Strawberry Ice Cream

“Aku pikir rasanya bakal seperti permen karet stroberi.”

“Tidak, rasanya seperti es krim stroberi. Dingin… basah… manis… lembut…”

 

***

Aku mendorong terbuka pintu minimarket, merapatkan jaketku, dan mulai membuka bungkus es krim rasa stroberi yang baru saja kubeli. Seakan ingin menggoda, angin bulan Oktober menggesek betisku yang tidak tertutup apapun tepat saat aku mempertemukan puncak es krim itu dengan lidahku. Kebekuan segera menyergapku, mengisi di sepanjang pembuluh darahku, membuatku bergidik.

Musim dingin sudah di depan mata. Pada saat-saat seperti ini beberapa orang akan mengatakan “Makanlah sesuatu yang dingin agar suhu di dalam tubuh sesuai dengan suhu di luar”, sementara beberapa yang lain akan menyebut itu sebagai tindakan gila dan lebih memilih sesuatu yang menghangatkan.

Aku?

Aku tidak peduli dengan hal semacam itu. Aku makan apa yang aku inginkan kapanpun aku menginginkannya.

Aku akan makan semangkuk mi panas meski saat itu matahari bersinar terik. Jika aku memang menginginkannya.

Pada situasi yang sama aku juga bisa menghabiskan semangkuk besar frozen yogurt.

Atau sebaliknya, melahap habis satu bungkus es krim saat suhu udara mencapai 19oC, jika memang menginginkannya, aku bisa.

Jika hatiku memang menginginkannya.

Es krim stroberi ini…

Aku akan memakannya kapan saja.

Jika hatiku memang membutuhkannya

***

“Kau mau rasa apa?” tanyanya, membuka kontainer penyimpanan es krim.

“Coklat dengan taburan biskuit.”

“Aku stroberi saja,” katanya tanpa ragu.

“Apa benar seperti itu rasanya berciuman?” tanyaku melihatnya begitu nikmat melahap es krim yang kini tinggal separuh.

Dia menatapku. Terdiam. “Kau mau  mencobanya?”

Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.

 

***

 

You’re the one who set it up
Now you’re the one to make it stop
I’m the one who’s feeling lost right now
Now you want me to forget every little thing you said
But there is something left in my head

Aku merindukannya…

Sangat merindukannya…

Dan hanya es krim stroberi ini yang bisa kugigit untuk melampiaskan kekesalan atas apa yang kurasakan.

Sial.

Sial sial sial..

Kenapa dia harus datang?

Lalu pergi dengan meninggalkan jejak yang tak akan mungkin dihapus..

Kenapa dia harus menorehkan begitu banyak kisah?

Kemudian membiarkan semuanya menjadi memori yang membuatku sesak nafas..

Kenapa dia harus membuatku tersenyum?

Kemudian pergi dengan menarik bertetes-tetes air mata keluar dari kelenjar air mataku..

Aku bertanya-tanya apakah air mataku akan membeku jika angin dingin terus menerpaku seperti ini. Mungkin daguku akan berhiaskan stalaktit-stalaktit air mata begitu aku tiba di rumah nanti.

Atau mungkin aku tidak akan pernah tiba di rumah dan ditemukan tewas karena kerongkongan yang membeku oleh es krim yang tersangkut.

Dia di sana.

Berdiri bersandar pada pagar jembatan.

Lima meter di depanku.

***

♫ Baby won’t you tell me why there is sadness in your eyes
I don’t wanna say goodbye to you ♫

 

“Choi Min Ho!” Kesabaranku habis. Dia tidak membalas pesan-pesanku, tidak menjawab teleponku, dan sekarang dia juga tidak membukakan pintu untukku. Kugedor pintu kayu itu kuat-kuat. “Hei! Choi Min Ho! Buka pintunya!”

“Choi…”

Kalimatku mengambang ketika pintu terbuka tiba-tiba menampakkan sesosok laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Wajahnya seolah menyatakan bahwa tubuh yang menopangnya kosong tanpa jiwa. Matanya yang cekung menyiratkan kesengsaraan yang sama terlebih dengan lingkaran-lingkaran hitam di sekelilingnya. Kulitnya pucat tanpa rona. Tidak ada nuansa imut dan manis yang selama ini melingkupi wajahnya. Tidak ada senyum menggemaskan itu.

“Min Ho,” tanganku bergerak menggapai wajahnya. “apa yang terjadi?” Aku menilik matanya yang menatap datar padaku. “Sebenarnya ada masalah apa?”

Telapaknya menyentuh punggung tanganku yang berada di pipinya, menyingkirkannya. “Pergilah,” ujarnya lemah dan datar.

Dia bergerak masuk ke dalam, hendak menutup pintu. Aku menyeruak di antara celah yang tersisa. “Min Ho,” kembali kuraih tangannya.

“PERGI!” bentaknya. Pada saat yang sama dia  menyentakkan tanganku.

Aku masih terpaku di tempat bahkan ketika menit demi menit telah berlalu sejak dia membanting pintu. Dia menyentakkan tanganku.

Yang tak disadarinya, dia juga telah menghempaskan hatiku.

 

***

“Hai.”

Hai? Hai?!

Cuma itu yang dia katakan?

Setelah mendiamkanku selama dua bulan?

Setelah mengusirku?

Setelah menghilang begitu saja?

“Maaf.” Kedua ibu jarinya bergerak mengusap garis air mata di kedua pipiku.

Tapi gerakannya itu justru membuat dadaku semakin sesak.

Rasa kesal…

Amarah…

Rindu…

Sayang…

Berjejalan di dalamnya. Rongga ini akan segera meledak karena kelebihan muatan.

Aku mulai mendengar diriku sesenggukan.

“Maaf.”

“Diam kau!” Aku menyingkirkan kedua tangannya.

Dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut atas sikapku. Namun, aku bisa melihat rasa bersalah dan penyesalan dalam kedua matanya yang jernih… pada kedua alis lebat yang menaungi kedua mata itu… pada bibir yang kini hanya terkatup rapat… hidungnya yang selalu membuatku gemas… rambut coklat panjangnya yang membingkai wajah lembut itu dengan sempurna… Aku merindukannya…

Aku merindukannya…

Aku menyayanginya…

Bagaimana mungkin aku menyimpan rasa kesal terhadapnya jika hatiku sama sekali tidak menginginkan hal itu?

Kelenjar air mataku berproduksi kembali, tapi air mata yang dihasilkannya berbeda. Aku merasa hangat.

Kali ini aku merasa semua akan baik-baik saja.

Lebih baik bahkan.

Rasanya ada bagian-bagian wajahku yang retak ketika rasa hangat itu naik melalui kerongkongan dan mengembangkan bibirku. Rasa hangat itu juga mengalir hingga ujung-ujung jemariku membuatnya dengan jahil menempelkan es krim stroberiku yang belum habis ke bibir Min Ho.

Aku terkikik melihat wajah terkejutnya.

Berikutnya, dia balas membuatku terkejut dengan melahap sisa es krim itu dan mempertemukan bibirnya dengan bibirku.

Berciuman…

Es krim stroberi?

Rasanya lebih dari itu…

Segar… aroma stroberi yang berhembus bersama nafasnya

Lembut… sentuhan bibirnya

Hangat…dekapannya yang membungkusku

Ringan…

 

♫ I won’t forget the way you’re kissing
The feelings so strong were lasting for so long ♫

 

Selamanya…

Aku ingin ini adalah selamanya

Selamanya…

 

“Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu.”

“Sudah selesai. Itu tidak akan mempengaruhi kita lagi.”

“Ceritakan padaku.”

“Baiklah. Tapi…” Min Ho menyodorkan punggungnya padaku. “sebaiknya kita mencari tempat yang lebih hangat dulu.”

“Setuju.” Aku naik ke punggungnya dan sekali lagi kami menapaki jalan yang sama…

Bersama…

You’re my ice cream
My sweetest ice cream

I really wanna have you 

-End-

Song credit:

That’s Why You Go Away – Michael Learns to Rock

You’re My – Taeyang

Advertisements

7 thoughts on “Strawberry Ice Cream

Add yours

  1. habis baca sweet revenge terus baca ini~ haaah waktu selese bingung sendiri, kok cepet ._.v yg sweet revenge bacanya pake mikir, kalo ini ngalir sendiri, bagus ! 😀 romancenya dapet banget, tapi masih penasaran kenapa minhonya tiba” ngilang, tiba” dateng lagi, tapi suka pas tiba” langsung ppopo, hahaha 😀

  2. baca ff cassie, seperti biasa selalu keasyikan mengikuti kata per kata, tapi seperti biasa juga, selalu hanya bercerita, fluff, tanpa kejutan-kejutan yang bikin penasaran

    ya, hampir semua ff cassie begitu, seperti menceritakan lamunan seseorang selama satu jam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: