Posted in romance

Word Puzzle

Title         : Word Puzzle

Author     : cassie

Cast         : Alexander Lee Eusebio, ‘aku’

Genre      : Romance

Length    : Oneshot

Rating     : PG-13

Disclaimer : I do not own Alexander, not his cuteness nor his handsome face. I own this story only.

Untuk ke sekian kalinya dalam sepuluh menit terakhir aku melirik jam dinding di seberang ruangan sana. Aigooo… kuliah ini berlalu dengan sangaaaaattttt lambat. Aku menumpukan tangan di meja dan menumpangkan kepalaku di puncaknya. Selama sekian belas tahun masa hidupku, aku selalu berpikir profesor adalah satu sosok yang mengagumkan. Betapa ‘wah’-nya mereka. Betapa jenius. Betapa keren kalau aku bisa menjadi salah satu dari mereka.

Tapi kalau sekarang aku ditanya apa pendapatku mengenai profesor, jawabku hanya satu ‘MEM.BO.SAN.KAN’. Seperti profesor yang sedang mengoceh tanpa henti sejak setengah jam lalu di depan sana itu. Jangan dibayangkan profesor itu tua, hanya punya uban, dan botak. Tidak. Seorang profesor tidak harus seperti itu. Profesor yang mengampu mata kuliah ‘Writing and Literature’ ini berambut hitam, berkumis hitam lebat (bahkan sampai sekeliling jakunnya pun ditumbuhi rambut. Sungguh, aku tidak bohong. Menjijikkan sekali. Kelihatannya seperti akar-akar yang mencuat dari batang pohon). Aissshhh Prof, Anda benar-benar menghancurkan mata kuliah yang seharusnya sangat kusukai. Mungkin seharusnya Anda beralih profesi menjadi penyiar radio, Profesor. Setidaknya suara Anda akan berguna bagi mereka yang menderita insomnia. Lihat saja wajah-wajah mengantuk dan bosan di kelas ini.

Sesuatu menusuk-nusuk sikuku. Ketika menoleh, aku melihat sebuah kertas berusaha diselipkan di sana. Aku melirik tangan si pelaku yang baru saja ditarik kembali ke meja pemiliknya. Alexander menangkap tatapanku dan menggerakkan tangannya, menyuruhku membuka kertas itu.

Aku bosan. Ayo kita main.

Aku membalas surat pendek itu dengan bersemangat.

Ayo. Main apa?

Sembari melirik sekilas ke arah Profesor, aku mengangsurkan kertas itu ke meja Xander, oh salah, Oppa aku memanggilnya. Oppa membaca sejenak lalu menambahkan kalimat di bawah kalimatku.

Kita bertanding siapa yang bisa lebih banyak mengucapkan satu kata dalam berbagai bahasa.

Aku membaca balasannya dan mengerucutkan bibir.

Tukang pamer , tulisku.

Muchachita….

Ketika membaca satu kata itu, aku merasakan sebuah telapak tangan mengusap kepalaku. Dan saat aku menoleh padanya, dia sedang menatapku penuh sayang. Oppa… tahu kenapa aku memanggilnya oppa? Karena dia kakakku. Bukan kakak kandung. Kakak jadi-jadian. Aku sangat ingin punya kakak laki-laki dan dia ingin punya adik perempuan. Tentu saja aku mengiyakan waktu dia bertanya apa aku mau jadi adiknya.

Sejak itu dia memanggilku ‘muchachita’. Dia bilang itu bahasa Spanyol yang artinya gadis kecil. Aku senang sekali waktu itu. Rasanya seluruh impianku jadi nyata. Waktu itu.

Ya, waktu itu.

Sekarang aku ingin mencabut status itu.

Aku tidak mau jadi adiknya.

Aku tidak ingin mendengarnya memanggilku muchachita.

Tapi…

Sebuah kertas lain mendarat di mejaku.

Menurutmu apakah Juliet pernah menyukai orang lain sebelum Romeo? Bagaimana dia tahu kalau Romeo-lah orangnya?

Aku mengerutkan kening padanya. Kenapa tiba-tiba topiknya jadi berat begini?

Telunjuknya mengacu pada sang profesor di depan. Aaaa~ rupanya kami, ah bukan, Profesor sedang membahas Romeo dan Juliet sekarang. Tapi aku tahu, Oppa-ku ini tidak sedang mengikuti kuliah. Dia sedang memikirkan kisah lain. Kisah yang lebih nyata baginya. Kisah yang lebih dekat dengannya.

Apakah Pangeran Kodok masih mengharapkan Putri yang Cantik?

Bibirnya manyun ketika membaca balasanku. Tapi aku tahu matanya sempat melirik ke arah yeoja yang duduk beberapa bangku di depan kami. Bahkan tadi pagipun matanya masih mengikuti langkah yeoja itu ketika dia melintas di depan kami.

Aku sedang membicarakan Shakespeare, bukan Disney.

Aku mengibas-ngibaskan pulpenku sesaat sebelum menuliskan jawabannya.

Aku tidak cocok dengan Shakespeare. Kisah-kisahnya adalah kisah cinta klasik yang cengeng dan tolol, menurutku. Kulihat dia juga bukan seorang yang kreatif. Romeo-Juliet, Antony-Cleopatra, Pyramus-Thisbe, Othello-Desdemona, semuanya memiliki plot yang senada. Bunuh diri untuk menyusul kekasih hati. Itu konyol kan?

Untuk kalimat panjang yang kutulis dengan menggebu itu, dia hanya menggambar mimik orang terbahak disertai sepenggal kalimat:

Apa yang sesuai denganmu?

And they lived happily ever after?

Setidaknya itu memberikan harapan akan impian dan cinta, bukan inspirasi untuk bunuh diri.

Bahunya berguncang menahan tawa membaca jawabanku. Aku menyipitkan mata dan menarik kertas itu. Ini perang namanya.

‘Sudah. Cukup,’ katanya. Profesor baru saja keluar dari kelas. Ruangan yang ditinggalkannya pun serasa hidup kembali. ‘Aku tidak ada di kubu Shakespeare atau Disney. Aku kan hanya bertanya.’

‘Tapi reaksimu sangat ofensif, Oppa.’ Aku memanjang-manjangkan kata terakhir itu dan menyeret kakiku keluar kelas.

‘Aku bisa mendengar tawanya yang kembali melantun saat mengikutiku. ‘Oke, apa yang kau mau?’

‘Kita main game 4 kata. Kalau Oppa kalah, Oppa menggendong aku sampai rumah.’

‘Mwo? Kau kejam sekali.’ Aku memasang wajah menantangku. ‘Oke. Oke. Bagaimana kalau kau kalah?’

‘Kalau aku kalah, Oppa gendong aku sampai halte. Otte?’

‘Mwo??’ Matanya benar-benar membelalak kali ini. ‘Itu tidak adil!’

‘Masa aku juga harus menggendong Oppa? Itu lebih tidak adil lagi.’

‘Aisshh kau ini.’

‘Kita mulai?’

‘Ayo pulang sebelum malam.’ Aku tersenyum mendengar ini. Permainan sudah dimulai.

‘Langit mulai berwarna merah.’

‘Burungpun pulang ke sarangnya.’

‘Eomma masak apa ya?’

‘Makanan saja di otakmu.’ Dia menepuk kepalaku. Aku balas mencubitnya.

‘Aisshhh, itu sakit Muchachita,’ katanya, mengusap bagian yang kucubit tadi.

‘Nah, kau kalah Oppa,’ seruku.

‘Mwo? Bagaimana bisa? Kita kan sudah sepakat ekspresi juga dihitung sebagai kata. ‘Aish, itu sakit muchachita’ itu 4 kata,’ protesnya seraya mengeluarkan satu jari tiap mengucap satu kata.

‘Oppa benar-benar kalah sekarang,’ aku tersenyum lebar penuh kemenangan. Dia terpaku sesaat kemudian mengerti, ‘Aish, sial. Aku tertipu.’

‘Ayo. Ayo. Gendong aku.’ Dengan bersemangat aku mendekati punggungnya. Ketika dia merendahkan tubuh, aku hinggap di punggungnya, melingkarkan lenganku di lehernya.

Nyaman.. Hangat..

Rasa menggelitik menyusup ke dadaku, membuat bibirku menerbitkan senyum tanpa bisa kukendalikan.

Oppa… hanya dengan itu aku dapat memanggilmu.

Oppa… hanya sebatas itu aku dapat menyayangimu.

Biarlah. Meski hanya sebagai adikmu. Aku senang.

Aku senang bisa selalu ada di sisimu.

Oppa…

Aku memainkan kuncir rambutnya kemudian mengeratkan pelukanku. Memeluknya dengan sayang. Aku sayang padamu… Alexander…

Xander P.O.V

Aisshhh… dia berhasil menipuku. Aku membiarkannya naik ke punggungku. Muchachita… begitu aku memanggilnya. Dia memang gadis mungil yang imut dan menyenangkan. Dia yang selalu membuatku tertawa. Bahkan di saat-saat terburukku. Saat patah hati hampir menelanku hidup-hidup.

Dialah malaikatku.

Dia selalu ada. Selalu mendengarkanku. Itu yang membuatku menceritakan semua padanya. Semua, kecuali satu.

Bahwa perasaanku telah berubah.

Bahwa Putri yang Cantik bukan lagi gadis yang diimpikan Pangeran Kodok.

Untuk yang satu itu takkan kubiarkan dia tahu. Karena dia tidak mau dijatuhi cinta. Dia tidak mau terlibat dalam segala kerumitan cinta dan sakitnya patah hati.

Dia hanya ingin tertawa dengan teman-teman di sekelilingnya.

Dia hanya ingin punya kakak laki-laki.

Kami melewati toko es krim. Aaah~ kudapan favorit kami berdua. Ini memberiku ide.

‘Muchachita,’ panggilku.

‘Hm?’ Dia melongokkan wajahnya ke depan sehingga wajah kami dekat sekali sekarang.

‘Ayo main tebak kata. Yang kalah mentraktir es krim,’ Aku menunjuk toko es krim yang kumaksud dengan daguku.

‘Baik,’ jawabnya, merosot turun dari punggungku. ‘Karena aku pemenang sebelumnya, aku mulai dulu ya.’

Aku mengangguk.

‘Hmmm… apa ya?’ Dia bergerak memunggungiku. Sesaat kemudian dia melompat kembali menghadapku dengan jari teracung dan berseru, ‘Satu A. Dua I. Dua E. Satu S. Satu K. Satu R. Satu M. Apa itu?’

Wajahnya terlihat ceria dan sangat bersemangat. Aku berpikir dan memintanya mengulang beberapa huruf yang terlupa. Hehehehe… gadis bodoh. Dia memberikan pertanyaan yang begitu dekat. ‘Aisekerim (ice cream).’

Dia memanyunkan bibir. Ekspresinya bercampur antara senang dan kecewa, membuatku ingin tertawa. ‘Terlalu mudah ditebak ya?’

‘Kita bahkan baru saja membicarakannya.’ Tawaku meledak, membuatnya memukul pelan. ‘Sekarang giliranku.’

Kulontarkan pertanyaan yang sudah sedari tadi menunggu di kepalaku. ‘Satu A. Dua I. Satu T. Satu U. Satu E. Satu S. Satu H. Satu R.’

Kembali dia memanyunkan bibir, khasnya jika sedang berpikir. Beberapa kali dia memintaku mengulang pertanyaannya. Kemudian bibirnya sibuk menggumamkan berbagai kata dalam bahasa Korea. Aku tersenyum. Dia tak akan menemukan jawabannya. Aku yakin itu. ‘Sudah. Ayo belikan aku es krim,’ godaku.

Dia meraung. ‘Sebentaarrrrr. Tunggu sebentar. Biarkan aku berpikir sebentar lagi.’

Kulipat tanganku di depan dada. Kali ini akulah yang memamerkan senyum kemenangan. Membuatnya semakin merasa terintimidasi.

‘Menyerah, adik kecil?’

Dia menghela nafas dan sedikit tertunduk. ‘Ayo kita beli es krim.’

‘Ha!’ seruku. Kurentangkan tanganku untuk merangkul pundaknya ketika kami berjalan memasuki toko.

‘Apa jawabannya?’ tanyanya penuh rasa ingin tahu.

‘Tebak saja.’

‘Beritahu… Bukankah aku sudah menyerah?’

‘Tapi tidak ada peraturan kalau yang menang harus memberitahukan jawabannya, kan?’

Matanya menyipit. ‘Pasti bukan bahasa Korea,’ tebaknya dengan jitu. Mimik wajahku pastilah menyatakan apa yang ada dalam pikiranku karena dia melanjutkan, ‘Aish, Oppa, tidak semua orang menguasai bahasa tingkat dewa sepertimu.’

Aku hanya tertawa dan mengusap kepalanya. Lega rasanya melihat dia balas tersenyum padaku.

Kami memesan tujuh scoop s krim dalam satu mangkuk besar. Lalu memsan beberapa tambahan topping.

Selesai memesan, kami beranjak ke lantai dua. Bagian toko yang ini tidak beratap. Sementara di sepanjang dinding yang mengelilingi tepinya ditumbuhi tanaman merambat sehingga menimbulkan suasana seperti di taman.

Aku meletakkan mangkuk es krim di atas meja di antara kami.

‘Oppa, aku tidak suka mint. Kau bertanggung jawab menghabiskan es krim yang kau pilih ini,’ katanya, menunjuk satu scoop es krim berwarna hijau dengan sendoknya.

‘Aku tidak keberatan diminta menghabiskan semuanya.’

Dia mencibir. Aku menanggapinya dengan tawa.

Kusendok es krim berwarna kecoklatan, tiramisu, lengkap dengan taburan oreo yang menjadi kesukaannya. Kusodorkan sendokan itu padanya. Namun ternyata aku memberikannya dalam waktu hampir bersamaan dengan suapannya sendiri.

Dia mengerang kedinginan karena dua sendok penuh es krim memenuhi mulutnya. Lagi-lagi aku tertawa melihat tingkahnya. Sepertinya mulut mungilnya memang terlalu kecil untuk sepasang es krim tadi. Bibirnya berlepotan cokelat sekarang.

Aku baru tahu wajah yang berlepotan bisa semanis itu.

Tanganku bergerak untuk mengusap ceceran es krim di wajahnya. Sementara tangannya sendiri sibuk menulis entah apa di kertas tisu. Aku bisa merasakan dia membeku sesaat ketika kulit kami bersentuhan.

Kemudian punggung tangan kirinya bergerak mengelap mulut sementara tangannya yang lain menyerahakan kertas tisu yang tadi ditulisinya.

Beberapa garis horisontal pendek ada di sana dan satu garis horisontal yang cukup panjang. ‘The Hanged Man,’ ujarnya menjelaskan maksud garis-garis itu.

‘Main lagi?’

Dia menaikkan alis dan tersenyum menantang.

‘Baik.’ Aku meletakkan kertas itu di tengah-tengah meja.

‘Kata-kata dalam permainan ini hanya kata-kata dalam bahasa Korea.’ Matanya membelalak penuh ancaman. Kubalas tatapan itu dengan tawa lalu mulai menebak. ‘A.’

Permainan ini berjalan dengan biasa. Dia memberi pertanyaan dan aku menebak. Begitu pula sebaliknya. Sampai sebuah ide kembali muncul di kepalaku. Kugigit ujung pulpen sementara menimbang apakah sebaiknya kulakukan atau tidak.

Dengan irama jantung yang tidak karuan aku menggoreskan 11 garis pendek sebagai jumlah huruf dari kata yang harus ditebaknya dan sebuah garis vertikal panjang sebagai tiang gantungannya.

‘A?’ tebaknya.

Empat huruf A kutempatkan pada empat garis pendek.

Dia meneleng sejenak lalu tersenyum. ‘Aigo, Oppa. Ini mudah sekali. Saranghanda,’ serunya.

Aku tersenyum. ‘Na do,’ sahutku. Ekspresinya membatu. Aku menambahkan, ‘Muchachita.’ Kuusap puncak kepalanya dengan sayang.

Biarlah seperti ini. Mengungkapkan sayangku padanya hanya sebagai kakak.

Kisah kami tidak seperti Shakespeare yang bersatu di kehidupan setelah kematian. Atau Disney yang bahagia hingga akhir dalam kehidupan pernihakan. Kami memiliki akhir bahagia kami sendiri. Yang selalu bersama sebagai kakak dan adik.

==FIN==

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

4 thoughts on “Word Puzzle

  1. CASPER!!

    kenapa kok gantung endingnyaaa??

    #gantungdiri
    atau #gantungkamu aja ya??
    uwauwauawaaaa….. gregetan bacanya, hiks hiks hiks
    padahal cerita biasa tapi bagus
    aku suka pas dia main hangman, so sweeet >.< #ngeringkel

    betewe yang ‘Satu A. Dua I. Satu T. Satu U. Satu E. Satu S. Satu H. Satu R.’ itu apa cas? apa? apa? apa? #penasarantingkatdewa

  2. aaaaaaaaaaaaaa~ jgn gantung saya… emmm, pd akhirnya kan mrk pd memendam perasaan msg2.
    ih, games-nya maksa smua tuh. aku aja sebel kalo bc ulang, hehehe..
    tebak.. tebak.. kata apakah itu?
    aishiteru..

  3. uoooh kok aku nggak bisa nebak?? *mulai meragukan sertifikat bahasa jepang sendiri*

    gamesnya sih, mulanya aku pikir pake hangeul, taunya pakai alfabet ya?
    saranghanda kalau hangeul diitungnya kan 4 y??

  4. lingkupnya terlalu luas si.. coba kalo dikasi clue, itu bhs jepang, pasti ketebak.
    iya, hbs bingung si kalo pake hangul. 1. ga tau hangman-nya org korea kyk apa, 2. ga tau org korea maen hangman ato ngga, 3. Laptop ga bs nulis hangul. jadilah tebak2annya dlm huruf latin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s