Misteri Terdalam Kehidupan

Note: This isn’t a fanfiction. It’s just a silly fiction I wrote about 3 years ago.

Related story: He is NOT into You

♥♥♥

Bulu mataku sering rontok akhir-akhir ini.

Kata orang itu berarti aku sedang merindukan seseorang.

Orang lain lagi bilang kalau artinya aku sedang dirindukan.

Ada juga sih yang bilang hal ini cuma karangan anak-anak cewek yang merana karena bulu mata mereka terus menipis.

Aku nggak peduli soal yang terakhir ini karena aku memang sedang merindukan seseorang…

yang aku pikirkan adalah apakah yang kedua benar?

Apa dia juga merindukanku?

 ***

“Kau mau ke mana?” selidik Inosensia waktu aku melintas di ruang TV dengan menggendong tas.

“Akhirnya kawan, bukan hanya kau saja yang sibuk,” jawabku penuh kemenangan. Sekarang akulah yang akan meninggalkannya sendirian di rumah.

“Oh… mau ketemu Dave?” katanya seraya memasukan keripik ke mulut.

“Berhenti bicara dengan cara seperti itu.”

“Oke. Oke,” jawabnya tanpa berusaha menahan tawa. Aku mendengarnya berteriak, “Salam buat Dave, ya!” waktu aku tiba di bawah. Kemudian tawanya membahana.

“Awas kau! Kau tidak akan bisa makan keripik lagi waktu aku kembali.” Aku menutup pagar dan merasakan gairah menjalari seluruh tubuhku. Inilah saatnya. Pertemuan sinematografi lagi setelah sekian lama. Aku akan melakukan hal-hal yang kusukai. Membicarakan hal yang kusukai dengan orang-orang yang memiliki kecintaan sama denganku. Dan tentu saja, bertemu Dave.

Empat orang sudah berkumpul ketika aku tiba. Joe si editor yang juga ketua tim, Jessica si aktris, James si sutradara, dan Regina si script writer.

“Hai semua,” kataku. “Lama nggak ketemu.”

“Hai. Iya nih. Lama banget vakum,” sahut Regina. “Aku sebenernya juga sudah usul sama Joe supaya kita nggak nunggu base camp baru. Yang penting ngumpul aja, tapi…” Regina menoleh pada Joe seperti memberi isyarat supaya dia yang menyelesaikan kalimat itu.

“Sori. Sori. Ini egoku juga sih. Kemarin-kemarin kan BEM sibuk jadi… repot juga. Toh aku pikir sinem juga lagi nggak ada event.  Lagian,” Joe menoleh pada Regina, “aku sudah memberikan wewenang untuk mengadakan pertemuan ke Regina.”

Regina yang diserang begitu cuma nyengir. Mau gimana lagi? Dia juga kan sekretaris BEM.

Base camp barunya?” kata Jessica.

“Dapet dong,” jawab James. “Kali ini permanen. Milik kita sepenuhnya.”

“Kok bisa? Dapet uang dari mana buat beli rumah?” tanyaku.

“Yah… belum milik kita sepenuhnya sih. Masih milik Jeff. Nanti kalau…”

“Jeff?” seru Jessica. “Si arogan itu?”

“Ssstt…,” yang lain memperingatkan. Otomatis semuanya meneliti sekitar mencari tanda-tanda keberadaan Jeff. Setelah dipastikan Jeff tidak ada, Jessica melanjutkan dalam suara rendah, ”Jeff? Apa kau sudah gila?”

“Bagaimana kejadiannya sampai Jeff yang menjadi pemiliknya?” tanyaku.

“Begini Jeff bilang kita boleh memakai rumahnya sebagai base camp,” jelas Joe. “Dia juga bilang….”

“Bagian ini biar aku saja,” sela Regina. “Toh aku juga sudah mau lulus. Aku nggak mungkin cari kerja di kota kecil begini. Otomatis rumah itu nggak kepake. Udah buat base camp aja.” Regina mengucapkannya dengan nada angkuh dan sok khas Jeff membuat Jessica ngakak. “Pede banget sih dia bakal lulus tiga tahun.”

“Yep. Persis banget sama yang ditunjukkan Regina barusan,” kata Joe.

“Tunggu. Apa dia bermaksud memberikan rumahnya?” tanyaku.

“Apa?” Jessica seketika berhenti tertawa. “Nggak. Nggak. Itu nggak boleh terjadi. Aku nggak bakal tahan sama lagaknya kalau dia sampai merasa melakukan sesuatu yang sangat berjasa buat kita.”

“Kita juga nggak ada yang mau,” kata Regina.

“Jadi kita berencana membelinya,” kata James.

“Kenapa harus beli? Kenapa nggak cari rumah kontrakan lagi?” ujarku.

“Ya. Apa kalian tahu berapa harga rumah? Apalagi milik si angkuh itu. Bisa-bisa sampai seratus empat puluh tujuh kali regenerasi pun rumah itu belum lunas juga,” sembur Jessica berapi-api.

“Itulah. Seakan semakin banyak yang mengontrak rumah, semuanya sudah terpakai,” jawab Joe.

Tiba-tiba aku mendapat ide cemerlang. “Aku tahu. Pakai rumahku saja.” Yang lain memandangku. “Hanya ada aku dan Inosensia di sana. Jadi nggak akan apa-apa. Toh baru tiga tahun lagi aku lulus.”

“Bener nggak papa?” tanya Jessica.

Aku mengangguk. “99%.” Iya, kan Inosensia? kataku dalam hati.

Tentu saja Inosensia bilang, “Oke. Asal kalian tidak membuat rumah ini dikepung wartawan. Aku tidak suka.” Kalimat yang terakhir itu, dia bohong.

Aku segera memberitahu Joe kalau base camp yang baru telah siap dipakai. Dia bilang akan memberitahu Jeff. Atau setidaknya akan mencoba mencari cara untuk memberitahunya.

Aku senang. Hari ini tidak mungkin lebih buruk dari kemarin. Aku akan mulai bekerja lagi. Joe bilang agenda kami berikutnya adalah festival film. Berdurasi sekitar 145 menit. Itu artinya kami akan kerja keras mulai sekarang sampai beberapa bulan ke depan. Itu juga berarti pertemuan yang intens. Dan semuanya akan dilakukan di sini. Di rumah yang kutinggali setiap hari.

Sayangnya, itu belum tentu berarti pertemuan yang rutin dengan Dave. Dia tidak datang hari ini. Dan itu memberikan nilai minus untuk hari ini. Oh, aku tidak tahu apa dia akan datang dalam pertemuan berikutnya. Semoga saja dia datang karena Joe memutuskan untuk melihat apakah ada lagi yang bergabung dalam pertemuan berikut sebelum memastikan siapa saja yang menjadi kru kali ini.

Di luar itu, aku sangat berharap menjadi si penulis skenario kali ini.

Oh, tolonglah….

 ***

Pertemuan pertama di base camp baru dimulai. Begitu Jessica dan Regina datang kami langsung mulai menata barang-barang yang telah diangkut anak-anak cowok sejak beberapa hari lalu. Ketika anak-anak yang lain berdatangan, status garasi nganggur adalah masa lalu. Dan sekarang rumah ini memiliki studio penggarapan film sendiri.

Setengah lima sore Joe berhenti menunggu dan memberi garis penutup tebal pada daftar hadir. Di bagian paling atas daftar itu dia menulis ‘KRU FESTIVAL FILM’ lalu berseru, “Nah, selamat bergabung dan selamat bekerja. Mari kita meriahkan festival ini dengan karya kita.”.

Ketiga puluh orang yang lain bertepuk riuh. Gairah mengalir ke seluruh tubuhku. Aku tidak sabar lagi untuk memulainya. Meski seandainya tidak menjadi penulis naskah sekalipun. Meski hanya mendapat peran kecil. Aku tidak peduli. Karena aku merasa inilah langkah awal. Inilah anak tangga pertama. Perjalananku meraih impian.

Ternyata Regina memutuskan untuk memberi sengatan lain pada tubuhku. Dia menyerahkan urusan penulisan naskah padaku. Menurutnya, “Harus ada nafas baru dalam naskah kita. Aku melihat kau punya kemampuan dan kemauan.” Dan aku senang sekali mendengarnya. Aku hampir memeluk Regina saking senangnya. Aku hampir melonjak-lonjak tak terkendali saat itu. Hampir, tapi aku yakin sekali kalau jantungku sempat berhenti berdetak satu detik.

Aku mencapai puncak bukit kesenangan hari ini. Sayangnya, aku juga harus berada di dasar lembah kekecewaan. Dave bukanlah satu di antara 31 orang. Padahal pertemuan-pertemuan sinematografi adalah peluang paling besar untuk bertemu dengannya. Dan mengingat usaha-usahaku sebelumnya yang berakhir dengan kegagalan besar, rasanya aku baru akan bertemu dengannya ketika umat manusia sudah punah. Kenapa sih? Bukannya dia bilang juga merindukan sinematografi? Kenapa dia tidak datang? Di sisi lain, si arogan justru menjadi bagian dari tim.

Rasa kecewa dan penasaran inilah yang mendorong pertanyaan ini keluar dari mulutku, “Kalian lagi sibuk? Banyak tugas?”

“Siapa yang kaumaksud kalian?” jawab Inosensia tanpa menoleh. “Aku dan anak-anak BEM. Aku dan anak-anak forum. Aku dan anak-anak majalah. Atau aku dan anak-anak Arsitek?”

“Kau dan teman-teman Arsitekmu.”

“Oh… memang. Untuk yang satu ini dosen-dosen memang kompak. Aku curiga ini adalah pembalasan dari masa-masa kuliah mereka.”

Aku pikir pembicaraan sudah berakhir sampai di sini ketika Inosensia mendongak dari kertas millimeter block sangat besar yang sedang ditekuninya dan menatapku dengan dahi tak rata. “Kangen ya sama Dave?” senyum jahilnya mengembang. “Bertanya-tanya kenapa Dave nggak muncul di rapat sinem?”

Aku mengeluarkan dengusan bosan, “Nggak punya lelucon yang lebih up to date?”

Inosensia tertawa kecil. Dia kembali menandai millimeter-nya. “Omong-omong soal Dave. Dan tugas,” tambahnya. “Dave jadi partner-ku untuk tugas….” Tugas apa tepatnya yang disebutkan Inosensia aku tidak tahu karena aku sedang meluncur ke dasar lembah yang lebih dalam.

Kenapa? Kenapa?

Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Aku menulisnya di kertas.

Kenapa Dave memaksa berpasangan dengan Inosensia? Padahal awalnya mereka sudah punya pasangan masing-masing. Kenapa Dave menginginkan adanya pergantian pasangan? Kenapa dia ingin berpasangan dengan Inosensia?

Apa selama ini alasannya adalah Inosensia?

Ketika Dave berhenti dan memberiku tumpangan? Apa itu supaya dia bisa bertemu Inosensia?

Sayangnya, waktu itu Inosensia belum pulang. Jadi dia urung mampir.

Lalu pertemuan di Belfast. Mungkinkah dia sedang mencari Inosensia? Waktu itu dia bertanya apakah aku sendirian, kan? Bisa jadi itu caranya menanyakan Inosensia.

Lalu yang dikatakan Inosensia mengenai Dave selalu menanyakanku, mungkin itu supaya dia bisa berbicara dengan Inosensia. Dan bukankah Dave absen dari pertemuan sinem dan memilih tugas-tugasnya?

Oke, yang terakhir ini memang bodoh. Tugas memang seharusnya lebih diprioritaskan.

Untuk pertama kalinya aku cemburu pada Inosensia. Anggota BEM, sekretaris Himpunan Mahasiswa, dan entah anggota organisasi apalagi. Semua itu adalah status yang dimiliki Inosensia. Belum lagi kemampuan berbicara dan prestasi yang tetap bertahan di nomor atas meski dengan kesibukan yang bejibun. Namun aku nggak pernah cemburu pada Inosensia.

Sebelumnya.

Wajar sih kalau ada yang sekuat tenaga berusaha satu kelompok sama Inosensia dengan semua kehebatan yang sudah aku sebutkan, tapi tetap saja ini Dave yang sedang kita bicarakan. Dan aku cemburu.

Dalam kegalauan ini aku melihat lagi kertas keramat itu.

HE IS NOT INTO YOU.

Seharusnya aku nggak pernah lupa soal ini.

Seharusnya aku memegang prinsip ini dengan teguh sejak awal.

Bukannya hanya menjadikannya sebagai pajangan.

Aku menulis he is not into you banyak-banyak untuk melampiaskan penderitaanku.

***

Jelas aku belum keluar dari lembah. Script-ku kacau. Aku nggak bisa memikirkan apapun. Semua ide seperti berada jauh di sana. Di balik kabut. Kabut bernama Dave.

Atau mungkin nama sebenarnya adalah kecemburuan?

Sial! Padahal ini kesempatan pertamaku. Aku tidak boleh mengecewakan. Kesempatan pertama adalah saat yang sangat penting untuk menunjukkan potensi. Keadaaannya malah kacau begini.

Duh

Duh Duh

Duh Duh

Duh Duh Duuuuuuuuh

Pertemuan berikutnya dua hari lagi dan aku belum bergerak dari SINOPSIS CERITA. Bukan berarti aku sudah mulai menggarap sinopsisnya lho…

Arala bego

Arala bego

Arala bego

Terdengar suara motor memasuki halaman kemudian suara Inosensia membahana. ”Langsung masuk aja ya. Aku mau ke kamar dulu.” Apa bakal ada rapat BEM lagi?

Ternyata bukan rapat BEM. Tapi pengerjaan tugas entah-apa. Dan itu artinya…

“Hai Arala.”

Adrenalinku bergejolak membuatku bergetar. Pada detik yang sama rasa pedih menyusup ke dadaku mengetahui sapaan ini berasal dari orang yang sepertinya menyukai cewek lain dan bukannya aku. Cewek lain yang adalah sahabatku sendiri.

“Hai.” Apakah suaraku bergetar? “Mau bikin tugas ya?”

“Iya nih. Banyak banget tugas. Katanya ada pertemuan sinem lagi ya?”

Aku mengangguk.

“Yah… sayang. Nggak bisa ikutan.”

Aku juga menyayangkannya, kataku dalam hati. “Sibuk banget ya?”

“Ra, bikinin minum dong,” kata Inosensia dengan nada merayu. Hatiku baru menjerit ‘Oh tidak!’ ketika dia bicara lagi, “Eh, aku bikin sendiri deh.” Ekspresi jahilnya nggak ketinggalan.

“Tunggu. Tunggu. Tunggu,” kataku, menghentikan Inosensia yang sudah mulai melangkah ke dapur. “Biar aku aja. Jadi kamu bisa langsung mulai bikin tugas. Udah sana.” Aku menyenggol Inosensia.

Mau bagaimana lagi? Aku nggak bisa membiarkan Inosensia berpikir aku suka Dave.

Meski itu kenyataannya.

Melihat mereka berdua duduk berdampingan, saling mendekatkan kepala, dan ngobrol… aku jadi ingin kembali ke masa lalu.

Dia mengulurkan tangan padaku. “Dave.”

“Arala.”

“Dari jurusan mana?”

“Industri. Kak Dave?”

“Arsitek.”

“Arsitek? Tahu Inosensia?”

“Oh… kenal. Hampir tiap hari kita duduk sebelahan.”

Aku mulai berpikir. “Angkatan berapa?”

“Lima empat.”

“Anak baru juga dong.”

“Iya.”

“Kok aku panggil kak nggak protes?”

“Dipanggil kak juga nggak papa kok.” Dan dia tersenyum maniiiiiiiis sekali. “Temannya Inosensia ya?”

“Iya. Dari SMP. Sekarang kita ngontrak rumah bareng.”

“Nggak asli sini ya? Dari mana?”

“Dari….”

Kami menghabiskan lima menit terakhir waktu rehat dengan mengobrol ini itu. Cuma kami. Tanpa yang lain-lain.

Itu terjadi setelah aku mulai naksir Dave. Jelas suatu momen yang luar biasa, lebih fantastis lagi karena ini Dave! Dave memang baru di sinem universitas ini, tapi dia sudah malang melintang di bidang pembuatan film sejak SMA. Karena itu dia direkrut oleh Joe dan kawan-kawan lebih awal daripada anak-anak baru yang lain. Karena itu pula dia sudah termasuk jajaran orang berpengaruh waktu aku bertemu dengannya. Sementara aku bukanlah tipe yang mudah bergaul dengan orang-orang berpengaruh.

Kalau dipikir-pikir aneh juga aku bisa akrab dengan Inosensia. Kemudian entah aku yang berubah atau semacam virus menular sedang merajalela, ternyata aku juga bisa akrab dengan Joe dan kawan-kawan.

 ***

Aku memperbarui isi MP4 player-ku. Sebulan lalu aku mengisinya dengan lagu-lagu jatuh cinta seperti Pandangan Pertama-nya RAN, Dua Hati Jadi Satu-nya Gita Gutawa dan Davi, dan Aku Jatuh Cinta-nya Roulette. Sekarang hal itu harus dilupakan atau aku akan terjerumus semakin jauh ke dalam jurang kebodohan, kecemburuan, dan kekecewaan. Lagu terakhir baru saja selesai kutransfer ketika terdengar suara dari studio. Sekarang mantan garasi itu bernama studio.

Joe, Regina, dan Jeff sudah berada dalam studio ketika aku mengintip ke dalamnya. Otak dan imajinasiku masih terselaput kabut sampai sekarang, tapi aku sudah berhasil mengerjakan sinopsisnya. Setidaknya kami bisa mendiskusikan jalan cerita yang kubuat hari ini. Aku berusaha membuat cerita yang  tidak melulu tentang cinta, tapi bagaimana? Aku sedang patah hati. Wajar kan kalau tokohku ikut-ikutan sedih?

Selama setengah jam berikutnya anak-anak yang lain berdatangan. Termasuk Dave yang datang untuk mengerjakan tugas. Dia bertemu Jeff ketika akan masuk ke rumah.

“Hai, Dave,” seru Jeff sambil menepuk pundak Dave.

“Hai,” Dave balas menyapa. Dia terdengar kalem seperti biasa. Ketika mereka berbincang singkat aku seperti melihat dua sisi kehidupan. Jahat dan baik. Iblis dan malaikat. Arogan dan kalem. Super duper menyebalkan dan oh, dia melelehkan hatiku.

Reginalah yang membawaku kembali dari pemandangan kontras itu. “Jessica perlu tumpangan nih. Kamu jemput dong Jeff.” Tepat saat itu Dave baru saja masuk ke dalam.

“Nggak bawa motor,” jawabnya pendek.

“Pakai motorku aja. Tuh kuncinya.” Joe menunjuk tempat dia meletakkan kunci motornya menggunakan dagu sementara jarinya sibuk berlarian di atas keyboard.

“Ogah ah. Yang lain aja kenapa?”

“Yang lain pada sibuk.”

“Ogah ah. Nggak mood.” Kemudian dia berlalu dan duduk di depan salah satu komputer.

Regina menghela nafas. Ketika aku memandangnya, dia mengangkat bahu. Lalu kami memandang Joe yang tersenyum geli seakan nggak percaya ada orang macam Jeff.

“Aku coba tanya James deh. Siapa tahu dia bisa,” kata Regina.

Secara umum mereka suka kisah yang kubuat, tapi aku bisa melihat ekspresi Regina yang menunjukkan ketidakpuasan. Aku tahu. Aku sendiri juga tidak puas. Oh… aku harus segera menyingkirkan kabut ini atau aku nggak akan pernah mencapai bintang.

Jangankan mencapai bintang, jangan-jangan aku malah nggak akan bisa keluar dari lembah.

Bagaimanapun ketika pertemuan hari itu berakhir, Regina berkata kalau dia menungguku script-ku secepatnya. Rasa percaya diriku menurun drastis sehingga aku meminta bantuannya untuk mengoreksi pekerjaanku sebelum aku menunjukkannya pada yang lain. Ketika menanggapi permohonan bantuanku inilah Regina mengucapkan sesuatu yang membuatku lebih kecewa. “Seandainya Dave ada di sini. Dia adalah penulis naskah dan perangkai kata yang hebat. Kau akan belajar banyak darinya. Kelihatannya dia sibuk ya?”

Aku menjawab, “Ya” nyaris tanpa suara.

Waktu keluar dari studio aku mendapati pemandangan kontras itu lagi.

“Dave, nebeng dong ke rumah.”

Dave mengangguk dan menggumam, “Ya.”

“Lagi nggak bawa motor nih. Udah sore. Banyak kerjaan lagi…”

Si arogan terus ngoceh sementara Dave memakai helm, menyalakan motor, dan sebagainya dalam diam. Jeff membonceng Dave adalah pemandangan yang lebih aneh lagi. Karena Dave kurus dan kecil, tingginya tidak beda jauh denganku, sementara Jeff sekitar 180 cm walaupun dia kurus juga sih. Tapi tidak sekurus Dave.

Ketika melewatiku, Dave tersenyum dan menyapa dengan kalem, “Aku pulang ya, Arala” sementara Jeff menyodorkan telapak tangannya padaku dan berseru, “Dah, Ra” dengan mata terpaku pada HP. Membuatku semakin mengagumi yang satu dan sebal pada yang lain.

Dia tersenyum padaku!

Meskipun itu hanya senyum biasa, tapi aku suka! Cukup untuk membuat listrik mengalir dalam tubuhku.

Cukup untuk membuatku tetap berada dalam lembah.

Oh, aku harus berhenti seperti ini.

Inosensia belum menggulung kertasnya ketika aku masuk ke ruang tengah. Padahal dia tidak pernah meninggalkan tugasnya berceceran tanpa ada dia di sekitar tempat itu. Dan sekarang dia sedang mandi.

“Hei, proyekmu berantakan di lantai. Apa kau tidak takut alien mencurinya?” tanyaku ketika Inosensia selesai mandi.

“Biar saja. Dan jangan kau sentuh!” serunya memperingatkan. Nada suaranya penuh ancaman. “Dave akan datang lagi. Tugas itu harus dikumpulkan besok.” Inosensia berdiri di depan cermin, melanjutkan keluh kesahnya, “Nggak tidur deh malam ini. Ra, mau nggak beli makan malam buat kita bertiga?” Dia menatap bayanganku di cermin.

“Kayaknya kita masih punya sosis dan telur. Bagaimana kalau kumasakkan?”

“Ide bagus. Jadi Dave bisa merasakan cinta yang kau sajikan untuknya.” Inosensia tertawa.

Saat berada di bawah tekanan tugas pun dia masih bisa bercanda.

Atau jangan-jangan tugas-tugas ini telah mangacaukan akal sehatnya?

 ***

Dave dan Inosensia sudah terlibat dalam diskusi seru lagi waktu aku keluar dari kamar mandi. Lalu memasak. Telur dan sosis yang bercampur jadi satu dalam penggorengan membuatku berpikir seandainya aku punya ramuan cinta. Mungkin aku akan meneteskannya sedikit.

Hanya beberapa detik sampai aku berpikir betapa jahat dan bodohnya aku.

Aku nggak akan pernah keluar dari lembah kalau begini.

Dan bagaimana dengan naskahku?

Lebih jauh lagi, bagaimana dengan masa depanku sebagai penulis skenario profesional?

Makan malam berlangsung tanpa insiden yang berarti. Inosensia makan dalam diam. Dia cukup baik hati untuk tidak bertingkah yang aneh-aneh di depan Dave. Sementara Dave, tentu saja, selalu tampak sempurna dan mengagumkan untuk setiap yang dia lakukan bahkan saat makan sekalipun. Kemudian mereka kembali ke tugas. Aku kembali ke skenarioku. Dan menemui kebuntuan. Tapi aku mencoba.

Pukul dua pagi. Tukang roti yang dengan tidak bertanggung jawab memakai Fur Elise sebagai penanda kehadirannya lewat. Di saat bersamaan terdengar suara ketukan. Aku sudah menjerit kaget sebelum menyadari pintu kamarku yang diketuk. Aku membukanya. Dave! Oh ya ampun. Ada apa malam-malam begini? Kau perlu sesuatu? Susu hangat mungkin? Apa kau lapar? Oh… aku ingin sesekali memelukmu. Apalagi aku belum seratus persen pulih dari keterkejutan.

“Ada apa?”

“Inosensia ketiduran. Kurasa kita perlu memindahkannya?”

“Ng… nggak usah. Dia bisa ribut kalau bangun dan menyadari pekerjaannya tidak ada di hadapannya. Aku akan ambilkan selimut dan bantal saja.”

Kami memindahkan Inosensia dalam posisi tidur yang layak dan menyelimutinya. Lalu aku membuat dua gelas susu hangat. “Sudah selesai tugasnya?”

“Sudah.”

“Aku tidak mengerti. Bagaimana kau bisa mengerjakannya sampai pagi begini? Kalau aku, pasti sudah tidak sadar. Seperti Inosensia.” Aku memandang Inosensia yang sekarang sedang bergelung. “Dia harus berteima kasih padamu.”

Lagi-lagi senyum manis itu keluar. “Kau sendiri sedang apa sampai selarut ini? Tugas?”

Aku menggeleng. “Bukan. Aku sedang membuat skenario untuk festival film.”

“Oh.” Dia meminum susunya. Ya ampun ya ampun ya ampun. Bahkan saat sedang minum pun dia sanggup melelehkan hatiku.

“Kacau sih sebenarnya. Regina sepertinya nggak puas. Padahal aku ingin membuat sebaik-baiknya. Coba kalau kau bagian dari kru mungkin skenarionya bakal lebih baik.”

“Regina nggak memilih sembarang orang lho. Ingat yang dia bilang waktu memilihmu? Aku melihat kau memiliki….”

“Kemampuan dan kemauan,” kata kami serempak. Aku nyengir.

“Mau aku bantu? Maksudku, kalau kau punya teman dalam mengerjakannya mungkin ide-idemu akan lebih mengalir.”

Rasanya seperti saat Regina memberikan tanggung jawab skenario padaku. Dave menawarkan bantuannya padaku!

Dave menawarkan bantuan. Dave menawarkan bantuan. Ehm… aku masih ingat kok. He is not into me.

“Sungguh? Itu akan sangat membantu. Kata Regina aku bisa belajar banyak darimu.”

“Dia suka melebih-lebihkan. Aku hanya suka menulis. Itu saja. Dan kulihat kau perlu sesuatu untuk membangkitkan semangat.” Lebih tepatnya seseorang, batinku. “Mungkin aku akan datang besok dan membaca naskahmu.”

“Aku akan menyelesaikannya malam ini.”

“Sebaiknya kau tidur saja. Sudah terlalu malam.”

Aku mengangguk. Dia peduli padaku! Hahaha.

“Aku pulang dulu.” Dave bangkit sambil membawa tasnya.

“Kenapa tidak tidur di sini saja? Seperti yang kaubilang ini sudah terlalu malam.” Aku bisa melihatnya bingung. Ayo menginap saja. Menginap saja. “Masih ada 2 kamar kosong di sini. Atau kau bisa memakai kamar Inosensia,” aku berusaha bercanda. Menginap saja. Menginap saja.

Dia setuju untuk menginap. Oh Tuhan…

Dia juga berhati mulia. Tidak mau Inosensia tidur di luar sementara dia tidur di kamar, dia memilih untuk di luar saja.

Setelah mengambilkan selimut dan bantal untuknya, aku melompat ke tempat tidur dan tidak berhenti memikirkannya. Dia di luar sana. Aku di dalam sini. Jarak kami hanya beberapa langkah!

Dia sudah tidur belum ya?

Bagaimana kalau aku keluar dan menemaninya ngobrol?

Mungkin kami bisa bertambah dekat setelah itu.

Tapi… dia menyuruhku tidur. Bagaimana kalau dia sudah lelah? Bagaimana kalau dia tidak suka aku keluar dan mengajaknya ngobrol? Bagaimana kalau dia malah merasa terganggu?

Tapi… bagaimana kalau dia belum tidur? Lebih lagi, bagaimana kalau dia tidak bisa tidur? Sebagai tuan rumah yang baik aku tidak boleh meninggalkan tamuku, kan?

Keluar nggak, ya?

Keluar nggak, ya?

Keluar. Nggak. Keluar… aku coba aja deh.

Aku membuka pintu kamar pelan-pelan. Melirik sedikit ke arah ruang tamu. Semua gelap. Aku berjalan tanpa suara dan melihatnya tertidur pulas di balik selimut. Oh… dia tampan sekali. Entah bagaimana kegelapan ini tidak lagi menghalangi penglihatanku.

 ***

Inosensia marah-marah pagi ini. Awalnya dia ngomel kenapa aku tidak membangunkannya padahal aku tahu dia punya tugas untuk diselesaikan. Emosinya memang meledak-ledak kalau berhadapan dengan deadline. Beruntung ada Dave yang menyelesaikan semua masalah. Kemudian dia malah ngomel lagi tentang:

“Kenapa kau tidak memindahkanku ke kamar?”

“Karena biasanya kau tidak ingin dipindahkan supaya kau bisa tetap bersama buku-bukumu. Jangan-jangan kau mau Dave menggendongmu, ya?” godaku walaupun dalam hati aku tidak berhenti mengulang ‘jangan jadi kikuk, Inosensia.’

Inosensia hanya bersuara, “Huh,” lalu dia memalingkan wajah dariku dengan dalih memungut buku-bukunya. Apa itu berarti dia suka pada Dave? Dan apa Dave juga suka padanya? Karena tiba-tiba saja dia juga memalingkan wajah dariku dengan membereskan selimutnya.

 ***

Sudah beberapa hari ini Dave membantuku baik dalam merangkai kata-kata maupun menata perasaan. Tentu saja bantuannya yang kedua ini dia berikan tanpa dia sadari. Dan kualitas skenarioku meningkat jauh. Regina pasti senang. Sama sepertiku. Bayangkan! Tiada hari tanpa Dave.

Aku sudah berulang kali berusaha memfokuskan hati dan pikiranku. He is not into me. He is not into me. He is not into me. Tapi susah sekali. Satu-satunya yang membantu hanyalah pemikiran bahwa dia membantuku supaya jam pertemuannya dengan Inosensia bertambah panjang.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya kalau hal itu benar. Kalau ternyata aku berhutang pada Inosensia untuk setiap senti dirinya yang bisa kupandang tiap hari, untuk setiap alunan suaranya yang kudengar, dan setiap CO2-nya yang tidak sengaja kuhirup bersama oksigen. Segala sesuatu pada dirinya yang mungkin tak bisa kumiliki.

Kalau hal itu benar.

Semoga saja tidak.

“Selesai,” ujarnya membuatku sadar kalau dari tadi aku hanya memandanginya tanpa mendengarkan petuah-petuah darinya. Payah.

“Wow, terima kasih ya. Tanpamu naskah ini entah bagaimana nasibnya.”

“Buatanmu sudah bagus kok. Aku hanya memberikan pendapatku.”

“Bagaimanapun kau punya peran yang besar dalam terselesaikannya script ini.” Itu memang benar. Benar sekali. Ya, kan? “Dimakan kuenya.”

Dave mengangguk dan mengambil kue yang kusiapkan di meja. Aku membuat kue untuknya tiap hari. Itu berarti dia telah melahap berloyang-loyang rasa cintaku.

“Ngng… Dave.” Dia menoleh padaku. “Kenapa nggak ikut sinem yang kali ini?” Aku yakin tugas kuliah bukanlah jawabnya. Nyatanya, dia masih bisa menggarap script ini denganku, kan?

Dave diam sejenak. Dia menarik kue menjauh dari mulutnya, memandanginya, dan untuk sesaat seperti hilang ke dimensi lain. “Aku diterima di Institut Seni Indonesia. Sinematografi.”

Aku bisa merasakan kekecewaan menguasai tubuhku termasuk memaksa mulutku terbuka. Beruntung aku masih sempat menahan nada kecewa keluar dari sana.

“Jadi kau tak akan ada di sini saat kami mulai mengambil gambar?” Dave mengangguk. Dia tidak kelihatan bersemangat. Apa karena dia akan meninggalkan Inosensia?

“Oh.”

Gawat! Apa suaraku barusan terdengar kecewa? Karena sekarang dia menatapku. Tepat saat itu Inosensia muncul entah dari mana dan berteriak, “Ra, pinjam MP4 player!”

Aku balas berteriak, “Ambil. Di kamar.” Kemudian aku mendengar pintu kamarku membuka dan menutup. “Jadi… jurusan sinematografi ya? Wow! Selamat. Masuk situ kan nggak gampang.”

Dave tersenyum sambil menggumam ‘terima kasih’.

“Kapan kau berangkat?”

“Akhir Agustus. Akan berat meninggalkan semua yang di sini. Aku terlanjur mencintai segalanya.” Dia membuatku semakin tercabik-cabik.

Kalau begitu jangan pergi. Tinggallah di sini.

Aku ingin sekali mengatakannya, tapi yang kudengar dari mulutku malah, “Tapi kau harus mengejar cita-citamu.” Dia hanya tersenyum.

He is not into you.”

Kurang ajar si Inosensia itu. Apa maksudnya meneriakkan mantraku? Di depan Dave pula.

“Well, who is he?”

“Not your business.”

Inosensia tertawa. “Kau berhutang satu cerita padaku setelah ini.” Dia menghilang sembari menirukan bagian muntah dari lagu Puke.

Aku mendengus dan mendapati Dave sedang memandangku ketika aku hendak melanjutkan pembicaraan dengannya. “He is not into you?” ucapnya.

“Itu hanya kalimat konyol yang kutempel di dinding.”

“Kenapa? Kau tidak yakin dia suka padamu?”

“Begitulah.”

“Siapa sih?” katanya sambil menelan sisa bolu. “Kalau aku mengenalnya mungkin bisa kubantu.”

“Oya? Seperti apa misalnya?” kataku dengan bibir bergetar.

“Memastikan perasaannya padamu?” Dia tersenyum.

Aku memaksakan diri tertawa. “Terima kasih banyak. Tapi… Bagaimana kalau kau?”

Aku tidak percaya telah mengucapkannya. Sekarang aku tidak akan punya muka lagi untuk bertemu dengan Dave. Aku hanya akan bisa merindukannya.

Jantungku berdetak sangat cepat. Rasanya sampai sakit. Dan perutku mulas.

“Kalau dia itu aku,” kata Dave. “Aku akan berkata, ‘I am’.”

Seperti direm mendadak, jantungku langsung berhenti bekerja.

“Ap-apa?”

Dave tersenyum sekilas lalu mencomot kue yang lain. “Jadi, siapa dia?”

“Kau,” kataku pelan. Bodoh! Bagaimana kalau dia tadi cuma bercanda?

Tapi sekali lagi kue menjauh dari mulutnya. Sekali lagi mata indahnya menatapku. “Kau bisa mencabut kalimat konyol itu kalau begitu.”

Aku  tersenyum. Dia membalas dengan senyum manisnya.

 ***

Ketika kau jatuh cinta, misteri terdalam kehidupan adalah bagaimana perasaannya terhadapmu.

Misteri itu pernah merajai kehidupanku dan kini aku telah mendapat jawabannya.

Jawaban yang indah.

Meski jawaban itu datang saat waktu kami tinggal dua bulan.

Aku akan memanfaatkannya dengan baik.

=♥♥♥=

Advertisements

11 thoughts on “Misteri Terdalam Kehidupan

Add yours

  1. Hyaaa!! Akhirnya happy ending juga!! Iih seneng bget pas bagian akhirnya. Pas! Ga terlalu brlebihan bwt dijadiin ending. Eh, ini fic yg dibikin 3 tahun lalu? Howaa.. Bisa bagus gini…. Betewe, cassie skg kuliah dmn?

  2. yahh sayang bangett.. Pdhl kalo sastra pasti daebak bgt.. Kamu kan udh pny bakat nulis bagus gini.. Yasudlah tak usah disesali.. Hehe,, keep writing aja X)

  3. ahhh akhirnya aku baca yang ini… huaaaa bagus banget sumpah! endingnya… haas
    udah waswas aja kalo dave beneran suka sama inosensia~
    suka 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: