La Mision

Title                 : La Mision

Author             : cassie

Length             : Oneshot

10.10.2010

‘Apa kau siap?’ Partnerku itu berdiri di belakangku dengan tangan terlipat di dada. Sementara aku mematut diri di depan cermin. Tubuhku telah terbungkus pakaian hitam dengan rapi. Rambut panjangku telah kuikat kencang dan kugulung agar tidak mengganggu nanti. Melalui cermin, aku tersenyum pada partner kesayanganku itu. ‘Lebih siap dari yang bisa kau bayangkan.’ Sesaat kami saling menukar senyum. Aku tahu yang ada dalam pikirannya pasti sama denganku. Kesenangan. Pesta pora. Setelah misi kami ini berhasil, tentunya.

Partnerku, yang memakai nickname ‘musang’ dalam setiap misi kami, kini berjalan menghampiri laptopnya. ‘Oke. Seluruh kamera pengawas sudah dalam kendali. Sasaran aman di ruangannya. Siap untuk kita sergap,’ katanya seraya menggerakkan jari-jarinya dengan lincah di atas tuts. ‘Ayo tes alat komunikasi kita.’

Aku meraba telingaku. Di sana terpasang sebuah alat kecil yang memungkinkanku mendengar apa yang dikatakan partnerku sekaligus berbicara padanya. Sementara musangku itu sendiri memasang headphone yang dilengkapi microphone kemudian berbicara, ‘Tes. Tes. Musang pada parkit. Musang pada parkit. Apa kau mendengarku?’

‘Sangat jelas,’ jawabku.

Tapi dia menoleh dengan amarah membara di matanya. ‘Ya! Kenapa kau tidak keluar?’

Aku nyengir jahil padanya dan segera kabur dari dalam kamar sebelum dia mengamuk dan menolak bekerja sama dalam misi ini. Setelah aku berada cukup jauh dari jangkauan pendengaran, kami mengulangi tes tadi. Suaranya terdengar jernih dan jelas di telingaku.

‘Bagus. Aku juga bisa mendengarmu,’ katanya ketika aku kembali ke kamar. ‘Sekarang bersiaplah. Sudah jam 9 lewat 35 menit.’ Dia mengangsurkan head light padaku. Aku memakainya seraya mendesah. Aku benci memakai benda ini. Bukan karena membuatku kelihatan aneh, tapi karena alasan kenapa dia dipakai.

‘Jangan banyak mengeluh,’ sembur si musang. ‘Lakukan saja dan selesaikan misi ini.’

‘Mudah buatmu bicara. Bukan kau yang menjalaninya.’

‘Sudah sana.’ Dia mendorongku mendekati jendela dan menggeser jendela itu terbuka. Aku berbalik menghadapnya, menghela nafas. ‘Kita akan berhasil.’ Aku melirik sebuah poster di seberang ruangan. Poster yang berisi impian kami. Ke mana kami akan pergi jika misi ini berhasil. Kemudian mataku bergerak ke lemari di sebelah kanan kami. Di dalam lemari itu terdapat sebuah kotak kaca yang di dalamnya bersemayam dua lembar kertas berharga. Kertas yang kami dapat dari sebuah organisasi beberapa hari lalu.

Aku kembali menghela nafas teringat saat itu. Misi pertama kami. Dan berhasil dengan baik. ‘Ne, kita akan berhasil. Benda itu terancam menjadi sia-sia jika misi ini tidak berhasil,’ kata partnerku yang rupanya mengikuti arah pandangku. ‘Kau pasti bisa. Kita pasti bisa. Fighting!’ Dia mengepalkan tinjunya ke udara.

Fighting!’ Aku mengikutinya dan mengangguk mantap lalu memakai penutup wajahku.

Kini aku menghadap udara malam. Baik, aku siap. Kupegang tali yang mengikat pinggangku lalu melompat ke tepi jendela. Kuacungkan ibu jariku pada si musang sebelum merayap turun dari jendela apartemen. Inilah hebatnya kota kecil. Tidak akan ada yang tahu kau sedang merayap turun di dinding sebuah apartemen meski waktu masih menunjukkan jam setengah sepuluh malam.

Beberapa menit kemudian aku sudah menapaki bumi. Dengan kerlingan terakhir ke arah jendela kamar yang baru kutinggalkan, aku berlari menembus udara malam. Misi kami kali ini berkaitan dengan pemimpin sebuah perusahaan besar yang terletak di sebuah kota kecil, kira-kira 2 jam dari ibu kota.

Selama dua minggu terakhir kami telah menyelidiki dan mengamati kondisi perusahaan itu; jam-jam sibuknya, letak kamera-kamera pengawas, jumlah penjaganya, dan tentu saja kebiasaan target kami, sang bos. Setelah mendapat semua keterangan itu, dengan begitu menakjubkannya partnerku, si musang, berhasil menyabotase setiap kamera yang ada. Aku tahu seharusnya kami memprofesionalkan keahlian kami ini.

Aku berhenti beberapa meter dari sebuah gedung 27 lantai. Dalam sekali lihat semua pasti tahu gedung inilah yang tertinggi di kota kecil ini. Kurapatkan tubuhku ke dinding. ‘Parkit pada musang. Parkit pada musang. Aku sudah tiba mulut singa. Bagaimana kondisinya?’

‘Seorang penjaga di pintu depan dan dua di setiap lantai. Naiklah melalui sisi kiri gedung. Langsung ke lantai 22.’

Aku menyipitkan mata ke arah pintu depan. Hanya seorang penjaga. Ini terlalu mudah. Dengan sigap aku menyelinap ke sisi kiri gedung. Kembali kurapatkan tubuhku ke dinding. Hmmm… lantai 22. Kuraba pinggangku hingga menemukan benda yang kucari. Rasanya tak apa-apa kalau aku menggunakan grapple. Setelah mengira-ngira sudut yang pas, kutembakkan benda itu. Sasarannya adalah jendela lantai 22.

09.47 p.m. Aku bergelantungan di jendela lantai 22 dengan gemilang. Aku mengintip sedikit sebelum menampakkan diri di lantai tersebut. Sepertinya aman. Dengan hati-hati kubuka jendela lalu merayap masuk ke dalam. Berusaha tidak membuat suara sekecil apapun.

Namun hampir saja aku berteriak karena sebuah jeritan di telingaku. Partnerku ini sepertinya tidak mengerti kesulitan yang kurasakan dan malah sibuk mengomel, ‘Kenapa kau masuk begitu saja tanpa bertanya padaku? Bagaimana kalau ternyata ada penjaga?’

Aku mendecak. ‘Ne. Ne. Lain kali aku akan bertanya.’ Dasar bawel, gerutuku dalam hati. ‘Sekarang bagaimana?’

‘Aku sudah memanipulasi gambar yang ditampilkan tiap kamera, kau tidak perlu khawatir.’ Aku mencibir, menirukan kata-katanya. Rasa kesalku padanya belum lenyap. ‘Sekitar 14 langkah dari situ kau akan menemukan lubang udara di dinding bagian atas sebelah kiri. Pergilah… ah, di belakangmu!’

Spontan aku menoleh ke belakang. Dua orang penjaga siap menyergapku. Yang seorang malah sudah begitu dekat di belakangku. Aisshhh, kenapa mereka tidak berteriak ‘siapa itu?’ seperti biasa?

Penjaga yang berada dekat denganku itu langsung merasakan hantaman sikuku. Sementara yang lain harus merasakan tamparan kakiku. Rupanya penjaga yang pertama masih belum puas, ketika dia berusaha mendekatiku lagi, kutahan dagunya dan kubenturkan kepalanya ke dinding.

Selesai dengan mereka, aku kembali ke tujuanku semula. Lubang udara. Baru empat langkah yang kuambil, dua orang penjaga lagi muncul entah dari mana. Aissshhh, aku tak mau mengambil resiko. Jadi kutembak saja mereka.

Jangan khawatir. Pekerjaan kami bersih. Peluruku tidak terbuat dari timah yang membunuh. Hanya bius kecil yang akan melumpuhkan mereka selama beberapa jam ke depan.

09.51 p.m. Mereka benar-benar memperlambatku. Aku mulai mencari-cari lubang udara yang dimaksud. Tidak sulit. Dalam sekali pandang, aku sudah menemukannya. ‘Hei, aku sudah berada tepat di bawah lubang udara yang kau maksud,’ laporku sambil memutar bola mata.

‘Bagus. Masuklah ke dalamnya. Saluran udara itu membawamu langsung ke ruang kerja si bos.’

Aku menggertakkan gigiku. ‘Mudah sekali kau bicara.’

‘Apa?’ tanyanya ringan.

‘Aissshhh, pokoknya bantu aku,’ semburku seraya menurunkan terali penutup lubang udara. Kunyalakan head light yang ada di kepalaku. Sinarnya langsung menerangi lorong kecil, gelap, dan sempit itu. Aku menelan ludah. Inilah masalah terbesarku. Klaustrofobia.

Setelah menghela nafas dalam-dalam, aku merangkak masuk ke dalam. ‘Hei,’ bisikku. ‘Ajak aku bicara. Katakan sesuatu. Sebelum aku sesak nafas dan pingsan di dalam sini.’

‘Haissh, jangan bawel. Pikirkan saja kalau kau sedang berada di sebuah padang rumput yang luas. Dengan angin yang berhembus kencang.’ Aku mulai membayangkan apa yang ada dalam kata-katanya. Dia terus mengoceh, sementara aku terus merangkak. ‘Jangan bayangkan kau berada dalam lorong sempit, di mana kau tidak bisa menggerakkan tanganmu dengan leluasa.’

‘Diam!’ bentakku dalam suara rendah. Aku hampir menangis. Aku ingin sekali mecekiknya, menghajarnya karena mengatakan kalimat barusan. Atmosfer udara di sekitarku serasa menipis. ‘Katakan sesuatu. Katakan sesuatu. Aku mulai merasa lorong ini menghimpitku.’ Ini benar-benar darurat. Bagaimana kalau aku pingsan di sini? Dan esok hari petugas kebersihan menemukan satu sosok di lubang udara? Satu sosok yang bukan tikus, melainkan aku! Musnah sudah mimpi kami, kalau begitu. Misi kami gagal.

‘Marmut pada parkit. Marmut pada parkit. Kau masih di situ? Kau belum pingsan kan?’

‘Tidak. Belum.’ Dia tampak ingin mengatakan sesuatu di seberang sana. ‘Ada apa?’

‘Errrrr… Apa kau membawa benda itu? Yang harus kau tunjukkan padanya?’

Bagai tersambar petir, aku meraba dadaku, tempat di mana aku menyelipkan benda itu. Ada. Fiuuhhh… ‘Ya, aku membawanya.’

Nada lega juga terdengar di seberang sana. Sesaat aku merasa lega, detik berikutnya aku kembali memutar bola mataku. Dia pasti bertanya begitu karena sebelum berangkat tadi dia lupa menggerecokiku dengan pertanyaan, ‘Apa kau sudah membawanya? Apa kau sudah membawanya?’ Dasar bawel.

Setelah sembilan juta tahun lamanya merayap dalam lorong gelap dan menyebalkan ini akhirnya aku melihat cahaya. Cahaya! Belum pernah aku sesenang ini melihat pancaran gelombang satu itu. Aku bergerak semakin cepat, namun tetap hati-hati.

Kuhela nafas panjang-panjang ketika menyentuh terali yang memisahkanku dari dunia yang terang di luar sana. Rasanya seperti baru saja merayap keluar dari perut seekor ular. Kulirik jam tanganku. 09.57. Lima menit? Perjalanan panjangku tadi ternyata hanya lima menit?

Hmph, aku mengawasi satu sosok di bawah sana. Target kami. Seperti yang selalu terjadi setiap malam, tidak peduli apakah itu hari libur atau hari kerja, dia akan berada di sana, di kursi yang sama, melakukan hal yang sama. Aku memandangnya dengan senyum mengembang. Bersiap-siaplah menyambut kedatanganku, bos.

Tiba-tiba alat di telingaku berbunyi lagi. ‘Bagaimana? Apa kau pingsan?’

Aku mencibir. ‘Target sudah terlihat. Aku…’

‘Baiklah. Kau tinggal muncul tepat di belakangnya lalu…’

‘Arayo. Arayo,’ selaku. Aku yang merencanakan hal itu, isshh. Dia tidak perlu mengingatkannya satu juta kali.

‘Baiklah, semoga berhasil. Ini klimaksnya.’

Aku mengangguk mantap. Kemudian menyadari kalau dia tidak bisa melihatku, tapi aku mengabaikannya. Sekarang aku hanya memusatkan perhatian pada sasaranku.

Sekali lagi kupastikan jarak yang harus kutempuh untuk mendarat tepat di belakangnya sebelum membuka terali penutup lubang udara. Detik berikutnya aku sudah  menjejak dengan mantap dan melayang menuju sang bos.

Dia sepertinya terkejut akan kehadiranku yang tiba-tiba. Kutempelkan pisauku ke lehernya. Bisa kurasakan dia bergetar. Bahkan suaranya pun bergetar. ‘Siapa kau? Apa maumu?’

‘Tidak banyak. Hanya sebagian kecil dari dirimu, Bos,’ bisikku di telinganya. Dia bergidik.

Kukeluarkan kertas yang sudah kusimpan dengan aman di balik bajuku. Kugebrakkan kertas itu ke meja di hadapannya. ‘Tanda tangani ini.’

‘Apa ini?’ gagapnya.

‘Jangan banyak tanya! Tanda tangani saja,’ perintahku.

Bisa kulihat tangannya yang gemetar seperti penderita Parkinson meraih pulpen. Benda itu hampir saja terlepas dari tangannya dan jatuh. Kutekan tangan itu ke meja sebelum dia mulai menggores kertas berhargaku.

‘Hentikan dulu gemetarmu itu. Aku tidak mau tanda tanganmu keriting di kertasku.’

Dia terdiam. Kutebak pria paruh baya ini pasti menelan ludah. Itu yang selalu dilakukan orang-orang.

‘Bubuhkan tanda tanganmu dengan indah dan mantap,’ kembali aku berbisik di telinganya. Dia mengangguk takut-takut. Aku menatap bersemangat ketika dia menggoreskan tanda tangannya. Saking bersemangatnya, aku langsung menarik kertas itu dan menyimpannya begitu dia selesai.

‘Terima kasih,’ kataku di dekat telinganya. Suaraku pasti terdengar lebih ceria daripada beberapa detik sebelum ini. Sial. Beruntung aku tidak hilang kendali dan mencium pipinya.

‘Bius dia,’ sebuah bisikan muncul di telingaku. Oh iya. Bagus juga ternyata memiliki teman bawel.

‘Maaf Bos,’ kataku dan menembakkan peluru biusku padanya. Kami tidak bisa mengambil resiko membiarkannya sadar dan memanggil penjaga.

10.05 p.m. Aku merayap keluar dari jendela lantai 22. Kubuka gulungan rambutku, yang saking ketatnya sampai menyiksa kepalaku, membiarkannya terayun-ayun sementara aku kembali ke apartemen.

Partnerku yang bawel sudah menungguku di ambang jendela. Dia melambai padaku. Senyumnya terkembang lebar ketika aku muncul di jendela kamar kami. Tepat 10.10 p.m.

‘Bagaimana?’ tanyanya.

Kubuka lembaran kertas yang telah bertanda tangan itu di depan mukanya. Lalu nyengir lebar.

‘Ah~’ Luapan kebahagiaan di wajahnya tidak dapat ditutupi.

‘Tunjukan surat ijin tidak masuk ini pada si bos besok dan kita jemput namja-namja itu lusa,’ kataku.

Dia merampas kertas itu dariku, menyimpannya dengan rapi dalam amplop, lalu memasukannya ke tas. Berikutnya dia menjulurkan tangannya tinggi-tinggi ke udara dan berseru, ‘Kita akan pergi! Kita akan pergiiiiii!’

Ditariknya tanganku lalu kami melompat-lompat sambil berputar-putar. Pekik kegirangan kami memecah keheningan malam itu. Terserahlah apa kata tetangga. Kami bahagia. Terlalu bahagia. Kami akan menonton konser SHINee tanggal 12 besok!

Tiket ada dalam kotak kaca. Ijin tersimpan rapi dalam tas. Kami akan pergi! Kami akan pergi!!

-o.O.o-

Mian mian mian mian

Ini ff yang dihasilkan otak stres, jadinya begini ini. Geje, lebay, dan aneh, huaaa…

Advertisements

7 thoughts on “La Mision

Add yours

  1. ehem,, jd begini.. wkt smua org lagi heboh shinee mau ke indo, aku lagi heboh mau brgkt magang. trus dg histeris aku blg ke tmnku ‘huaaaaa aku mau ntn shinee…. tp wkt itu lagi kape’ (dg pedenya, pdhl dpt tiket aja nggak). tmnku jwb, ‘minta ijin to’ tiba2 muncullah kisah di atas.
    jd si bos ya bos aku di tmpt magang (yg tnyt gampang ngasi ijin jd ga perlu pake acara merangkak di lubang udara yg sempit dan bikin sesak napas)
    2 org itu, aku dan partner jadi2an. soalnya partner asliku cowok dan bkn seorg kpopper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: