Ring Ding Dong vs Lucifer – Part 2

Title       : Ring Ding Dong vs Lucifer

Genre     : Fantasy, Romance

Length   : Short Story

Cast        : All SHINee members and OCs (Kang Hyo Rin, Jung Ga In, Han Chae Rin, Shin Na Ra, dan So Eun Hye)

<< Previous <<

Taemin menarik kedua ujung bibirnya, ‘So Eun Hye-ssi, Shin Na Ra-ssi, Han Chae Rin-ssi, Jung Ga In-ssi, Kang Hyo Rin-ssi, selamat datang di Dunia Ring Ding Dong.’ Kedua tangannya terbuka selayaknya seorang tuan rumah yang mempersilahkan tamu-tamunya.

Jonghyun mendorong pintu gerbang kastil hingga terbuka. ‘Silahkan,’ dengan gaya seorang penjaga pintu dia mempersilahkan kesembilan orang lainnya masuk.

Pintu itu terbuat dari kayu tebal dan terlihat kokoh. Tak heran Hyo Rin memekik, ‘Waa~~ Jonghyun, kau mendorong balok seperti ini seorang diri?’ Dielusnya kayu pintu yang halus itu, menatapnya dengan kagum.

Yang merasa mendapat pujian segera menyunggingkan senyum bangga. ‘Aku adalah kekuatan Ring Ding Dong.’ Dia menekuk lengan kanannya, bermaksud memamerkan ototnya.

‘Dasar tukang pamer.’ Ga In mendorong kepalanya.

‘Ya! Ga In, kau masih galak saja.’

Beriringan mereka menyusuri koridor-koridor batu yang menggemakan suara langkah mereka. Sesekali cahaya menyorot masuk melalui lubang-lubang jendela yang ada tiap beberapa meter.

‘Apakah itu cahaya matahari?’ celetuk Shin Na Ra.

‘Ne.’ Minho mengangguk. ‘Matahari yang sama dengan dunia manusia.’

‘Di mana sebenarnya dunia Ring Ding Dong itu?’ Eun Hye menatap jauh keluar jendela. Tempat itu tidak berbeda jauh dengan dunia manusia. Hanya lebih bersih, lebih segar, lebih alami… Eun Hye meringis memikirkan hal ini.

‘Apakah kita ada di dimensi lain?’ Chae Rin yang dari tadi hanya diam kini bersuara. Secanggung dan seasing apapun yang dirasakan Eun Hye, Shin Na Ra, Ga In, serta Hyo Rin tidak ada yang merasa lebih canggung daripada Chae Rin. Satu-satunya yang dia kenal di antara mereka hanyalah Key, yang kini tampak semakin menyeramkan.

‘Aku pikir kita ada di suatu tempat yang sangat tinggi. Jauuuuuhh di atas bumi.’ Hyo Rin mengangkat tangannya tinggi-tinggi guna mengekspresikan betapa tinggi jarak yang dimaksudkannya. ‘Bukankah kita terbang untuk mencapai tempat ini?’ Dia menoleh pada Onew, meminta konfirmasi.

‘Ruang, waktu, dimensi yang ada dalam kehidupan kita adalah hal yang relatif,’ Onew memulai jawabannya.

‘Ups, kedengarannya seperti Einstein,’ timpal Eun Hye. ‘Aku menyerah deh.’

Hyo Rin mengalihkan wajahnya dari Eun Hye yang kembali menatap keluar jendela pada Onew, ‘Kalau Jonghyun adalah kekuatan Ring Ding Dong, apakah kau adalah otak Ring Ding Dong?’

Mereka tiba di sebuah aula luas yang kosong. Hanya ada deretan jendela di dinding sebelah kanan dan kirinya, obor-obor yang tidak menyala, serta sebuah kursi tinggi di depan ruangan tepat di tengah-tengah. Taemin berbalik menghadapi orang-orang yang mengikutinya.

‘Aku tahu kalian semua lapar.’ Minho, Key, Jonghyun, dan Onew bergerak ke sisi Taemin sehingga kini mereka terbagi menjadi dua barisan yang saling berhadapan. ‘Baik akan makanan,’  Taemin menatap Hyo Rin dan Shin Na Ra, ‘maupun informasi,’ dia beralih pada Eun Hye. ‘Aku menawarkan pada kalian, kebutuhan mana yang lebih dulu ingin kalian puaskan?’

Eun Hye melempar pandangan pada kedua adik kelasnya, menyerahkan keputusan sepenuhnya pada mereka. Melihat Shin Na Ra yang mengedikkan bahu, Hyo Rin mengangguk. ‘Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.’

Taemin mengedarkan tangannya. ‘Silahkan duduk di manapun kalian suka.’ Sedangkan dia sendiri berbalik menuju kursi tinggi di seberang ruangan.

Ga In mengernyit. Apakah tuan rumah mereka ini meminta tamu-tamunya duduk di lantai batu yang dingin? ‘Ah’ pekikan Chae Rin membuatnya tersadar bahwa kursi-kursi telah muncul di antara mereka. Masih terheran-heran mereka menempatkan diri di masing-masing kursi tersebut.

‘Jadi?’ kata Eun Hye dengan nada sedang menagih hutang. ‘Apa itu dunia Ring Ding Dong? Makhluk apa tadi yang menyerang kita? Dan kenapa kami dibawa kemari?’ Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang berjejalan dalam otaknya segera mengalir keluar.

‘Dunia Ring Ding Dong,’ Taemin memulai penjelasannya. ‘ada sebelum dunia manusia diciptakan. Atau lebih tepatnya, dunia Ring Ding Dong diciptakan untuk melindungi dunia baru yang waktu itu hendak diciptakan oleh Sang Kreator. Kami,’ dia mengacu pada dirinya dan keempat temannya, ‘ada untuk melindungi dunia manusia.’

‘Onew dan Jonghyun,’ dia menggerakkan kepala ke arah Onew dan Jonghyun yang duduk di kanan kirinya. ‘Seperti yang sudah kalian ketahui adalah otak dan kekuatan Ring Ding Dong.’

‘Key,’ Satu detakan keras terjadi pada jantung Chae Rin ketika nama ini disebut. ‘Adalah mata Ring Ding Dong. Dia yang mengawasi dunia manusia.’

‘Minho,’ Minho yang berdiri di ujung kiri menoleh, tatapannya bertabrakkan dengan Shin Na Ra. ‘adalah penjaga keseimbangan dunia ini, dunia manusia, dan hubungan keduanya.’

‘Dan aku Taemin,’ Taemin meletakkan tangan di dada, ’pemimpin Dunia Ring Ding Dong.’

Intro singkat itu melayang-layang di udara dalam aula itu selama mereka larut dalam keheningan.

‘Itu menjelaskan satu hal,’ Shin Na Ra angkat bicara. ‘Tapi kalau tugas kalian adalah melindungi dunia manusia, mengapa kalian kembali kemari? Bukankah makhluk-makhluk itu ada di sana?

‘Benar. Mengapa kalian hanya membawa kami? Bagaimana dengan manusia-manusia yang lain?’ timpal Hyo Rin.

‘Kau pikir ini tempat penampungan?’ tukas Key ketus membuat Hyo Rin langsung mengkerut di tempatnya. Onew menarik punggungnya dari sandaran kursi melihat ini, namun dia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Hyo Rin.

‘Karena kalian adalah pure heart,’ kata Jonghyun tanpa menggubris Key.

‘Aku telah mendengar dua kata itu diucapkan lagi dan lagi. Apakah ada yang akan menjelaskan apa maksudnya?’ Jung Ga In mengedarkan pandangan pada lima orang laki-laki yang ada di sana.

Pure heart adalah hati yang murni, jiwa yang murni,’ jelas Minho. ‘Seperti yang seharusnya sudah kalian ketahui, manusia begitu kompleks. Mereka tidak hanya memiliki kasih sayang, kelembutan, dan pengampunan, tapi juga kebencian, amarah, dan dendam. Pure heart adalah mereka yang memiliki sifat-sifat pertama secara dominan sementara sifat-sifat yang lain hanya ada dalam persentase kecil.’

Kelima gadis yang mendengar ini bergerak-gerak gelisah di tempat mereka. Chae Rin menunduk, tiba-tiba sangat tertarik dengan jari-jari tangannya. Hyo Rin merasakan wajahnya memanas. Bahkan Ga In sampai tersedak. Pure heart? Dia? Jangan-jangan Jonghyun benar-benar mempermainkannya. ‘Kalian yakin tidak salah orang?’ cetusnya. ‘Bagaimana cara kalian memilih kami?’

‘Aku pernah mengatakannya padamu. Ring Ding Dong Ring Ding Dong,’ Jonghyun menirukan suara denting yang didengarnya seraya menggerakkan telunjuk kanan ke kiri dan ke kanan di samping kepala. ‘Ingat?’

‘Hanya itu? Bagaimana kalian yakin hal itu memang dapat dipercaya?’

‘Setiap tempat memiliki sistemnya sendiri. Dan itulah sistem di dunia ini.’

‘Ya, percayalah pada apa yang dikatakan Minho,’ dukung Jonghyun seraya menghampiri Minho. ‘Dia tahu semua sistem. Dia hafal semua peraturan yang ada di dunia ini.’ Jonghyun menepuk-nepuk pundak Minho. ‘Dan di dunia manusia,’ tambahnya.

‘Baik,’ Eun Hye melipat tangannya di depan dada, mencoba mencerna semua yang baru didengarnya. ‘Di sinilah kami. Lalu manusia-manusia yang lain?’

‘Lucifer akan mengontaminasi mereka,’ ujar Onew lirih.

‘Lucifer? Siapa dia?’ tanya Shin Na Ra.

‘Apa maksudnya mengontaminasi?’ tambah Chae Rin.

‘Lucifer adalah iblis yang hendak menghancurkan dunia manusia,’ jelas Onew. Rahang Key mengeras mendengar ini. ‘Dialah yang mengirim makhluk-makhluk itu ke dunia manusia. Aku yakin dia akan mengirim yang lain. Makhluk-makhluk yang lebih ganas dan mengerikan.’ Onew bergidik melihat gambaran yang muncul dalam benaknya. ‘Tidak hanya itu. Dia akan mengontaminasi sebanyak mungkin manusia, menarik mereka ke pihaknya. Yang meracuni ramyeon kita tadi pastilah salah satu manusia yang telah terkontaminasi.’ Shin Na Ra dan Hyo Rin menelan ludah mendengar ini. Mereka hampir saja berubah jadi debu. ‘Semakin kuat perasaan negatif yang dimiliki, semakin mudah manusia itu untuk ditarik.’

‘Akan muncul satu pasukan besar manusia iblis,’ Jonghyun melanjutkan. ‘Dan itu bisa terjadi kapan saja.’

‘Sudah terjadi,’ tukas Key yang sedari awal duduk di salah satu lubang jendela dan menatap keluar. Wajah-wajah dalam ruangan itu segera beralih padanya, bahkan Taemin mengangkat dagunya yang semula bertumpu pada tangan. ‘Apa yang kaulihat?’ tanyanya meminta penjelasan.

‘Dunia manusia sudah sepenuhnya diliputi kegelapan. Separuh dari manusia-manusia itu telah menjadi antek Lucifer,’ nadanya terdengar getir ketika menyebut kata terakhir. ‘Iblis itu membiarkan mereka saling bunuh dan menghancurkan.’

Berita ini mengendap dalam ruangan. Memenuhi tiap ruang kosong dengan ketegangan. Taemin yang pertama bereaksi. Dia bangkit dari kursinya menghampiri mereka, ‘Kami membawa kalian kemari agar dapat melindungi kalian dengan lebih intensif. Selama pure heart masih ada, Lucifer tidak bisa menghancurkan dunia manusia.‘

‘Karena itu, dia mengincar kami?’ ujar Eun Hye, pemahaman mendadak muncul di kepalanya. Taemin mengangguk. Matanya menatap mantap pada Eun Hye.

Eun Hye menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. ‘Apa yang dapat kami lakukan kalau begitu?’

‘Tinggallah di sini ketika dia datang nanti. Setidaknya kastil ini memiliki perlindungannya sendiri.’

‘Jadi? Kita menunggu?’ ujar Ga In dengan kening berkerut. ‘Menunggu dia datang?’

‘Kita kalah jumlah, dear.’ Ga In langsung melempar lirikan menantang mendengar panggilan yang digunakan Jonghyun untuknya. ‘Kita tidak bisa menerapkan prinsip datangi-dan-hajar-sampai-kapok-mu.’

‘Lalu apa tandanya? Bagaimana kita tahu kapan Lucifer tiba?’

‘Nanti,’ sahut Taemin, ‘kalian pasti akan tahu.’ Dia meletakkan kedua tangannya di pundak Eun Hye. ‘Hanya kalian,’ dia memandang kelima pure heart yang ada di sana dan berakhir pada Eun Hye, ‘yang dapat menyelamatkan dunia manusia,’ pungkasnya.

Kalimat terakhir Taemin bagai batu besar yang dijejalkan dalam aula itu. Sesak dan ingin lari sejauh mungkin dari sana, itulah yang dirasakan Eun Hye.

Taemin mengangkat tangannya. ‘Maafkan penyambutan yang kurang baik ini,’ kata Taemin ringan, seolah dia baru saja melakukan pembicaraan normal antar manusia bukannya memompa adrenalin mereka dengan berita seputar penyerangan iblis. ‘Sekarang silahkan menikmati keramahan Ring Ding Dong.’

Pintu membuka dan serombongan kupu-kupu aneka warna menghambur masuk. Mereka terbang berputar-putar, mengitari orang-orang yang ada di sana. Salah satunya hinggap di telunjuk Jonghyun yang mengecupnya. Taemin mengulurkan tangan sehingga lima kupu-kupu hinggap di masing-masing jarinya. Sementara mata Onew tak berhenti mengikuti gerakan kupu-kupu yang mengitari kepalanya.

Kupu-kupu yang lain berbaris rapi menghadap pintu. Mereka mengepakkan sayap dengan agresif seolah mengajak Eun Hye, Shin Na Ra, Chae Rin, Ga In, dan Hyo Rin utnuk mengikuti mereka. Kata-kata Taemin mengkonfirmasikan hal itu, ‘Teman-teman kami akan mengantar kalian.’ Dia tersenyum ramah pada tamu-tamunya.

Dengan patuh kelima gadis itu beranjak. Otak mereka terlalu penuh untuk berpikir. Tubuh mereka terlalu lelah untuk terus berada di sana. Menjauhkan diri dari sana terdengar sangat menarik bagi mereka. Dengan satu tatapan terakhir pada kelima tuan rumah, mereka mengikuti pemandu mereka keluar dari ruangan.

‘Master,’ ujar Onew, menghentikan langkah Taemin. Kini hanya tinggal mereka berdua dalam aula. ‘Mengenai rencana terakhir kita…’

‘Aku tahu apa yang kau pikirkan. Jika memang harus, kita akan melakukannya.’

‘Tapi… apa tidak berbahaya? Meninggalkan mereka tanpa perlindungan di tengah-tengah manusia yang telah terkontaminasi?’

‘Mereka bukan tanpa perlindungan,’ ujar Taemin tenang. Namun kemudian Onew mendengarnya menghela nafas. ‘Lagipula aku rasa mereka lebih aman di dunia mereka sendiri.’

***

Kupu-kupu itu menggiring Eun Hye, Shin Na Ra, Chae Rin, Ga In, dan Hyo Rin menuju ruang luas yang lain. Interior ruang itu terasa lebih hangat dan bersahabat dengan karpet merah menutupi lantai dan lukisan para tuan rumah menghiasi dinding. ‘Key sunbae itu selalu terlihat menyeramkan ya?’ celetuk Hyo Rin.

‘Tapi dia punya hati yang lembut.’ Chae Rin turut memandang lukisan yang dilihat Hyo Rin. Gadis itu hanya memandang eonni di sampingnya dengan tatapan bertanya-tanya bahakan lebih cenderung tak percaya.

Mereka menuju satu-satunya meja yang ada di sana. Meja kayu panjang dengan kursi-kursi empuk mengelilinginya. Di meja itu telah tersedia berbagai macam hidangan mulai dari hidangan pembuka sampai penutup. Kelima gadis itu mengambil tempat masing-masing dan mengamati piring kosong mereka tanpa gairah.

‘Selera makanku menghilang,’ Hyo Rin menatap lesu santapan yang terhampar di depannya. Bahkan aroma kalkun panggang yang menguar pun tidak sanggup menggelitik hidungnya.

‘Biasanya aku sanggup menghabiskan sepuluh kali lipat dari ini.’ Shin Na Ra menggerakkan jarinya menelusuri pinggiran mangkok yang berisi es krim bertabur coklat dan kacang.

Eun Hye mengamati wajah-wajah lesu di sekitarnya. Dia mengerti apa yang mereka rasakan. Kecemasan, ketakutan, semua bercampur. Kadang dia merasa ini tidak nyata. Dunia tempatnya berada saat ini tidak nyata. Lantai yang dipijaknya tidak nyata sehingga setiap saat dia bisa saja terjatuh ketika melangkah dan terbangun dari tidurnya. Tapi tidak, menit demi menit yang berlalu menunjukkan betapa nyatanya peristiwa yang sedang dialaminya. Dan aroma yang berputar di sekitarnya hanya membuatnya semakin mual. Eun Hye menguatkan diri dan mencoba berpikir jernih. ‘Tapi kalian harus makan walau sedikit. Ayo.’ Dia menyodorkan sepiring sosis pada mereka.

Mereka mengangguk lalu mengisi piring dengan sedikit enggan. ‘Kurasa aku akan makan di luar saja,’ kata Shin Na Ra setelah meletakkan sebuah bakpao daging di piringnya. ‘Kalau kalian tidak keberatan,’ tambahnya. ‘Sepertinya aku perlu bersentuhan dengan udara bebas.’

Eun Hye mengangguk. ‘Agaknya kita memang perlu menenangkan diri masing-masing.’ Shin Na Ra sedikit membungkuk pada yang lain sebelum beranjak dari ruangan itu.

Gema langkahnya terdengar sangat jelas dalam koridor yang kosong. Dengan tangan yang tidak memegang bakpao, Shin Na Ra menyentuh dinding batu di sisinya sementara berjalan. Sewaktu kecil, dia selalu membayangkan berada dalam sebuah kastil yang besar dengan banyak lorong dan jalan rahasia. Namun dalam bayangannya, dia memakai gaun yang indah dan kastil yang dihuninya terang dengan banyak lampu serta ramai oleh tawa.

Sentuhan angin menyibakkan rambutnya. Shin Na Ra berpaling. Di sebelah kirinya terdapat koridor yang menuju ke sebuah taman. Dia menyusuri koridor itu dan duduk di ujungnya, menggeletakkan bakpaonya begitu saja. Sambil menyandarkan kepala pada dinding, dia mengamati sekumpulan kupu-kupu yang asik beterbangan di antara bunga-bunga. Dia berpikir, apakah kupu-kupu itu tahu kalau bahaya sedang mendekat?

Shin Na Ra menarik kedua lututnya lalu membekapnya dengan lengan. Dia membenamkan kepalanya dalam benteng yang dia ciptakan sendiri. Seperti yang selalu dilakukannya waktu kecil. Dengan begitu dia tidak perlu melihat bahaya apa yang mendekatinya. Berharap bahaya itu juga tidak melihatnya lalu melewatinya.

Seandainya dengan begitu membuatnya benar-benar aman.

‘Apa kau takut?’ Terkejut, Shin Na Ra mengangkat kepalanya dengan cepat. Minho berdiri di hadapannya. ‘Maaf mengagetkanmu.’

Shin Na Ra tersenyum dan kembali meletakkan kepala di atas lutut. ‘Aku takut?’ gumamnya. ‘Sangat.’ Dia membekap tubuhnya semakin erat, berusaha meredakan rasa gemetar yang mulai merambat. Sentuhan hangat mendarat di lengannya.

‘Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu.’ Suara itu dan tatapan Minho bagai selubung yang menghangatkannya. Shin Na Ra tersenyum pahit. ‘Tadinya aku kira hal paling mengerikan yang mungkin terjadi sepanjang hari ini adalah kita tidak berhasil menyelesaikan tugas kelompok kita. Tapi ternyata tugas itu lebih berat dari sekedar menyusun makalah biologi.’

‘Maaf telah melibatkanmu.’

‘Menurutmu, apakah mungkin sinyal kalian salah?’ Shin Na Ra menatap Minho yang kini duduk di seberangnya. ‘Bagaimana kalau ternyata aku bukanlah salah satu dari yang kalian cari?’

Selama beberapa waktu dia hanya mendapat tatapan Minho sebagai balasan atas pertanyaannya. ‘Tidak. Tidak mungkin salah. Tubuhmu akan menolak sesuatu yang tidak menjadi bagiannya. Tubuh adalah sebuah sistem, setiap bagian harus sesuai satu sama lain untuk dapat mencapai keseimbangan.’

Shin Na Ra tersenyum geli mendengar apa yang dikatakan Minho. ‘Kau benar-benar mengerti bagianmu ya?’ Minho ikut tersenyum.

Usai makan dengan nafsu seadanya, Hyo Rin menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi yang nyaman. ‘Aku ingin tidur. Aku lelah. Ini lebih berat daripada kalkulus dan lebih mengerikan daripada sonsaengnim,’ jeritnya dengan volume yang semakin tinggi.

‘Akan kucari seseorang dan bertanya di mana kau bisa beristirahat,’ Chae Rin menawarkan, siap berdiri dari kursinya.

‘Tidak perlu, Eonni,’ jawab Hyo Rin dengan suara mengantuk. ‘Aku sudah terlalu lelah untuk berjalan. Aku tidur di sini saja.’ Dia menguap dan terlelap begitu kedua bibirnya mengatup kembali.

Tiga orang yang lain menatap wajah tenangnya. ‘Dia terlihat sangat lelah.’ Eun Hye mengusap dahi Hyo Rin, menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya. ‘Tidurlah kalau kalian juga lelah,’ katanya pada dua temannya yang lain.

Chae Rin menggigit bibir bawahnya lalu berkata, ‘Aku… aku ingin jalan-jalan saja di luar.’

‘Aku ikut,’ sahut Ga In. Dia menoleh pada Eun Hye, ‘Sunbae ikut?’

Eun Hye menggeleng. ‘Kalian saja. Aku di sini menjaga Hyo Rin kalau-kalau dia bangun dan mendapati kita semua tidak ada. Lagipula aku sedikit lelah.’

‘Oh, kami pergi kalau begitu.’ Ga In membungkuk padanya.

‘Annyeong, Eonni.’ Chae Rin ikut membungkuk lalu menyusul Ga In.

Mereka berjalan di koridor dalam diam. ‘Kau tahu?’ kata Ga In, jengah hanya mendengar suara gema langkah mereka. ‘Kita belum berkenalan sebenarnya.’

‘Oh, iya. Semua kejadian ini begitu cepat dan membuatku bingung. Aku Han Chae Rin,’ Chae Rin memperkenalkan diri. ‘Senang bertemu denganmu.’

‘Jung Ga In.’ Ga In balas membungkuk. ‘Senang bertemu denganmu.’ Kemudian dia tertawa. ‘Yah, seandainya situasinya lebih baik, aku akan lebih senang lagi tentunya.’

Chae Rin hanya tersenyum. Dia tidak begitu memperhatikan kata-kata Ga In barusan. Perhatiannya teralih ketika Ga In membungkuk tadi dan menampakkan satu sosok di belakangnya.

‘Emmm… apa kau keberatan kalau aku meninggalkanmu di sini?’ tanya Chae Rin ragu-ragu.

Kening Ga In mengkerut kemudian dia menoleh mengikuti arah pandang Chae Rin. ‘Oh, silahkan.’ Dia menyingkir membuka jalan bagi Chae Rin.

‘Maaf,’ Chae Rin membungkuk padanya, ‘aku benar-benar tidak enak meninggalkanmu.

‘Aa~ gwaenchanha,’ jawab Ga In santai.

‘Permisi.’ Sekali lagi Chae Rin membungkuk lalu berlari kecil menuju sosok Key.

‘Kulihat kau sendirian. Mau ku temani?’ Suara yang tidak asing terdengar dari sisi kanan Ga In. Dia menoleh dan berujar, ‘Aku tidak akan menyerah, Jonghyun, meski sekarang aku ada di duniamu.’

‘Key.’ Chae Rin berdiri menjejeri sosok yang dilihatnya tadi. Key tidak tampak terkejut, hentakan sepatu Chae Rin dengan lantai batu ketika dia berlari tadi pasti telah memberitakan kedatangannya lebih dulu.

‘Ayo pergi,’ kata Key tanpa mengalihkan pandangan. Chae Rin menatapnya penuh tanya. ‘Ke tempat yang paling kusukai di sini.’

‘Emm.. Key, kau yakin ini aman?’ Chae Rin tidak melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Key. Mereka berada di satu cabang pohon besar. Dari situ mereka bisa melihat seluruh Ring Ding Dong. Padang rumput luas, semak-semak tinggi, taman bunga, sungai yang berkilau seperti berlian karena tertimpa sinar matahari, dan di ujungnya kastil abu-abu besar yang baru mereka tinggalkan. Tak heran bila itu menjadi tempat favorit Key. Tempat itu bisa menjadi tempat favorit siapa saja. Tapi mungkin tidak begitu mudah bagi mereka yang takut ketinggian.

Key meraih pinggang Chae Rin, mengubah posisi duduknya hingga merapat ke batang pohon lalu duduk di sisi lain gadis itu. ‘Kau tidak akan jatuh.’ Key menatapnya. ‘Kau percaya padaku?’

Chae Rin menerima tatapan Key, menelan ludah, dan perlahan-lahan mengangguk. Sedikit demi sedikit cengkeramannya mengendur. Sementara tangan Key masih mantap memegang pinggangnya.

‘Ini adalah tempat yang paling nyaman untuk mengamati dunia manusia.’ Setelah selama beberapa menit mereka hanya duduk diam mengamati keindahan di depan mereka. ‘Semua tampak jelas dari sini.’

Chae Rin menengok ke bawah, ke tempat yang menurutnya di mana dunia manusia berada. Tapi, seperti yang sudah disadarinya sebelum dia menengok, dia tidak melihat apapun selain hamparan hijau. ‘Kau menghabiskan waktumu di sini seharian?’

‘Apa kau tidak bosan?’ tambahnya.

‘Bosan?’ Key mendengus. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda putih panjang.

Chae Rin mengamati lubang-lubang yang terdapat pada kedua sisi benda itu. Sebuah harmonika. Key menempelkan benda itu ke mulutnya. Seketika alunan musik yang indah mengalir. Angin berhembus di sela-sela daun dan semak seolah mengajak mereka ikut menari.

Perlahan senyum Chae Rin mengembang. Rasa damai memenuhi hatinya. Key di sisinya. Ketenangan di sekitarnya. Rasanya tidak mungkin bahwa baru beberapa jam yang lalu mereka membahas sesuatu yang mengerikan. Saat dia sedang menikmati itu semua, tiba-tiba musik Key berhenti.

‘Aku benci manusia.’ Key menarik alat musik itu menjauh dari bibirnya. ‘Mereka terlalu egois. Mereka tidak bisa melihat betapa banyak dunia yang mereka tinggali, bumi yang mereka pijak telah lakukan untuk mereka. Sebenarnya aku tidak peduli kalau mereka musnah. Mereka layak mendapatkannya.’

‘Dulu bumi adalah tempat yang indah.’ Key memejamkan matanya. Wajahnya tampak tenang, semburat kebahagiaan perlahan mucul di sana. Sekonyong-konyong wajahnya tidak lagi tampak dingin dan menyeramkan. Dia manis.

Sangat maniss..

Apakah dia sedang membayangkan masa-masa itu? pikir Chae Rin. ‘Aku masih ingat bau tanahnya, airnya yang segar, udaranya…’ Key menarik nafas dalam-dalam. ‘Saat itu, aku bahkan rela meninggalkan Ring Ding Dong untuk tinggal di sana.’ Key membuka mata dan menatap Chae Rin. Tapi masa-masa itu sudah berlalu, Key tidak menyuarakan kalimatnya yang berikut. Dunia manusia hanya menyisakan satu keindahan saja saat ini.

Mendadak Key menarik Chae Rin dalam pelukannya. ‘Key,’ gadis itu tersentak.

Aku pernah melindungimu. Dan aku akan  melakukannya sampai akhir.

‘Yang masih membuatku heran,’ kata Ga In melindungi matanya dari sinar matahari yang sedang dilihatnya. ‘Kenapa matahari di sini masih bersinar terang? Bukankah matahari di bumi menghitam?’ Dia berpaling pada Jonghyun.

Mereka berada di puncak menara tertinggi yang ada di kastil. Dari situ mereka bisa melihat pohon besar yang tampak tua, namun kokoh berdiri berhadapan dengan kastil dalam jarak beberapa meter.

‘Itu kan yang terlihat dari bumi,’ jawab Jonghyun. ‘Matahari sebenarnya baik-baik saja.’

‘Setidaknya sampai saat ini,’ tambahnya.

‘Ini semakin membuatku bingung. Bagaimana sebenarnya posisi dunia ini terhadap dunia manusia?’

Jonghyun menggaruk pelipisnya. ‘Aku tidak akan memulai sesuatu yang tak bisa kuselesaikan. Kau harus menanyakannya pada Onew.’

Ga In terbahak. ‘Dasar kau. Jangan-jangan tonjolan-tonjolan di otakmu itu juga otot.’ Dia menusuk-nusuk kepala Jonghyun.

‘Apa kau mengatakan aku tidak punya otak?’ protes Jonghyun seraya menjauhkan kepalanya.

‘Tidak. Kau sendiri yang bilang begitu.’ Ga In bersiap-siap menghindar.

‘Awas kau ya.’

‘Mwo? Aku sanggup berlari mengelilingi seluruh kastil ini.’ Tapi Ga In tidak perlu berlari mengelilingi kastil karena Jonghyun sudah menangkapnya bahkan sebelum dia membuat satu langkah pun.

‘Tidak. Jangan kemana-mana. Di sini saja.’ Jonghyun merapatkan tubuhnya ke dinding rendah yang membatasi puncak menara. Matanya menerawang jauh melebihi batas-batas yang dapat dilihat Ga In.

‘Kau pasti bisa, Jonghyun.’ Ga In meninju lengan Jonghyun. ‘Kalahkan mereka dan selamatkan dunia.’

Jonghyun menoleh, bibirnya menerbitkan senyum. ‘Tentu saja.’ Dia menggapai kepala Ga In, menarik pemiliknya mendekat.

‘Aish, singkirkan tanganmu.’ Ga In mendorong tangan Jonghyun menjauh.

So Eun Hye meremas pundaknya. Ketika Taemin menyentuhnya tadi, dia merasa seolah beban-beban berat turut dipindahkan ke sana.

Begitu banyak yang terjadi. Dalam sekejap Lee Taemin yang dikenalnya sebagai namja pendiam dan tidak banyak tingkah berubah menjadi pemimpin satu kelompok pelindung dunia manusia. Bahkan mereka akan segera terjun dalam peperangan.

Eun Hye menaikkan tangan menutupi wajahnya. Sejak pertama melihat Taemin, dia selalu membayangkan kehidupan apa yang ada di balik sikapnya yang tertutup dan selalu menarik diri. Dia selalu ingin tahu. Dia selalu ingin jadi bagian dari kehidupan itu. Dia selalu ingin jadi seseorang yang mendampinginya melewati kehidupan itu.

Mendadak pintu di ujung ruangan terbuka. ‘Onew?’ kata Eun Hye melihat kepala Onew muncul.

‘Ah, Eun Hye Sunbae.’ Dia tampak sama terkejutnya dengan Eun Hye.

‘Kurasa tidak perlu memanggilku sunbae lagi, kan?’ Eun Hye mencoba tertawa, tapi yang didengarnya hanya tawa garing tanpa jiwa. ‘Errr… kau mau bicara dengan Hyo Rin? Dia sedang tidur,’ katanya, mengedik pada gadis di sebelahnya.

‘Oh, tak apa. Aku akan menunggu.’ Onew mundur, sudah setengah jalan menutup pintu ketika Eun Hye memanggilnya.  Gadis itu berjalan ke arahnya. ‘Apa kau tahu di mana Taemin?’

Hyo Rin merasa mimpi-mimpinya sangat aneh. Dia menunggang naga. Tapi naga itu terbang terlalu cepat. Hyo Rin mempererat pegangannya. Berusaha agar tidak jatuh, tapi naga yang ditungganginya malah terbang berputar-putar sekarang. Dia jatuh. Udara tidak sanggup menahan berat tubuhnya. Dia terus meluncur dan meluncur. Tiba-tiba dia berhenti. Takut dengan apa yang mungkin dilihatnya, Hyo Rin membuka kelopak matanya sedikit demi sedikit. Di sekitarnya sayap-sayap hitam berkelepak. Yang paling membuatnya ngeri adalah sepasang mata merah yang menatapnya. Terasa begitu dekat dan semakin dekat ke wajahnya.

Hyo Rin menjerit. Dia terbangun dengan kalap. Sebuah tangan menariknya, membungkusnya. Hangat. Apakah ini eomma-nya? Hanya Eomma yang pernah memelukku seperti ini, gumam Hyo Rin dalam hati. Kalau begitu apakah dia ada di rumah? Apakah sejak awal semua ini hanya mimpi?

‘Kau pasti mimpi buruk,’ kata suara di telinganya. Hyo Rin mengangguk. Ya, mimpi buruk. Tapi tunggu, dia mengenal suara itu.

Hyo Rin menjauhkan diri dengan cepat dan menatap si pemilik suara. ‘Onew? Di-di mana yang lain?’ gagapnya, celingukan mencari orang lain dalam ruangan itu.

‘Menenangkan diri masing-masing.’

‘Oh.’ Hyo Rin termangu. ‘Sejak kapan kau di sini?’

‘Belum lama. Kau tidur sangat nyenyak. Awalnya,’ imbuh Onew.

‘Apa aku berteriak keras sekali?’ tanya Hyo Rin malu-malu.

Onew tersenyum. ‘Kau pasti sangat takut.’

Hyo Rin menghempaskan tubuh ke sandaran kursi. ‘Aku bahkan takut dengan kalkulus dan guru yang galak.’

‘Jangan takut. Ketakutan hanya melemahkanmu.’

Alis Hyo Rin bertaut, diamatinya namja di sebelahnya. ‘Berapa sebenarnya umurmu? Kau terdengar terlalu bijak untuk seorang anak berumur 15 tahun.’

‘Kebijakan tidak ada sangkut pautnya dengan usia..’ Hyo Rin menjerit. ‘Kenapa?’ tanya Onew panik.

‘Aku jadi merasa sangat bodoh.’

‘Mianhae, aku tidak bermaksud…’ Sebuah suara mendengung membelah udara, menerobos ke setiap ruang yang ada.

‘Ah, apa itu?’ Hyo Rin menengok ke arah datangnya suara. ‘Apakah itu tandanya?’ tanyanya ngeri. Senyum simpul Onew mengkonfirmasi tebakannya.

So Eun Hye berdiri dengan ragu di ujung tangga. Sesuai informasi Onew ruangan di ujung koridor di hadapannya adalah di mana Taemin berada saat ini. Tidak apakah jika dia mengetuk pintunya?

Mengganggukah dia kalau berbuat demikian?

Mungkin Taemin sedang memikirkan strategi untuk melawan Lucifer.

Atau mungkin dia sedang beristirahat.

Atau… akh.. Eun Hye menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang harus dilakukannya?

Suara sangkakala berkumandang dari suatu tempat di kejauhan. Eun Hye berbalik ke arah datangnya suara tersebut. Apakah sudah saatnya?

Pintu di belakangnya menjeblak terbuka. Taemin meluncur dengan cepat membuat jubah panjangnya melambai. Dia berhenti sejenak ketika melihat Eun Hye. Rambutnya terikat dalam kuncir kuda, Eun Hye memperhatikan.

‘Eun Hye-ssi.’ Senyum kecil Taemin terkembang. Eun Hye membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi menutupnya kembali. ‘Tenang saja. Kami akan berjuang sampai akhir.’ Dengan itu, dia melewati Eun Hye dan menuruni tangga.

Bergeming di tempatnya, sekali lagi gelombang keraguan menerpa Eun Hye. Apa yang harus dikatakannya? Dia ingin sekali berkata, ‘Tidak. Jangan berjuang sampai akhir. Tetaplah di sini.’ Tapi dia tahu dia tidak bisa mengatakannya. Itu bodoh sekali. Lalu apa? Hati-hati? Selamat berjuang? Atau…

‘Taemin-ssi,’ serunya. Taemin yang sudah tiba di dasar tangga berhenti, namun tidak menoleh. ‘Fighting!’ Eun Hye menyelesaikan kata-katanya. Seringai Taemin muncul mendengar ini kemudian dia menatap mantap ke depan. Siap menghadapi siapapun, apapun yang menantinya.

Mereka berlima telah siap. Ketika sangkakala berkumandang, mereka memastikan kelima pure heart aman dalam kastil. Lalu menyingkir, mengusahkan pertemuan dengan Lucifer di tempat yang sejauh mungkin dari kastil. Taemin menyipitkan mata pada langit yang mulai diselimuti lapisan hitam. Seringai muncul di wajahnya. ‘Sang iblis lengkap dengan seluruh Akuma-nya. Tepat sesuai perkiraan kita.’ Di sampingnya, Onew memalingkan wajah. Kecemasan tampak di sana. Dia masih ragu dengan rencana yang disusun pemimpinnya itu.

‘Dia pasti sangat antusias.’ Jonghyun mengkeretakkan kesepuluh jarinya. ‘Akhirnya kita sepakat dalam satu hal.’ Dia melirik penuh semangat pada selubung hitam yang semakin dekat.

Lucifer dan pasukan Akuma-nya berdiri di hadapan mereka. Seketika hamparan rumput hijau berubah menjadi lautan makhluk dari dunia yang tak tersentuh cahaya, gelap pekat laksana genangan minyak. Aroma busuk perpaduan kekejian, kebencian, iri hati, dan dendam menyeruak, menghisap segenap energi murni milik tiap makhluk yang dilaluinya. Kelima makhluk Ring Ding Dong tidak dapat menahan diri untuk tidak mengernyitkan hidung.

‘Sungguh penyambutan yang meriah.’ Suara Lucifer akan terdengar sangat kontras dengan kondisi dunia Ring Ding Dong seandainya saja kedatangan mereka tidak membuat separuh tanaman di sana menjadi debu. Suaranya terdengar berasal dari kerongkongan yang kering kerontang, mengingatkan pada gurun pasir yang panas dan tandus. ‘Aku sungguh merasa tersanjung melihat para tuan rumah menunggu di sini. Pasti kami terlalu keras membunyikan bel tadi.’ Tawa Lucifer yang mirip suara dua besi berkarat beradu melantun.

‘Cih.’ Komentar lirih Key itu membuat perhatian Lucifer teralih padanya.

‘Lihat, siapa ini? Key yang dingin dan angkuh.’ Lucifer bergerak mendekati Key. ‘Ups, hati-hati dengan mata itu,’ kata Lucifer karena Key melemparkan tatapan tajam dan mematikan padanya. ‘Kau tahu aku selalu bertanya-tanya kapan kau akan bergabung dengan kelompok kecil kami.’ Lucifer melambai pada kawanannya. ‘Kebencianmu pada manusia…’

‘Tidak sebesar kebencianku padamu,’ kata Key dengan gigi bergemeletuk. Berbicara dengan Lucifer dirasakannya sangat menjijikkan.

Taemin angkat bicara. Namun suara yang terdengar bukanlah suaranya yang biasa. Suara itu terdengar jauh dan bergema. Di samping itu, dia tidak berbicara menggunakan bahasa yang keluar dari mulutnya beberapa hari terakhir. Dia menggunakan bahasa kuno. Bahasa yang telah lama dilupakan manusia. Bahasa yang memperoleh masa jayanya pada awal penciptaan.

Suara gesekan dua besi berkarat kembali terdengar. ‘Formal, tenang, laksana gunung. Masih seperti kau yang dulu, Master Taemin.’ Lucifer terbahak. Namun dengan cepat tawanya berubah menjadi geraman. ‘Tapi aku benci bahasa itu.’ Suaranya kembali menghalus, sehalus yang dimungkinkan kerongkongan keringnya, ketika dia mengucapkan kalimat berikutnya. ‘Mengingatkanku pada masa-masa yang kelam.’ Sekilas dia melirik Key yang membalasnya dengan tatapan menantang.

‘Kelam. Bukankah itu sesuatu yang sesuai untukmu, Tuan Iblis?’ ujar Jonghyun.

‘Tuan Iblis?’ Lucifer mengamati Jonghyun. ‘Sungguh disayangkan aku mendengar kata itu darimu, Tuan Jonghyun.’ Lucifer memberikan penekanan ketika dia menyebut ‘tuan’. ‘Seorang, oh bukan, satu sosok yang katanya begitu mengerti perempuan.’

Jonghyun hendak membalas kata-kata Lucifer, tapi Taemin merentangkan tangan ke arahnya. Bermaksud mencegahnya bicara lebih jauh. Sebagai gantinya, suara Lucifer kembali terdengar. ‘Aku tak ingin berbasa basi lagi. Tentunya kalian sudah tahu tujuan kedatanganku dan Akuma-akuma-ku.’

‘Dan tentunya kau juga sudah tahu kalau kami tidak akan membiarkan tujuanmu tercapai dengan mudah,’ sahut Taemin. Matanya menatap Lucifer dengan serius, mengamati setiap gerakan yang dibuatnya.

‘Karena itulah aku membawa mereka,’ jawab Lucifer santai. ‘Akuma-akuma-ku ini suka bermain. Dan mereka,’ seringai licik muncul di wajah Lucifer, ‘tidak selemah anak-anak debu yang dengan mudah kalian rontokan tempo hari.’

Sementara itu, Key menangkap satu gerakan kecil di antara lautan Akuma. Dia mengernyit, berkonsentrasi pada gerakan itu.

‘Nah,’ kata Lucifer. ‘Sementara kalian bermain, aku akan dengan rendah hati mengambil sendiri benda yang kuinginkan.’

Detik berikutnya, beberapa kejadian berlangsung sekaligus. Lucifer melompat dan membentangkan sayap. Dalam sepersekian detik Taemin telah menyusulnya sambil mengacungkan pedang dan berseru, ‘Tidak semudah itu.’

Pada saat yang sama Key yang sudah mendapatkan targetnya menatap makhluk itu lekat-lekat hingga membuatnya membeku. Dia memutar mata kesal ketika dalam beberapa detik Akuma tersebut bergerak lagi. Pertempuran pun dimulai.

Jonghyunlah yang pertama bereaksi. Dia mengarahkan tendangan pada Akuma yang bergerak mendekatinya, namun si Akuma berkelit dengan sukses dan malah menorehkan cakarnya pada lengan Jonghyun. Kesal karena merasa terungguli, Jonghyun mengangkat Akuma itu lalu mematahkannya jadi dua dengan sekuat tenaga. Jonghyun tersenyum bangga atas hasil kerjanya sebelum Akuma itu berubah jadi debu dan menghujaninya.

Salah satu Akuma hampir saja menyergap Onew dari belakang jika saja bola cahaya berwarna biru yang dilempar Minho tidak menyerangnya. Bola cahaya itu mengelilinginya, menyerap energi negatif si Akuma. Ketika energinya habis, Akuma itu berubah menjadi debu.

Dengan pikirannya, Onew melempar Akuma yang tadi sedang dihadapinya ke kumpulan kawan-kawannya lalu mengangguk pada Minho untuk menyatakan terima kasihnya.

Mereka berempat berkumpul dalam satu lingkaran. Berdiri saling memunggungi. Siap melawan Akuma yang bergerak semakin agresif.

Taemin menghadapi Lucifer di udara. Sayapnya kini ikut terbentang.

‘Kalian tidak akan menang melawanku,’ geram Lucifer. Tepat setelah itu, gulungan asap hitam menyerbu mereka. Asap itu pekat akan kebencian dan kedengkian Lucifer. Sarat dengan kegelapan dan kehampaan yang berasal dari dunia di mana asap itu terbentuk. Asap itu melemahkan Taemin, Minho, Key, Jonghyun, dan Onew. Mencekat paru-paru mereka. Dan menghalangi gerak mereka.

Gerombolan Akuma kini mengeroyok mereka. Dalam kepungan asap dan Akuma, Onew dan Key sulit memusatkan konsentrasi mereka. Minho melepaskan sebanyak mungkin bola cahaya, namun energi negatif di sekitar mereka terlalu banyak dan ini melemahkannya. Sementara Jonghyun sendiri mulai kewalahan dengan lawan yang harus dihadapinya.

‘Tidak,’ batin Taemin. Nafasnya terengah-engah. ‘Aku tak akan membiarkan Lucifer menang.’ Dia memandang teman-temannya yang berguguran satu demi satu. ‘Tidak ada jalan lain. Mungkin Ring Ding Dong akan hancur, tapi setidaknya dunia manusia dan kelima pure heart selamat.’

‘Minho, Key, Jonghyun, Onew,’ dia menyuarakan itu dalam otaknya sehingga hanya mereka yang mendengar. ‘Kita lakukan rencana terakhir.’ Usai mengatakan itu, Taemin memegang dadanya, tepat di mana jantung mungkin berada. Dengan sisa energinya, dia merapalkan kalimat-kalimat dalam bahasa kuno seperti yang digunakannya tadi. Sedikit berjengit, Taemin menarik tangannya menjauh dari dada. Sebuah kristal yang bersinar terang kini ada di tangan itu.

‘Dan kau tidak akan bisa mendapatkan pure heart,’ seru Taemin. Senyum di wajahnya seolah berkata, ‘Aku menang’. Dia mengangkat kristal di tangannya. Kristal itu bersatu dengan milik keempat temannya membentuk suatu ledakan cahaya besar.

‘Apa yang terjadi?’ seru Eun Hye.

Hyo Rin berlari menuju jendela kastil. ‘Entahlah, semuanya menjadi gelap.’ Dia menyipitkan mata.

‘Apakah mereka kalah?’ uajar Chae Rin cemas. Tanpa sadar dia membuat kedua tangannya saling menggenggam erat.

Ga In menyentuh pundaknya. ‘Mereka tidak akan kalah. Jonghyun orang yang kuat. Dan yang lainnya? Mereka juga bukan makhluk sembarangan.’ Chae Rin mengangguk, mencoba meyakinkan dirinya untuk mempercayai kata-kata Ga In ketika pekikan Hyo Rin kembali mengejutkan mereka. ‘Apa itu?’

‘Apa? Ada apa?’ Shin Na Ra berlari menyebelahi Hyo Rin.

Cahaya putih menyilaukan menyerbu mereka. Sesaat sebelum semua menjadi kabur, Shin Na Ra mendengar jeritan Hyo Rin. Kemudian sebuah pusaran yang memabukkan menenggelamkannya. Dia berputar dan terus berputar. Pusaran itu serasa tanpa ujung. Hingga sesuatu yan keras dan dingin membentur pipinya, tangannya, kakinya… seluruh tubuhnya.

Shin Na Ra membuka mata. Pemandangan yang ditemuinya sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Kali ini semua tampak gelap. Samar-samar dia mendengar suara, ‘Di mana ini?’. Shin Na Ra harus mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum bisa melihat dengan jelas. Hyo Rin terduduk di depannya dengan menumpukan tubuh pada tangan kanan. Shin Na Ra turut menarik dirinya bangkit. Sekarang dia bisa melihat sekitarnya.

Tempat itu seperti kota yang hancur pasca serangan bom dan ditinggalkan. Puing di mana-mana sepanjang jangkauan penglihatannya. Tapi tak ada bau mesiu. Yang ada justru bau anyir. Shin Na Ra mengamati sekitarnya sekali lagi. Dia mengenal tempat ini. Meski penampilannya sudah jauh berbeda.

‘Ini Seoul.’ Shin Na Ra mendengar Ga In menyuarakan pikirannya. ‘Kita kembali.’

‘Apakah… apakah ini berarti…?’ Chae Rin menelan ludah, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Meski lirih, Shin Na Ra bisa mendengar ‘Key’ terucap dari bibir gemetar Chae Rin. Ini menularkan getaran kecemasan yang sama di dada Shin Na Ra. Apa yang terjadi pada Minho?

Kalimat tak tuntas Chae Rin ternyata mampu menimbulkan kesunyian yang begitu dalam di antara mereka. Tiap orang larut dalam kecemasan masing-masing.

Tiba-tiba So Eun Hye berdiri. ‘Mereka sudah bertempur sekuat tenaga melawan Lucifer. Kalau memang benar mereka,’ Eun Hye terhenti. Sama seperti temannya, sepertinya lidahnya tak mampu melafalkan kata selanjutnya. Eun Hye menegarkan diri dan menegakkan kepalanya. ‘Kita juga harus berjuang, kawan-kawan. Ingat apa yang dikatakan Taemin, hanya kita yang bisa menyelamatkan dunia manusia.’

Ga In mengangguk mantap, memberikan dukungannya. Demikian pula Shin Na Ra yang meski tidak semantap Ga In, sepakat dengan seniornya itu. Sementara Chae Rin yang masih tampak terguncang hanya mengangguk lemah.

‘Eemmm… Sunbae,’ celetuk Hyo Rin. ‘Sepertinya misi pertama segera dimulai.’ Serempak keempat kepala yang ada di sana menoleh ke arah yang ditunjuk Hyo Rin.

Sosok-sosok yang tak tampak jelas karena minimnya cahaya berduyun-duyun mendekati mereka. Kelima gadis itu tak tahu apakah sosok itu manusia atau iblis. Tapi satu hal yang mereka tahu, apapun itu bukanlah sesuatu yang bersahabat.

>> Next>>

Advertisements

4 thoughts on “Ring Ding Dong vs Lucifer – Part 2

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: