Nae Beoseu #3: Chute de Vouz

Nae Beoseu #3: Chute de Vouz

Cassie

Drabble / Romance

Lee Jinki

The casts aren’t mine. The story is mine.

Nae Beoseu #1 : Joheun Oppa

Nae Beoseu #2 : Day Dreaming

 

Kutarik nafas dalam-dalam. Sudah berulang kali kumantapkan hatiku dalam 24 jam terakhir ini. Hari ini… aku harus melakukannya.

Aku berdiri dengan mantap meski jantungku berdentum-dentum dan debit darah yang dipompanya meningkat beberapa kali lipat ketika kotak besi itu mendekat.

Tanganku sedikit bergetar saat menyentuh pegangan besi pada pintunya. Rasa was-was melandaku ketika melangkah ke dalamnya. Itu dia! Dalam sekali sapuan pandangan aku langsung menangkap sosoknya. Selalu di tempat yang sama, dalam posisi yang sama, melakukan hal yang sama: tidur.

Aku menarik nafasku dalam-dalam sekali lagi kemudian mengambil langkah dan duduk di sebelahnya dengan hati-hati. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Diam-diam aku merasa lega juga dia tertidur. Aku bisa duduk di sini dan mengamatinya dalam diam. Hal yang selalu kulakukan sejak satu bulan lalu.

Bedanya, kali ini aku melakukannya dari dekat. Sangat dekat.

Sekarang aku bisa melihat gurat-gurat lelah di wajah tidurnya yang tenang dan damai. Kepalanya bersandar pada kaca jendela membuat sinar matahari dengan leluasa memperlihatkan seberapa cerah wajahnya. Memancarkan warna keemasan di rambutnya yang terikat.

Tanpa sadar aku tersenyum. Wajahnya sangat manis, aku tahu itu. Aku selalu tahu, tapi melihatnya dari sini… Aku bahkan bisa melihat bulu-bulu matanya yang lentik, alis yang melengkung dengan cantik di atas matanya yang terpejam, garis-garis wajahnya, tulang pipinya, lekuk dagu yang membingkai wajahnya dengan sempurna…

Bibirnya begitu mungil…

Hidungnya…

Dia begitu indah…

Begitu…

Sempurna.

Bahkan bidadari tak mungkin seindah ini.

Dia seolah meradiasikan rasa damai bagi orang-orang yang berada dekat dengannya. Seandainya tetap dalam posisi ini, terus memandanginya hingga 100 atau bahkan 1000 tahun mendatang pun aku tak akan bosan.

Kelopak matanya bergerak sedikit. Keningnya berkerut dan dia sedikit mengubah posisi tidurnya. Sepertinya ada yang mengganggunya dalam alam mimpi sana.

Butir-butir keringat mulai bermunculan di wajahnya. Pastilah panas matahari mulai menyengatnya. Dia kembali membuat gerakan dan menyadarkanku yang sudah setengah jalan hendak menghapus keringatnya.

Ah, apa yang telah kulakukan? Aku sekaligus telah membuat jarak di antara kami semakin dekat sekarang. Wajahnya berada tepat di depan wajahku.

Ada yang berdesir-desir dalam dadaku. Aku menekannya, takut jantungku akan meledak kalau hal ini kubiarkan begitu saja. Rasa kesemutan mulai menjalariku. Ah, kenapa aku sudah gelisah seperti ini? Padahal dia belum juga bangun.

Aku kembali ke posisiku semula. Bus telah berhenti lagi. Kali ini serombongan besar penumpang naik. Dalam sekejap saja bus yang tadinya lengang menjadi penuh sesak, bahkan beberapa penumpang terpaksa berdiri dan mengandalkan bantuan dari kait pegangan yang menggantung untuk menjaga keseimbangan mereka.

Kerumunan itu tak kunjung menyusut hingga dua halte berikutnya dan terdesak tiap kali ada penumpang di bagian tengah atau depan bus yang bergerak ke pintu keluar di bagian belakang, hendak turun.

Tatapanku membelalak ngeri ketika melihat seorang nenek yang duduk di belakang kursi sopir bangkit berdiri. Yang membuatku ngeri adalah barang yang dibawanya. Sungguh bungkusan yang besar. Entah bagaimana dia membawa benda itu tadi. Dan entah bagaimana dia akan membawa benda itu melewati lautan manusia ini.

Sekali lagi jajaran penumpang yang berdiri bergeser ketika nenek itu lewat. Saking besarnya celah yang diperlukan, penumpang-penumpang itu terdesak ke arah kursi-kursi penumpang.

Seorang yang berdiri di dekatku mencondongkan diri ke arah yang berlawanan denganku. Nenek itu lewat dengan susah payah, barang bawaannya hampir menghantam kepalaku jika saja aku tidak berkelit dan menghindar. Alhasil aku menubruk penumpang di sebelahku yang tak lain dan tak bukan adalah dia.

Aku membeku. Terlebih saat dia mulai bergerak dan kelopak matanya membuka sedikit demi sedikit. Bahkan dalam gerakannya yang sedang tersadar dari lelap itu, dia mampu membuat kagum dan tak ingin berpaling.

Lamunanku sirna saat dia benar-benar terjaga. Matanya benar-benar terbuka sekarang. Ah, eotteokhajyo?

‘Joesonghamnida,’ kataku terlalu cepat karena gugup. Bahkan aku sangat yakin kalau suaraku bergetar. Oh…

Aku menampilkan senyum canggung padanya. Dia menatapku dengan pandangan yang aneh.

Hanya perasaanku saja, atau memang dia tampak terkejut? Dan… benarkah itu ekspresi takut?

Rasanya ini akan jauh lebih sulit dari yang kupikirkan.

 

-o.O.o-

Advertisements

5 thoughts on “Nae Beoseu #3: Chute de Vouz

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: