Posted in drabble, fanfiction

Nae Beoseu #7 : Uri Beoseu, Uri Sesang

Nae Beoseu #7 : Uri Beoseu, Uri Sesang

Cassie

Choi Min Ho

Drabble

Choi Min Ho isn’t mine

Nae Beoseu #1 : Joheun Oppa

Nae Beoseu #2 : Day Dreaming

Nae Beoseu #3 : Chute de Vouz

Nae Beoseu #4 : Love Should Go On

Nae Beoseu #5 : Halmoni

Nae Beoseu #6 : Friend’s Confession

Berada dalam bus itu seperti berada menonton sebuah drama kecil tentang kehidupan. Hebatnya, tak ada rekayasa dalam drama yang begitu kompleks ini. Setiap alur dirancang dengan begitu apik; rapi dan unik. Segala macam kebetulan, kejadian-kejadian yang menjadi bagian dari sejarah hidup tiap insan yang menjalaninya memberikan warna dan noktah. Entah itu tangis entah itu tawa. Entah itu amarah entah itu maaf. Atau mungkin sebuah pelajaran berharga tentang apa itu kasih sayang dan persahabatan.

Berbagai macam karakter dengan berbagai konflik. Semuanya dipertemukan dalam bus ini. Bus yang terkadang harus mereka kejar, namun di saat lain harus ditunggu begitu lama. Bus yang mereka cari untuk satu harapan yang sama: tiba di tempat tujuan dengan cepat dan selamat.

Bus bagai oase di padang gurun, waktu jeda saat pertandingan bola, dan lahan datar dalam jalur pendakian gunung. Ketika pintu kotak besi beroda ini ditutup, saat itu pula sebuah dinding pemisah terbentuk, melindungi setiap orang yang ada di dalamnya dari hiruk pikuk dunia luar. Memberi waktu untuk sejenak melepaskan diri dari tekanan dunia. Untuk sejenak menyandarkan letih. Sejenak memejamkan mata. Sejenak membiarkan diri terlena dalam buaian keheningan dan ketenangan.

Aku bangkit berdiri dan melangkahkan kakiku ke bagian depan bus, duduk di dekat kursi sopir. Saat itu bus tengah memasuki rute terakhirnya.

‘Harimu menyenangkan, Agassi?’ Namja di balik kemudi itu melirikku dari sudut matanya. Sementara tangannya yang terkoordinasi baik dengan bagian lain tubuhnya menggeser persneling ke gigi yang lebih besar. Tak perlu menunggu lama hingga bus melaju kencang di jalan yang kosong itu.

‘Hmmm… yah, luar biasa. Jeongmal gomabseumnida, sudah membawaku berkeliling kota seharian ini, Unjeonsu.’ (Unjeonsu = sopir)

Cheonmaneyo. Menemukan inspirasi yang kau cari?’

Ne. Kurasa ini akan jadi tulisan yang hebat dan nama Anda saya pastikan tercantum di salah satu halamannya.’

Pedal gas diinjak semakin dalam dan tuas persneling kembali digerakkan. ‘Bagaimana kalau menemaniku makan malam sebagai bayarannya?’ tawarnya seraya memamerkan senyum menggoda.

Aku menumpukan sikuku di paha sehingga tubuhku condong ke depan. ‘Apakah aku cukup menemani saja?’ balasku.

‘Ne, cukup menemani saja. Bahkan kalau kau mau, aku yang akan mentraktirmu.’

‘Wow, mana mungkin aku menolak tawaran semenarik itu.’

‘Ada saran santapan yang enak untuk malam ini?’ Kami berbelok di tikungan dengan mulus.

‘Ummm… aku ingin es krim.’

Mwo? Bukankah kemarin kita baru makan es krim?’

Aku menegakkan punggung dan melipat kedua tanganku di dada. ‘Dan bukankah kita baru makan ramyeon 2 hari lalu, 3 hari lalu, dan 5 hari lalu?’

Tawanya berkumandang mendengar sanggahanku. ‘Apakah aku menyebut-nyebut ramyeon?’ Dia melepaskan tangan kirinya dari kemudi untuk mengacak rambutku.

‘Itu yang kau sebut setiap kali kita membahas makan malam,’ sungutku, menyingkirkan tangannya.

‘Tidak kali ini. Aku sedang memikirkan restoran sushi di dekat stasiun. Bagaimana kalau kita ke sana? Dan setelahnya kita bisa berjalan pulang sambil menikmati es krim yang kau idam-idamkan itu.’ Dia tersenyum sekilas di akhir kalimat.

‘Eh? Kita tidak sedang merayakan sesuatu, kan? Tiba-tiba kau jadi dermawan, Choi Min Ho?’ Minho hanya tertawa mendengar ini. Tawa yang menular. Mendadak bus yang nyaris kosong itu riuh oleh tawa kami.

Aku tidak pernah tahu bagaimana cara melakukannya, berubah dari tertawa terbahak-bahak menjadi sangat serius hanya dalam sedetik. Namun apa yang kulihat saat itu sanggup menarik tawa dari pangkal kerongkonganku dalam sekejap. ‘Minho-ah,’ kini hanya bisikan yang sanggup kukeluarkan.

‘Ne?’ Namun Minho tak memerlukan jawabanku. Dia cukup melihat kebekuan pandanganku untuk mengalihkan perhatiannya kembali ke jalan kemudian secara spontan membanting setir.

Sebuah bus melaju ke arah kami dari arah berlawanan. Tampaknya dia menghindari jalan rusak yang tengah diperbaiki di sisi jalannya.

Aku tidak yakin dengan apa yang terjadi setelah Minho membanting setirnya. Yang kutahu, sekitarku berputar dan berputar. Dalam kepanikan itu aku hanya bisa menggapai-gapai mencari tangan Minho. Tangan yang kugenggam begitu erat begitu kutemukan.

Wajah namja pemilik tangan itu adalah yang pertama kulihat ketika segalanya kembali tenang dan diam. Cairan merah gelap melebar di pelipis dan membasahi tepi wajahnya. Aku melihat bibirnya bergerak-gerak, tapi tak bisa menangkap apa yang dikatakannya. Oh, ada apa dengan otakku?

Tangan kami masih bertautan. Aku bisa melihatnya. Tapi aku tidak bisa merasakannya. Tidak ada genggaman hangatnya. Tidak ada jemarinya yang menelusup di antara jemariku.

Minho sudah berhenti menggerakkan bibirnya. Matanya mengatup perlahan. Sepertinya aku akan mengikuti jejaknya. Lelah sekali rasanya.

Bus ini…

Tempatku mengadu saat sedih, penat, dan lelah menderaku…

Tempatku mengumpulkan potongan demi potongan inspirasi yang kubutuhkan…

Tempatku menemukan sosok spesial bagi hati dan hidupku…

Kini…

Aku, Minho, dan bus ini…

Kami…

Menorehkan akhir kami bersama…


= THE END =

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

6 thoughts on “Nae Beoseu #7 : Uri Beoseu, Uri Sesang

  1. comentnya cuma: foto minhonya lagi jelek 😛
    oy eon! aku dikasih tau napa kalau kamu rilis ff baru -____- jahat nih gak ngasitau. haha tapi kasitau di twitter aja, beserta alamatnya yak, jadi tinggal buka. haha
    btw, akhirnya aku bisa juga bikin wp haha tapi tetep aja gak ngerti maininnya wkwk (nyampah nih)

  2. astaga astaga astaga astaga!!
    speechless

    aku deg-degan…
    ini lah ciri2 kalau aku baca tulisan bagus dan yang ini?
    luar biasa!
    kalo aku punya sepuluh jempol, sepuluh2nya kunaikkan untuk tulisan ini

    cas, u’re really great! one can be a good author and others can be a good reader, but you are both of them!
    sooo envy you…
    you MUST keep writing, i won’t hear NO as the answer >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s