Chapters in My Life – 2 (end)

Title              : Chapters In My Life

Author         : Cassie

Cast               : Choi Min Ho, Shin Na Ra

Genre            : Romance

Length          : Twoshot

Disclaimer   : Choi Min Ho is (NOT) mine, but the story is mine.

Sinopsis        : When it’s about time, what should go will go no matter how hard you make a grip on it

<<Previous<<

‘Dia sudah melewati masa kritis,’ kata-kata Jang uisa, dokter yang menangani Shin Na Ra, kembali memenuhi kepala Min Ho ketika dia menyusuri koridor menuju kamar rawat tempat Shin Na Ra dipindahkan. ‘Kami sudah mengusahakan yang terbaik. Namun, kondisi paru-parunya sudah sangat lemah. Kami khawatir…’ Min Ho memalingkan wajah agar suara yang menghantuinya itu lenyap. Tidak. Dia tidak ingin mendengarnya lagi. Cukup sekali saja ketika dokter itu mengucapkannya.

Dia berhenti di depan pintu kamar rawat Shin Na Ra. Buku harian Shin Na Ra tergenggam erat di tangannya. Perasaannya saat itu tidak berbeda dengan saat dia berdiri di depan pintu kantor pelatihnya. Baik itu dua tahun lalu ketika si pelatih memanggilnya, yang ternyata untuk memberitahunya bahwa dia masuk dalam tim inti, maupun beberapa minggu lalu saat si pelatih memutuskan apakah dia boleh ikut bertanding atau tidak. Jika dalam dua peristiwa itu kabar baiklah yang menyambut di balik pintu, dia berharap kali inipun begitu. Bahwa ketika dia membuka pintu ini dia akan mendapati Shin Na Ra yang terduduk di ranjang dengan senyum dan mata bersinarnya.

Tangan gemetar Min Ho menurunkan pegangan pintu membuat pintu sedikit membuka menghasilkan celah kecil yang menampakkan sebagian kecil kamar rawat. Melalui celah itu Min Ho dapat melihat kantung infus menggantung pada sebuah tiang. Dengan susah payah dia menelan ludah lalu mendorong pintu terbuka. Pemandangan menyedihkan terpampang di hadapannya. Meski hal itu sudah diantisipasinya, tetap saja suatu rasa mengganjal terbentuk di dadanya.

Dihampirinya ranjang tempat Shin Na Ra berbaring. Mata gadis itu tertutup. Wajahnya tenang, namun gurat-gurat letih bisa terlihat di sana. Deru nafasnya lembut, masker untuk membantu pernafasannya telah diambil. Kini mereka menghirup udara yang sama. Min Ho bergerak untuk membelai kepala Shin Na Ra. Kepala yang sering disentuhnya ketika dia merasa gemas dengan pemiliknya.

Tangannya bergerak turun ke wajah Shin Na Ra, mengusap pipinya. Pipi itulah yang selalu menggembung setiap kali bibir yang diapitnya melantunkan senyum atau tawa. Min Ho rindu tawa itu. Kapan tawa itu terakhir di dengarnya?

‘Waaaa~~~ enak sekali, Min Ho. Bahkan lebih enak dari ramyeon yang biasa kumakan.’

‘Tentu saja. Memangnya mie apa yang biasa kau makan?’

‘Mie instan,’ sahut Shin Na Ra  diikuti cengiran.

‘Mwo? Mie instan? Gadis macam apa kau?’

‘Gadis yang makan mie instan,’ jawab Shin Na Ra polos.

Min Ho mendengus geli. ‘Aku sudah memasak untukmu, berikutnya giliranmu.’

‘Menghina ya? Baru saja aku bilang aku sering makan mie instan dan sekarang kau menyuruhku memasak?’

‘Aaaa~~~’ Min Ho menggoyang-goyangkan telunjuknya. ‘Karena itu kau selalu makan apel? Karena kau tidak bisa memasak?’

Sesaat Shin Na Ra diam. Ekspresinya membatu. Namun kata-katanya yang keluar kemudian diucapkan dengan nada ringan, ‘Maka dari itu, sering-seringlah memasak untukku.’

‘Apa itu berarti kau mengijinkanku sering-sering mampir?’

