He is NOT into You

Note: This isn’t a fanfiction, just a silly fiction I wrote about 3 years ago.

Related story: Misteri Terdalam Kehidupan

♥♥♥

“Ketika kita jatuh cinta, kita selalu merasa seolah dia memiliki perasaan yang sama.”

HE IS NOT INTO YOU.

Kalimat inilah yang kutulis besar-besar dan kutempel di seluruh penjuru kamar. Hanya untuk mengingatkan diriku sendiri supaya tidak melayang terlalu tinggi. Karena, seperti yang selalu dikatakan orang-orang, jatuhnya bakal sakit.

He is not into me dan semua yang terjadi di antara kami hanyalah kebetulan. Cuma kebetulan dia melintas di jalan yang sama denganku dan kebetulan yang sangat menggembirakan ketika dia mendapat SMS sehingga harus berhenti lalu akhirnya melihatku. Tentu saja manusia berhati mulia seperti dia menawariku tumpangan. Adalah kebetulan juga kalau kami sering makan di tempat yang sama. Kebetulan juga kalau kami punya teman yang sama.

Inosensia. Teman satu kontrakanku yang juga teman kuliahnya. Gadis inilah yang selalu bercerita apa saja yang dilakukannya di kampus. Gadis ini juga yang membuatku semakin menyukainya. Tapi bukan gadis ini yang membuatku mengenalnya.

Semuanya berawal dari satu bulan yang lalu. Dalam acara inisiasi klub sinematografi. Bukan. Bukan. Lebih tepatnya pada pertemuan kedua klub sinematografi. Baru saat itulah aku melihat senyumnya yang menawan, merasakan suaranya yang memberiku kenyamanan, dan menikmati wajahnya yang sesejuk pagi hari di kaki gunung. Sejak saat itu adrenalinku tak pernah diproduksi dengan normal. Setiap hari selalu ada saat di mana jantungku berdetak sangat cepat dan emosiku meluap-luap. Aku tak bisa lagi menahan senyumku tiap parasnya melintas dalam benak. Setiap hari menjadi penuh misteri. Akankah aku melihatnya? Apakah aku bisa melihat senyum itu? Dan membalasnya dengan senyumku sendiri?

Anyway… kembali lagi pada Inosensia. Gadis inilah yang akhirnya meruntuhkan segala usahaku. Hanya dengan satu kalimat. ”Kayaknya si musang itu suka sama kamu deh.” Benteng pertahananku menjadi puing seketika. Musang. Itu caranya memanggil cowok yang namanya nggak pernah sanggup kuucapkan tanpa mengalami keanehan dalam tubuhku.

Aku tertawa. Tawa yang jelas-jelas palsu. Semoga dia tidak menyadarinya. ”Kok bisa?” Bodoh, umpatku dalam hati. Seharusnya aku bilang, ’Lucu sekali.’.

”Dia nanyain kamu terus sih,” jawabnya santai sambil mengobrak-abrik isi kulkas. ”Ingat waktu pertama kali dia tahu kita tinggal serumah? Dia nggak berhenti menerorku dengan pertanyaan soal kamu.” Kelenjar anak ginjalku, kelenjar yang memproduksi adrenalin, melakukan hal bodoh lagi. Mukaku pasti merah. Jadi aku memutuskan memunggungi Inosensia ketika tangannya yang menggenggam sekaleng teh apel muncul di puncak pintu kulkas.

”Pasti bohong,” kataku, berharap suaraku normal.

”Ya ampun, Ra. Kapan sih aku pernah bohong sama kamu?”

”Kalau kebohonganmu itu teh apel,” sekarang aku cukup berani untuk berbalik, ”aku sudah punya persediaan yang cukup untuk tiga generasi.”

Inosensia diam saja. Dia duduk di jendela, meneguk teh apelnya, tampak sedang berpikir serius.

”Apa yang kaupikirkan?”

”Bakal jauh lebih menguntungkan kalau kebohonganku itu bukan teh apel, tapi minyak bumi.”

”Ya, kan?” tambahnya.

 ***

Katanya jam dua siang itu adalah saat di mana matahari berada pada titik kulminasi. Saat ini adalah saat mood matahari dengan oke-okenya untuk bekerja. Hal itu terbukti benar. Sayangnya.

Hari ini, Kamis, 22 Mei 2008, aku telah menjadi orang yang membuktikannya. Jam tanganku menunjukkan pukul dua tepat dan aku tidak ubahnya gelas berisi es yang diletakkan begitu saja di meja. Sungguh, hamparan aspal ini bagaikan padang gurun.

Seandainya aku unta.

