Heartbreak Dojang

Cast                : Lee Na Ra

                         Lee Tae Min of  SHINee

                        Choi Min Ho of SHINee

                        Alexander Lee Eusebio

Genre           : Romance

Disclaimer   : I don’t own the casts, but the story is mine.

 —

“Haloooo semuanyaaa,” seruku begitu menggeser pintu terbuka.

Belasan seruan ‘Sonbaeeeeee’ berhamburan di udara sebagai jawabannya diikuti berpasang-pasang kaki mungil berderap menghampiriku. “Hai Vincent, KwangMin, YoungMin, MinAh, GaEul,” kupeluk mereka dalam satu rengkuhan lalu mengusap kepala si kembar KwangMin dan YoungMin. Mungkin kenyataan bahwa kami sama-sama dilahirkan sebagai anak kembar yang membuatku merasa dekat dengan mereka sejak pertama kali kami bertemu. “Bagaimana kabar kalian?”

Kembali suara-suara menyahut, saling tumpang tindih. Masing-masing diteriakkan sekuat-kuatnya seolah kami sedang melakukan kompetisi teriak. Setidaknya, semua teriakan itu menunjukkan dan mengabarkan bahwa mereka dalam kondisi paling baik.

“Sudah siap berlatih?”

“SIIIIIAAAAPPP!!!” Gendang telingaku hampir pecah rasanya. Tapi entah sihir apa yang dimiliki bocah-bocah ini, aku selalu tersenyum menyaksikan semua tingkah mereka, bahkan saat perasaanku berada pada level terburuk sekalipun.

Aku menatap seisi ruangan, tapi tak ada satupun sosok tinggi menjulang yang tertangkap retinaku. “Choi Sabeum dan Park Sabeum di mana?” (Note: Sabeum = pelatih taekwondo)

Kali ini anak-anak itu menggeleng. “Mereka belum datang,” sahut salah seorang dari mereka.

Belum datang? Padahal 5 menit lagi latihan dimulai. “Bagaimana dengan TaeMin Sonbae? Apa kalian melihatnya?”

Kembali gelengan yang muncul. “Noona-lah yang pertama datang,” jawab KwangMin.

TaeMin juga belum datang? Padahal dia sudah berangkat lebih dulu dariku.

“Oke. Aku akan mencari mereka. Kalian baik-baik di sini ya. Jangan nakal.” Aku bangkit dan melangkah keluar dari ruangan yang sehari-hari digunakan sebagai dojang itu. (Note: dojang = tempat berlatih taekwondo)

Keluarga Park, yang notabene merupakan keluarga taekwondo-in sejak beberapa generasi yang lalu, merupakan pemilik tempat ini. Sewaktu aku, dan TaeMin, baru bergabung dengan dojang ini, tiga orang sabeum mendampingi latihan kami; Park Sabeumnim-kepala keluarga Park-, Park Sabeum-putri satu-satunya keluarga Park-, dan Choi Sabeum-yang kini hanya kupanggil sabeum jika label taekwondo sedang menempel di antara kami. Semenjak Park Sabeumnim pindah ke luar negeri demi mengurus bisnisnya, tanggung jawab akan dojang ini dipegang oleh kedua sabeum yang tersisa.

Usiaku dan TaeMin yang tidak berbeda jauh dengan para sabeum, kami 2 tahun lebih tua dari mereka sebenarnya, membuat kami berempat akrab tidak hanya sebagai pelatih dan murid. Seringkali seusai latihan, kami tinggal untuk mengobrol atau pergi ke kedai untuk makan jajangmyeon. Bahkan sekarang tempat ini sudah seperti rumah kedua bagiku dan TaeMin, hampir sebagian besar waktu kami habiskan di sini.

Karena itulah, ketika mendapati ruang latihan kosong, aku segera menuju ke satu tempat. Menggunakan tangga yang dibangun menempel pada dinding luar bangunan, aku naik ke lantai 2, menuju ruangan yang selalu kami gunakan untuk berkumpul bila sedang tidak ada latihan. Dengan keyakinan besar akan menemukan setidaknya satu dari 3 orang yang kucari, aku mendorong satu-satunya pintu yang ada di sana hingga terbuka lebar.

….

….

Dadaku sesak.

Nafasku terhenti.

Aliran darahku terhenti.

Segalanya terhenti.

Kecuali pemandangan di hadapanku yang terus bergerak bagai film yang tak henti diputar ulang.

***

Choi MinHo berdiri tegak sekian meter di depanku, berpelukan rapat dan berciuman dengan seorang gadis.

Gadis yang tidak asing. Gadis yang… Gadis itu aku!

Tapi itu tidak mungkin!

Aku di sini! Bagaimana mungkin aku juga di sana?

Lantai di bawahku melunak. Atau… ini kakiku yang lemas?

Yang kurasakan kemudian lutut dan pantatku membentur sesuatu yang keras dan dingin.

Dua sosok itu tiba-tiba menoleh ke arahku. Salah satu dari mereka mendekat. Suara berdengung di sekitarku, tapi aku tidak tahu apa arti dengung itu.

Yang aku tahu, aku harus segera pergi. Lari. Lari sejauh mungkin.

Jangan sampai sosok itu menangkapku.

***

Sepertinya intuisi membawaku ke tempat dimana aku selalu merasa nyaman. Ketika sebagian dari kesadaranku kembali, aku mendapati diriku berdiri di depan kafe es krim yang biasa kukunjungi dengan wajah basah dan masih mengenakan dobog. (Note: dobog = pakaian taekwondo)

Entah bodoh atau masih tidak sadar, aku masuk ke dalam kafe itu, mengambil tempat pada salah satu sofa di sudut ruangan dan duduk dengan kaki terangkat. Aku memeluk lututku, membiarkan kepalaku bersandar pada dinding dan mataku melayang tak fokus pada orang-orang yang berlalu lalang di luar.

Rasanya sakit.

Mungkin seharusnya aku tidak naik ke lantai 2 tadi…

Mungkin seharusnya aku tidak mencari mereka…

Seharusnya aku tidak perlu tahu hal ini…

Aku tidak ingin tahu!

Ada yang hendak meledak dalam diriku… oh, tolonglaaahhhh, apa pelayan itu tidak bisa melihat bahwa aku sedang ingin sendiri??

“Aku tidak pesan hari ini, maaf.” Suaraku terdengar parau dan setengah melamun.

Sosok yang berdiri di sisi mejaku itu tak kunjung pergi, malah aku merasa sesuatu diletakkan di mejaku. Dengan susah payah aku memutar kepalaku dan mendapati seorang laki-laki, yang bukan pelayan, tersenyum padaku. “Maaf, meja ini sudah kutempati. Dan maaf, aku tidak bicara dengan orang asing,” imbuhku.

Ekspresi terkejut bercampur heran laki-laki itu mendongkrak sisa kesadaranku untuk bangkit dan membawa diriku seutuhnya kembali ke dunia nyata. Sekarang aku bisa mendengar apa yang laki-laki itu katakan. “Kita bertemu di rumah sakit beberapa minggu lalu. Sudah cukup lama. Wajar kalau kau tidak ingat.” Laki-laki itu menaikkan bahu.

“Rumah sakit? Siapa yang sakit?”

Orang asing itu menggaruk bagian belakang kepalanya. “Bukankah kau memiliki teman yang bernama Kim KiBum?”

Kim KiBum? Kim KiBum? Ohhh, bocah itu… “Key? Apa hubunganmu…” Tiba-tiba otakku kembali bekerja. “Kau teman Kim KiBum yang satunya? Yang datang dengan seorang cowok cantik?”

“Kau ingat?” Cowok yang tidak tampak seperti orang Korea itu tersenyum lebar. “Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat. Joesonghamnida.”

“Ah, tidak,” jawabku cepat. “Duduklah. Aku hanya sedang melamun tadi. Aku justru mau berterima kasih karena kau membangunkanku. Jadi bagaimana kabar KiBummu?” Pertanyaan yang salah. Aku menyadarinya tepat saat aku menutup mulut.

“Dia sudah kembali ke atas motornya.” Cowok itu sepertinya juga menyadari kemana arah pembicaraan ini pada akhirnya terlihat dari raut wajahnya yang berubah mendung. Key-begitu kami biasa memanggilnya, nama di akta lahirnya sih Kim KiBum-, adik MiRae, meninggal karena leukimia 2 minggu lalu. Selama 2 bulan terakhir masa hidupnya, dia mendapat teman baru, seorang bocah yang memiliki nama sama dengannya dan terpaksa menghabiskan masa 3 minggu sebagai teman sekamar Key karena hobinya ngebut di jalan menunjukkan dampak buruknya. Ketika Key harus kembali lagi ke ruang gawat darurat, yang ternyata untuk terakhir kalinya, sobat lamanya itu kembali menemaninya untuk alasan yang sama. Kali ini dengan luka yang lebih parah. Di saat-saat terakhirnya Key mendonorkan salah satu organnya untuk KiBum sehingga bocah itu dapat melanjutkan hidup dan, seperti kata cowok di hadapanku, kembali ke atas motornya. Entah apa yang dilakukannya sekarang. Seandainya aku bisa bertemu dengannya akan kuhajar dia.

“Dia sudah berjanji tidak akan ngebut lagi,” ucap cowok itu seakan bisa membaca pikiranku. “Ah, kau mau ini?” Cowok itu menunjuk semangku es krim berwarna coklat muda di dekatku. Aku menatap kudapan yang membuat kerongkonganku tiba-tiba terasa sangat kosong itu dan tatapanku pastilah seperti orang bodoh.

“Untukku?”

“Sebagai hadiah bertemu kembali,” jawabnya sambil menyuap es krim miliknya sendiri dengan begitu nikmat.

“Kau baik sekali. Gamsahamnida.” Aku membungkuk ke atas meja lalu menyambar mangkuk itu dan menyendok isinya. Tiramisu, aku tahu. Ini menu favoritku. “Oh ya, namaku NaRa. Lee NaRa. Tapi panggil NaRa saja.”

Joneun Alexander.”

“Ayahku berdarah Spanyol,” dia menambahkan, mungkin karena melihat ekspresi bodohku.

“Oh.” Aku menyuap sesendok es krim. “Seorang muridku memiliki ayah yang berdarah Indonesia.”

“Murid?” Alexander tampak terkejut. Berbeda denganku, ekspresi tampak sangat menggemaskan.

“Errr, tidak. Bukan murid sebenarnya. Hoobae. Tapi karena jarak usia kami sangat jauh, aku jadi merasa dia dan anak-anak yang lain adalah muridku.”

Awalnya ekspresi menggemaskan itu masih menggantung pada wajahnya. Tapi sepertinya dia melihat dobog yang masih melekat di tubuhku dan mengerti.

Seonggok batu kembali bergulung-gulung dalam dadaku, terus naik ke kerongkongan membuntu pangkalnya. Aku  nyaris memuntahkan es krim yang kini terasa pahit di lidahku. “Kau sering ke sini?” tanyaku, membuang bayangan menyesakkan itu jauh-jauh.

Alexander mengeluarkan sendok dari mulutnya dan untuk sesaat aku tidak ingat lagi pada tragedi yang menimpaku setengah jam lalu.

***

Bertemu dengan Alexander membuatku teringat pada MiRae. Mi Rae yang malang. Dia tampak seperti zombie selama beberapa hari sejak Key tidak ada. Dia menangis dalam diam. Dia berjalan dalam diam. Dia makan dalam diam (aku bahkan curiga dia tidak mengunyah sama sekali). Dia tidak mengijinkan orang-orang mengetahui kesedihannya.Tapi aku bisa melihat pandangannya yang menerawang, terlebih saat dia berada di rumahnya. Tentu sulit berada di tempat dimana semua kenangan pernah terangkai sementara bagian penting dari kenangan itu tidak lagi bersamamu.

Untung MiRae seorang yang tangguh. Kehilangan tidak punya banyak kesempatan menggerogoti hidupnya. Sekarang keadaannya sudah lebih baik, meski belum seceria dulu.

Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau aku yang berada di posisinya. Aku tidak akan sanggup kalau harus kehilangan TaeMin, bagian diriku yang lain, jelmaan sel telur Eomma yang separuh.

….

Langkahku terhenti. Kesadaran sekarang benar-benar menguasai diriku. Diikuti ngeri yang luar biasa hingga bulu kudukku berdiri.

Ini tidak mungkin terjadi!

Sungguh gila. Aku pasti berhalusinasi tadi. Aku…

Aku berlari secepat mungkin agar segera tiba di rumah dan memastikan semua baik-baik saja. Bahwa yang kulihat tadi hanya lamunanku belaka. Namun sosok yang bersandar pada dinding di depan rumah kembali menghentikan langkahku. Tatapan mata dan air mukanyalah yang meyakinkanku bahwa apa yang kualami sehari ini benar nyata.

Segera saja rasa sesak itu kembali menyiksa rongga dadaku ketika berbagai emosi berkecamuk di dalamnya; sakit, marah, kecewa, sedih, dan sayang. Sejuta pertanyaan berebut ingin keluar dari mulutku.

Mengapa?

Mengapa dia melakukan ini?

Mengapa dia? Mengapa orang yang kusayangi sedemikian besar?

“NaRa-ya,” suara rendahnya menyapu telingaku. Mengapa suaranya terdengar begitu lembut, nyaman sekaligus memuakkan?

“Hai,” balasku singkat lalu melaluinya hendak masuk ke dalam rumah.

Dia menahan tanganku. “Tunggu.”

Aku diam.

Dia bergeming.

Aku tidak bisa terus begini. Tangisku bisa meledak kapan saja dan aku tak ingin itu terjadi di depan orang yang sangat menyebalkan seperti dia.

“Kalau tak ada yang mau kau katakan, aku mau masuk.” Aku menepis tangannya, tapi dia mempererat cengkeramannya.

“Aku…”

Kembali hening.

Aku tidak boleh bicara.

Aku harus menahan lidahku. Atau aku akan berteriak-teriak seperti orang gila.

Tidak. Aku harus membungkam mulutku.

“Apa? Kau merasa bersalah?” Kata-kata itu menyelip di bawah sadarku.

Sebelum aku bisa mencegah lebih jauh, kata-kata yang lain menyusul. “Teganya kau.” Serasa air mata mengikat kerongkonganku. “Bisa-bisanya.” Suaraku menjadi desis. “Dia saudara kembarku, kau tahu?”

Aku membebaskan lenganku darinya dan menyeret kakiku melalui pintu.

***

Kusandarkan punggungku pada pintu yang baru saja tertutup, membiarkan isakku lepas. Mengapa begini? Mengapa begini?

Rasanya sakit… Sakit…

Aku ingin memakinya, berteriak padanya, memukulnya. Melepaskan semua emosiku. Tapi…

Noona,” TaeMin bergerak ragu-ragu ke arahku. Dengan cepat aku menyingkirkan jejak air mataku, berdiri, dan melangkah hendak menuju kamar. “Ini tidak seperti yang kau kira,” tambah TaeMin cepat. Kalimat klasik. Aku selalu mendengarnya dalam setiap drama yang mengangkat konflik perselingkuhan.

“Memangnya apa yang kukira?” jawabku ketus.

“Ini… baru pertama kalinya terjadi,” sahut bocah itu lirih.

“Oh, aku bahkan sama sekali tidak memperkirakan kapan hal itu dimulai.” Aku mulai berteriak di luar kendali.

TaeMin menunduk. Keheningan yang tidak biasa turun di antara kami.

Mianhae, Noona.”

Mendengar ini rasa kesalku justru meluap. Aku ingin sekali berteriak di depan wajahnya. Mengapa dia melakukan ini? Bukankah dia saudaraku? Saudara kembarku?? Kami berbagi perasaan lebih daripada yang dilakukan kakak-beradik lain.

Tapi yang kulakukan adalah menghentakkan kaki keras-keras menuju kamar, mengambil pakaian tidur, kemudian mengarahkan kakiku keluar kamar. Saat itulah TaeMin tiba di ambang pintu. “Aku tidak tidur di sini malam ini,” ujarku sambil lalu sembari keluar dari kamar.

***

Aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku sama sekali tidak ingin marah padanya. Aku sama sekali tidak ingin membentaknya. Dia saudaraku.

Tapi suara lirihnya, sikapnya, dan permintaaan maafnya justru membuatku kesal. Kenapa aku ini?

Aku bergulung di atas tempat tidur Oppa-yang ditinggalkan sejak pemiliknya memutuskan kuliah di luar negeri-, membiarkan air yang membasahi wajahku turut membasahi seprai yang membalut pembaringan di bawahku. Semuanya terasa begitu salah.

Semua yang terjadi salah. Semua yang kulakukan salah.

Seharusnya tidak begini.

Aku menatap ke seberang ruangan. Biasanya aku akan melihat tempat tidur yang lain dengan duplikat diriku di atasnya membuatku merasa sedang menatap cermin.

Aku dan TaeMin terbentuk dari satu sel telur dengan 2 sel sperma. Kata dokter, itu menjadikan kami kembar identik dengan jenis kelamin berbeda. Kalau saja potongan rambut kami tidak berbeda, tak akan ada yang bisa membedakan kami. Nyatanya, ketika kami SMP dan aku memotong pendek rambutku, persis seperti potongan rambut TaeMin, kami sukses mengerjai banyak orang. Begitu lulus dari SMA, giliran TaeMin yang menyamakan model rambutnya denganku. Kini kami sama-sama memiliki rambut panjang hingga orang-orang yang baru mengenal kami beranggapan kami adalah kembar perempuan.

Tak seorangpun tahu mana NaRa dan mana TaeMin. Hal itu adalah rahasia kecil di antara kami berdua. Lebih dari itu, kenyataan ini membungkus kami dengan kesadaran bahwa saat orang lain tidak tahu, kami tahu. Hanya kami.

Itukah yang terjadi siang ini? Bahwa kami hanya tidak bisa dibedakan?

Kepalaku berdenyut memikirkannya.

Saat aku menatap daerah gelap di seberang sana, aku menyadari satu hal yang pasti hari ini. Ini pertama kalinya kami tidur terpisah selain pada acara-acara menginap yang diadakan sekolah.

***

TaeMin duduk di tepi ranjangnya ketika aku masuk ke kamar kami keesokan paginya. Dia sudah berpakaian lengkap dan menoleh begitu cepat begitu aku mendorong pintu. Pandangan kami bertemu. Was-was tersirat dalam matanya, tapi ada tekad yang tergurat pada mimiknya. Aku tidak tahu apa yang telah disiapkannya. Sejak kapan dia bangun dan duduk di situ? Aku bisa membayangkannya mengayunkan kaki serta meniupkan nafas berulang kali melalui mulut. Hal-hal yang selalu dilakukannya ketika terlalu lama menunggu.

Aku memutus kontak mata kami dan beranjak ke lemari. Cuma satu tujuanku masuk ke kamar ini dan hanya itu yang akan kulakukan.

Noona,” aku berusaha mengabaikannya, “pukul aku.” Tanganku melayang beberapa milimeter dari baju yang hendak kuambil.

“Pukul saja aku. Aku memang bersalah. Aku… Ketika melihat tempat tidur Noona kosong semalam, aku merasa sangat asing dengan kamar ini. Kamar ini terasa terlalu besar… terlalu gelap. Noona, aku… aku tidak mau kehilanganmu. Noona…”

Kausku melayang mengenai wajahnya. “Sudah diam!” seruku di antara isak. Emosi yang meletup membuatku melemparkan diri ke arahnya dan mengalungkan kedua lengan ke sekeliling lehernya. “Sudah diam,” senggukku. “Jangan bicara lagi.”

TaeMin membalas pelukanku. “Noona,” suaranya terdengar sengau, “mianhae.”

Aku mengangguk. Aku juga tidak bisa kehilangan saudaraku. Biarlah seluruh dunia berubah, biarlah segalanya menjadi begitu buruk bagiku, tapi aku tidak ingin kehilangan saudaraku. Tidak akan lagi. Apa yang aku rasakan semalam, apa yang kami rasakan semalam, bukan tentang fisik kami yang terpisah oleh tembok, tapi hati kami yang tersekat rasa benciku.

Ketika aku melihat senyum di matanya, jantungku berdetak lebih cepat. Rasanya diriku utuh kembali.

***

Meskipun aku memeluk lengan TaeMin erat-erat sepanjang hari itu, aku sadar sepenuhnya kalau masalah belum berakhir. Terlebih ketika aku melihatnya berdiri di sana. MinHo.

Sesaat aku ingin sekali berlalu dari situ. Aku muak melihatnya, bahkan berada dalam satu area dengannya sedetikpun aku enggan. Di saat yang sama ada yang menahanku. Keinginanku, untuk melepaskan semuanya, berbagai pertanyaan dalam otakku, kekesalanku.

Noona.” TaeMin bergumam di sisiku.

Arasseo. Aku harus pergi.”

Dia tampak cemas. “Kami akan baik-baik saja.” Aku menepuk-nepuk pipinya pelan. “Sampai ketemu di rumah.” Aku pun menyongsong sosok yang telah menungguku.

“Ada yang ingin kukatakan,” gumamnya.

“Aku juga. Ayo.”

Aku tidak tahu apa yang membuatku melangkahkan kaki ke tempat ini. Atau lebih tepatnya, apa yang membuat kami menuju tempat ini. Tempat ini bukan milik kami, tidak jauh dari pemukiman penduduk, tidak kedap suara. Bagaimana kalau tiba-tiba suasana menjadi tidak terkendali?

Tapi di sinilah kami memulai segalanya. Di sinilah keping pertama dari puzzle kebersamaan kami tersusun. Di sinilah segala saksi bisu tawa dan kesal kami berada. Bahkan keping paling buruk dari puzzle itupun kutemukan di sini. Di dojang ini.

“Hubunganmu dengan TaeMin Hyung baik-baik saja,” katanya, mengambang antara pertanyaan dan pernyataan.

O.”

Jota. Hyung tidak bersalah.”

Tentu saja. Tentu kau yang memulainya. Saudaraku terlalu polos untuk itu.

“Kami… Kejadian itu tidak disengaja. Kami sedang menunggu jam latihan seperti biasa. Kemudian… kemudian semuanya terjadi.” MinHo terdiam. Kepalanya menunduk sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya. Dan itu bagus.

“Kedengarannya kau sangat menikmatinya sampai tidak sadar apa yang terjadi.”

Tidak ada balasan. Kenyataan ini justru menjadi godam bagiku.

Neo… Apa kau mempermainkanku? Siapa yang kau sukai sebenarnya?”!

Hening. Keempat dinding yang membentengi kami hanya memantulkan sisa-sisa suaraku.

Ya! Kau tahu kan kalau TaeMin itu laki-laki?”

Mianhae.”

‘Maaf’ dia bilang? “Neon jinja!!” Tanpa sadar kepalanku terangkat ke udara. MinHo tidak menghindar, tapi sepasang matanya tidak lepas dari kepalanku. Ada sesuatu pada kedua manik itu. Sesuatu yang membuatku menelan ludah. Sesuatu yang membuat amarahku mencair, berganti menjadi suatu rasa aneh yang tak bisa kujelaskan. Sesuatu yang membuatku menurunkan tanganku.

“Aku tak akan membiarkanmu dekat-dekat dengan TaeMin,” desisku.

Saat aku menyeret langkah keluar dari dojang, kalimat dari masa lalu itu terus berdenging di kepalaku. “Sekarang aku mengajarimu. Kelak apa kau akan menggunakannya untuk melawanku?”

***

Onggokan coklat muda dalam mangkuk itu meleleh perlahan. Pendingin udara dalam kafe ini tak mampu menjaganya tetap beku. Sama halnya benda itu tak mampu mendinginkan hatiku. Sebaliknya, pengeras suara yang menempel di dinding sana malah menyerukan lagu yang membuatku ingin menjerit.

Love is one big illusion

I should try to forget

Ilusi. Ilusi. Apakah benar semua ini hanya ilusi? Kenangan kabur yang hanya hidup dalam otakku?

Guess who?” Sepasang tangan menutup mataku dari belakang. Aku tidak punya banyak teman yang menemaniku di tempat ini. Hanya TaeMin, dia, dan…

“Alexander.”

“Woaaw… what a clever girl.” Dia menggoyang telunjuknya lalu memutari meja dan duduk di hadapanku. “Ada masalah?”

Ah, benar-benar seorang yang tidak bisa menyembunyikan perasaan. Apa wajahku harus selalu menampilkan segalanya?

Aniyo.” Aku menggeleng. “Eobseoyo.” Semoga suaraku terdengar cukup ceria. “Kita bertemu lagi. Apakah ini hanya kebetulan atau kita memang berjodoh?”

“Berjodoh? Sepertinya memang begitu.” Dia terkekeh.

Kata-katanya yang berikut tenggelam oleh pekikan dari pengeras suara.

But I’m not the man your heart is missing

That’s why you go away I know

Ironisnya, aku menemukan kalimat itu sangat pas dengan kondisiku.

Mengerikan.

Sekaligus menggelikan.

What’s funny?” Kening Alexander berkerut. Lengannya menyiku permukaan meja demi menyangga kepalanya.

“Tidak.” Aku menarik nafas dalam-dalam menyingkirkan sumbat di sepanjang batang tenggorokku. “Hanya…” Hanya aku tidak pernah menyangka hatinya terisi oleh orang lain. Apalagi oleh seorang cowok. Oleh saudaraku. Ketika kata terakhir sudah melayang keluar dari mulutku barulah aku sadar telah mengucapkan kalimat itu keras-keras. Dalam beberapa detik aku telah membeberkan tragedi terbesar dalam hidupku. Sesuatu yang seharusnya kusimpan rapat-rapat, terlebih pada orang yang baru kukenal.

Tapi matanya yang memberi perhatian penuh membuat lidahku ingin bergetar lagi dan ribuan kata-kata berjejelan di pangkalnya.

“Setiap orang pernah melakukan kesalahan.”

Kesalahan? Ya, ini memang kesalahan. Tapi poin sebenarnya, apakah kesalahan itu?

“Menurutmu, siapa yang merupakan kesalahan baginya?”

“Maksudku,” aku mulai hilang kendali, “oke, mungkin dia tidak bisa membedakan kami. Tapi… bahkan seorang buta akan tahu mana laki-laki dan perempuan jika mereka berpelukan.”

Alexander kembali diam mendengar reaksiku.

“Kau suka anak-anak?”

“Ya,” jawabku meski tak mengerti apa maksudnya meanyakan hal itu.

“Aku tahu tempat yang menarik untuk dikunjungi. Ayo.” Dia menarik lenganku tanpa menunggu respon dariku.

Sekitar 25 anak mengerumuniku. Beberapa dari mereka begitu mungil sampai aku yakin bisa mengemas tiap anak dalam satu kardus mie. Beberapa cukup besar untuk bisa mengatakan hal-hal yang membuatku geli. Geli karena teringat seperti itulah aku dulu. Sok dewasa dan membicarakan hal-hal dengan gaya pemikiran orang dewasa.

Buenas tardes.” Kudengar Alexander berbicara. (Note: Buenas tardes = selamat siang/sore)

Seorang biarawati baru saja bergabung dengan gerombolan kecil kami. Garis-garis usia berpadu dengan senyum lembut yang terulur dari bibirnya menyuguhkan rasa nyaman. Tak heran anak-anak ini begitu menikmati kehidupan mereka di sini.

Esta es mi amiga, Lee NaRa.” Alexander menyentuh bahuku. Kurasa dia sedang memperkenalkanku pada sang biarawati, yang kemudian menangkup tanganku dengan kedua tangannya. “Senang bertemu denganmu, Nak. Semoga Tuhan memberkatimu.” Bahasa Korea biarawati itu terdengar aneh. Aku hampir-hampir tidak bisa menangkap kata-katanya.

“Semoga Tuhan memberkati Anda juga.”

Alexander kembali berkata-kata dalam bahasa yang tak kumengerti dan biarawati itu menyambutnya. Untuk sesaat mereka berbincang sementara aku mulai sibuk dengan anak-anak yang menarik-narik celanaku. Wajah mungil mereka menggemaskan sekali, dengan pipi kemerahan dan bibir seperti permen stroberi.

Seorang anak berlari ke arahku. Tangan kanannya menggenggam ujung sebuah sabuk sementara sisa dari sabuk itu menjuntai menyapu lantai.

Noona, tolong,” katanya mengulurkan sabuk itu padaku.

Scene ini tidak asing.

Seorang anak kecil dalam pakaian yang tampak terlalu besar untuknya berlari menyeberangi ruangan. Di hadapan seorang laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya, dia berhenti.

Sabeum,” katanya pada laki-laki itu. Pada tangan kanannya yang terulur tampak sebuah ban panjang berwarna putih.

“Kemari.” Laki-laki itu memutar tubuh si anak sehingga mereka kini menghadap arah yang sama. Dengan cekatan laki-laki itu melingkarkan ban putih tersebut ke pinggang si anak, memastikan kedua ujungnya sama panjang, dan menjalinnya sehingga terbentuk simpul. “Sudah.” Laki-laki itu mengusap kepala si anak.

Kamsahamnida, Sabeum.”

Eh?

Noona…” Aku tergugah. Anak laki-laki yang mengulurkan sabuknya kembali muncul dalam pandanganku.

Noona, bisakah kau memakaikan ini untukku?”

“Baik, Anak Manis.” Kuraih sabuk itu dan menelusupkannya ke sekeliling pinggang celananya.

Kenapa tiba-tiba ingatan akan dirinya muncul?

Sebegitu kuatkah pengaruh dirinya dalam hidupku hingga hal sekecil inipun membuatku teringat padanya?

“Nah, sudah.”

“Terima kasih, Noona.”

Atau… aku yang mengikatkan diriku terlalu kuat padanya?

Tidak. Aku harus menyingkirkan hal ini dari otakku. Kurasa Alexander mengajakku kemari juga bukan untuk bermuram durja.

“Kau jadi, Noona!” Seseorang memukul punggungku dengan penuh semangat. Ketika berbalik, aku menemukan seorang bocah memamerkan senyum lebar tanpa dosa ke arahku. Ah, bagaimana mungkin aku bersedih di tengah pengacau-pengacau kecil ini?

“Mulailah berlari,” godaku. Anak itu menjerit dan terbirit menjauhiku. Tindakan yang secara otomatis diikuti oleh teman-temannya. Sesekali mereka tertawa keras di tengah usaha tungkai-tungkai kecil mereka membawa mereka secepat mungkin.

Alexander bergabung di tengah-tengah permainan. Kemudian aku tenggelam. Tenggelam dalam suasana riuh yang diciptakan makhluk-makhluk mungil itu. Aku tidak lagi sadar kalau aku telah hidup sekian belas tahun lebih lama dari mereka. Aku tidak sadar kalau langkahku lebih lebar dari langkah mereka. Dalam sekejap salah satu mereka selalu berhasil kuraup dalam pelukanku. Setiap kali mereka akan selalu meronta hingga merosot dari tanganku dan berguling di lantai. Saat itulah kami saling menggelitik. Saat itulah teman-temannya akan dating memberi bantuan dan kami pengejaran dimulai lagi. Saat itulah tawaku berbaur dengan pekik senang mereka.

Having fun?” Alexander menjatuhkan dirinya di sisiku. Terengah, sepertiku, dan baru saja berhasil meloloskan diri dari sepasukan kurcaci yang menggebu dalam menjalankan misi mereka.

Aku membuang nafas keras-keras. “Sangat.” Aku merasa sangat ringan dan bahagia. “Kelihatannya kau sangat mengenal biarawati itu?” tanyaku setelah memastikan sosok yang kumaksud tidak berada di dekat kami.

“Aku dan keluargaku sering kemari.”

“Woaaa~ Kedengarannya keluargamu sangat menarik.”

“Benarkah? Muchas gracias. Neomu gomawoyo,” tambahnya melihat ekspresi bingungku.

“Apakah kalian berbicara dalam bahasa Spanyol tadi?”

“Suster Agata berasal dari Spanyol. Baru satu bulan ini Beliau ditugaskan di Korea.”

Aaahh, informasi singkat yang menjelaskan semuanya. “Apa kalian sudah saling mengenal waktu di Spanyol?”

“Spanyol tentunya tidak hanya sebesar panti asuhan ini, kan?” Dia menjawab diiringi tawa.

Aku mencibir.

“Selamat malam, Anak-anak.” Suster Agata tiba-tiba sudah berdiri di dekat kami. Serentak kami bangkit berdiri.

“Selamat malam.”

“Apakah waktu tidur sudah tiba?”

Suster Agata mengangguk menjawab pertanyaan Alexander.

“Waktu selalu berlalu dengan cepat di sini.” Kali ini aku yang mengangguk menyetujui Alexander. “Sebaiknya kami pulang kalau begitu.”

“Tidak perlu terburu-buru.” Sebuah suara lain memotong Suster Agata yang baru membuka mulut. “Kalian bisa tinggal sebentar untuk minum teh. Itu kalau kalian mau,” tambah biarawati yang baru muncul itu dengan kikuk. Usianya mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku kalau melihat dari raut wajahnya. “Ah, mungkin lebih baik aku mengumpulkan anak-anak.” Dia pun berlalu sambil menyerukan nama tiap anak yang masih asik bermain.

“Suster Clara memang selalu ramai,” Alexander terkekeh.

“Sungguh terberkati karena dia di sini.“ Kemudian Suster Agata kembali berbahasa Spanyol dan hanya laki-laki di sebelahku ini yang bisa menanggapinya.

“Ayo, beri salam pada Hyung dan Noona.” Suster Clara berhenti di depan pintu panti. Di depannya anak-anak berdiri berjajar dengan rapi.

Bersama-sama anak-anak itu mengucapkan selamat malam. Kami membalas mereka dengan lambaian tangan dan ucapan selamat tidur. Kemudian anak-anak itu mulai berhamburan masuk ke dalam.

“Sampai jumpa lagi, Hyung, Noona,” seru seorang anak yang paling akhir. “Adios,” dia menambahkan. Gelombang geli mendorong senyum naik ke bibirku. Sepertinya dia belajar dari pengasuhnya dan hyung yang kerap mengunjunginya ini.

Ige adios-aniya, hasta la vista-iyeyo,” Alexander balas berseru.

“Apa bedanya?” bisikku.

Adios sama saja dengan selamat tinggal. Hasta la vista itu sampai jumpa lagi.”

Setelah berpamitan pada para biarawati, kami meninggalkan panti asuhan itu. Aku menghela nafas pada gerbangnya yang tertutup. Aku akan merindukan tempat ini dan keceriaan yang tersimpan di dalamnya. Saat menatap jalan di depan kami dengan lampu-lampunya dan mobil-mobil yang berlalu lalang, aku merasa seperti baru saja dibuang dari surga.

“Apa kau lapar? Atau kau hatimu patah sedemikian rupa hingga kau tidak bias merasakan lapar?”

Beberapa saat yang lalu aku begitu senang sampai merasa tidak memerlukan hal lain lagi di dunia ini. Sekarang… “Katakan saja kau lapar.”

“Tidak. Aku terlalu senang hingga memiliki energi yang cukup untuk beberapa hari ke depan.”

Iya, aku juga. Kesamaan ini hanya kusalurkan dalam bentuk anggukan.

“Kadang-kadang kita perlu beristirahat sejenak dari semua rutinitas dan masalah. Setelah itu baru kita dapat melihat segalanya dari sisi yang lebih baik.”

“Benar.”

“Beristirahatlah, NaRa.”

Eh?

Alexander berhenti. Barulah aku sadar kami sudah tiba di depan rumahku.

“Oh, ya. Neo do.”

Dia menungguku hingga tiba di depan pintu sebelum melambai dan beranjak menuju rumahnya sendiri.

Beristirahat?

Semoga aku bisa.

***

Aku mencintainya.

Aku mencintainya sejak dulu. Sejak aku belum bisa mengikat sabukku sendiri dengan benar. Sejak tubuhku masih terlalu kaku untuk melakukan deolchigi dan keseimbanganku belum memungkinkanku berdiri dengan satu kaki cukup lama.

Karismanya memerangkapku.

Keseriusannya.

Tingkahnya saat menampilkan sisi tegasnya pada kami, murid-muridnya.

Charyeot.”

Suaranya yang dengan lantang menyampaikan penjelasan.

“Ketika kalian mendengar ‘charyeot’, itu tanda bagi kalian untuk bersiap. Letakkan kepalan di kedua sisi tubuh. Rapatkan kedua ibu jari kaki dan tidak ada lagi gerakan maupun suara.”

Matanya selalu menatap tajam menyelidik setiap dari kami.

Junbi. Pastikan punggung kalian tegak. Tunjukkan bahwa kalian adalah generasi muda yang siap menghadapi tantangan.”

Hana. Oen apseogi araemakki. Aku memutar tubuhku ke kiri meluncurkan kepalan kiriku di sepanjang lengan kanan, menghentikannya di bagian tengah tubuhku, dan menarik kepalan kananku ke pinggang.

Apseogi. Kuda-kuda pendek.”

Dul. Momtong Jireugi. Kudorong kepalan kananku ke depan, ke titik dimana ulu hati lawanku kira-kira berada. Di saat bersamaan menarik kepalan kiriku ke pinggang.

Set. Oreon apseogi araemakki. Aku berputar 180 derajat, mengulangi gerakan pada hitungan pertama. Namun kali ini tangan kananku yang bergerak menangkis. Net. Tangan kiriku bergerak memukul.

Dasot. Apkubiseogi araemakki. Kutarik kaki kiriku 90 derajat ke kiri.

“Ingat. Apkubiseogi. Kuda-kuda panjang. Pisahkan kaki kanan dan kiri kalian sejauh mungkin. Tekuk kaki yang berada di depan hingga kalian hanya bisa melihat ujung ibu jari kaki kalian.”

Ilgob. Anmakki. Tangkisan dari luar ke dalam. Dimulai dari sisi kanan.

Yolset. Eolgolmakki. Dimulai dari kiri.

Kepalan kiriku bergerak dari bawah pangkal lengan kanan kemudian menghentak dan berhenti beberapa senti di atas kepala.

Eolgolmakki. Tangkisan ke atas. Tujuannya adalah menahan serangan dari arah atas. Pastikan lengan kalian pada posisi yang tepat sehingga dapat melindungi kepala kalian.”

Dia berhenti di depanku. Menatapku dalam diam. Tangannya meraih lenganku yang tengah berada pada posisi menangkis, memutarnya sehingga sisi dalam lenganku menghadap ke luar. Perlahan dia memukul lengan penangkisku. Aku bergidik. Sentuhannya mengirim sengat ke saraf-sarafku. Bukan sebuah sinyal sakit, tapi sinyal yang lain. Aku menelan ludah. Berusaha tetap fokus pada kuda-kudaku, tapi potongan leher dobog yang rendah membiarkan dadanya yang bidang tertangkap oleh mataku.

Aku menendang sekuat tenaga. Yolnet. Apchagi.

Menyebalkan. Bagaimana dia bisa begitu menarik?

Yolyosot. Bahkan aku tidak bisa membayangkan dirinya sebagai sasaran chagi-ku.

Yolyodol.

“Lakukan momtong jireugi. Jangan lupa untuk berseru.”

Tangan kananku melayang, menghantam dinding yang bergeming di depanku. “AAAAAAAAAARRRRGGGGHHHH!!!!”

Aku baru tahu hati bisa sesakit ini. Begitu sakit hingga membuatku mampu mengabaikan denyut di jemariku yang memerah.

Senyumnya melintas di otakku.

Wajahnya yang penuh kasih sayang.

Wajahnya yang diliputi cemas.

Saat itu TaeMin melakukan kesalahan. Dia jatuh ketika sedang memperagakan dolke dan mencederai pergelangan kakinya. Aku dan MinHo segera memapahnya ke tepi ruangan. Dengan penuh perhatian MinHo megurut kaki yang mulai membengkak itu. Jika saat itu TaeMin berkata lebih nyaman setelah diurut, aku merasa lebih nyaman setelah melihat afeksi yang tercurah dari pelatih kami itu.

Jika saat itu aku bercanda dengan TaeMin bahwa aku ingin berada pada posisinya sehingga aku bisa merasakan sentuhan penuh kasih itu, sekarang aku tidak tahu..

Dadaku tertusuk-tusuk saat mengingatnya.

***

Alexander terdiam di seberang meja sana. Tangannya lagi-lagi menyangga kepalanya.

“Jadi menurutmu… saat itu MinHo sudah menyukai TaeMin?”

Aku menarik nafas, merasa segulung besar batu bergulir menusuk dadaku, kemudian menghembuskannya keras-keras.

“Dan bagaimana dengan TaeMin sendiri?”

“Entahlah.” Aku menelusuri bibir mangkuk dengan telunjukku. “Dia saudaraku. Aku sudah memutuskan untuk mengabaikan masa lalu. Bahkan jika dia menikmati ciuman itu.”

Kedua alis Alexander tak lagi berjarak. Ada yang aneh pada ekspresinya. Matanya menatapku lekat-lekat. “Apa tak terpikir olehmu bahwa ini tidak hanya tentang kesetiaan?”

Aku menaikkan alis. Apa? ujarku tanpa suara.

“Mereka berdua laki-laki.”

“Ya, aku tahu. Itu sebabnya aku bilang ini gila. Itu sebabnya aku tak akan menginjinkan MinHo mendekati TaeMin…”

“Dan kau memutuskan mengabaikannya seandainya TaeMin menikmatinya?”

Oh…

Oh, astaga.

***

Pemahaman itu memukulku telak.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin aku bisa seegois itu hingga tidak menyadari kesalahan terbesar dalam tragedi ini? Bagaimana mungkin aku hanya memikirkan rasa sakit hatiku dan mengabaikan perasaannya?

Dengan semua itu, aku masih menyebut diriku saudaranya?

Aku pasti sudah gila.

Pintu menjeblak terbuka pada detik aku menurunkan handle dengan kasar dan menubruknya.

Noona?” TaeMin terlonjak kaget dari posisinya yang sedang membentangkan kedua kaki di lantai. “Apa yang membuatmu tergesa-gesa seperti itu?”

“Pukul aku.” Aku berlutut di hadapannya sehingga pandangan mata kami sejajar.

Noona,” tanyanya dengan alis berkerut. Oh, suaranya terdengar sangat lembut dan polos sepolos anak kecil. “Apa kau sakit?”

“Aku serius. Pukul aku.” Kusodorkan wajahku padanya. Dadaku mulai sakit. Rasanya lebih sakit dari saat aku berlari sepanjang jalan tadi.

“Apa kau mau mengejekku karena waktu itu?” Senyumnya begitu tulus.

Kabut mulai membayangi pandanganku. Aku menghambur memeluknya. “Maafkan aku, TaeMin. Maafkan aku.”

“Dua puluh dua tahun yang lalu kita berbagi ruang yang sama dalam rahim Eomma.” Kami berbaring bersisian di salah satu tempat tidur, tak berjarak. Beberapa waktu lalu wajah teman berbagiku ini membatu ketika aku memberitahunya apa yang mengganggu pikiranku. “Hingga sekarang pun kita masih berbagi ruang yang sama. Bahkan kadang kita berbagi bangku, berbagi makanan, berbagi…”

“Sekarang kita juga berbagi kekasih,” kekehnya.

“Tapi bagaimana bisa aku tidak tahu apa yang terjadi padamu?” sergahku, menampik gurauannya yang sama sekali tidak lucu.

Diam.

Mianhae,” lirih TaeMin. “Aku tidak bermaksud melakukannya.”

“Apa maksudmu? Kau tidak menikmatinya, kan?” Aku mengangkat tubuh dari tempat tidur saking bersemangatnya. “Maksudku, kau tidak…”

Pandangan TaeMin yang meredup menghentikanku. Apa maksudnya ini? Apa maksudnya?

“Tae…”

“Kadang kau merasakan sesuatu, tapi kau tidak tahu apa itu. Itulah yang terjadi. Aku juga tidak tahu, Noona. Aku tidak tahu kenapa aku tidak mendorongnya saat itu. Kenapa aku hanya diam. Kenapa aku sama sekali tidak merasa keberatan. Tapi…” TaeMin terhenti. “Aku tidak tahu, Noona. Aku tidak tahu.”

Air mataku kembali mengalir. Kuraih tubuh kecil itu dalam dekapanku.

Aku tidak siap untuk ini. Sama sekali tidak siap.

Aku kira masih memilikinya di sisiku. Bahkan aku telah berhasil mengalahkan emosiku dan membawanya kembali dalam rengkuhanku. Nyatanya, aku telah kehilangan saudaraku. Diam-diam, dia telah direbut dariku.

***

Segalanya terlalu cepat untukku. Kejadian yang bertumpuk-tumpuk. Kebenaran yang bertubi-tubi menerjangku. Aku merasa lelah dan sesak.

Tapi aku sudah memikirkannya baik-baik. Karena itulah, aku melangkah di jalan ini sore ini. Jalan yang begitu familiar, namun menebarkan sensasi asing hari ini. Apakah ini murni karena absenku beberapa waktu terakhir atau karena hatiku sebenarnya enggan kembali ke sini?

Enggan…

Sungguh aneh bagaimana perasaan bisa begitu cepat berubah. Pintu geser ini… aku selalu membukanya dengan perasaan bahagia meluap. Aku bahkan berlari-lari kecil menyongsongnya, membayangkan seruan-seruan yang akan menyambutku begitu celah pada pintu geser ini kulebarkan. Di antara seruan-seruan itu, aku berharap melihatnya. Satu wajah manis dengan ketenangan yang ditampilkannya. Satu wajah manis dengan senyum yang selalu membuatku gemas. Satu wajah manis yang akhir-akhir ini membuatku tercabik antara benci dan sayang, antara kesal dan rindu, antara marah dan ingin memeluknya.

Aku menarik nafas dan memejamkan mata, meyakinkan diriku sendiri akan keputusan yang kuambil.

Kugeser pintu terbuka. Tidak ada seruan. Tidak ada derap langkah kaki mungil. Tapi ada dia di sana. Aku merasakan bibirku tertarik. “Annyeong.”

MinHo berhenti dari latihan dolyochagi-eolgol dolyochagi beruntunnya. “Annyeong,” dia membalas lirih.

Kakiku mulai menapaki lantai dojang. Gumpalan memori segera menyergapku dari segala arah.

Dia menghadap barisan memberikan instruksi.

Dia berkeliling mengoreksi pose dan gerakan.

Dia berlari menghampiri seorang murid yang jatuh karena gerakan yang salah.

Langkahku semakin berat. Baru kali ini aku merasa dojang ini begitu besar hingga menyeberanginya membutuhkan waktu demikian lama.

Dia berseru tegas pada beberapa anak berusia 10 tahunan yang mengabaikan instruksinya.

Dia berlatih tanding denganku. Mata kami bertemu.

Tidak. Tidak!

Aku harus mendorong jauh-jauh memori ini atau semua persiapanku akan sia-sia.

“Lama tak berjumpa, MinHo.”

Basa-basi. Bahkan senyum pahit MinHo pun mengatakannya.

Ne.”

“Pertemuan terakhir kita tidak terlalu menyenangkan. Mian.”

“Aku juga membuat yang sebelum itu tak menyenangkan bagimu. Mian.”

Sekarang kami seperti dua orang asing yang baru saling kenal.

Apa yang harus kukatakan? Apa yang harus kukatakan?

Bukankah aku sudah menyiapkan ini?

“Kau ingat ini?” Aku mengangkat kaki kananku, memutarnya 90 derajat, mengarahkannya ke perut MinHo.

Dia mundur selangkah menghindari tendangan dolyo-ku.

MinHo… Dia yang membuatku mengerti bahwa apa yang kami pelajari ini bukan untuk memenangkan sebuah perkelahian, tapi untuk mempertahankan diri dan menghindari kontak fisik sebisa mungkin. Karena itulah, seni ini bernama bela diri.

Tangan kanannya menangkap kakiku yang belum sempat kutarik kembali. Kubalas dia dengan jireugi tangan kanan. Tangkisannya mematahkan seranganku. Detik berikutnya tubuh kami sudah menempel satu sama lain. Tangannya menahan kepalaku dan wajahnya hanya sejauh telapak tangan.

Kenyataannya adalah aku suka menatap ke dalam matanya.

Aku suka menatap ke dalam matanya dan menemukan kehangatan… kasih sayang…

dan menemukan aku.

***

“Tebak siapa?”

“NaRa-ya,” seru Alexander segera.

“Sungguh cowok yang pintar,” kataku menirukan gayanya. Aku meletakkan semangkuk es krim di hadapannya dan membawa semangkuk lagi bersamaku ke sisi meja di seberangnya.

“Untukku?”

Aku menjawab dengan senyuman. “Kutraktir,” gumamku seraya memulai suapan pertama.

Alis cowok terangkat penuh keterkejutan. “Gomawo.”

Untuk sesaat hanya denting sendok dengan mangkuk yang bersuara di antara kami.

“Jadi?” Alexander memulai.

“Semuanya baik-baik saja,” sahutku tenang.

Alexander tidak berkata apa-apa, tapi tatapannya menyelidik. Kusodorkan wajahku, menantangnya. Dia terbahak.

Chukahae.”

Muchas gracias,” jawabku.

Mata Alexander melebar. Detik berikutnya tawanya lepas. Tawa renyah yang ditularkannya padaku.

Ini memang belum berakhir. Tapi kurasa aku bisa beristirahat sejenak sebelum mulai mengurai benang yang terbelit rumit ini, kan?

Berhenti sebentar saja dari hubungan yang membuatku tidak tahu kemana harus melangkah dan mengambil waktu untuk berpikir. Waktu untuk lebih memperhatikan sekitarku. Untuk menikmati sisi kehidupan yang lain. Mungkin merasakan bagaimana produk olahan susu yang dingin ini meleleh perlahan di lidahku dan menyebarkan rasa tiramisu yang akan terus tinggal hingga setengah jam setelah kau mengosongkan mangkukmu. Atau mungkin sekedar tertawa bersama sahabatku.

Hasta la vista, MinHo.

(Thanks to Jack de Siec for the lovely picture and also for answering all my questions.)

Terminologi:

Oen                          = sisi kiri

Oreon                       = sisi kanan

Arae                          = arah atas

Momtong                  = arah tengah

Eolgol                       = arah atas

Charyeot                  = sikap siap

Junbi                        = siap

Seogi                       = kuda-kuda

Makki                       = tangkisan

Anmakki                   = tangkisan dari arah luar

Jireugi                      = pukulan

Chagi                       = tendangan

Dolyochagi               = tendangan samping

Dolke dolyochagi      = dolyo yang diawali putaran

Deolchigi                  = tendangan mencangkul dengan tumit ke arah kepala

Hana, dul, set, net, dasot, yosot, ilgob, yodol, ahob, yol  =

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10

Advertisements

3 thoughts on “Heartbreak Dojang

Add yours

  1. selalu ada eskrim =9

    mulanya aku bingung saat di bilang “diriku yg lain, tapi bukan aku”, mulanya kupikir “doppeleganger” terus aku ingat ini ada yaoi-nya dan ke bawah2 ada tulisan jelmaan sel telur eomma yg separuh, dan lengkaplah puzzle itu XD

    eh, di sini taem lebih tua dari minho kah? taemin HYUNG? rasanya aneh hahahaha. umur tokoh2nya berapa sih?

    aaah, ini, ini , lagu iniii, bentar, aku lupa ini savage garden atau michael learns to rock?? atau malah bukan dua2nya?

    waaah, cass, kamu riset taekwondo ke mana? atau kamu memang taekwondoin?? satu2nya istilah yang kumengerti hanya sabeum *jadi malu* ini bagus, aku merasa ada di dojang ^^

    selebihnya you know lah, I always love your fic… dan untunglah yaoinya dari pihak ketiga, bukan pihak pertama, jadi aku kuat ngebacanya

    anyway, nara sama taemin umurnya berapa? masa mereka masih bisa nipu orang sih? kan kembar cewek cowok itu berasal dari dua sel telur, biasanya gak akan mirip…

    1. aku coba menghilangkannya karena merasa nggak kreatif dg adanya es krim di mana2, tapi gimana ya enggan bgt rasanya, hehe… ide es krim2anku sdh tamat sampe di sini. kalo2 nantinya ada xander lagi sdh ngga make es krim (semoga).
      iya!rasanya aneh. aku malah ngakak2 waktu nulis. pdhl waktu jaman2 lucifer, oke2 aja ngebayangin dia lbh tua dr minho.
      si kembar 19, minho 17.
      lagunya MLTR, lagunya lewat persis pas aku lagi ngetik jadilah dia diikutkan dalam ff ini.
      aku malah nggak ngerti istilah apapun dari taekwondo sblm adekku jadi taekwondoin.
      iya kan, yaoi-nya cm numpang lewat? iya kan? #harapharapcemas
      aku bikin mereka 1 sel telur tapi 2 sperm. bs ngga si kejadian kyk gt?
      tapi stlh dipikir2, kalo spermnya beda tetep aja nggak bisa identik ya?

  2. AKU BARU DATEEEENG!! (sibuk bgt ini jadi anak SMA T_T)
    AKU SUKA! AKU SUKA!!
    Eum.. aku sama kayak aya eon! Pertamanya gak ngerti pas si nara liat 2min pelukan itu, dan semakin kebawah akhirnya ngerti deh kalo ternyata nara ada kembarannya..
    Sedikit gak nyambung pas taemin-hyung itu.. Pas liat komen aya eonni, ternyata minho lbh muda dr taemin? Ah gak cocok eon.. Taemin forever young! Wkwkwk
    km jarang2 bgt sih bikin ff? Ayo dooong sering2 bikin ff Dx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: