Posted in drabble, thriller

Nae Beoseu #2: Day Dreaming

Nae Beoseu #2: Day Dreaming

Cassie

Drabble / (maunya sih)Thriller

Lee Jin Ki

I do not own the casts, I own the story only

Nae Beoseu #1 : Joheun Oppa

Matahari belum terlalu tinggi di langit. Sinarnya lembut menyapa bumi. Menimpa setiap bangunan dan pejalan kaki yang ada di luar sana. Masih pula menyisakan beberapa berkas cahaya untuk menerangi bus ini. Bus lengang saat ini. Para pelajar sudah memasuki jam pelajaran kedua mereka, mungkin. Para pegawai sudah berada di kantor masing-masing. Sementara para ibu mungkin sedang terlibat tawar-menawar sengit dengan para pedagang di pasar. Aku hanya salah satu dari begitu sedikit orang yang belum berada di tempat tujuan.

Hampir semua orang telah memulai aktivitasnya hari ini. Penjual bubur di pinggir jalan itu telah membuka kedainya, bahkan beberapa orang tampak sedang menikmati sarapan di sana. Beberapa polisi sudah siap berjaga di dalam pos mereka. Seorang pemuda mendorong rolling door tokonya, bersiap menerima sebanyak mungkin tamu.

Aku begitu larut dalam pengamatanku akan aktivitas di luar sana hingga tidak menyadari kursi di sebelahku telah terisi. Aku sedikit melonjak terkejut ketika dia mengajakku bicara. Namun agaknya dia tidak menyadari keterkejutanku.

‘Dalam perjalanan ke kampus?’

Aku mengangguk. Kerongkonganku masih tercekat oleh rasa kaget.

‘Universitas mana?’

‘Yonsei,’ kataku. Rasanya seperti memuntahkan seonggok batu.

‘Aaaa~ tingkat berapa?’

‘Tingkat 3. Dan… kau sendiri? Mahasiswa juga, errrrr….?’

‘Jinki. Lee Jinki.’ Dia mengulurkan tangannya. Kamipun berkenalan. Seperti halnya matahari di luar sana, pembicaraan kami pun semakin hangat seiring dengan berlalunya waktu.

‘Jadi, kedua orangtuamu membuka kedai?’ kata Jinki, topik kami sudah memasuki area profil orangtua sekarang.

Aku mengangguk. ‘Mungkin kita bisa bekerja sama. Orangtuaku menjual daging.’

Oh. ‘Kalian memiliki peternakan sendiri?’

‘Tidak. Tapi kami membunuh korban kami sendiri.’

Aku tertawa garing. ‘Kau membuatnya terdengar sangat sadis.’

‘Memang sadis. Bukankah pembunuhan itu sadis?’ Dia benar-benar membuatku takut sekarang. Tidak hanya sesuatu dalam suaranya yang membuat bulu kudukku berdiri, tapi juga perubahan sinar matanya.

‘Daging apa yang kau jual?’ tanyaku sekasual mungkin, mengabaikan imajinasiku yang mulai berkelana liar.

‘Kau yakin mau tahu?’ Ujung-ujung bibirnya naik membentuk seringai. Diamendekatkan mulutnya ke telingaku. ‘Kami menjual daging manusia.’

Sebuah godam rasanya baru saja menghantam dadaku. Ini tidak mungkin. Dia pasti bercanda. ‘Aku tidak bercanda kalau itu yang kau pikirkan,’ bisiknya. Hawa panas dari mulutnya menyapu telingaku. ‘Kau tahu berapa ribu won yang bisa kudapat dari daging 6 orang manusia?’ Enam orang. Dia mengacu pada jumlah orang dalam bus, tidak termasuk dirinya.

‘Kau akan membunuh kami?’ suaraku tercekat.

‘Dimulai dari kau.’ Pada saat yang sama aku merasakan sesuatu menyentuh bagian dalam pahaku. Kemudian nyeri dan basah. Dengan ngeri aku melirik ke sana. Namja yang baru kukenal ini telah dengan mantap menghujamkan pisau ke pahaku. Aku memekik tertahan.

Sepertinya aku duduk di sebelah seorang pembunuh berpengalaman. Dengan tangannya yang bebas dia mencekikku, mencegahku berteriak atau mengeluarkan suara sekecil apapun.

Kedua tanganku menggapai-gapai, mencoba menyingkirkan tangan-tangannya. Melihat ini seringainya semakin lebar. Tatapannya mengeras. Sejurus kemudian, tangan kirinya mencengkeram leherku lebih bersemangat. Sementara tangan kanannya bertindak lebih liar dengan menggerakkan pisau yang masih menancap itu di sepanjang pahaku. Air mataku mengalir. Nafasku naik turun saking sakitnya. Sialan orang ini. Apa dia berniat memutilasiku hidup-hidup?

Leherku sakit karena tekanan keras dari jari-jarinya. Aku kehabisan nafas. Kakiku sakit… tidak, bahkan rasanya seperti diamputasi. Dasar psikopat gila! Kenapa dia memilihku untuk dibunuh dengan cara seperti ini??

Tanganku sekarang hanya menggantung lemah di tangannya. Lelah setelah memukul-mukul tanpa hasil. Energiku habis. Ke mana penumpang yang lain? Apa mereka tidak tahu pembunuhan sedang terjadi tak jauh dari mereka? Aku merutuk dalam hati. Inikah akhir hidupku?

Aku merasakannya mencabut pisau di pahaku. Serangkaian air mata kembali meleleh jatuh ke pipiku. Sekarang dia mengangkat pisaunya, berniat menghujamku entah di bagian mana. Aku menutup mataku, pasrah akan nasibku selanjutnya. Mungkin setelah ini aku akan dicincang lalu disajikan di restoran kanibal.

Jantungku berdetak semakin cepat. Alam bawah sadarku menjerit-jerit merasakan betapa dekatnya pisau itu. Ujungnya yang tajam dan berkilau seolah muncul dalam kegelapan mataku yang terpejam..

Aku ingin ini segera berakhir. Aku ingin ini segera berakhir.

Sesuatu menubruk sisi kiriku. Aku membuka mata. Keringat membasahi seluruh bagian wajahku. Wajah kuning di seberang sana sedang bersinar tepat ke arahku. Ah, aku pasti tertidur dan panas yang membakar ini membuatku jadi bermimpi yang tidak tidak.

Setelah puas berlega-lega ria oleh kenyataan aku tidak akan berakhir di lambung manusia lain, aku melirik ke sisi kiriku. Omo~ ternyata bus telah menjadi penuh sesak. Pantas, pasti sosok yang duduk di sebelah kiriku ini yang tadi menyenggolku. Ah, gomabseumnida penyelamatku.

Baru kuperhatikan seperti itu, tiba-tiba dia berbalik. Kepadatan di sisi kirinya mendorongnya ke arahku lagi.  ‘Joesonghamnida,’ katanya.

Aku hanya terpaku. Diam.

Orang ini. Alisnya. Matanya. Hidungnya. Wajahnya.

Persis seperti psikopat dalam mimpiku.

Aku menelan ludah. Andwaaaaaeeeeee….. Bawa aku keluar dari sini. Bawa aku keluar dari sini!

-o.O.o-

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

8 thoughts on “Nae Beoseu #2: Day Dreaming

  1. oh, bukan. drabble itu crita pendek, lbh pendek dr oneshot. cm drabble yang aku buat ini semacam heptalogi gt, jd ada 7 judul.
    gitu okty, hehehe..
    makasi yaa.. ^^

  2. Ah, baguss banget.. Aku suka ceritanya.. Endingnya emang ngegantung tp justru itu daya tariknya. Like this lah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s