‘Asal kau memasak untukku,’ sahut Shin Na Ra di sela-sela kegiatannya menyedot mie.

***

‘Nah, nah, sekarang masukkan wortelnya. Jangan lupa diaduk.’

‘Baik. Baik, sonsaengnim.’

‘Sudah cukup kental, matikan apinya.’

‘Ne.’

‘Ayo cicipi.’

‘Ah?’

‘Cicipi.’

‘Em.. ye.’ Shin Na Ra mengambil sendok dan meraup sedikit saus berwarna kehitaman yang ada di panci lalu menyodorkannya pada Min Ho.

‘Eh?’

‘Cicipi.’

‘Kenapa bukan kau?’

‘Masakan pertamaku. Spesial untuk sonsaengnim.’

‘Kau ini.’ Min Ho membuka mulutnya, mengecap saus itu sesaat lalu… keningnya mengerut. Dengan ngeri Shin Na Ra menatapnya. Meski tidak mecicipinya sendiri dia merasa seolah-olah benda itu ada dalam mulutnya.

‘Bagaimana?’ tanyanya ragu-ragu.

‘Asin sekali,’ kata Min Ho, mengambil segelas air dan meneguknya cepat. ‘Apa kau sudah begitu terburu-buru ingin menikah?’

‘Would you marry me…’ dengan cuek Shin Na Ra menyenandungkan lagu ‘Marry U’ milik Super Junior. Kemudian dia menoleh pada Min Ho dengan senyum tak bersalah dan menemukan wajah terkesiap Min Ho. Saat itu juga dia menyadari apa yang baru saja dilakukannya.

‘Ireon naui maeum heoragaejullae,’ Min Ho melanjutkan barisnya. Sebelum semua menjadi terlalu terlambat, Shin Na Ra mengambil langkah seribu dari dapur. ‘Ya, mau ke mana? Ayo menyanyi lagi.’ Min Ho mengejarnya.

‘Tidak, tidak… aku tidak mau menyanyi.’

Buku harian Shin Na Ra sepertinya turut mengamini kenyataan bahwa itulah saat terakhir pemiliknya menampilkan wajah berseri-seri. Tulisan-tulisan Shin Na Ra sejak malam itu penuh dengan kegalauan hatinya. Kertasnya pun kusut, seperti pernah basah beberapa waktu yang lalu kemudian mengering.

14.04.2010 –> Black Day…

Kami membuat jajangmyeon bersama 🙂

21.08

Egoiskah aku?

Jika aku ingin melewati setiap detik bersamamu

Jika aku ingin sesering mungkin bersamamu

‘Na Ra, aku akan pergi selama 3 hari ke Jepang. Memeriksakan kakiku. Selama itu jangan nakal ya.’

Apa kau tahu? Dadaku sakit sekali waktu mendengar kau mengucapkan hal itu. Sakit. Tidak hanya paru-paruku, tapi juga jantungku.

Hal itu bisa terjadi kapan saja.

Aku bisa pergi kapan saja.

Aku takut Min Ho

Takut tidak bisa melihatmu lagi

19.04.2010

Tadinya…

hal ini begitu mudah

Aku tidak akan kehilangan siapa-siapa

Tidak akan meninggalkan siapa-siapa

Aku hanya akan menyusul appa dan eomma

Tapi sekarang…

Sekarang

aku akan kehilanganmu

Apakah pertemuan kita waktu itu sebuah kesalahan?

Apakah seharusnya aku tidak menyapamu?

Apakah aku telah lancang membuat garis hidup kita bertemu? Dan sekarang dewa marah padaku?

Eomma…

Appa…

Eotteokhajyo?

22.17

Dia seharusnya sudah pulang hari ini

22.38

Aku harap dia segera pulang

Untunglah dia segera ke apartemen Shin Na Ra setibanya dia di Korea hari itu. Dia benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukannya, apa yang akan dirasakannya jika dia terlambat sedikit saja dan mendapati dirinya kehilangan gadis itu selamanya.

Sudah lebih dari lima menit Min Ho mengetuk pintu apartemen itu, tapi tak kunjung ada yang membukanya. Bahkan suara yang menyahut pun tak ada. Coba-coba diputarnya kenop pintu itu. Tidak terkunci.

‘Permisi,’ Min Ho melongokkan kepalanya. Kosong. Tak ada siapa-siapa. ‘Shin Na Ra,’ serunya, membawa dirinya semakin dalam memasuki apartemen itu. ‘Yeogwa.’ Tetap tak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara orang terbatuk. Batuk itu terdengar sangat menyiksa seolah pelakunya ingin memaksa keluar sesuatu dari dalam salurannya. Min Ho mencari tahu dari mana asal suara itu. Siapa orang yang menderita seperti itu? Shin Na Ra kah? Tapi… bukankah selama ini dia baik-baik saja?

Sejurus kemudian sesosok tubuh menyerbu keluar dari ruangan yang berada dia arah kiri Min Ho. Langkah sosok itu agak terseok. Satu tangannya menutup hidung sementara tangan yang lain mencengkeram dadanya.

Seperti tidak menyadari kehadiran Min Ho, Shin Na Ra melaluinya begitu saja dan langsung menuju lemari es. Dengan cepat matanya menjelajahi seisi lemari itu. Ketika tidak menemukan apa yang dicarinya, dia beralih pada lemari, rak, dan meja yang ada di dapur. Selama itu, beberapa kali dia berhenti. Menarik nafas dalam-dalam dengan segenap kekuatannya. Kadang dia memejamkan mata dan menekan hidungnya, bernafas melalui mulut. Kadang dia terbatuk.

Saat benar-benar yakin yang dicarinya memang tak ada, Shin Na Ra mengisi satu gelas penuh dengan air lalu meminumnya dalam beberapa teguk. Namun hal itu belum cukup melegakannya. Dia terduduk lemas di salah satu kursi yang mengitari meja makan. Kedua tangannya menopang kepala dengan frustasi. Masih berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal.

‘ Na Ra,’ Min Ho mendekatinya, duduk di sebelahnya, dan menyentuh tangannya. ‘Gwaenchanhayo?’

Gadis itu mendongak. Terperanjat. Seakan baru menyadari kehadiran Min Ho. ‘Kau… kau… di sini?’ hanya itu yang dapat dikatakannya di sela-sela nafasnya yang berat.

‘Ada apa?’ tanya Min Ho cemas, tangannya bergerak mengusap kening Shin Na Ra yang mulai dipenuhi keringat dingin. ‘Perlu ke dokter?’

Shin Na Ra tidak segera menjawab. Lagi-lagi dia memasukan udara banyak-banyak melalui mulutnya. ‘Anni. Aku…’ Kalimat itu terputus karena Shin Na Ra kembali berkonsentrasi pada nafasnya. Namun, Min Ho harus menebak-nebak sendiri kelanjutan kalimat itu karena detik berikutnya tubuh di hadapannya limbung, bergerak begitu saja mengikuti gravitasi bumi.

Kefasihan si dokter mengenai kondisi Shin Na Ra membuat Min Ho yakin bahwa dokter itu telah lama menangani dan mengenal Shin Na Ra. Pemikirannya ini terbukti ketika wanita dalam balutan jas panjang berwarna putih itu tersenyum dan menjelaskan keadaan pasiennya pada Min Ho. ‘Shin Na Ra memiliki paru-paru yang lemah. Dia sudah menjadi pasienku sejak sebelas tahun yang lalu. Waktu itu dia masih gadis kecil berusia sepuluh tahun.’ Jang uisa tersenyum kecil, agaknya teringat masa awal pertemuannya dengan Shin Na Ra. ‘Kondisinya sangat rentan dan itu tidak bertambah baik setelah sebelas tahun. Dia tidak boleh kelelahan atau melakukan pekerjaan yang terlalu berat. Udara yang terlalu panas maupun dingin juga dapat berpengaruh buruk bagi kesehatannya. Apalagi dengan banyaknya debu yang bertebaran saat ini. Bahkan paru-paru yang sehat pun belum tentu sanggup mengatasinya.’

Penjelasan singkat itu tetap melayang-layang di udara di sekitar Min Ho, meski langkah kaki Jang uisa yang bergerak mennggalkannya telah sayup-sayup terdengar. Segalanya berubah hanya dalam sekian menit. Tadinya dia datang dengan semangat menggebu untuk menyampaikan kabar gembira. Sekarang dia justru mendapat kabar yang meruntuhkan kabar gembira itu.

Min Ho masuk ke kamar rawat Shin Na Ra. Gadis itu sedang berbaring dengan mata menatap langit-langit. Ketika Min Ho bergerak mendekat, dia menoleh. Mulutnya membuka seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.

‘Aku sudah tahu,’ kata Min Ho ketika dia tiba di tepi ranjang.

Shin Na Ra memalingkan wajahnya dan berbisik, ‘Mianhae.’

‘Untuk apa?’

‘Aku sudah coba memberitahumu. Berulang kali. Tapi aku selalu merasa waktunya tidak tepat. Aku selalu merasa tidak bisa melakukannya.’

‘Aku tahu. Jangan cemas.’ Min Ho menggenggam tangan Shin Na Ra. Tangan itu dingin. Dia meremasnya lembut, ingin sekali membuat tangan itu merasakan kehangatan. Ingin sekali mendekap tubuh mungil itu. Sekarang dia melihat tubuh itu begitu ringkih, begitu tidak berdaya. Seandainya dia bisa melakukan sesuatu. Memberikan paru-parunya?

24.04.2010

Min Ho muncul di pintu apartemenku dengan sekantong besar belanjaan.

Tahu apa isinya?

Apel apel apel, sagwa sagwa sagwa…

Dia bilang mulai sekarang apel akan selalu ada di tiap sudut apartemenku.

18.45

Aku suka ketika dia mengatakan yeogwa 🙂

18.50

Aku ingin dia terus mengatakannya dan mengatakannya

19.00

Yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa

Yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa

Yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa

Yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa yeogwa

‘Ini makanlah,’ Min Ho menyodorkan semangkuk sup bawang ke bawah hidung Shin Na Ra. Aromanya menguar langsung menyergap saluran pernafasan Shin Na Ra. Dia menghirupnya dalam-dalam.

‘Terima kasih.’

Min Ho tersenyum dan menempatkan diri di hadapannya. ‘Merasa lebih baik?’ tanyanya setelah Shin Na Ra menyuap beberapa sendok. Yang ditanya mengangguk tanpa meninggalkan supnya. ‘Apa saja yang bisa membuatmu lebih baik?’

Shin Na Ra mengangkat kepala dari mangkuknya dan menatap Min Ho. Dia menempelkan sendok di bibir, ‘Apel, madu, dan coklat hangat,’ jawabnya diiringi senyumnya yang paling ceria. ‘Dan…’ dia menatap Min Ho sejenak, ‘kau,’ tambahnya lirih, namun pasti.

Selama beberapa saat mereka hanya saling menatap dalam diam.

Shin Na Ra berharap, sangat berharap untuk apapun di dunia ini waktu berhenti berputar saat itu. Dia ingin terus bisa seperti ini, menatap Min Ho, memastikan namja di hadapannya itu ada dalam jangkauannya.

Tanpa dia sadari, tangannya bergerak menggapai tangan Min Ho, menggenggam tangan itu erat. Dia mulai bernafas dengan cepat. Bukan karena paru-parunya memberontak lagi, tapi karena hatinya…

Dia akan menangis.

Dia akan menangis.

Sebuah sentuhan lembut dan hangat menghampiri tangannya. ‘Apa kau mau menonton pertandinganku akhir pekan ini?’

01.05.2010

Hari ini pertandingan pertamanya semenjak cedera.

Dia tampak sangat bersemangat.

Aku tidak akan lupa senyumnya itu.

Tuhan, lindungi dia

Lindungi kakinya

Lindungi tubuhnya

Lindungi semangatnya

Lindungi impiannya

Tangan Min Ho bergetar. Nafasnya naik turun dengan cepat. Dia ingat pertandingan itu. Dia bahkan masih bisa merasakannya. Getaran yang muncul, perasaan yang membuncah dalam dirinya ketika melihat gadis itu, Shin Na Ra, berada di antara penonton memberi dukungan padanya.

19.07

Dia menang!

Ya Tuhan, terima kasih dia menang

Dan utuh. Tanpa cedera.

Terima kasih lagi J

Visi saat dia berlari menyongsongku usai pertandingan

dan menggendongku dalam pelukannya akan kuendapkan

hingga dasar memoriku yang paling dalam

hingga aku tak akan pernah lupa.

Tapi…

Keegoisanku kembali menyeruak saat

Bibirnya menyentuh dengan lembut bibirku. Hangat. Dan lembut.

Aku sungguh tak ingin ini semua berakhir.

Jika boleh, aku ingin waktu saja yang berhenti. Bukan paru-paruku.

Rasanya berat sekali.

Inikah yang dirasa Cirrus

ketika dia menggelap?

Perih…

Oleh beratnya beban

Hingga benteng langit itu roboh,

membebaskan milyaran titik air

Min Ho ingat hujan yang dengan deras mengguyur mereka hari itu. Hujan yang mencengkeram paru-paru Shin Na Ra dan sekali lagi merobohkan gadis itu.

Sepertinya tak ada lagi yang sempat ditulis Shin Na Ra setelah itu. Atau mungkin dia sengaja tidak menuliskannya. Min Ho membuka dengan cepat halaman-halaman yang tersisa. Semuanya kosong.

Pintu kamar rawat terbuka. Seorang bocah berumur sekitar 10 tahun melongok melalui pintu. Rambut hitam yang membingkai wajahnya sangat serasi dengan mata bulat hitamnya. Mata cekung yang menunjukkan betapa banyak penderitaan yang telah dilalui pemiliknya. Namun, tetap tidak berhasil menyingkirkan garis-garis keceriaan anak-anak dari wajahnya.

‘Hai, Chu Young.’ Min Ho tersenyum ketika melihat siapa yang datang.

‘Hyung,’ perlahan-lahan, sambil menatap tubuh Shin Na Ra yang terbaring di seberang ruangan, dia bergerak mendekati Min Ho. ‘Apa Noona akan baik-baik saja?’

Min Ho meletakkan buku harian Shin Na Ra di sisinya lalu menarik Chu Young ke pangkuannya. ‘Apa kau juga rindu pada senyumnya?’ Min Ho mengacak rambut Chu Young.

Anak itu tidak menjawab. Dia hanya menunduk, tiba-tiba asik memainkan jemarinya. Min Ho menerawang. Apakah Chu Young merasakan hal yang sama dengannya? Apakah anak ini sama takutnya dengan dirinya?

‘Hyung,’ suara kecil Chu Young terdengar kembali. Mata bulat bocah itu menatap Min Ho. ‘Jangan khawatir. Aku yang akan menjaga Noona di sana sampai Hyung datang.’ Min Ho tersentak. Apa maksudnya? Kenapa dia bicara seperti itu? Min Ho begitu kalut dengan pikirannya sendiri hingga dia tidak bereaksi saat Chu Young merosot turun dari pangkuannya.

Bocah itu sudah hampir tiba di dekat pintu ketika dia berbalik. ‘Hyung, aku ingin menyampaikan sesuatu pada Noona.’ Min Ho masih bergeming. Hanya matanya yang bergerak mengikuti langkah Chu Young mendekati ranjang tempat Shin Na Ra terbaring. Chu Young mendaratkan kecupan ringan dan singkat di pipi Shin Na Ra. Kemudian dia menepuk lengan Shin Na Ra penuh sayang.

Malam itu, perawat Chae Rin dari bangsal kanker bergegas masuk ke ruang rawat Shin Na Ra. Matanya nanar dan nafasnya terengah-engah akibat berlari. Kepanikan membuat dia bicara dengan cepat dan tidak jelas. Min Ho harus memintanya mengulang beberapa kali dan berkonsentrasi pada setiap kata yang diucapkan perawat itu sebelum dia bisa memahami informasi yang sedang disampaikan padanya.

Leukimia akhirnya berhasil memenangkan pertempuran melawan tubuh kecil Chu Young. Hanya beberapa jam setelah dia meninggalkan kamar Shin Na Ra, penyakitnya kambuh. Tim dokter dan medis tak mampu membawanya melewati masa kritis. Orang tua Chu Young datang dengan tergopoh-gopoh malam itu juga. Nyonya Park menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya. Menjeritkan kenyataan bahwa Chu Young adalah anak laki-laki satu-satunya dan sekarang anak itu telah diambil darinya. Perawat Chae Rin yang selama ini merawat Chu Young tampak sama terpukulnya. Namun, dia mencoba tabah dan berusaha menyalurkan hal itu pada si ibu.

Min Ho menyaksikan semua itu dengan perasaan gamang. Seakan-akan jiwanya juga sudah meninggalkan tubuhnya. Kata-kata terakhir Chu Young kembali terngiang di telinganya.

Apakah dia sudah tahu akan hal ini?

Apakah Chu Young sudah merasakannya?

Itukah sebabnya dia berkata begitu pada Min Ho?

Bagaikan déjà vu, ketika Min Ho kembali ke kamar Shin Na Ra, sekali lagi didapatinya mata gadis itu terbuka menatap langit-langit. Mata itu segera beralih pada Min Ho begitu menyadari adanya gerakan di pintu. Senyum lemah tersungging di bibirnya.

Kelopak mata Min Ho bergerak menutup selama sedetik kemudian membuka lagi. Nafasnya tiba-tiba sesak. Gadis itu sudah sadar. Namun, sesuatu dalam dirinya membuat Min Ho merasa dia akan segera kehilangan Shin Na Ra selamanya.

09.05.2010

Shin Na Ra memintaku membawanya ke taman rumah sakit. Tempat di mana kami pertama kali bertemu. (Dia tidak lupa membawa apelnya.)

Angin berhembus dengan lembut di taman itu.

Shin Na Ra memejamkan mata ketika angin membelai wajah dan rambutnya. Wajah itu terlihat tenang dan damai. Seperti baru saja terbebas dari himpitan yang selama ini menekannya. Sudut bibirnya tertarik kecil ketika dia merentangkan tangan, seolah sedang mempersilahkan semua udara menghampirinya.

Ekspresinya yang seperti itu membuatku teringat pada yeogwa. Gadis apel dengan senyumnya yang manis.

‘Min Ho,’ dia berbisik padaku. ‘Gomawo. Saat ini, aku tidak akan pernah melupakannya.’

Kami duduk di bawah pohon sakura yang sudah kembali gundul sekarang. Membiarkan alam yang tenang dan teduh membuai kami.

Geudaen anayo cheoeum bwadeon sunganbuteo

Geudaeran geol aljyo nunape gireul hage geoleoyo

Areumdaun nal uri ape pyeolchyeoittjyo

I wanna be with you my love

Haneularae yagsoghaeyo

Geudaereul jikyeojulgeyo

Yeongwontorog

I wanna love you forever

Buinayo ireon naemaneum

Naegyeote sumeulswieoyo

Yeongwontorog geudae

Saranghaeyo

Saranghaeyo

Aku merasakan tangan Shin  Na Ra menggapai-gapai di sisiku. Aku meraihnya, memasukannya dalam genggamanku.

Dengan lenganku yang bebas, aku memeluk pundaknya, membiarkan kepalanya menyandar di pundakku. Aku bisa merasakan nafas hangatnya melembut. Detak jantungnya yang semula seirama dengan detak jantungku semakin lambat.

Aku menggenggam tangannya semakin erat. Tidak, aku tidak ingin kehilangan dia sekarang.

Namun, tubuh dalam pelukanku itu tidak lagi bergerak naik turun seperti yang semestinya terjadi ketika seseorang sedang bernafas. Ketika apel dalam genggamannya menggelinding ke hamparan rumput di depan kami, aku tahu genggamanku tak lagi berarti.

Aku mengigit bibir bawahku, mencegah emosi yang hendak meluap. Tidak, aku tidak boleh menangis. Shin Na Ra sedang menuju tempat yang lebih baik. Dia sudah mengakhiri perjuangannya. Sama seperti Chu Young.

Dan aku tahu, mereka akan menungguku sampai aku juga tiba di sana.

♫Yeongwontorog nal barabwayo

Yeongwontorog nal anajwoyo

Yeongwontorog nal saranghaeyo

Uri haengboghadorog

Yeongwontorog geudaeman bumyeo

Haengboghagil gidohae

(‘Forever’-SS501)

♥End of Chapters♥

Advertisements

4 thoughts on “Chapters in My Life – 2 (end)

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: