Posted in fanfiction, romance

Every Seconds of My Day

Berpasang-pasang kaki telah membawa pemiliknya meninggalkan ruangan ini sejak bermenit-menit yang lalu. Membawa serta seluruh tawa, celoteh, dan keramaian yang mereka ciptakan. Menyisakan keheningan dalam ruangan ini. Aku menatap deretan tempat duduk di hadapanku.Adakenyamanan yang melintas.Adasuatu perasaan sama.

Kosong.

01.06 p.m Sendiri.

“Aku penasaran,” sebuah suara menerobos masuk pikiranku secara tiba-tiba, “apa yang membuat gadis yang berulang tahun ini duduk sendiri dalam sebuah kelas kosong.”

Hyun Joong Sonbae berdiri bersandar pada bingkai pintu, kedua tangannya dalam saku celana. “Sonbae..”

Sonbae berjalan mendekat lalu mengambil tempat di hadapanku. “Saengil chukahae,” ucapnya diiringi senyum.

“Gomawoyo, Sonbae,” aku membalasnya. Semampuku.

Hening.

Kecanggungan itu mengisi udara di sekitar kami.

Ini bahkan lebih menyesakkan daripada menatap kursi-kursi kosong.

“Aku baik-baik saja, Sonbae.” Kali ini aku mengajak bibirku untuk memamerkan senyum ceria. “Hanya terkadang kita merasakan sesuatu secara berlebihan. Terlalu rindu. Terlalu sedih. Terlalu kesepian. Tapi… aku akan baik-baik saja, Sonbae.”

“Sonbae tidak perlu khawatir.”

Hyun Joong Sonbae hanya diam. Namun aku bisa melihat matanya yang berusaha menyelidikiku. Tidak apa. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku baik-baik saja.

“Ayo keluar kalau begitu,” ajak Sonbae seraya bangkit.

“Apa?”

“Ayo keluar.” Kali ini Sonbae menggenggam pergelangan tanganku.

“Mau… ke mana?” tanyaku sembari berusaha mengimbangi langkah cepatnya.

Sonbae tidak mengeluarkan sepatah katapun dan terus berjalan seolah dia tidak punya telinga.

“Sonbae,” panggilku. Dia tetap tak peduli.

“Sonbaeeee… Sonbae! Ah!” Entah kenapa ada orang seperti dia di dunia ini. Awalnya berjalan begitu cepat lalu sekarang berhenti begitu mendadak. Awalnya membuatku terseret-seret, sekarang dia membuatku menabraknya. Dan masih bia dengan tenangnya bertanya, “Adaapa?”

Sehelai kelopak sakura jatuh di antara kami.

01.25 p.m Sakura kembali gugur.

Ini sakura kedua yang gugur sejak hari itu.

Ini kali kedua sakura ini gugur dan tumbuh kembali.

Namun…

Biar kelopak sakura ini terus berganti.

Memori yang terukir padanya akan terus ada.

Bertumbuh dan terjaga dalam hatiku.

01.27 p.m Aku merindukanmu.

“Mi Rae?” Lagi-lagi suara Hyun Joong Sonbae menyeruak ke dalam lamunanku. “Ayo.”

01.27 p.m Menuju antah berantah

***

“Aku akan pergi,” kata Oppa lirih. Lebih kepada kelopak-kelopak sakura yang berjatuhan daripada kepadaku.

“Ke Perancis.”

“Empat tahun.”

Ke Perancis? Empat tahun?

Empat tahun?

Perancis?

Aku ingin sekali menelan kata-kata itu dan membiarkannya larut. Lenyap. Tidak ada. Nyatanya, mereka justru menjadi onak duri yang menyumbat kerongkonganku.

Air mataku pastilah mengalir karena jemari Oppa bergerak mengusap pipiku.

“Mianhae.” Tangannya yang lain menggenggam tanganku dan meremasnya erat.

Aku menyentuh tangannya yang berada di pipiku. “Tidak apa-apa. Hanya empat tahun. Empat tahun itu bukan selamanya. Pasti berlalu.” Oppa menatap cemas ke arahku, tapi aku berusaha mengembangkan senyum penuh semangat. Empat tahun bukan selamanya. Suatu saat pasti berakhir. Aku meyakinkan diriku sendiri.

Oppa menatapku mantap. Tatapan yang berkata, ‘Aku pasti kembali. Untukmu.’

Aku membalas tatapannya. Aku menatap seluruh wajahnya lekat-lekat. Wajah yang tak akan bisa kulihat dalam 4 tahun ke depan. Alis itu… Mata itu… Hidung itu…

Aku akan sangat merindukan saat-saat seperti ini. Saat aku bisa melihat tiap mili kulit wajahnya dengan jelas. Sangat jelas…Mengetahui dirinya sedekat ini… Merasakan kehangatannya… Mengecup kelembutan bibirnya…

 

Aku akan menunggumu, Oppa.

 

Di bawah sakura yang berguguran.

 

Kita akan bertemu lagi.

***

Sonbae membawaku ke kedai es krim milik Alexander dan Shin Na Ra. Tidak hanya mereka berdua, Ki Bum dan Kevin juga ada di sana. Mereka menyambutku dengan ice cream cake besar dan bertaburan coklat yang membuatku bertanya-tanya apa sebenarnya motivasi Xander dan Na Ra membuka kedai es krim. Memenuhi kerinduan masyarakat akan kudapan yang satu ini atau memenuhi kegilaan mereka sendiri?

Kemudian masing-masing menyampaikan ucapan selamat mereka. Kevin dengan suaranya yang halus dan ekspresinya yang lentik. Alexander dengan keceriaannya. Shin Na Ra dengan kehebohannya. Dan Ki Bum yang tenang.

“Saengil chukahae, Noona.”

“Lama tak berjumpa, Kibummie.”

“Sejak Hyung pergi, Noona jarang sekali mampir ke rumah. Kasihan Choco.”

“Choco?”

“Dia merindukan Noona.” Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Dia balas tersenyum.

02.02 p.m Aku merindukan kakaknya.

Kami melewatkan sisa sore dengan menghabiskan ice cream cake yang menurut para pembuatnya dibuat dengan segenap hati, dengan penuh kasih sayang, dan dengan perhatian penuh pada siapa saja yang menyantapnya. Es krim buatan mereka akan membekukan segala rasa sedih, kecewa, dan putus asa. Kebekuan itu akan mencair pada saat yang tepat oleh kehangatan yang tepat dan membawa semua rasa sedih itu mengalir menjauh. “Yah, seperti saat es krim itu meleleh dengan artistiknya di lidah karena kehangatan manusia,” kata mereka berbarengan mengakhiri penjelasan panjang mereka.

Ki Bum memandangku dengan mimik, ‘Mereka memang begitu.’

Entah bagaimana mereka membuatnya, yang aku tahu, setelah sendokan terakhir menuruni kerongkonganku, lidahku bagai membeku dan bibirku serasa baru saja berkubang dalam krim. Bahkan lambungku rasanya bergidik karena kedinginan.

Rasa dinginnya masih terus bertahan hingga aku berhenti di depan pintu rumahku.

“Sepertinya aku menyitamu terlalu lama hari ini dan membuat namja penghuni rumah ini kesal.”

Aku mengikuti arah pandang Sonbae dan menemukan maksudnya. Aku mendengus tertawa.

“Sebaiknya, aku segera mengembalikan Noona-nya ini.” Kami bertukar senyum.

“Masuklah.”

“Annyeong, Sonbae.” Kuputar punggungku menghadapnya. Entah sudah berapa kali aku melakukan hal ini. Namun setiap kali Sonbae akan muncul lagi dengan wajah berhias senyum.

Menularkan senyum itu padaku.

“Sonbae,” aku menghadapnya kembali. Bisa kulihat ekspresi bertanya-tanya di wajahnya. “Gomawoyo. Neomu gomawoyo.”

Aku tidak tahu dari mana datangnya kumpulan emosi yang mendadak meledak dalam diriku dan membuatku memeluknya. Aku tidak bisa berhenti mengucapkan ‘terima kasih’.

***

“Noona!!!” jeritan-jeritan memenuhi rongga telingaku begitu pintu depan terbuka. “Saengil chukahae…” Disusul nyanyian. Confetti beterbangan. Terompet berbunyi disanasini. Seolah puluhan orang berkerumun di ruang tamu kami, padahal hanya ada Key dan keempat temannya.

“Saengil chukahae, Noona.” Sebuah kecupan sayang di pipi dari adikku yang paling manis. Dia memelukku dari samping dengan erat dan meletakkan kepala di pundakku. “Saranghae, Noona.”

08.01 p.m “Nado saranghae, Key.”

Puas membuat keributan, mereka menggiringku ke meja makan.

“Kalian yang mnenyiapkan semua ini?” Meja itu benar-benar penuh dair ujung ke ujungnya.

“Aku yang membuatnya,” ujar Key.

“Kami memberikan dukungan terbaik kami.”

“Kami tahu dia bisa.”

“Almighty Key.”

08.12 p.m Sekali lagi tertawa hari ini.

Walaupun sensasi ruang-kelas-kosong itu masih terus ada.

“Oh, “ seru Key tak jauh dari pintu depan yang baru ditutupnya, teman-temannya baru saja pulang, “Adapaket untuk Noona. Kuletakkan di meja.”

“Ah, gomawo.” Aku mengambil benda yang dimaksud Key. Sebuah kotak yang terbungkus rapi. Di atasnya tertulis namaku dan alamat rumah ini. Tak ada pengirim, tapi aku mengenali tulisan tangannya.

Ah, kenapa tiba-tiba jantungku berdetak cepat sekali?

Kenapa tiba-tiba mataku basah?

Aku berlari ke atas, menerobos masuk kamar, dan menutup pintunya dengan punggungku. Kutatap kotak itu… tulisan tangan itu… lama. Ini adalah puncaknya,kan? Kejutan-kejutan yang muncul hari ini.

11.02 p.m Aku membuka hadiah darimu, Kim Hyung Jun.

Tanganku bergetar dan aku tidak tahu karena apa. Apa aku terlalu antusias? Terlalu sedih? Terlalu terkejut?

Sebuah kepala memandangku dari dalam kotak itu.

Kuusap air mata yang entah kapan telah turun hingga daguku.

Aku mencari dalam kotak itu, juga memeriksa bagian luar serta pembungkusnya. Tak adasurat. Tak ada kartu.

Aku memeluk boneka itu erat-erat.

Kenapa air mata ini tak mau berhenti mengalir?

Kenapa rasanya sesak sekali?

Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Kenapa Key harus memainkan piano di saat seperti ini?

Dan kenapa harus lagu ini?

Lagu ini?

Perasaanku pasti telah meracuni telingaku.

Tak ada yang tahu lagu ini selain kami.

Tak ada.

Ini lagu kami.

Geudaen anayo…

Suara itu?

Apa aku menderita halusinasi?

Cheoum badeon sunganbuteo

Tapi…

Geudaeran geol ejyo

Bertumpu pada meja di dekatku, aku berusaha bangkit.

Nunaphe gireul hamkke geoleoyo

Rasanya ini bukan halusinasi.

Areumdaun nal

Suara itu nyata.

Uri aphe phyeoljyeoijyo

Karena kalau tidak, mataku pasti juga terlah teracuni.

I wanna be with you my love

Haneularae yagsoghaeyo

Aku melihatnya.

Di bawah sakura.

Jemarinya memanggil nada-nada indah keluar dari tuts piano.

Dan bibirnya melantunkan lagu yang segera mengisi ruang-ruang hatiku.

Matanya menatapku.

Ini tidak mungkin halusinasi.

Karena sinar itu begitu nyata.

Aku tidak tahu kapan aku pernah menuruni tangga secepat itu.

Tiba-tiba saja aku sudah berada di sisinya.

Tiba-tiba saja kami… hanya sejauh rentangan tangan.

Saranghaeyo… Yeongweontorog…

“Saengil chukahae,” Oppa tersenyum manis.

Oh, betapa aku merindukan senyum itu.

Aku tahu aku seharusnya tidak melakukan ini, tapi bagian-bagian tubuhku seperti bertindak sendiri. Aku memukulnya.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Berkali-kali.

“Kenapa mengirimkan hadiah tanpa nama pengirim, tanpa ucapan…”

Oppa membungkusku erat dalam pelukannya. “Aku tahu itu tidak perlu.”

Aku terisak.

Di saat seperti ini, meski sebagian otakku yang tersadar mengajukan berjuta pertanyaan, seperti ‘Kapan Oppa tiba?’ ‘Kenapa?’ ‘Bukankah ini baru 2 tahun?’ atau ‘Kenapa piano ini bisa berada di halaman?!’, tapi seluruh tubuhku yang lain sepakat, pertanyaan-pertanyaan itu bisa menunggu.

Kami terdiam lama.

Bergeming.

Merasakan kehangatan masing-masing.

Merasakan keberadaan masing-masing.

Merasakan… udara di sekitarku yang tak lagi kosong.

Aku bisa mendengar detak jantungnya.

Ketika aku mempertemukan kedua ujung jemariku, aku bisa merasakannya begitu dekat. Sangat dekat.

Sesuatu menubruk kakiku.

‘Coco?’

‘Choco?’ seru Oppa di saat yang sama.

Sesaat aku menatap kedua makhluk berbulu hitam yang tampak sangat bersemangat menggoyangkan ekor pada kami. Aku bertukar pandang dengan Oppa dan bersama kami menoleh ke satu titik di mana kepala sepasang Kim Ki Bum muncul, keduanya sibuk memanggil anjing-anjing mereka.

“Ya, apa yang kalian lakukan di situ?” seru Oppa.

“Ani… aniyo,” geragap Key lalu menghilang ke balik pintu.

Ki Bum menarik kedua ujung bibirnya sekilas lalu bergegas mengikuti langkah Key.

Gerutuan-gerutuan yang terdengar setelahnya membuatku bertanya-tanya kapan mereka semua datang.

Aku bisa mendengar Oppa tertawa.

Aku bisa melihat wajahnya lagi.

Aku…

Tanganku bergerak menyentuh pipinya..

Merasakan kehangatan ini lagi

Aku mempersempit jarak di antara kami

11.59 p.m Ulang tahunku hampir berakhir

Aku menciumnya.

Sepertinya mereka berdua memang benar.

Rasa sedih itu membeku.

Dan meleleh ketika mendapat kehangatan manusia yang tepat.

Kemudian mengalir pergi.

Bersama semua air mata.

Dan kembali…

Kelopak-kelopak sakura menjadi saksi atas kisah hidupku.

12.00 a.m End

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

8 thoughts on “Every Seconds of My Day

  1. Huahahahaha bagus eonni! Menyentuh banget :”D
    tapi….. Ada kibum ukiss dan shinee, kenapa gak ada kibum suju? T_T #abaikan *ratapan seorang gadis yg rindu pacarnya*
    overall, ini DAEBAK! Aku seneng kata2nya wahaha

  2. wow, theme blognya bagus #abaikan

    oke, cass, aku gak ngerti yang ini:

    “Sepertinya aku menyitamu terlalu lama hari ini dan membuat namja penghuni rumah ini kesal.”

    Aku mengikuti arah pandang Sonbae dan menemukan maksudnya. Aku mendengus tertawa.

    “Sebaiknya, aku segera mengembalikan Noona-nya ini.” Kami bertukar senyum.

    namjanya siapa?

    ya ampun cass, aku sudah terharu2 pas hyungjun muncul, tau2 fotonya dia lagi makan jagung ==”

    aku suka bagian-bagian isi hati yang ditulis seperti diary 12.00 a.m End

    cass, kmu suka es krim ya?

    setuju sama desya, make them triple kibum, please!!

    1. iya ya? bagian itu jadi aneh…
      namjanya si key..
      ceritanya, dia nunggu noonanya yang nggak pulang2, sambil nengok2 keluar gitu.. terus waktu tau yang ditunggu2 sudah tiba langsung deh dia masuk ke dlm rumah lagi.

      nah, tadinya aku sdh niat mau pake pic yang dia di bwh pohon2 gitu… trus waktu search pic malah nemu pic2 yang bikin ngakak, jadi nggak tahan deh buat masang yang satu itu.. >> oke, satu lagi kesalahan.

      iya, suka banget!! aku terlalu banyak pake es krim ya? hehe,,

      *pake iket kepala* siap! triple kibum segera diolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s