Yang tidak aku sangka adalah keinginan itu dengan cepat berubah. Tepat ketika sebuah sepeda motor melintas.

Pengemudinya menoleh ke arahku, namun jaraknya sudah beberapa langkah di depan. Aku seperti mengenalinya. Motornya melambat. Dia berhenti. Tepat di satu-satunya wilayah yang dinaungi kerindangan makhluk berdinding sel.

Aku terus memperhatikannya. Toh dia hanya 3 derajat dariku. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Lebih tepatnya aku tidak memikirkan hal itu. Aku terlalu berkonsentrasi pada dirinya. Tas itu benar-benar tidak asing. Punggung itu… Jantungku meninggalkan kecepatan normalnya.

Jarak kami semakin dekat. Sekarang aku bisa melihat rambut coklat menjuntai sekitar dua senti di atas kerah bajunya.

Jantungku sekarang seperti pintu kamar mandi yang digedor-gedor oleh Inosensia dengan tidak sabar. Ya, Tuhan. Sepertinya itu benar-benar dia. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?

Bagaimana kalau kelenjar anak ginjalku menggila lagi? Bagaimana kalau dia membuatku melakukan hal bodoh?

Seperti… memuntahkan adrenalinku?

Nyatanya, tubuhku telah membuat keputusannya sendiri. Aku berhenti dan menoleh padanya ketika kami berada dalam satu garis lurus. Bukan menoleh yang biasa. Lebih tepatnya, seperti mengintip. Mengintip untuk mengecek apakah itu benar dia atau bukan.

Apa aku terlihat bodoh?

”Arala?” dia mendongak dari layar HP-nya.

”Hai, Dave.” Heran, suaraku terdengar normal.

”Mau ke mana?”

”Pulang.”

”Mau ikut sekalian?”

Lagi-lagi tubuhku bergerak sendiri. Menghampiri motornya. Sementara lidahku kelu dan otakku kehabisan ide untuk menyuruhnya bicara.

Dave kembali pada HP-nya sejenak lalu memasukannya ke saku. Aku naik ke motornya. Bau keringatnyalah yang langsung menyapaku. Berbeda dengan keringat yang lain, keringat yang ini membuatku tersenyum. Senang. Apa jatuh cinta membuatmu jadi bodoh?

Gila?

Dave menyalakan mesin dan kami pun melaju.

Puluhan kali sudah aku melewati jalan ini. Tiap berangkat dan pulang kuliah. Sudah belasan kali aku melewati jalan yang sama dengan motor. Sudah beberapa orang yang memberiku tumpangan untuk melewati jalan ini. Tapi pengalamanku yang ini sungguh berbeda.

Aku nggak pernah benar-benar mengerti apa yang dimaksud orang-orang waktu mereka bilang, ”Aku serasa melayang.”. Oke, aku memang sering mengucapkannya juga. Tapi baru kali ini aku tahu bagaimana rasanya ’seperti melayang’.

Ketika kami melaju di turunan, sekelilingku serasa tidak ada. Seluruhnya serasa lapang dan kosong. Hanya kami. Meluncur bersama di atas motor. Langit seakan mendekat ke bumi dan mengitari kami. Dan matahari yang beberapa menit lalu sangat garang itu, sekarang memancarkan kelembutan. Kau tahu sinar yang digambarkan menghujani diri orang-orang suci? Sinar yang sama dengan yang kautemukan bila matahari berusaha melewatkan sinarnya di antara celah sempit awan?

Sinar indah itulah yang kurasakan pada titik kulminasi kali ini.

Sayangnya, hal yang menyenangkan selalu berakhir dengan cepat. Dalam hitungan detik, motor ini telah mendarat lagi di bumi. Di depan rumah berwarna ungu.

Coba aku mengontrak rumah yang jaraknya lebih jauh dari kampus. ”Makasih ya,” kataku, turun dari motor. ”Mau mampir?”

Dia tampak menimbang-nimbang. Entah basa-basi atau sungguh-sungguh. ”Aku langsung aja ya?”

”Mungkin lain kali,” tambahnya.

”Oke. Hati-hati ya.” Sejak dia menghilang di tikungan hingga aku menjatuhkan diri di tempat tidur, aku nggak berhenti tersenyum. Otakku sibuk mengulang setiap detail fenomena yang baru kualami. Setiap kali, jantungku akan berdetak lebih cepat dan bibirku mengembangkan senyum lebih lebar.

Dia berhenti. Dia sudah melewatiku. Dia sudah satu meter di depanku. Bisa dibilang sudah terlambat ketika dia melihatku. Tapi dia berhenti meski dia sudah sekitar lima meter di depanku. Dia berhenti dan memberiku tumpangan. Apa itu artinya dia suka padaku?

Aku tersenyum lebih lebar.

Aku berguling-guling. Ke kanan. Ke kiri dan tampaklah benda itu. Kertas putih berisi tulisan tanganku. He is not into you.

Aku menyentuhnya dan menghembuskan nafas. Kusambar spidol hitam di meja. Kutambahkan beberapa kalimat disana.

You may laugh cheerfully

You may smile widely

But you have to remember

HE IS NOT INTO YOU

Aku melempar spidol kembali ke atas meja. Ambruk kembali ke tempat tidur dan melanjutkan melayang-layang. Asal aku mengingat apa yang baru saja kutulis, aku nggak akan melayang terlalu tinggi.

Siapa yang tahu kalau sore itu adalah waktu yang dipilih Inosensia untuk menyatakan hipotesanya.

 ***

“Ra, cari makan yuk. Laper nih.” Tanpa menunggu jawaban, Inosensia menyambar dompet dan jaket. Secepat kilat menuju pintu.

”Tunggu. Tunggu.” Kepayahan aku mengikuti jejaknya. Aku memutuskan untuk tidak memberitahunya apa yang terjadi 29 jam yang lalu. Apalagi apa yang kurasakan.

Apalagi setelah apa yang dikatakannya.

Belfast adalah surga kuliner di daerah ini. Dia memiliki semua yang dibutuhkan manusia-manusia beranggaran terbatas. Produk berkualitas tinggi (bubur ayam terenak yang pernah ada), harga yang terjangkau, dan pemandangan yang oke. Pengorbanan jalan kaki sepuluh menit rasanya setimpal.

Kami datang  di saat yang tepat malam itu. Sekumpulan cowok oke sedang mengobrol ramai usai membersihkan piring mereka. Obrolan berhenti. Sepertinya mereka sudah mau pergi.

Benar saja. Salah seorang di antara mereka berdiri… oh.

Ya Tuhan. Itu dia.

Dia juga melihatku. Melihat kami maksudku. Dia mengangkat tangan, memamerkan kelima jarinya, dan tersenyum. Sungguh. Aku meleleh saat itu.

Di sampingku, Inosensia juga mengangkat tangannya dan melambai. Begitu yang kurasakan karena otakku kembali mematung. Parahnya, kali ini tubuhku tertular virusnya sehingga tidak bisa lagi mengambil inisiatif. Beruntung di saat terakhir senyumku mengembang.

Inosensia menyenggolku begitu Dave berbalik menuju kasir. Sentuhan itu mengalirkan listrik ke otakku kembali.

”Dia tersenyum padamu loh.” senyum jahil muncul di wajahnya.

”Pada kita,” elakku.

”Bukan.” Inosensia menggeleng. ”Dia memberiku kelima jarinya dan untukmu adalah senyumnya. Karena itu, aku balas melambai dan kau tersenyum. Pas, kan?”

”Pas. Pas. Pas apanya?” Gawat, aku tidak akan sanggup lagi menahan serangan ini. Hatiku akan segera berseru gembira kalau Inosensia tidak berhenti.

”Uh, uh uh… Kau juga suka padanya ya?” Dia tidak menghentikan godaannya.

”Apa kita jadi makan?”

Beberapa menit kemudian, aku masih memandang ke satu titik yang sama di mana Dave menghilang. Adrenalinku terlalu bergejolak untuk melakukan hal lain termasuk menikmati bubur ayam. Untungnya, Inosensia juga terlalu sibuk menyantap Chick Cheese Chick untuk memperhatikan hal-hal lain.

 ***

Minggu siang kulminasi ini aku kembali berjalan menuju Belfast. Sendirian. Sendirian…. Pagi ini Inosensia kabur begitu saja ke rapat BEM dan tidak kunjung kembali. Aku mirip anak ayam kehilangan induk sampai lambungku berteriak minta tolong sebelum asam lambung menggerogotinya. Terpaksa aku menempuh sepuluh menit yang membakar.

Oke, aku mengaku. Aku memang berharap bertemu dia di sana.

Apa ini berarti aku gila?

Naungan atap Belfast membuat udara lebih adem. Tapi tidak ada dia. Layaknya kombinasi kuda yang baru saja menemukan sabana setelah sekian lama berkelana di padang gurun dan orang yang kecewa berat, aku ingin sekali makan enak. Jadi aku memesan gado-gado dan es panekuk.

Es krim coklatnya langsung meleleh begitu menyentuh lidahku. Seandainya di dalam kerongkonganku tumbuh tanaman, mereka yang sebelumnya layu pasti langsung tegak kembali.

Seseorang mengetuk bahuku. Aku menoleh. Deg.

”Hai.” Wajah itu lagi. Senyum itu lagi. Aaaah… aku menjerit saking senangnya.

Cuma dalam hati.

”Hai.” aku menarik sendok keluar dari mulut.

”Sendirian?”

Aku mengangguk. ”Anak BEM itu sibuk. Sendiri juga?” Aku melongok mencari tanda-tanda kehadiran temannya.

”Semuanya sibuk. Boleh duduk di sini?”

Apa? Bersamaku? Selamanya juga boleh. ”Tentu.”

”Melihat semuanya sibuk, jadi iri.”  Em?

”Klub sinematografi.” Oh…. ”Kangen sama kesibukan yang dulu.”

Aku mengangguk. ”Kesibukan yang menyenangkan. Kapan ya ada pertemuan lagi?”

 ***

Akhirnya si burung meninggalkan sarang. Mencoba peruntungannya untuk terbang. Dengan penuh keyakinan berkata, ”Siap jatuh dan merasa sakit. Apa sih artinya hidup tanpa berani mengambil resiko?”

Hari ini hari Kamis. Aku sudah berencana akan muncul lagi di jalan yang sama pada waktu yang sama dengan minggu lalu. Aku akan bertemu dengannya lagi. Pertemuan yang kubuat agar terjadi. Harus terjadi. Karena aku merasa merana tidak melihatnya tiga hari ini.

Aku membayangkan akhir dari rencanaku. Siang yang terik, aku bertemu dengannya dan dia mengantarku pulang. Aku tersenyum. Apa dia juga berusaha bertemu denganku? Selama tiga hari ini apa dia merasakan rindu yang sama seperti yang kurasakan? Di Belfast hari itu, apa dia sedang berusaha bertemu denganku? Aku nyengir pada bayanganku di cermin. Aku bahkan sudah berusaha tampil sebaik-baiknya. Aku akan bertemu Dave hari ini. Yay!

Sebenarnya kalau semua lancar, yang perlu kulakukan hanyalah mengikuti kuliah sampai selesai dan pulang. Sayangnya, semakin matang sesuatu direncanakan, semakin besar kemungkinannya untuk gagal. Dosen tercinta ini malah memilih hari ini untuk mendapat panggilan lewat ponsel lalu kabur begitu saja. Membiarkan kuliah selesai setengah jam lebih awal. Aaaaargh.

Aku menunggu 15 menit. Kemudian panik. Bagaimana kalau aku terlalu lama menunggu dan dia sudah lewat duluan?

Dua kurang tiga belas. Aku pulang.

Berjalan perlahan supaya dia masih punya kesempatan mengejarku. Mengejarku? Aku tersenyum dalam hati.

Selangkah. Dua langkah. Belum ada tanda-tanda dirinya.

Tiga. Empat. Lima. Ini adalah titik aku melihatnya waktu itu.

Enam. Tujuh. Delapan. Di mana dia?

Aku melirik jam tangan. Dua kurang sepuluh. Oh, tidak.

Aku memperlambat langkah. Lihat! Lihat! Bahkan rombongan semut itu mendahuluiku.

Mulai menajamkan telinga untuk setiap… ah, suara motor. Mendekat dengan perlahan. Apakah ini dia? Apa dia bermaksud menghampiriku? Jantungku berdebar keras sekali. Terakhir kalinya aku berdebar seperti ini ketika membuka surat pemberitahuan dari universitas. Isinya aku diterima, tentu saja. Karena itu aku di sini.

”Arala.” Aku menoleh. ”Mau ke mana?” Pertanyaan yang sama, namun penanya yang berbeda. Jeff. Dia anak sinematografi juga. Agak rese dan arogan. Entah kenapa dia mau berhenti dan menyapaku.

Yang jelas tubuhku langsung lemas. Lemas seperti seluruh isi tubuhmu: otak, tulang, syaraf, pembuluh darah; jatuh ke bawah. Menyisakan kulit yang tanpa daya di atas.

”Pulang,” jawabku.

”Mau ikut nggak?”

Aku mengangguk dan tersenyum. Senyum yang lemah. Bergerak dengan sama lemahnya, naik ke boncengannya. Aku tidak dapat memikirkan suatu apapun lagi. Rasanya putus asa. Seperti semua harapanku tersedot keluar.

”Sudah lama nggak ketemu.”

Aku mengangguk. Entah dia tahu atau tidak.

Tak disangka burung ini harus jatuh begitu cepat. Bermaksud menggapai Himalaya, tak tahunya hanya mendapat bukit semut.

 ***

Waktu Inosensia mengajakku makan di Belfast Jumatnya, ternyata harapanku bangkit kembali. Adrenalin menggerakkan kakiku ke depan cermin dan tanganku dengan sigap membenahi semuanya. Sepuluh menit kemudian, udara malam kembali menerpa. Dadaku menggelembung  dengan pertanyaan terbesar abad ini. Apakah aku akan bertemu dia?

Pernah nonton kartun? Tahu bagaimana para kartunis menggambarkan kehampaan, kekosongan, dan hal-hal semacamnya? Tempat yang kosong kemudian angin kering berhembus membawa sehelai daun. Itulah yang terjadi waktu aku dan Inosensia tiba di tujuan. Belfast tidak benar-benar kosong. Hanya ’kosong’. Tahu kan maksudku?

Oke, kami datang beberapa menit lebih awal. Mungkin aku akan melihatnya waktu kami makan. Aku mendengar hati kecilku menghibur.

Inosensia memesan bulgogi.

Aku memesan batagor sambil celingukan. Dia bisa muncul kapan saja.

Inosensia berjalan ke meja.

Aku berjalan tanpa memperhatikan arahku.

Inosensia mengunyah dagingnya dengan nikmat.

Aku menusuk tanpa melihat apa yang kutusuk.

”Kau ngapain sih?”

”Em?” aku bersuara asal saja. Kesadaranku baru kembali setelah aku menoleh dan melihat Inosensia.

”Oooo… jangan-jangan kau mencarinya ya?” godanya.

”Siapa?”

”Sudah. Jangan pura-pura. Kau ini bukan kura-kura dan jelas tidak dalam perahu. Kau suka padanya, kan?” Inosensia tertawa. ”Dave? Dave? Kau di mana? Ke sini dong. Ke sini. Temui aku.” Dia tertawa lagi.

Aku mendengus. Berusaha makan dan menahan perhatianku tetap pada apa yang ada di piring. Sesaat kemudian aku melihat Inosensia kembali menunduk.

Hening.

Hanya suara pisau dan garpu.

”Ra?” gumam Inosensia.

”Apa?” aku balas menggumam.

”Kamu nggak bener-bener suka dia, kan?” nadanya terdengar serius. Entah kali ini sungguhan atau dia sedang main-main lagi. Perasaanku nggak enak.

”Kenapa?”

”Paling nggak. Kamu nggak menganggap serius ucapanku, kan? Karena aku cuma bercanda. Aku nggak tahu dia suka kamu atau nggak.”

Aku nggak marah. Nggak kecewa. Nggak patah hati. Atau sedih.

Aku hanya merasa kosong.

”Oh.” Cuma itu yang keluar dari mulutku. Kemudian kembali makan. Bahkan otakku pun kaget dengan reaksi yang kutunjukkan.

Inosensia mengangkat bahu dan kembali makan. Entah kenapa melihatnya makan dengan lahap membuatku kesal. Serta merta aku meletakkan garpu lalu menarik kedua pipinya lebar-lebar.

”Awe awe awe….” Teriakannya dengan bentuk bibir yang tidak normal membuatku tertawa.

 ***

Malam ini aku menambahkan satu kalimat lagi. Ditulis besar-besar dengan tinta merah. Tercetak di atas kalimat-kalimat yang lain.

HE IS REALLY REALLY NOT INTO YOU

=♥♥♥=

Advertisements

6 thoughts on “He is NOT into You

Add yours

  1. Astagaaaa! Aku nemu semboyan baru! Oke eonni, dengan baca ini aku dapet pelajaran sedikit. Ha ha “He is not into you”. Sayangnya eonni ngepostnya telat…… Gapapa deh, pelajaran buatku utk ke depannya 🙂
    DAEBAK BGT!

  2. aku sering sekali merasa bodoh tiap membaca ff mu, istilah2 tersirat, bahkan pohon pun menjadi ‘makhluk berdidnding sel’, dapat inspirasi dari mana sih?? #envy

    Toh dia hanya 3 derajat dariku. –> maaf, aku harus bertanya apa itu 3 derajat?

    sumpah, aku suka bagian ini
    ”Bukan.” Inosensia menggeleng. ”Dia memberiku kelima jarinya dan untukmu adalah senyumnya. Karena itu, aku balas melambai dan kau tersenyum. Pas, kan?”

    endingnya??
    sebel ah,ngegantung, berasa kena karma gara2 sring bikin reader sebel dengan ff2aku yg ngegantung ==”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: