Ring Ding Dong vs Lucifer (Part 1)

Title       : Ring Ding Dong vs Lucifer

Genre     : Fantasy, Romance

Length   : Short Story

Cast        : All SHINee member and OCs (Kang Hyo Rin, Jung Ga In, Han Chae Rin, Shin Na Ra, dan So Eun Hye)

Malam telah larut di kota itu. Kesunyian merayapi tiap sudutnya. Bahkan angin berhembus dalam diam. Bulan dan bintang berkedip dari tempatnya bertengger ketika 5 sosok tiba-tiba muncul di bumi.

‘Dunia manusia,’ kata salah satu dari mereka. Dia menarik nafas dalam-dalam dan membiarkan udara itu bersarang dalam tubuhnya. ‘Aku tidak akan pernah melupakan aromanya.’

‘Kita tidak kemari untuk bersenang-senang. Ingat tujuan kita,’ kata sosok yang lain. Sosok yang ini terlihat paling jangkung di antara yang lain.

‘Menemukan 5 pure heart dan menjauhkan mereka dari dia,’ ujar suara yang lain. Kali ini suara yang terdengar lebih lembut.

‘Berhati-hatilah,’ kata suara keempat. Si pemilik suara sepertinya adalah pemimpin mereka karena kerumunan itu menaruh hormat pada apa yang dikatakannya. ‘Jangan sampai identitas kita terbongkar. Bertingkahlah seperti manusia pada umumnya.’

‘Baik, Master,’ jawab suara-suara yang lain.

Satu sosok yang lain hanya berdiri diam dalam gelap. Namun tatapannya yang tajam bergerak menyapu tempat itu. Dia berhenti pada satu titik ketika menangkap gerakan di sana. Berkonsentrasi pada apa yang bergerak itu, dia menelengkan kepala. Kucing. Menyadari ketiadaan ancaman, dia kembali fokus pada teman-temannya.

‘Ayo pergi,’ kata si pemimpin.

Dalam sekejap mereka melesat lenyap dari tempat itu meninggalkan si kucing membeku di tempatnya.

***

Lima orang lelaki dalam balutan seragam SMA melangkah memasuki gerbang sekolah mereka. Belasan bahkan puluhan pasang mata yang ada di sana segera mengarah pada langkah anggun mereka. Kerumunan siswa yang semula menghadang jalan mereka secara otomatis membelah meninggalkan satu lajur yang lapang untuk mereka.

‘Cih, aku bosan dengan tatapan itu,’ kata salah satu dari mereka dengan mulut nyaris tak bergerak. Namun sepertinya hal itu tidak menjadi masalah bagi teman-temannya.

‘Kau memang tak suka dengan dunia ini sejak awal, Key Hyung,’ sahut salah satu temannya. Dialah yang paling banyak menampilkan keramahan bahkan tersenyum pada beberapa orang.

‘Aku bahkan muak mendengarmu memanggilku hyung.’

‘Itu peraturannya Key,’ ujar Minho. ‘Selama di dunia manusia ikutilah…’

‘Cih, manusia,’ potong Key. ‘Mereka meletakkan perbedaan usia pada posisi yang terlalu tinggi. Waktu… sesuatu yang sangat relatif.’

‘Kau berkata begitu karena di sini kau benar-benar merasa lebih tua dariku. Iya kan, Hyung?’ goda Jonghyun. ‘Di Ring Ding Dong, kau tidak perlu merasa begitu meski kau 200 tahun lebih tua dariku.’

Key baru mengarahkan lirikan tajamnya pada Jonghyun ketika Taemin bersuara, ‘Cukup. Mendengar keluhan kalian seharusnya kalian punya berita baik.’

Mendengar ini mereka semua terdiam.

‘Aku… aku sepertinya sudah menemukannya,’ celetuk Onew yang sedari tadi diam.

‘Jinja? Kau yakin?’ sahut Minho.

Onew mengangguk, meskipun bagi manusia-manusia di sekelilingnya dia tidak tampak melakukan gerakan apapun. ‘Aku mendengar denting bel itu di kepalaku setiap kali dia di dekatku.’

‘Kalau memang begitu, bel itu pasti sedang berdenting sekarang. Ring Ding Dong Ring Ding Dong,’ goda Jonghyun.

‘Kang Hyo Rin, arah jam 10,’ jelas Minho melihat kebingungan di wajah Onew.

Seorang gadis dengan rambut terikat kuncir kuda berlari kecil mendekati mereka. ‘Onew!!!’ serunya, mempercepat larinya. ‘Annyeong haseyo, sunbae,’ sapanya pada Jonghyun, Key, Minho, dan Taemin ketika dia sudah tiba di dekat mereka.

‘Ah, Hyo Rin, ada apa pagi-pagi sudah berlari-lari?’ tanya Onew polos.

