Sweet Revenge

Segala yang ada di dalam apartemen itu tampak rapi bahkan bisa dikatakan tak tersentuh. Sofa putih yang terbentang anggun di depan TV LCD terlihat mulus. Seandainya tidak ada mantel hitam yang tergeletak di atasnya pastilah orang mengira apartemen itu kosong. Jika mendengar lebih teliti akan tertangkap oleh indra gemericik air yang memancar dari shower, satu-satunya suara yang mengisi keheningan apartemen itu.

Uap mengepul dari balik tirai yang membatasi area mandi di kamar mandi apartemen itu dengan lingkungan sekitarnya. Di balik tirai itu seorang gadis tengah asik menikmati guyuran air hangat, membasuh seluruh kotoran serta letih yang mendera tubuhnya. Senandungnya terdengar memenuhi kamar mandi. Tenang dan damai. Nada-nada riang nan ceria pun terselip di sana.

Lee Tae Ra baru saja menyelesaikan satu misinya yang lain. Misi terakhirnya. Membunuh putra tunggal pimpinan Jugeum Bansongpha, suatu komplotan mafia yang terkenal di Korea. Tae Ra terkikik memikirkan hal ini. Ada-ada saja orang dewasa yang menjadi penyewanya itu. Delapan tahun berada di dunia yang diwarnai desing peluru dan akal licik ini membuat Tae Ra paham tujuan pembunuhan ABG yang orang tuanya tengah terkapar di rumah sakit itu. Tanpa pemimpin, tanpa ‘putra mahkota’, komplotan itu bagai manusia yang tengah digerogoti kanker. Perlahan tapi pasti, komplotan itu akan roboh hingga lenyap dari muka bumi.

Oh, bukan dia yang membuat kepala pentolan mafia itu bocor serta mematahkan tangan serta kakinya, tapi dia sangat yakin kecelakaan yang menimpa pria itu bukannya tidak disengaja.

Seraya tersenyum lebar, Tae Ra meraup sejumlah busa yang menutupi tubuhnya lalu meniup koloid gas-cair itu keras-keras. Terbayang olehnya liburan yang akan segera dinikmatinya. Liburan yang merupakan berhentinya dia dari profesi gelapnya selama ini. Istimewanya lagi, karena dia akan melewatkan liburan itu bersama partner sekaligus kekasihnya, Choi Siwon. Gadis yang gemar memainkan glock, suatu jenis hand gun, itu menengadahkan kepalanya membiarkan serbuan air menghujam wajahnya. Rasanya baru kemarin mereka memulai misi pertama mereka.

***

“Ini data-data target,” kata Lee Soo Man, pria tua yang merupakan jantung gerombolan pembunuh bayaran itu. Jemarinya bergerak memberikan instruksi. Dengan segera seorang gadis berwajah keras meresponnya. Dia maju ke hadapan Siwon dan Tae Ra kemudian menyerahkan satu berkas dalam pelukannya pada masing-masing.

“Ciri-ciri, informasi personal, kebiasaan, dan siapa saja yang memiliki hubungan dengannya. Semua yang kalian butuhkan ada di sini,” jelas gadis itu. Suaranya mantap dan pengucapannya datar, tanpa irama atau ekspresi.

Sepasang pembunuh bayaran yang segera memulai misi pertama mereka itu tampak serius menekuni file yang baru mereka terima. Seperti yang dikatakan gadis itu, semua data mengenai korban mereka terurai rapi dan jelas dalam lembaran-lembaran kertas tersebut. Lembaran itu menyatakan target mereka adalah pengusaha sukses pemilik hotel dan apartemen yang memiliki cabang di kota-kota besar di Korea.

Untuk sesaat hanya terdengar bunyi berkeresak kertas yang dibalik. Telunjuk kiri Siwon menyangga pelipisnya sementara bola matanya bergerak membaca baris demi baris informasi. Tae Ra mencengkeram kertas di tangannya dengan gelisah. Sebuah pertanyaan yang mengganggunya baru saja muncul.

“Waktunya adalah besok malam, pukul 10 di…”

“Penthouse miliknya di perbatasan paling luar Seoul,” sela Siwon menyelesaikan kalimat Soo Man. Dia baru saja membaca bahwa target mereka selalu melewatkan malam Jumat di penthouse pribadi yang dibangunnya jauh dari pusat kota.

Tiga pasang mata di ruangan itu segera beralih padanya. Tapi hanya satu pasang mata yang memandangnya dengan tidak suka, bahkan merendahkan. “Choi Siwon,” kata pemilik mata itu. “Aku tahu kau seorang yang cerdas. Dan kau pun tahu aku suka itu. Tapi kau juga harus tahu aku sangat membenci keangkuhan dan sifat sok tahu.”

Siwon hanya memandang orang tua itu dari sudut matanya. Sama sekali tak ada rasa takut pada kedua manik itu maupun pada raut wajah yang membingkainya. Justru terdengar dengus kecil dari sepasang bibir  yang ujungnya sedikit naik itu.

“Ngng… sajangnim,” Tae Ra pada akhirnya memberanikan diri.

“Lee Tae Ra?”

Setelah mendapat isyarat bahwa dia bisa melanjutkan maksudnya, Tae Ra kembali berujar, “Sajangnim, kenapa kita membunuh orang ini?”

“Kenapa?”ulang Soo Man.

“Ya, kenapa kita membunuh orang ini?” tanya Tae Ra lugu. “Maksudku, apa salahnya? Bukankah dia hanya pengusaha biasa?”

Tawa Soo Man membahana mendengar ini. Sementara si gadis pembawa file yang telah kembali ke posisinya semula hanya mengangkat alis. Namun tindakan kecilnya ini menyatakan dengan jelas kalau dia mencela pertanyaan Tae Ra barusan. Siwon yang berada di sebelahnya tak bereaksi sama sekali. Wajahnya datar, tapi telinganya siap mendengarkan jawaban sang pemimpin.

“Mengapa? Kau bertanya mengapa?” Tawa Soo Man belum juga habis. “Apa yang kau temui setiap hari selama empat tahun terakhir ini? Tidakkah itu memberimu cukup gambaran mengenai aktivitas kami di sini?”

“Ne, arayo,” gagap Tae Ra. “Tapi… tidakkah kita hanya membunuh mereka yang bersalah?”

“Membunuh mereka yang bersalah?” Soo Man menghabiskan tawanya sebelum menyatakan kalimat terakhirnya. “Mungkin yang kau maksud itu polisi, Nak.”

@@@

 

On three!” seru seseorang. Tae Ra tak mengenali suara siapa itu. Tidak juga menyadari keadaan sekelilingnya. Pikirannya masih tertuju pada satu hal. Hal yang bertentangan dengan apa yang dilakukannya saat ini.

“Tae Ra!” seru suara yang sama. Otaknya masih belum menyatu dengan tubuhnya, dia bergeming. Namun sebuah tangan menariknya, membawanya terjun dalam lautan gelap langit malam. Untuk sesaat dia melayang-layang tanpa arah hingga hembusan angin membangunkannya. Seketika dia menyadari kegelapan di sekitarnya, titik-titik bintang yang tampak lebih dekat daripada yang biasa dia lihat, dan Siwon yang memalingkan wajah darinya. Agaknya namja itu baru saja menghentikan usahanya menyadarkan Tae Ra dari lamunan.

Senyum terkembang di wajahnya. Senyum lega yang segera berubah menjadi mimik serius ketika melihat puncak apartemen di bawah kakinya. Dengan mantap dia menarik tali parasut hingga terbuka.

“Kukira aku harus membawa mayatmu pulang pada misi pertama kita,” sembur Siwon dingin begitu mereka mendarat di atap apartemen.

“Mi.. mianhae,” jawab Tae Ra kalut, tanpa sengaja membuat tangannya terbelit salah satu tali parasut. Sambil memutar kedua bola matanya, Siwon meraih tali itu dan memotongnya menggunakan pisau yang disembunyikannya di pinggang.

“Ah, goma,” begitu tangan Tae Ra terbebas Siwon segera berpaling meninggalkannya, “wo,” pungkas Tae Ra kemudian segera berlari-lari kecil menyusul namja itu.

Siwon tengah membuka sebuah kotak yang menempel di dinding ketika Tae Ra tiba di sisinya. Dia mengacungkan desert eagle dalam genggamannya ke arah kotak itu dan dalam sekejap mata suasana menjadi gelap. Ya, lampu-lampu yang menerangi apartemen di bawah mereka padam karena Siwon baru saja menyarangkan pelurunya pada jaringan sumber energi listrik apartemen.

“Waktu kita sekitar 7 menit dimulai dari sekarang,” ujar Siwon seraya mengenakan kacamata infra merah. Tae Ra mengangguk dan mengikutinya. Dia baru menyiapkan glock-nya ketika terdengar suara-suara dari bawah. Orang-orang mulai bereaksi akan listrik yang mendadak padam ini.

Dengan sebuah kedikan kepala dari Siwon mereka mulai bergerak. Atap apartemen berhubungan langsung dengan balkon penthouse, suatu kenyataan yang memudahkan pasangan pembunuh ini. Dengan mudah mereka menyelinap melalui pintu kaca tak terkunci yang memisahkan balkon dengan ruang keluarga, tempat di mana target seharusnya berada.

Seharusnya…

Karena ruangan yang terbentang di hadapan mereka begitu sepi. Kosong. Tak ada siapapun di sana. Siwon mengumpat pelan. “Kita berpencar. Segera selesaikan misi begitu target ditemukan. Kita bertemu lima menit lagi di bawah,”jelasnya cepat.

Tae Ra mengangguk kemudian memisahkan diri dari rekannya. Langkahnya hati-hati agar tak menimbulkan suara sekecil apapun. Matanya waspada akan setiap gerakan yang muncul. Tangannya siap menarik pelatuk handgun kesayangannya kapanpun diperlukan.

Sebuah tikungan muncul di hadapannya. Tae Ra merapat ke dinding. Dengan cermat dia mengawasi keadaan sebelum berbelok dan menemukan sebuah pintu. Ditempelkannya telinganya pada daun pintu untuk mengecek keadaan di dalam sebelum mendorong kayu berukuran 2,3 x 1 meter itu terbuka.

“Hyun Woo?” sapa sebuah suara dari dalam kamar. “Kenapa lampunya masih belum menyala?”

Jantung Tae Ra berdegup sangat kencang hingga tangannya secara otomatis bergerak menutup daerah itu, berharap dapat meredam suaranya. Keringat meluncur menuruni pelipis dan membasahi telapak tangannya ketika kesadaran itu datang. Target telah ditemukan.

“Hyun Woo?” kata si pengusaha lagi karena tak mendapat jawaban.

Tae Ra mengacungkan moncong glock-nya pada pria itu. Bahkan dengan kedua tangannya menyangga benda pembunuh itu, Tae Ra masih bisa merasakan ketidak mantapan di sana. Tidak. Dia tidak ingin membunuh orang ini.

Tapi inilah misinya. Inilah saatnya beraksi setelah latihan yang ditempuhnya selama empat tahun. Inilah tujuannya.

Tujuannya… hanya saja, bukan pada seorang yang tidak bersalah.

Moncong handgun-nya bergerak naik turun seiring dengan berubah-ubahnya pikiran Tae Ra. Dia begitu sibuk dengan perdebatan dalam dirinya hingga tidak menyadari sasarannya bergerak mendekat.

Jika saja tidak terdengar bunyi letusan senjata api, mungkin sudah terlambat bagi Tae Ra untuk menyadari jarak antara dia dengan si pengusaha. Ah, suara tembakan?

“Apa itu?” seru si pengusaha.

“Jangan bergerak,” seru Tae Ra seraya mengancam pria paruh baya itu dengan senjatanya. Berikutnya, telinganya menangkap seruan-seruan peringatan. Mereka ketahuan.

“Siapa kau?” suara yang berasal dari sosok di hadapan Tae Ra itu bergetar.

Tae Ra mempererat genggamannya. Dia harus melakukannya sekarang.

Sekarang atau misi ini gagal. Misi pertamanya.

Dalam situasi genting itu mendadak Siwon muncul di ambang pintu. Pandangannya dengan cepat menyapu seisi ruangan, pada Tae Ra yang berdiri dengan senjata teracung dan pada sasaran mereka yang masih bernyawa. Kemudian tanpa mengulur waktu, dia melepaskan tiga tembakan. Tae Ra bisa merasakan ketiga timah panas itu melesat hanya beberapa senti darinya.

Kejadian berikutnya hanya menyentuh secara samar alam sadar Tae Ra. Penglihatannya menjadi jelas. Satu sosok terbujur di lantai di hadapannya. Noda darah di tiga tempat berbeda menghiasi tubuh sosok itu. Gelombang déjà vu seolah menyerangnya. Tubuhnya mematung.

Namun, detik berikutnya seseorang menarik tangannya tanpa peringatan. Kakinya terseret-seret mengikuti orang tersebut yang bergerak dengan cepat. Orang-orang berjas hitam berlari ke arahnya. Mereka saling pukul atau lebih tepatnya mengeroyok seseorang. Bunyi baku hantam dan teriakan menggetarkan gendang telinganya.

“Ya! Lee Tae Ra!”

Saat itulah kesadaran kembali ke tubuh Tae Ra. Roda gerigi dalam otaknya kembali berputar membuatnya menyadari lampu-lampu sudah kembali menyala. Darah yang semula serasa berhenti kembali mengaliri tiap pembuluh darahnya memberikannya kemampuan untuk bergerak. Seorang pria dalam jarak satu lengan di sebelah kirinyalah yang mendapat kehormatan menjadi sasaran dari gerakan pertama Tae Ra. Dilayangkannya tinjunya tepat ke tulang rawan di wajah pria itu. Belum cukup, kaki kirinya membentang lurus, menghujam tepat ke lambung si pria. Lawan pertamanya roboh dalam dua serangan.

Seketika itu juga, lawan berikutnya muncul. Tae Ra menyorongkan lengannya di leher orang itu kemudian mendorongnya hingga membentur dinding. Sementara tangannya yang sebelah lagi mencengkeram leher seseorang lain yang hendak menyerangnya dari kiri. Seraya menatap tajam pada sosok di depannya, Tae Ra menarik batang tenggorok sosok di sebelah kirinya hingga terlepas dari jalurnya. Kemudian dengan kedua tangannya Tae Ra mematahkan leher satu lawannya yang tersisa.

Selesai. Dia menoleh pada partner-nya yang tengah membuang lawan terakhirnya. Siwon balas memandangnya. Kepalanya mengedik mengisyaratkan untuk segera meninggalkan tempat itu. Mereka berlari cepat menuju tempat terbuka di penthouse itu. Beberapa anak buah pengusaha itu menghadang mereka, tapi tanpa membuang waktu Siwon dan Tae Ra menghajar mereka dengan timah panas.

Udara malam segera menyapu lembut wajah mereka berdua ketika tiba di tempat terbuka yang mereka cari. Siwon segera menghampiri dinding pembatas tempat itu. Matanya memicing ketika memeriksa jauh ke bawah.

“Kajja,” ujarnya setelah memastikan keadaan aman. Masih terus mengawasi pintu, Siwon mengaitkan ujung tali yang terhubung ke pinggangnya pada besi panjang yang melintang di pagar pembatas.

Nafas Tae Ra menderu keras. Tangannya yang gemetar membuat apa yang dilakukannya berantakan. Berulang kali kaitnya luput dari besi. Sepasang tangan lain menggenggam kaitnya -sekaligus tangannya- dan memasangkan kait itu untuknya.

“Gomawo,” gumam Tae Ra.

“Palli, sebelum mere…” Kalimat Siwon bahkan belum menemui titik ketika seruan peringatan terdengar dari belakang mereka. Dua orang penjaga menemukan mereka.

“Lompat,” bisik Siwon lebih merupakan perintah pada Tae Ra.

“Andwae,” Tae Ra menggeleng. Tapi Siwon tidak menerima penolakan, diangkatnya tubuh kecil Tae Ra dengan mudah dan diletakkannya di dinding sebelah luar. “Kita bertemu di bawah.”

Tae Ra telah meluncur selama beberapa detik sebelum dia berhasil merapat ke dinding dan menahan lajunya. Tangannya pedih karena bergesekkan dengan tali, tapi diabaikannya. Tanpa mempertimbangkan apapun dia memanjat kembali ke atas. Setiap kali suara tembakan terdengar setiap kali itu pula jantung Tae Ra kehilangan satu detakannya. Panik dan tergesa, gadis itu memanjat dengan rasa kesal tumbuh perlahan dalam dirinya. Dia kesal kenapa dia begitu lambat. Dia kesal pada Siwon yang seenaknya menyuruhnya kabur lebih dulu.

Tae Ra melempar tangan kirinya pada tali di atasnya. Akhirnya, dia hanya perlu mengangkat tubuhnya dan… Empat tubuh bergelimpangan di sana. Satu tubuh lagi tengah dihajar oleh Siwon sementara satu lagi masih berjalan tegak dan siap menghajar namja itu.

Refleks Tae Ra mencabut hand gun-nya dan membidik orang itu. Empat peluru bersarang di tubuhnya membuatnya roboh dalam hitungan detik. Siwon yang telah membereskan jatahnya segera menyusul Tae Ra. Perjalanan turun ke bawah terasa lama meski mereka tidak melawan gravitasi. Untunglah, tidak ada yang sempat memotong tali mereka atau menghadang mereka di bawah. Begitu bumi berada dalam pijakan, mereka segera berlari menuju mobil yang telah disiapkan.

“Bukankah kubilang kita bertemu di bawah?” tanya Siwon. Sedikit nada marah terselip dalam kata-katanya.

“Aigo, perlukah kita membahas itu sekarang?”

Siwon masuk ke balik kemudi dan deru mesin mobil segera terdengar. Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan cepat meninggalkan daerah pinggiran Seoul itu.

Tae Ra membenturkan bagian belakang tubuh dan kepalanya pada punggung jok mobil. Keringat menghiasi tepi wajahnya. Matanya menatap kosong pada bulan purnama jauh di depan mereka.Tangannya terkulai lemas di sisi tubuhnya.

“Mwo?” tanya Siwon datar setelah melempar lirikan singkat pada Tae Ra.

“Aniyo,” jawab Tae Ra lirih.

“Masih memikirkan si orang baik?”

Tae Ra mengatupkan kelopak mata dan menggigit bibirnya kuat-kuat sebagai reaksi akan hal ini.

“Kenapa kau berada di sini kalau begitu?”

Lama hening. “Kita hampir mati. Banyak orang tak bersalah tewa malam ini. Semua hanya demi kepentingan bisnis saingan orang itu.”

Dengusan yang hari sebelumnya terdengar kembali keluar dari mulut Siwon. “Benar kata pak tua itu. Mungkin yang kau maksud itu polisi. Kita pembunuh bayaran bukan pembela kebenaran,” kata Siwon dengan penekanan pada kedua jenis status yang disebutnya.

“Bahkan pembunuh bayaran punya pilihan!” seru Tae Ra, gerah dengan pemikiran orang-orang di sekitarnya. Emosi telah membawanya menegakkan punggung.

“Pilihan?” Siwon menginjak pedal rem begitu tiba-tiba hingga Tae Ra kehilangan keseimbangan dan harus menjulurkan tangan untuk mencegah dirinya membentur dasbor. “Pilihan apa? Apapun yang kau pilih kau tetap saja pembunuh. Seorang yang mencabut nyawa manusia lain sebagai pekerjaan.”

“Tapi…” Tae Ra kehabisan kata-kata.

“Apa kau pikir orang-orang itu tidak punya pilihan? Apa kau pikir mereka melakukannya karena terpaksa?”

Tae Ra mengerutkan dahinya tak mengerti. Seluruh wajahnya bahkan ikut mengerut saat wajah Siwon bergerak memperkecil jarak di antara mereka. Begitu dekat hingga namja itu tak perlu mengeluarkan banyak energi untuk menyampaikan kata-katanya. “Mereka yang membunuh orang tuamu.”

***

 

 

Dinding berlapis keramik yang basah itu terasa nyaman saat Tae Ra menempelkan dahinya di sana. Dia tidak percaya telah bertindak sejauh ini. Entah berapa nyawa telah melayang di tangannya. Padahal dulu dia hanya anak biasa. Seorang pelajar SMA dengan segudang cita-cita dan impian yang terus berubah. Mengapa dia harus salah melangkah? Mengapa semua petaka itu harus terjadi?

Pekikan ibunya dan seruan ayahnya masih terdengar jelas, bergaung dalam kepalanya. Desing peluru yang beterbangan menghujam tubuh kedua orangtuanya masih terasa begitu nyata. Wajah bengis dan tawa kejam orang-orang yang tanpa peringatan merusak malam tenangnya masih tercetak jelas dalam benaknya. Seolah kejadian itu baru terjadi kemarin. Sampai kini, Tae Ra masih menyesali keputusannya saat itu. Seandainya dia memilih tetap bersama kedua orangtuanya. Seandainya dia memilih untuk tidak mendengarkan ayahnya yang menyuruhnya bersembunyi. Seandainya…

Tapi semua itu sudah berlalu. Tae Ra sudah membalaskan dendamnya. Hanya beberapa saat setelah misi pertama mereka, Siwon membantunya menemukan pembunuh-pembunuh itu. Wajah memelas mereka, wajah menjilat mereka yang minta dikasihani… Tae Ra tidak akan lupa itu semua.

Bagaimanapun, pendapat Tae Ra tentang dirinya yang memiliki pilihan tidak berubah. Dia hanya ingin membunuh orang-orang yang berbahaya bagi masyarakat. Satu hal yang pada akhirnya disetujui pimpinan mereka, Soo Man. Begitulah sepak terjang Tae Ra di dunia yang tak mengenal pengampunan dimulai. Bersama Siwon, mereka menumbangkan satu demi satu target yang diberikan pada mereka. Hingga suatu peristiwa membuat Tae Ra ingin mundur dari dunia bunuh membunuh selamanya.

***

Perang peluru terjadi dalam ruangan yang sebenarnya merupakan gudang itu. Bau mesiu dan suara selongsong kosong peluru membentur lantai di mana-mana. Sosok-sosok yang bertanggung jawab atas kericuhan tersebut menyembunyikan diri di balik kontainer-kontainer yang tersimpan di sana.

Tae Ra merapatkan punggungnya ke kontainer. Dia baru saja melepaskan tembakan. Sebentar lagi serangan balasan pasti datang. Dia menoleh ke kiri dan menemukan tatapan Siwon yang tertuju padanya. Kepala namja itu mengedik ke pintu. Bibirnya menggumamkan sesuatu tanpa suara. Sesuatu yang langsung ditolak Tae Ra dengan gelengan kepalanya.

Siwon tampak mendecak kesal. Kepalanya menoleh mengecek area pertarungan dan kondisi lawan. “Kita harus menyusun strategi,” gumamnya lagi. Masih tanpa suara.

Tae Ra memajukan kepalanya, memimikkan ‘apa?’.

“Peluru revolver mereka akan habis dalam 6 tembakan. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Kau segera keluar dari sini.”

Gadis itu hanya perlu menggunakan matanya untuk menyatakan ketidak setujuannya. Siwon memejamkan matanya, lelah dengan perdebatan ini. “Oke, kita lakukan bersama,” katanya dengan nada mengakhiri diskusi. Tapi Tae Ra juga tidak ingin membantahnya kali ini. Dia tersenyum setuju.

Masing-masing mengisi ulang peluru senjata mereka. Kemudian Siwon mengangguk menanyakan kesiapan Tae Ra. Gadis itu balas mengangguk. Serentak mereka berdiri dan melepas tembakan pertama. Serangan balasan pun datang, sesuai yang diharapkan. Saling lempar peluru kembali terjadi.

Tae Ra kembali menghilang di balik kontainer sembari menghitung. Baru saja adalah peluru lawan yang kesepuluh. Hanya ada dua orang di sana yang berarti masing-masing hanya memiliki satu peluru kini. Ini kesempatan mereka. Rekannya pun sepertinya memiliki pemikiran yang sama.

Sambil bangkit dengan mantap, mereka melancarkan serangan terakhir memaksa dua peluru terakhir keluar dari sarangnya. Tanpa membuang kesempatan, mereka segera berlari keluar dari tempat itu. Namun, salah satu dari mereka –entah dari mana- masih memiliki satu sisa peluru dan segera membidik. Tae Ra yang mengetahui arah bidikannya, mendorong Siwon. Namja itu luput dari tembakan, sebagai gantinya peluru kini bersarang di bahu Tae Ra. Dengan geram Siwon menyambar glock Tae Ra yang masih menyisakan 4 peluru dan melepaskannya ke arah lawan. Kemudian dia berlari sambil membawa memapah Tae Ra yang tertatih-tatih.

Sebuah van besar segera menyambut begitu mereka tiba di luar. Siwon menjeblak pintu belakangnya hingga terbuka lebar lalu mengangkat Tae Ra masuk ke dalamnya. Rekan mereka yang berada di balik kemudi segera melarikan van itu secepat mungkin begitu mereka telah berada di dalam.

Siwon memastikan Tae Ra berbaring dengan nyaman pada jok panjang van itu.

“Kenapa kau selalu melakukannya?”bisiknya.

Tae Ra melemparkan pandangan bertanya pada Siwon sambil mengernyit menahan sakit di pundaknya.

“Kenapa kau selalu membantah ketika aku menyuruhmu pergi?”

Tae Ra berpaling. Dinding dalam van di hadapannya perlahan mengabur ketika air mata berkumpul di pelupuk matanya. “Karena aku tidak ingin ditinggalkan lagi. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku tidak ingin sendirian lagi.” Tangisnya pecah. Segala rasa yang menyesaki dadanya tumpah saat itu.

Sesuatu yang hangat menyentuh pipinya, memaksa wajahnya kembali menghadap arah sebelumnya. “Tapi kau membuatku terancam kehilanganmu.” Usapan lembut di puncak kepalanya justru membuat tangisnya menjadi-jadi. Bukan karena usapan itu menyakitkan, tapi karena usapan itu begitu hangat dan membuat Tae Ra memiliki seseorang.

***

 

 

Senyum kembali terbit di wajah Tae Ra. Tangannya kini berada di puncak kepalanya. Seseorang. Ya, dia kini memiliki seseorang. Dia tidak sendiri lagi. Dia…

Suara benda pecah menarik Tae Ra dari kesibukannya dengan pikirannya sendiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dia mematikan shower, mengenakan kimono mandi, dan melompat ringan menyambar glock yang tersimpan di ventilasi. Memang dia sudah tidak ingin menggunakan benda itu lagi, tapi sekian tahun bersamanya membuat Tae Ra merasa tidak nyaman tanpa kehadiran benda itu.

Matanya bergerak waspada mengamati apartemennya begitu dia melangkah keluar dari kamar mandi. Suasana begitu hening hingga Tae Ra berpikir dia telah salah dengar. Mungkin saja pengalaman selama empat tahun membuat telinganya mendengar hal yang tidak tidak. Tapi pemandangan di ruang tengah menghapus kemungkinan itu dari otaknya.

Guci antik berukiran naga yang dibelinya satu setengah tahun lalu tergeletak dalam kondisi tercerai berai. Tae Ra memutar badannya. Hening. Sepi. Seolah-olah anginlah yang mendorong guci itu hingga berkeping. Tunggu.

Tae Ra menyipit. Rasanya dia melihat sesuatu yang tidak asing tergeletak di antara pecahan guci. Dipungutnya benda itu. Dugaannya benar. Sebuah peluru.

Keningnya mengernyit saat mengamati peluru itu.

Peluru ini tidak asing.

Sangat tidak asing.

Ini adalah… peluru yang selalu dia pakai. Peluru untuk glock-nya.

Adrenalin dalam tubuh Tae Ra menderas. Siapa? Siapa yang menyusup ke apartemennya dan menghancurkan propertinya dengan jenis senjata yang selalu digunakannya?

Teman-temannya tak satupun yang menggunakan glock seperti dirinya.

Musuh-musuhnya? Dia tak pernah punya musuh. Atau lebih tepatnya dia tak pernah menyisakan musuhnya, meski satu.

Jadi, siapa? Siapa yang melakukan ini?

Dan yang lebih penting lagi, di mana orang itu sekarang?

Masih di dalam apartemen ini?

Tae Ra menapak perlahan. Langkahnya sangat hati-hati. Berjaga-jaga jika penyusup itu belum meninggalkan apartemennya. Karena siapapun yang melakukan ini, pastilah orang yang berbahaya.

Sebuah peluru berdesing tepat di sisi telinganya membuat Tae Ra membatu sesaat. Namun dia segera berbalik dengan senjata teracung, menghadap arah datangnya peluru itu. Tak ada siapapun.

“Siapa itu?” serunya. “Tunjukkan dirimu, pengecut!”

“Aku terus menunjukkan diriku, tapi kau tak pernah melihat ke arah yang benar,” sebuah suara yang familiar menyahutnya.

Tae Ra berbalik. “Siwon?” tatapnya tak percaya. Si pemilik suara sedang menyandarkan pantanya dengan santai pada puncak punggung sofa. “Sej… sejak kapan kau di situ? Dan… apa maksud semua ini?”

“Apa yang kau maksud dengan ‘semua ini’?” jawab Siwon santai sambil beranjak mendekati Tae Ra. “Apakah ini?” Dia meletakkan moncong pistolnya tepat di dahi Tae Ra.

“Si… Siwon, berhenti bermain-main. Aku tidak suka,” protes Tae Ra dengan gugup. Ada sesuatu dalam mata dan suara kekasihnya itu yang membuat bulu kuduk Tae Ra meremang.

“Aku tidak bermain-main,” timpal Siwon, masih dengan suara tenangnya. “Sejak kapan aku bermain-main dengan senjata?” Sebelah alisnya terangkat. Seandainya tidak sedang diliputi kengerian dan tanda tanya besar tentang apa yang sedang terjadi, Tae Ra pasti sudah memeluk sosok yang hanya berjarak 20 cm darinya itu dengan gemas.

Kemudian matanya menumbuk sesuatu yang ganjil. “Sejak kapan kau membawa glock?”

“Kau tidak suka?”

“Tapi… bukankah…”

“Hari ini,” Siwon memberi jeda dalam kalimatnya. “Aku akan menuntaskan sebuah rencana besar yang telah kususun sejak bertahun-tahun yang lalu.”

“Rencana?”

“Ne. Kau mau tahu apa itu?” Siwon memiringkan senjatanya sedikit kemudian mendekatkan wajahnya. Wajah mereka kini terpisah oleh jarak yang tak berarti. “Membunuhmu,” bisik Siwon dramatis.

Waktu seolah berhenti. Tak satupun dari mereka membuat gerakan. Bahkan tak ada suara angin atau detik jam dinding. Atau mungkin organ tubuh Tae Ra-lah yang kehilangan kemampuan saking kagetnya.

Sebuah tawa hambar dan dipaksakan keluar dari mulut Tae Ra begitu dia bisa bereaksi kembali. “Jangan bercanda, yeobo,” katanya, berusaha terdengar santai.

“Apakah dua peluru yang sudah kulepaskan tadi kau anggap sebagai candaan? Kalau begitu… apa perlu kulepaskan peluru ketiga?” Siwon menarik diri menjauh. Kembali meletakkan pistol dengan mantap di dahi Tae Ra. “Sekarang?”

Tak ada kilat jahil pada sepasang mata di hadapan Tae Ra. Ekspresi wajahnya menegaskan hal yang senada. Meski hati Tae Ra masih beradu argumen mengenai apa yang terjadi, insting-nya memintanya untuk menarik diri menjauh dan menyiagakan glock-nya. Tepat saat glock yang lain meletus tak jauh darinya.

Tae Ra terbelalak. Ini tidak mungkin gurauan. Dia serius.

Tapi, kenapa??

Tae Ra berlari menghindar. Dia menuju dapur, melirik salah satu laci sambil berharap Siwon tidak tahu di mana dia menyembunyikan semua peluru dan cadangan senjatanya.

“Aku tidak berencana berlama-lama di sini,” didengarnya Siwon berseru. “Jadi cepatlah keluar dan kita akhiri semua ini.” Suara itu terdengar semakin dekat. Namun sebuah peluru telah tiba lebih dulu sebelum penembaknya menampakkan diri di dapur.

Tae Ra menghela nafas lega karena peluru itu bahkan tidak menyerempetnya sama sekali. Dia meninggalkan dapur menuju lorong yang menuntunnya menuju kamar. Ditutupnya pintu perlahan begitu berada di dalam lalu merosot dengan punggung menempel pada pintu.

Tidak tidak tidak, ini tidak mungkin nyata. Dia pasti bermimpi buruk. Tae Ra menepuk-nepuk pipinya. Tapi tepukan itu terasa sangat nyata di wajahnya. Beberapa kali suara tembakan terdengar di sepanjang lorong.

Ah, bagaimana ini?

Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa semuanya tiba-tiba berbalik 180 derajat?

Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Tae Ra menenggelamkan wajah dalam telapak tangannya.

Suara letusan masih terdengar di luar sana. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Mendadak Tae Ra mendongak. Dia harus meminta penjelasan atas semua ini. Apakah orang itu memang Siwon atau hanya seseorang yang mirip Siwon. Apakah dia hanya bergurau atau memang serius seperti yang telah dikatakannya.

Lagipula, dia bukan Lee Tae Ra delapan tahun lalu, yang bersembunyi di tempat aman dan menghindari bahaya. Suara tembakan berhenti. Tae Ra membuka pintu kamar perlahan, dia mengintip. Lorong itu kosong. Siwon telah pergi entah kemana. Kembali meningkatkan kewaspadaannya, Tae Ra berjalan menyusuri lorong.

Tae Ra terus bergerak hingga punggungnya menabrak sesuatu. Dia mendongak guna mencari tahu apa itu. Penyekat ruangan. Tanpa berpikir dua kali, dia menghentakkan kakinya dan mendarat di puncak penyekat ruangan itu dengan ringan. Seluruh ruangan kini ada dalam jarak pandangnya. Tapi… di mana pria itu? Ruangan benar-benar kosong, tanpa ada sedikit pun tanda bahwa Tae Ra tidak sendiri di sana.

Suara tembakan dan benda yang berdesing hanya beberapa milimeter dari kulitnya membuatnya terkejut. Keseimbangannya hilang hingga gaya gravitasi dapat dengan leluasa menariknya ke bawah. Bayangan akan jatuh berdebum di lantai keramik yang dingin telah memenuhi benak Tae Ra ketika sebuah lengan menangkapnya.

Mata seorang Choi Siwon balas menatap matanya. Namja itu tersenyum, merasa dia telah selangkah lebih unggul. Tangan kanannya yang tidak melingkari pinggang Tae Ra menggerakkan hand gun mengikuti lekuk wajah gadis itu. Turun ke leher, menyusuri tiap senti kulitnya. Setetes air yang berasal dari kegiatan mandinya beberapa saat lalu dan belum sempat dikeringkan secara sempurna turut menitik, meninggalkan jejak basah di kulit lehernya.

Sementara hand gun Siwon terus bergerak turun dan kini telah berada di dada Tae Ra, mengarah tepat ke jantungnya hanya terpisahkan oleh sehelai kimono mandi hingga tiap detakan yang dibuat oleh organ vital itu terasa dengan sangat jelas oleh tangan yang terbiasa memegang desert eagle itu. Namun Tae Ra bukanlah gadis kecil yang baru memulai misinya empat tahun lalu. Dia telah menuntaskan sekian misi, menghadapi puluhan bahkan ratusan penjahat bersenjata, dan lolos dari sekian keadaan nyaris mati. Naluri bertahan hidupnya di dunia yang menganggap remeh sebuah nyawa sudah terasah. Dan naluri itulah yang menggerakkan tangannya pada detik mata Siwon bertumbukan dengan matanya.

Wajah tampan itu harus sedikit mendongak akibat dorongan glock milik Tae Ra. Senyum kemenangannya sirna digantikan sebuah seringai. Ditariknya kembali lengannya yang melingkari pinggang Tae Ra. Satu tindakan yang membuat Tae Ra menjulurkan lengannya sendiri untuk mencegah tubuhnya bertumbukan dengan bumi kemudian melakukan salto beberapa kali sebelum berdiri diam pada jarak beberapa meter dari lawannya. Glock teracung siaga.

“Kenapa?” bisik Tae Ra dengan suara bergetar. Dia sama sekali tidak paham apa yang sedang terjadi. Mengapa Siwon, sosok yang paling disayanginya, yang baru beberapa menit lalu dalam bayangannya menjadi sosok yang menemaninya menghabiskan waktu sembari mengurai tawa kini berdiri di hadapannya, menodongkan pistol ke arahnya?

Namja yang tengah memporak porandakan hati Tae Ra itu hanya mengangkat alis.

“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini??!” Kegalauan gadis itu meledak dalam kata-katanya. Air matanya menetes ke pipi begitu saja.

Rahang Siwon mengeras. Sinar matanya berubah. Tak lagi tajam dan datar, tapi penuh dengan amarah. Pandangan yang jelas menunjukkan bahwa pemiliknya sangat ingin membunuh. Pandangan yang belum pernah dilihat Tae Ra selama ini.

“Kenapa? Kau bertanya ‘kenapa’?” Siwon mendengus.

Dengusan yang perlahan berubah menjadi tawa. Bukan tawa bahagia yang akan membuat siapapun yang mendengar turut tertawa. Tawa ini justru terdengar menyakitkan, sesakit hati yang mendendangkannya.

Secepat datangnya secepat itu pula tawa itu lenyap. Dalam sekejap wajah Siwon kembali datar. “Kau ingat? Sembilan tahun yang lalu. Musim dingin. Sebuah pertemuan kecil di rumahmu.”

Kedua alis Tae Ra menyatu ketika dia berusaha memanggil kembali ingatannya di masa itu. Namun ingatan itu tidak terlalu sulit untuk dicari.

Sembilan  tahun lalu… Musim dingin… Pertemuan kecil…

Keluarga itu berkumpul mengelilingi kotatsu untuk menangkis hawa dingin yang melanda sejak kemarin. Sang ayah tampak sibuk menekuni koran yang belum sempat dibacanya sejak beberapa hari lalu karena kesibukannya bekerja. Sang ibu dengan jeli merajut sebuah syal berwarna salem yang sudah tiga perempat jadi. Sementara anak mereka satu-satunya, seorang gadis yang baru beranjak remaja, tenggelam dalam keasikannya membaca novel. Sesekali dia mengeluarkan suara decak kagum atau membelalakkan matanya terpukau. Meski adakalanya juga dia mendesis kesal dan memaki kebodohan karakter fiktif dalam kisah yang dibacanya.

“Omo~ pasti keren kalau menjadi pembunuh bayaran.” Gadis itu telah menyelesaikan bacaannya. Saking bersemangatnya dia sampai setengah membanting novel itu ke meja.

“Bicara apa kau, Tae Ra,” sergah ibunya seketika. “Menjadi pembunuh bayaran?”

Ne, Eomma,” jawab Tae Ra masih dengan semangat yang sama seolah tidak menyadari penolakan dalam nada suara wanita paruh baya itu. “Bukankah itu keren? Syu syu syu,” dipraktekkannya gerakan menembak. “Memainkan pistol?” Matanya bersinar seakan yakin akan mendengar kata setuju dari ibunya.

“Aigoo~ bagaimana mungkin membunuh orang itu keren.” Aktivitas merajut itu kini terhenti. “Ya! Dengarkan anakmu ini,” Nyonya Lee kini mengadu pada suaminya. “Cita-citanya jadi pembunuh bayaran.”

Pria berkacamata bulat itu hanya terbahak. “Tak ada salahnya kan punya cita-cita yang sedikit liar?”

Nyonya Lee seakan hampir terserang asma. “Aigo aigo aigo, tak ada salahnya? Sedikit liar? Pembunuh kau bilang sedikit liar?”

Uljima.” Tuan Lee agaknya tak ingin timbul perdebatan di antara mereka. “Lagipula uri Tae Ra masih amat muda. Masa depannya…” Ketukan di pintu memotong kata-kata sang ayah.

“Siapa itu?” reka sang ibu seraya menelengkan kepala seolah dengan begitu dia bisa melihat siapa yang ada di balik pintu. “Biar aku lihat dulu.”

Nyonya Lee yang mendapati sahabat lamanya dan suaminya di balik pintu segera memanggil sisa keluarganya keluar. Acara reuni kecil pun terjadi. Para ibu saling berpelukan dan ayah berjabat tangan. Obrolan kecil mereka berlanjut di ruang tamu yang hangat.

Di sinilah para anak diperkenalkan. Lee Tae Ra dan Choi Siwon. Perkenalan yang bercampur dengan obrolan hangat berubah menjadi gurauan. Entah siapa yang mencetuskannya. Tae Ra hanya mendengar bahwa dia hendak dijodohkan dengan Siwon, sebuah kisah yang kerap menghiasi drama-drama lama. Dengan cuek dan disertai nada jahil, Tae Ra menanggapi, “Lebih baik aku diumpankan ke hiu daripada dijodohkan dengan dia.”

Kalimat yang dimaksudkannya sebagai gurauan itu meninggalkan jejak di hati seseorang di sana. Bagi orang tersebut, kata-kata Tae Ra sama sekali bukan bercanda.

 

 

“Hanya karena itu?” jerit Tae Ra. “Hanya karena aku bilang lebih baik diumpankan ke hiu?” Kedua tangannya memegangi kepalanya. Tak habis pikir. “Aku hanya bercanda, Siwon-ah. Bercanda.”

“Seorang pemegang pisau memang tak akan pernah tahu sedalam apa luka yang bisa ditimbulkannya.” Siwon mengarahkan glock-nya mantap. “Sampai dia merasakannya sendiri.”

“Kalau begitu, kenapa baru sekarang? Kau punya begitu banyak kesempatan, tapi kau malah lebih memilih menolongku.”

“Begitu menurutmu?”

Tae Ra tidak mengerti. Apa maksud semua ini? Apa maksud seringai di wajah tampan itu?

“Kau pikir kita bertemu di tempat pak tua itu karena kebetulan?”

“Tapi…” Tae Ra baru akan melayangkan sanggahan ketika akalnya merangkai satu demi satu informasi. Siwon sakit hati padanya. Siwon bilang bertemunya mereka bukan sebuah kebetulan. Siwonlah yang menemukan pembunuh orangtuanya.

Tae Ra menggigit bibirnya. Tidak mungkin. Pikirannya pasti sudah melayang terlalu liar karena semua keanehan ini.

”Kau…”

“Aku yang membunuh orangtuamu,” sambungnya Siwon sebelum Tae Ra sempat mengungkapkan pemikirannya. “Karena mulut mereka yang lancang seenaknya menjodohkanku dengan dirimu.”

Tae Ra ternganga. Sekujur tubuhnya lemas.

“Tapi kau.. Aku membiarkanmu hidup karena aku ingin kau menarik kata-katamu.”

“Dan karena…” Siwon menatap tajam pada Tae Ra. “Karena aku ingin kau mati dengan sangat menderita.” Senyum yang merupakan perpaduan antara kekejaman dan kebahagiaan menghiasi wajahnya. “Sayang, kau tidak bisa memberitahuku bagaimana rasanya mati di tangan orang yang sangat kau sayangi.”

“Oh,” Siwon menilik hand gun di tangannya, “dan bahkan menggunakan senjata yang sangat kau sukai.” Seringai di wajah Siwon melebar.

Tae Ra menggeleng tak percaya. “Kau gila,” ujarnya. “Kau gila! Kau tidak waras!” Suara lirih itu berubah menjadi seruan.

“Jangan lupa siapa yang memiliki peran besar dalam hal ini.” Siwon kini tampaknya sudah selesai berbicara, senjata di tangannya bisa meletus kapan saja.

 

Lee Tae Ra tidak tahu apa yang terjadi pada sosok yang tadinya rekan sekaligus kekasih, namun kini menjadi lawannya itu. Maupun bagaimana nasib timah panas yang dilepaskannya. Yang dia tahu, benda asing telah menghantam dahinya cukup keras. Cukup keras untuk membuat lubang di sana lalu bersarang dalam kepalanya. Cukup keras untuk mendorongnya hingga jatuh menyentuh lantai.

Sekelilingnya memudar. Ruang apartemennya menghilang. Dia tenggelam dalam kehampaan. Sendirian.

Oh, tidak. Tunggu. Dia mendengar suara. Suara-suara. Suara yang rasanya tidak asing.

Suara ayahnya.

“Lagipula uri Tae Ra masih amat muda. Masa depannya masih panjang. Cita-cita dan kesukaannya akan terus berganti.” Kekeh sang ayah terdengar. Renyah di telinga putrinya dan hangat di hatinya. “Suatu hari nanti Tae Ra akan menemukan cita-cita Tae Ra yang sesungguhnya dan appa yakin Tae Ra akan menjadi anak yang berguna.”

 

 

Appa… mianhae…

Sekeliling Tae Ra kembali gelap. Dia kembali terjun dalam kehampaan.

Kali ini kehampaan itu tak berujung.

 

 

Those passionate words
that whispered ‘I love you’
turn cold like an ice,
step on my everything more cruelly than strangers,
and leave me.
Since you gave me love,
is it right for me to be in pain
when you give me the good bye as well?

Look back at me at at then,
Look at those black flowers
that bloomed from your cruelty,
away from your cold glare hidden inside a mask
in this twisted world.
Look at your deceived love that only looked white.

You say you love me like crazy
and then you say you hate me like crazy,
Did your burning love
become a reason to hate over night?
Since you gave me love,
is it right for me to be in pain
when you give me the good bye as well?

Look back at me at at that time,
Look at those black flowers
that sprouted from your cruelty,
away from your cold glare hidden inside a mask
in this twisted world.
Look at your deceitful love that only looked white.

Go Go Don’t look back
Go Go I no longer
want you. How you end this,
you saying sorry because you weren’t good to me,
your temperamental heart,
your unpredictable love,
I’m sick of it all.
(English Translation of ‘Black Flower’ – C.N Blue)

Advertisements

16 thoughts on “Sweet Revenge

Add yours

  1. baru nemu blog ini, dikasih tau aya onnie 😀
    kenalan dulu deh, kiki imnida, 17 yo 🙂

    ahhh gila lah ini ff-nya. daebak! nggak nyangka endingnya bakalan kaya gini, jarang ff yang endingnya mati ditangan pacar sendiri, tapi ini baguusss, banget malah! xD

    *brb baca ff yg lain

  2. akhirnya, cerita yang bikin aku deg-degan >.<

    Peluru ini tidak asing.

    Sangat tidak asing.

    Ini adalah… peluru yang selalu dia pakai. Peluru untuk glock-nya.

    mulai dari kalimat ini aku sudah yakin itu siwon

    tapi alasan pembunuhannya?? sakit!! siwon psycho (tapi aku setuju denganmu, wajahnya itu baik-baik tapi ada kesan mafianya)!!

    ini versi modern dari balada cinta ditolak, dukun pun bertindak XDD

    tapi cass, kayaknya aku kurang sreg deh dgn alasan pembunuhannya ==

    1. yap! tapi dari awal aku sdh pengen bgt dia mbunuh gara2 hal sepele itu..
      trus aku coba bikin dia se-psycho mgkn, kayaknya masi kurang ya…
      woke, gomawo aya~

      1. munkin kalau dari awal ada sedikit penggambaran, misalnya tatapan pshyco, bakal lebih kerasa…
        eh tapi org pshyco kadang2 justru keliatan nrmal, serba salah emang

  3. astagaaa :O ini serem, sumpah. Endingnya gk ketebak. Wah, berjuta sensasi tercipta pas bacanya. Penasaran, tegang, serem, tapi keren. Huaah, mantep deh. Awal aku baca, aku pikir ini biasa aja. Tapi makin ke bawah makin keren. Dilanjutin ampe akhir, eh terpesona deh. Haha daebak authornya 😀
    saya reader baru, yurin imnida. 14 th. Salam kenal yaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: