Nae Beoseu #5 : Halmoni

Nae Beoseu #5 : Halmoni

Cassie

Kim Key Bum

Family / Drabble

I don’t own the casts

The story is inspired by Key’s and my true experiences

Nae Beoseu #1 : Joheun Oppa

Nae Beoseu #2 : Day Dreaming

Nae Beoseu #3 : Chute de Vouz

Nae Beoseu #4 : Love Should Go On

Here’s my untold feeling

-Dedicated to my beloved grandma-

‘Ne. Ne,’ seruku ketika suara yang sama memanggil untuk yang ke sekian kalinya. Dengan kesal kusibakkan selimut hangat dan nyaman yang menemani tidurku semalam. Pandanganku yang masih samar melirik jam dan jantungku kehilangan ritme awalnya. Aku hanya punya setengah jam untuk bersiap-siap dan mengejar bus atau aku akan terlambat masuk di hari Senin. Aissh!

Dalam ketergesaanku melakukan ini dan itu, aku mendengar Halmoni menyapaku. Dia sudah duduk di meja makan. Secangkir kopi menemaninya seperti biasa dan tangannya sibuk mengoles roti dengan selai.

Aku membalas sapaannya dan melanjutkan dalam tempo cepat, ‘Aku hampir terlambat. Aku makan di jalan saja ya.’ Selagi berkata demikian, tanganku menyambar roti-roti yang sudah siap. Tapi tangan Halmoni menghentikan gerakan tanganku.

Dia memperhatikanku lekat-lekat. ‘Ada apa, Halmoni? Aku sedang terburu-buru.’

‘Kau menambah tindikanmu lagi? Bukankah sudah Halmoni katakan untuk…’

Rasa gelisah karena diburu waktu menarik katup emosiku dan benda itu meledak.

Aku menepis tangannya dan kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku dalam volume yang tak dapat kukendalikan, ‘Halmoni bukan Eomma! Jangan mengatur hidupku! Lagipula aku tidak pernah meminta Halmoni mengasuhku!’

Aku bergegas keluar dari rumah, meninggalkan kata-kataku mengisi udara dalam ruangan itu bersama Halmoni di dalamnya.

Kupacu kecepatan lariku ketika melihat sebuah bus mendekat. Yesss, aku tiba tepat pada waktunya. Rasanya seperti mencapai finish ketika tanganku menggenggam pegangan yang ada pada pintunya. Pada saat yang sama sudut mataku menangkap sosok seorang nenek sedang berjalan kepayahan, menggotong bungkusan besar. Dia tampak terburu-buru dan sepertinya sedang mengejar bus ini juga. Pemandangan ini membuatku menoleh pada si sopir, ‘Jamkanman, nenek itu juga mau naik.’

Aku menapakkan kakiku, yang sudah bertengger di pijakan bus, kembali ke bumi. Kuhampiri nenek itu. ‘Mari Nek,’ kataku seraya membantunya dengan bawaannya dan meraih tangannya dalam genggamanku.

Dia tampak mengerahkan seluruh tenaganya ketika memanjat naik ke dalam bus. Sopir menunggu hingga si nenek aman di tempat duduknya baru dia mulai melajukan bus. Nafasnya sedikit terengah, namun dia menoleh padaku dan tersenyum. Senyumnya tulus dan penuh terima kasih. Senyum yang diulurkan oleh bibir yang tampak letih. Senyum yang rasanya tak asing bagiku.

Si nenek menepuk-nepuk tanganku dan mengucap, ‘Terima kasih,’ suaranya pun terdengar lelah. ‘Nenekmu pasti senang memiliki cucu sepertimu. Nenek ini,’ dia meletakkan tangan di dadanya, ‘ingin sekali memiliki cucu laki-laki, tapi satu-satunya cucu laki-laki nenek meninggal waktu bayi.’ Pandangannya menerawang seolah sedang berkelana kembali ke masa lalu. Atau mungkin masa depan yang diharapkannya.

Aku terhenyak di tempat duduk di bagian belakang bus. Kata-kata nenek tadi bagai pisau yang terus menusuk-nusukku.

Selama beberapa saat aku hanya tertegun. Kalimat itu tak henti-hentinya terngiang di telingaku. Seperti sebuah ironi yang hendak mengejekku habis-habisan.

Mendadak aku teringat akan sesuatu. Kuaduk-aduk tasku hingga kutemukan sebuah benda putih kecil. Tanganku bergetar ketika merabanya.

Amplop ini…

Uang saku pemberian Halmoni.

Uang saku untukku…

Uang yang tidak pernah lupa diberikannya setiap Senin.

Uang yang tetap diselipkannya dalam tasku, meski aku bilang tidak perlu.

Uang yang selalu diadakannya meski yang dimilikinya tidak banyak.

Setelah menelan ludah yang rasanya sangat menyiksa kerongkonganku, kubuka amplop itu dengan tangan gemetar. Ada benda lain di dalam amplop itu; secarik kertas dengan tulisan tangannya.

Belajar yang baik, Key.

Halmoni sayang Key.

Membayangkannya menulis saja sudah memberi hentakan yang keras.

Terlintas dalam benakku tangan keriput Halmoni. Tangan yang selama ini merawatku. Tangan yang mengusapku hingga terlelap. Tangan yang memelukku dalam tidurku. Tangan yang menenangkanku saat aku menangis. Tangan yang kini semakin lemah oleh terpaan usia.

Tangan itu yang terulur ketika aku butuh bantuan, bersama dengan senyumnya… suaranya… Suara yang selalu menyapaku di pagi hari. Suara lembut yang selalu bertanya ‘ada apa?’ ketika aku murung. Suara yang membahana menjadi tawa karena tingkahku. Suara yang melantunkan berbagai petuah dan mengajariku banyak hal. Suara yang beberapa menit lalu kubungkam dengan bentakanku.

Tanpa sadar kuremas benda-benda dalam genggamanku. Aku merasa menjadi seorang yang paling kejam di dunia ini. Aku merasa lebih buruk dari seorang yang merampok tiga bank dalam sehari ataupun seorang pembunuh berantai.

Aku… menyakiti seorang yang telah merawatku sejak kecil.

Aku… melukai seseorang yang kasihnya begitu besar padaku.

Kepalanku menghantam sandaran tempat duduk di depanku dalam kemarahanku. Aku marah.

Aku marah pada diriku sendiri yang begitu mengerikan.

Ketika bus melambat, aku menerjang turun tanpa peduli bus belum sepenuhnya berhenti. Tanpa peduli pada cairan hangat yang mengalir di pipiku. Emosiku mengalahkan akal sehatku. Aku berlari. Berlari sekencang-kencangnya tanpa memikirkan apapun lagi, kecuali satu. Aku harus segera bertemu halmoni.

Sosoknyalah yang pertama kulihat ketika tiba di depan rumah. Sedang berjalan sempoyongan menuju sofa yang ada di ruang depan.

Aku berlari.

Kurengkuh tubuh ringkih itu dalam pelukanku.

‘Key,’ ujarnya terkejut. ‘Ada apa Nak?’ suaranya terdengar sangat lunak. Selunak tubuh yang kupeluk itu.

Aku tidak menjawab. Lebih tepatnya, aku tidak sanggup menjawab. Aku hanya mempererat pelukanku. Kurasakan bau tubuhnya. Bau yang begitu familiar. Bau yang selalu kurindukan setiap kali aku pulang ke rumah orang tuaku.

Kurasakan otot-ototnya yang telah mengendur, meninggalkan kulit yang kini tidak lagi melekat dengan pas. Otot-otot yang dulu dengan gigih mengejarku, mengikuti setiap langkah kenakalanku. Otot-otot yang mengangkat dan menggendongku.

Ketika kutarik tubuh halmoni menjauh, aku melihat mata kecilnya yang dibingkai kulit keriput berkaca-kaca. Mata yang sama juga pernah meleleh sebelumnya, ketika aku sakit. Kenapa yang kulakukan hanya membuatnya menangis dan menangis?

Kukecup kening Halmoni sebagai permintaan maafku.

Mianhae, Halmoni… jeongmal mianhae…

♥Saranghae, Halmoni♥

Advertisements

5 thoughts on “Nae Beoseu #5 : Halmoni

Add yours

  1. baca ini jadi kangen sama nenek..
    aku juga waktu kecil diasuh nenek, soalnya papa kerja, mama sekolah
    sampai sekarang pun, tiap pulang ke pekanbaru, nenek pasti masak makanan kesukaanku semua
    halmoni, bogoshippeoyeo… saranghae…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: