.

Rahangku tersapu angin, hidungku terhantam. Nyeri berdenyut, menjalar hingga pening menggetarkan kepalaku. Suara-suara menjadi kilasan kabur tanpa arti. Udara berbau anyir. Gravitasi serasa lenyap dari bumi. Aku bahkan tak merasakan pijakanku.

Lalu sesuatu mencengkeram lenganku. Kuat dan lembut di saat yang sama. Membuatku merasa aman, yakin bahwa aku tidak akan jatuh meski kubiarkan kakiku tak bertenaga.

Gwaenchanha?” Suara itu begitu dekat. Rasanya seperti dibisikkan langsung di sisi gendang telingaku.  Aku mengangguk tanpa otakku menyadari apakah itu reaksi yang benar atau tidak.

Kami bergerak. Hanya itu yang kutahu. Kemudian pantatku menyentuh lantai. Sesaat kemudian sesuatu yang dingin menyentuh hidungku.

Rasa sakit itu menyita seluruh perhatianku untuk mengetahui siapa penolongku. Tapi…

Aku tak perlu melihat wajahnya untuk tahu Lee Sabeum-lah yang melakukan semuanya.

“Aku baik-baik saja, Sabeum. Hanya sedikit…” Kukibaskan tangan kananku. “Kebas.”

“Nah, inilah kenapa kau harus fokus. Lengah sedetik saja bisa membuatmu babak belur.”

Kalimat itu menarik suara yang sejak tadi terus terngiang kembali menyusup ke otakku, membangkitkan memori yang lain.

“Masih di sini?”

Sabeum…” Kuturunkan kakiku yang mulai pegal karena terus menerus melakukan chagi.

“Perlu mengejar banyak ketinggalan. Masa tiap sparing cuma jadi samsak,” candaku.

Dia mengangguk kecil. “Ayo,” ujarnya seraya menjumput body protector.

“Eh? Emm…”

”Butuh dua orang untuk melakukan sparing.”

“Oh, ne…”

Tanganku gemetar saat menjalin pita di punggungnya. Cuma ada kami di sini. Cuma kami! Berdua…

 Apakah body protector ini juga mampu meredam dentum-dentum jantungku?

“Jangan ragu-ragu,” instruksinya saat lagi-lagi dolyo membuat tubuhku oleng. “Ambil kesempatan. Kau terlalu banyak menunggu. Itu membuatmu seperti memberi kesempatan pada lawan.”

“Aku menghindari benturan dua chagi, Sabeum.”

“Kamu takut?”

“Tidak. Hanya…meminimalkan resiko cedera?” jawabku ragu.

Lee Sabeum menghentikan sikap siaganya dan berdiri tegak. “Ketakutan akan rasa sakit hanya akan meningkatkan rasa sakit itu berkali-kali lipat. Jangan takut.”

“Ng… ne,” jawabku semantap mungkin.

“Tapi  jangan juga menendang sembarangan. Temukan celah. Kesempatan itu hanya datang selama sekian detik. Karena itu, kau harus fokus.”

“Fokus, JeBi. Fokus.”

Ne, Sabeum. Choisonghamnida,” cengirku.

Dia tidak datang.

Dia tidak datang. Padahal aku ingin melakukan sparing terakhir ini dengannya. Memperhatikan gestur luwes dan postur sempurnanya. Mencetak mimik seriusnya lekat-lekat dalam memoriku. Karena setelah ini mungkin hanya dalam memori itulah aku bisa melihatnya.

Tapi dia tidak datang…

Pada detik inilah aku menyadari, begitu banyak yang membuatku merasa nyaman di sini; Hyun Woo yang sudah seperti adikku sendiri, saat-saat latihan yang membuatku merasa membebaskan sebagian dari diriku, Yoon Sabeum yang penuh kasih, Jang Sabeum yang kocak, Park Sabeum yang kedisiplinannya membuatku ngeri sekaligus kagum.

Tapi dia-lah satu-satunya yang membuat aku tak ingin pergi.

Aku menatap diri dalam cermin ruang ganti.

Hai Cermin, dia tahu nggak sih kalau ini adalah kesempatan terakhirku bertemu dengannya?

Dengan sedih kutatap wajah di cermin itu, menahan hasrat untuk berteriak keras-keras dan meninju cermin itu. Alih-alih aku menarik napas dan mendorong pintu ruang ganti hingga terbuka. Pemandangan yang menyambut membuatku terhenti. Sudut itu… Di situlah biasanya Lee Sabeum berganti pakaian. Diam-diam aku suka memperhatikannya, terutama pada masa sekian detik saat dobog tidak lagi melekat di tubuhnya hingga kaus lolos melewati kepalanya. Setelah itu, aku akan memukul kepalaku sendiri dan mengatakan betapa sintingnya diriku. Detik berikutnya, aku berlari ke ruang ganti dan mengikik seperti gadis gila. Tapi hari itu… Satu hari aku keluar dari ruang ganti dan mendapati Lee Sabeum masih di sana, sedang mengobrol dengan Park Sabeumnim. Begitu tahu kamar ganti telah kosong, Park Sabeumnim segera mengakhiri pembicaraan dan menghilang ke balik pintu. Meninggalkan aku dan Lee Sabeum.

Terkejut luar biasa, aku menarik bibir, memaksakan sebuah senyum. “Sabeum.”

Lee Sabeum balas tersenyum padaku. Benar-benar tersenyum. “JeBi?”

Ye, Sabeum.”

Neongodeung haksaeng?”

Bisa kudengar dengus tawa meluncur keluar dari mulutku. Kalimat sederhana itulah yang mengawali obrolan pertama kami. Kalimat sederhana yang membuat hari itu serasa luar biasa.

Rasanya sudah lama sekali.

Seandainya aku bisa kembali ke saat itu.

***

“Di Seoul nanti tetaplah rajin berlatih. Cari dojang baru. Atau latihan sendiri.”

“Baik, Sabeumnim.” Aku beralih pada Jang Sabeum dan menggodanya, “Hati-hati kangen padaku, Sabeum.”

“Ah, tentu saja. Aku kehilangan seorang partner sparing yang menyenangkan.”

Aku juga akan merindukan ekspresi kekanakan dan tawa membahana Sabeum.

“Jaga dirimu baik-baik, JeBi.” Jang Sabeum mengacak rambutku sekilas.

Seharusnya aku senang. Aku selalu suka jika ada yang mengusap kepalaku. Kali ini, yang turun dari kepalaku bukan rasa hangat, melainkan duri. Menusuk-nusuk isi kepalaku… kerongkonganku… Aku sesak napas.

Cepat-cepat aku membungkuk, menyampaikan hormat terakhirku pada mereka.  “Annyeonghi gyeseyo, Sabeumnim, Sabeum. Sugohasetseumnida.”

Angin bulan Oktober menggigiti kulitku begitu langit kelabu nampak di atasku.  Mungkin hujan ada baiknya. Jadi, aku bisa membebaskan emosi yang sedari tadi kuikat erat-erat dalam dadaku.

Dedaunan berwarna kuning dan coklat berhamburan di udara, terkatung-katung oleh angin yang membawa mereka.

Aku tidak sanggup lagi. Rasanya aku akan segera berubah seperti daun-daun itu. Berkeresak dan remuk oleh tekanan paling ringan sekalipun. Kakiku bahkan tidak mampu lagi menopang tubuhku. Aku jatuh berjongkok. Begini lebih baik. Kalau aku memeluk diriku sendiri… Setetes air membasahi lenganku. Tapi… mataku masih begitu kering.

Aku mendongak dan serombongan tetes air lain memberondong jatuh.  Rasanya seperti dihujam puluhan jarum es. Sekarang… amankah kalau aku menangis? Apakah rintik-rintik ini akan menyamarkan air mataku? Apakah gelegar itu mampu meredam jeritanku?

“JeBi?” Apakah ada yang memanggilku? Atau aku mulai berhalusinasi?

“Sedang apa kau di sini?” Parahnya, suara ini sangat kukenal. Suara inilah yang kurindukan.

“JeBi.” Suara itu kini tepat di sisi telingaku. “Kim JeBi.” Aku membuka mata. Anehnya, segalanya justru menjadi samar. Apa ini karena hujan yang semakin deras? Atau perhatianku yang tercurah seluruhnya pada sosok di hadapanku.

“Kau tidak apa-apa?”Aku hanya mampu menggeleng. “Kuantar pulang.”

Pulang? Bisakah kita di sini saja? Kalau pulang, nantinya aku harus pergi. Aku tidak ingin pergi. Aku ingin tinggal di sini. Aku ingin bisa ke dojang Park Sabeumnim kapan saja. Aku ingin berada dalam jarak yang bisa kurengkuh dengan Sabeum.

Namun, kenyatannya kakiku patuh saja sewaktu Lee Sabeum membantuku berdiri dan membimbingku menyusuri jalan. Baru beberapa langkah kemudian aku menyadari kalau air hujan sudah berhenti menghujamku. Jaket kelabu Lee Sabeum, jaket yang selalu dikenakannya, menghalau terpaan tetes-tetes dingin itu. Mendadak angin berhembus kencang dan jarak pandang kami berkurang begitu drastis. Di antara deru guyuran hujan samar aku mendengar Lee Sabeum, “Sebaiknya kita berteduh dulu.” Dia menunjuk toko di dekat kami. Toko itu tutup, tapi kanopinya menyediakan tempat teduh yang cukup luas untuk kami.

Hujan. Angin dingin. Suara air yang terantuk atap kanopi. Suara air mematuk aspal. Selamanya hal-hal ini akan terekam dalam ingatanku. Selamanya hal-hal ini akan membawa ingatanku pada momen ini. Pada sosok yang saat ini berdiri menatap hujan bersamaku. Perlahan aku menoleh. Dia di sini. Setelah membiarkanku mencari dan merana selama tiga jam, tiba-tiba dia muncul dari balik hujan. Dan sekarang… dia di sini.

Dekireba kanashii omoi nante shitaku nai

Demo yatte kuru desho?

— Jika bisa, aku tak ingin merasakan kesedihan

     Tapi rasa itu datang, bukan?

Sabeum…” Banyak yang ingin kukatakan… kutanyakan. Kenapa dia tidak datang hari ini? Ke mana? Apa dia tahu kalau aku terus mencarinya sepanjang hari? Apa dia tahu kalau hari ini aku akan segera meninggalkan Busan?

Tapi hanya satu kata itu yang dapat lolos dari kerongkonganku. “Sabeum…”

“Ya?”

Kenapa baru muncul sekarang? Apa kau tidak takut tidak akan melihatku lagi? Apa kau tidak akan merindukanku? Apa… “Apa kita masih bisa sparing lagi?”

Dia bergeming. Kemudian, tanpa aba-aba, kaki kanannya meluncur ke arahku. Entah bagaimana, tapi aku menghindar.

Sekilas aku melihat senyum terkulum di wajah Lee Sabeum sebelum kaki kirinya datang. Aku mengelak, kali ini aku siap dengan serangan balasan. Kemudian kami larut dalam pertandingan dadakan ini.

Lee Sabeum menghindari yeopchagi-ku lalu melancarkan dolyo. Aku berkelit dan membalasnya dengan tendangan serupa.  Dwichagi, idan dolyo, dan apchagi beterbangan di udara. Semua terhenti ketika sebuah dolke melayang. Tepatnya, akulah yang berhenti sehingga dolke itu mengambang beberapa mili di sisi wajahku. Tendangan ini… tendangan inilah yang membuat perhatianku tertarik padanya. Bagaimana dia berputar dengan luwes dan ketika muncul kembali sebuah dolyo menghujam dalam satu kedipan mata.

“JeBi?”

Tidak. Aku tidak sekedar tertarik padanya. Aku mengaguminya.

Kutarik tangan kirinya yang tidak siaga dan membantingnya ke lantai. Langkah terakhir dari gerakan three steps yang diajarkannya padaku.

“Kurasa aku kalah.” Dia tersenyum, membuat bibirku melakukan hal yang sama. “Jangan merindukanku ya, Sabeum.” Tentu saja, candaan apa lagi yang bisa kulontarkan.

“Jangan khawatir.” Ya, yang satu ini juga sudah jelas. “Kalau merindukanmu, aku akan mampir ke Seoul.”

Eh?

Benarkah? Benarkah yang kudengar?

Mengapa dia menjawab seperti itu? Mengapa dia melambungkan harapanku? Padahal aku mengatakannya untuk mengaburkan kenyataan bahwa aku akan merindukannya. Kenyataan bahwa aku takut… takut aku seorang dirilah yang akan merasakan rindu.

“Busan dan Seoul tidak terlalu jauh.” Mungkin jawabannya hanya sekedar jawaban, tapi tetap saja. Itu adalah jawaban terbaik yang pernah kudengar.

Sabeum,” panggilku ragu-ragu. “Boleh aku membuat satu permohonan sebelum pergi?”

“Apa itu?”

Aku harus mengatakannya. Atau aku mungkin tidak akan punya kesempatan lagi. “Sabeum,” ayo katakan, “ijinkan aku memeluk Sabeum.” Perpisahan ini pasti sudah membuatku gila. “Sekali saja. Sabeum…”

Lee Sabeum hanya menatapku dalam diam. Apa yang telah kulakukan? Aku sudah membuat jarak kami jutaan kali lebih jauh dari Busan-Seoul. Kugigit bibir bawahku keras-keras untuk menahan rasa nyeri di bagian lain tubuhku. Aku ingin menangis sekarang. Aku benar-benar…

Sesuatu yang hangat menyentuh punggungku. Kehangatan itu menyebar, melingkupiku. Kemudian aku mendengarnya, dentum itu, dan merasakannya, hembusan udara hangat di puncak kepalaku.

Kupejamkan mataku.

Rasanya nyaman sekali…

    mendengar detak jantungnya seperti ini…

         merasakan kehangatan rengkuhannya…

Sabeum…

Sabeum-ku…

Sabeum-ku tersayang.

Onaji uta wo kuchizusamu toki soba ni ite I wish

Kakkoyoku nai yasashi sa ni aete yokatta yo

Lalalalala~ Good-bye days 

— Aku harap kau ada di sisiku saat menyenandungkan lagu yang sama

     Aku bersyukur bertemu dengan kelembutanmu yang canggung itu

     Lalalalala~ Goodbye days

***===***

Song : Goodbye Days by Yui

Translation by Aya (@heeShinju)

Oke, judulnya Wine Day, tapi wine sama sekali nggak disebut dalam cerita. Kenapa? Yang ngasi judul sarap, tentu saja.

Sebenarnya, Wine Day di sini merujuk pada hari-hari peringatan di Korea setiap tanggal 14, seperti Valentine’s Day pada tanggal 14 Februari, Black Day pada 14 April, dan Silver Day pada 14 Juli. Wine Day sendiri diperingati pada tanggal 14 Oktober. Karena kebetulan kisah ini terjadi pada tanggal 14 Oktober jadilah Wine Day didaulat sebagai tajuk.

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

3 thoughts on “Wine Day

  1. kalo valentine, white day, dan black day aku tahu, tapi baru kali ini denger silver day dan wine day. apakah di hari itu orang2 saling bertukar perak dan anggur? hihihi…

    astaga, astaga… sejujurnya, good-bye days ini bukan lagu favoritku, jadi waktu kalimat ai ni yuku muncul, yg terlitas adalah: “wah, cassie cari terjemahan bhs Indonesianya dimana?” dan melongo pas sadar: “lho, good-bye days? ini terjemahanku toh” pikun parah…

    cass, kamu detail banget ya istilah2 taekwondo-nya. apa pernah ikut taekwondo?

    baca ini aku jadi kangen nulis kayak begini lagi, yg rada2 smuff. belakangan gara2 darklite, tulisanku jadi angst. lalu gara2 wish granter song, tulisanku jadi gaya humor manga-jepang…

  2. lebih tepatnya yg cewek dikasi perak dan anggur, asik ya? hehehe… tiap tgl 14 di korea adlh sebuah perayaan si,, ada2 aja cara orang ngelarisin dagangan.
    hahaha,, jd ngga langsung ngeh ya gara2 bukan lagu favorit..
    yep, aku taekwondoin. walopun sbnrnya istilah2 itu juga ditulis dg bantuan google si..
    iya,, akhir2 ini tlsannya Aya bercita rasa jepang dan tetap mengagumkan. ayo ayo nulis romance lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s