Tangan gadis itu segera mendarat di lengan Onew. ‘Babo, hari ini kan ada PR kalkulus. Kami semua sudah menunggumu.’

‘Hasil pekerjaanmu, maksudnya,’ tukas Key dengan suara yang hanya dapat didengar oleh keempat temannya.

Betapa terkejutnya mereka ketika Hyo Rin menoleh pada Key dan berkata, ‘Sunbae mengatakan sesuatu?’ Namun Taemin segera menguasai emosinya dan tersenyum kecil, ‘Aniyo, hoobae. Kau salah dengar mungkin. Cepatlah kerjakan PR-mu sebelum sonsaengnim tiba.’

‘Ah, ne, sunbae,’ Hyo Rin membungkuk pada mereka. ‘Saya pinjam Onew dulu ya,’ katanya lalu menyeret Onew.

‘Tunggu… tunggu…,’ seru Onew yang kewalahan diseret tanpa aba-aba. ‘Hyung, aku duluan.’

Keempat orang yang ditinggalkannya mengamati kepergian Onew dalam sebuah lirikan. ‘Sepertinya Onew memang sudah menemukannya,’ kata Taemin, seringai kecil kembali menghiasi wajahnya. ‘Bagaimana dengan kalian?’

‘Aku bahkan sudah menemukannya sejak hari pertama kita berada di sini,’ jawab Jonghyun. Matanya tertuju pada ruang kelasnya yang berjarak beberapa meter dari situ.

Key mendengus. ‘Gadis itu?’ Meskipun mata manusia biasa hanya dapat melihat figur-figur manusia dalam kelas, tapi mata Key dan teman-temannya dapat melihat dengan jelas setiap wajah yang ada dalam ruangan itu. ‘Kukira kau hanya main-main dengannya.’

‘Main-main? Kim Jonghyun tidak pernah main-main, Hyung,’ sahutnya, menampilkan senyum andalannya. ‘Sampai jumpa nanti, Hyung,’ Jonghyun melambai seraya berlari meninggalkan mereka.

‘Onew…,’ desah Taemin mengamati punggung Jonghyun yang semakin jauh, ‘Jonghyun… Bagaimana denganmu Key?’

‘Dia sepertinya anti perempuan,’ Minho yang menjawab pertanyaan untuk Key ini. ‘Menolak setiap perhatian yang datang padanya dan memberi mereka tatapan tajamnya sebagai balasan.’

Key memalingkan wajah dengan cuek. ‘Sebaiknya kau urus urusanmu sendiri, Minho. Pastikan apakah gadis itu memang orangnya.’

‘Kesampingkan rasa bencimu, Key,’ kata Taemin. ‘Kita harus segera menemukan mereka sebelum dunia hancur.’

‘Dunia memang sudah hancur,’ sahut Key dalam suara amat rendah bahkan untuk ukuran pendengaran mereka.

‘Shin Na Ra?’ Taemin beralih pada Minho sekarang, menebak nama gadis yang dimaksud Key.

Minho menatap jalan di bawahnya ketika menjawab, ‘Aku masih perlu memastikannya.’

‘Berusahalah.’ Mereka kembali melangkah menuju deretan ruang kelas.

‘Kau sendiri bagaimana, Hyung?’ tanya Minho.

Langkah Taemin kembali terhenti. ‘Aku?’ Dia memandang matahari bulan Juli yang bersinar di sebelah timur. ‘Aku juga perlu memastikannya.’ Sudah hari ke-14, pikir Taemin. Waktunya semakin sempit. Mereka harus bertindak cepat. Sebelum Lucifer memulai serangannya.

Bel sekolah berdering. Suara ribut anak-anak segera memenuhi seluruh kelas. Begitu para guru keluar, koridor segera dibanjiri murid yang tidak sabar untuk pulang dan mengisi perut.

‘Oneeeeeww,’ seru seisi kelas Onew. ‘Gomawo. Jeongmal gomawo, chingu.’

‘Kau menyelamatkan kami.’

‘Sekali lagi menyelamatkan kami,’ imbuh temannya yang lain.

‘Kami semua pastilah sedang sangat beruntung pada hari kau memutuskan masuk ke sekolah ini, Onew,’ kata temannya yang lain. Tepukan, pujian, dan ucapan terima kasih terus menghujani Onew selama 15 menit setelah pulang sekolah. Sementara si objek penderita hanya tertunduk malu di kursinya sambil sesekali berkata, ‘Jangan berlebihan.’

‘Kau layak mendapat hadiah,’ celetuk salah satu teman perempuannya. Dia memakai jepit rambut di kedua sisi kepalanya.

‘Ah, tidak perlu. Tidak perlu.’ Onew menggerak-gerakkan tangan untuk menegaskan maksudnya.

‘Ne, sebuah traktiran mungkin,’ timpal temannya yang lain. Onew mengenali kedua orang itu sebagai sahabat Hyo Rin.

‘Aku melakukannya dengan ikhlas. Kalian tidak perlu begitu.’

‘Gwaenchahna. Hanya sebuah makan siang,’ kata temannya yang berjepit rambut. ‘Tapi… sepertinya terlalu ramai kalau kita sekelas yang mentraktir. Bagaimana kalau Hyo Rin saja?’

‘Mwo? Aku?’ Hyo Rin mengarahkan telunjuk pada hidungnya.

‘Aaaa~ ide bagus,’ sahut temannya yang satu. ‘Ada yang tidak setuju?’ serunya. Seisi kelas hening. ‘Bagus, sudah ditetapkan kalau begitu.’

‘Yayayaya! Apanya yang sudah ditetapkan?’ protes Hyo Rin.

‘Bukankah tadi semua sudah setuju? Bahkan kau pun setuju.’

Hyo Rin menggaruk kepala, menyadari kekalahannya. ‘Aku tidak pernah bilang setuju.’

‘Tapi kau juga tidak bilang kalau tidak setuju.’

‘Sudahlah Hyo Rin. Masak kau tidak mau mentraktir Onew yang sudah begitu baik dan berjasa pada kita,’ kata temannya yang berjepit rambut.

‘Entah bagaimana kalau tidak ada Onew.’ Kali ini temannya yang laki-laki kembali bersuara. ‘Mungkin kita semua sudah digantung oleh sonsaengnim tadi.’

Gumaman setuju terdengar di sana sini. Telinga Hyo Rin dipenuhi ocehan-ocehan yang memaksanya memenuhi ide itu. ‘Baik baik baik.’ Hyo Rin menyerah. ‘Aku setuju dengan ide kalian.’ Seisi kelas menyambutnya dengan tepuk tangan.

‘Nah, begitu. Sudah sana. Kajja. Onew pasti sudah lapar.’ Temannya mendorong Hyo Rin keluar kelas. Sementara yang lain mendorong Onew.

Hyo Rin masih sempat melihat kedua temannya yang kini melakukan tos sebelum dia benar-benar keluar dari kelas.

‘Mianhae, jadi menyusahkanmu,’ kata Onew begitu mereka hanya berdua di koridor. ‘Kau tidak harus mentraktirku. Kita bisa pulang ke rumah masing-masing dan menyimpan ini sebagai rahasia kecil kita.’

‘Ah, aniyo aniyo aniyo,’ Hyo Rin menggeleng cepat. ‘Aku sama sekali tidak keberatan. Aku setuju dengan mereka. Kau layak mendapat lebih dari ucapan terima kasih dari kami. Hanya saja…’

‘Hanya saja?’

‘Hanya saja aku tidak menyangka mereka akan menyuruhku seorang.’ Hyo Rin tertawa canggung lau terdiam. Kemudian terperanjat saat menyadari Onew sedang memperhatikannya. ‘Eh?’ tawa canggungnya kembali terdengar, ‘kita pergi sekarang?’

Onew mengangguk. ‘Ayo.’

‘Errrr… bagaimana kalau kita makan ramyeon buatan Eomma di kedai kami?’ tanya Hyo Rin ragu-ragu.

‘Aaaah… itu lebih dari segalanya. Aku suka sekali ramyeon buatan Kang ajumma.’ Onew tersenyum lebar hingga kedua matanya tinggal segaris.

Hyo Rin membalasnya. ‘Kajja.’

‘Hai, Ga In.’ Jonghyun duduk menyebelahi gadis tomboy berambut cepak itu begitu pemilik kursi yang sebenarnya pergi.

‘Mwo?’ jawabnya dengan nada menantang.

‘Kenapa begitu galak?’ Jonghyun manyun. ‘Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan.’

Jung Ga In meletakkan tasnya di meja hingga menimbulkan suara keras, menatap Jonghyun lekat-lekat, dan menukas, ‘Sibuk’ sebelum kembali menyambar tasnya dan keluar dari kelas.

‘Ya! Ga In,’ Jonghyun mengejarnya. ‘Atau kita makan es krim saja? Itu cuma perlu 10 menit paling lama. Lima menit malah.’

Ga In terus berlalu tanpa menggubris sedikitpun kata-kata Jonghyun. ‘Atau… atau kita bisa main basket. Sepak bola? Tenis? Ping pong? Bungee jumping? Apapun yang kau mau,’ cerocos Jonghyun tidak mau menyerah.

‘Bagaimana? Mau?’ tanyanya lagi ketika Ga In menghentikan langkah dan menatapnya.

‘Hei, Jonghyun, kau ini gigih ya?’

‘Begitulah,’ ujar Jonghyun bangga sambil menaikkan bahu.

‘Apa sih sebenarnya maumu?’

‘Mwo? Aku…’

‘Kau mau mempermainkanku ya?’

‘Mwo?’ Mempermainkan? Mengapa semua orang mengira dia suka main-main? Apakah dia memiliki tampang macam itu?

‘Kau lihat aku. Aku ini seperti laki-laki. Sejak kecil teman-teman cowok selalu menganggapku sebagai bagian dari mereka. Dan aku sudah terbiasa dengan itu. Kalau kau pikir kau bisa merasa hebat dengan mendapatkanku, kau salah.’ Setelah menyelesaikan ucapannya Ga In kembali melangkah.

‘Mungkin mereka menganggapmu begitu, tapi aku tidak. Bagaimanapun kau tetap seorang yeoja.’

Ga In menghembuskan nafas keras-keras dan melanjutkan langkahnya, tapi Jonghyun menarik tangannya, membalikkannya sehingga mereka bertatapan. ‘Dan aku sangat yakin kalau aku tidak salah. Karena bel di kepalaku ini terus berdenting setiap kali aku bersamamu.’ Detik-detik berlalu dengan mereka larut dalam tatapan masing-masing.

‘Sinting.’ Ga In memukul kepala Jonghyun dan meninggalkannya.

‘Ya! Jung Ga In!’ kembali Jonghyun mengejarnya.

‘Jonghyun!’ Seseorang menyerukan namanya ketika dia tiba di lapangan sekolah.

‘Minho Hyung! Key Hyung! Taemin Hyung!’ Dia melambai pada mereka.

‘Mau ke mana kau?’

‘Mianhae, aku masih ada urusan,’ sahutnya lalu kembali melanjutkan pengejarannya.

Taemin menatapnya pergi. Untuk suatu alasan tatapannya tampak berbinar. ‘Sepertinya magnae kitalah yang paling berhasil.’

‘Tsk, aku ingin segera menyelesaikan ini,’ kata Key getir. ‘Dunia ini sangat tidak nyaman.’

‘Kalau begitu lakukan sesuatu. Bukan terus menghindar,’ timpal Minho.

‘Diamlah.’

Di tengah adu mulut itu, Taemin kembali menatap matahari yang kini sudah semakin condong ke barat. Minho benar. Mereka harus melakukan sesuatu.

Taemin menggerakkan kepalanya begitu cepat ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dua suara. Suara denting dan suara manusia. ‘Eun Hye-ssi.’

So Eun Hye menoleh mendengar namanya dipanggil. ‘Taemin-ssi? Ada apa?’

‘Apa kau sibuk?’ Minho dan Key berpandangan mendengar ini.

‘Aniyo. Wae?’

‘Bisa aku minta bantuanmu? Aku perlu bimbingan untuk menghadapi ujian akhir.’ Begitu dia selesai mengucapkan itu, Taemin bisa mendengar kikikan teman yang tadinya sedang mengobrol dengan Eun Hye.

‘Oh, tentu. Kapan kau mau…?’

‘Bagaimana kalau sekarang?’ jawab Taemin sebelum Eun Hye menyelesaikan pertanyaannya. Tidak hanya Eun Hye dan teman yang terkejut saat itu, Minho dan Key pun tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

‘Oh, se-sekarang?’ Temannya tampak berbisik pada Eun Hye dan mendorong-dorongnya sambil cekikikan. Setelah mengatakan sesuatu pada temannya itu, Eun Hye menjawab, ‘Baiklah. Ayo. Bagaimana kalau kita belajar di perpustakaan? Di sana hening dan nyaman.’

Taemin mengangguk. Sekilas dia tersenyum pada Minho dan Key sebelum mengikuti langkah Eun Hye.

‘Kau lihat? Bahkan Taemin Hyung mengambil langkah drastis.’

‘Aku tidak perlu melakukan hal bodoh semacam itu,’ bantah Key.

‘Aaaaa~ arasseo. Tentu saja. Kau adalah Almighty Key,’ tukas Minho dengan tenang. Key melirik kesal. ‘Aku juga harus pergi. Shin Na Ra menungguku. Annyeong.’

Key duduk pada sebuah besi di sebuah taman. Di bawahnya ayunan bergerak maju mundur oleh tiupan angin. Dia bukannya belum menemukan gadis dengan hati yang murni. Gadis itu ditemukannya pada suatu malam ketika dia sedang berbelanja di minimarket. Gadis itu bekerja paruh waktu di sana. Denting di kepalanya terdengar sangat jelas ketika dia menatap gadis itu. Bahkan semakin keras ketika mata mereka bertemu.

Key menunggunya setiap malam setelah itu. Mengamati dari atap minimarket hingga gadis itu pulang lalu mengikutinya. Perkenalan mereka sepertinya tidak akan pernah terjadi seandainya saja Han Chae Rin tidak diganggu sekumpulan orang mabuk dan Key menyelamatkannya.

Angin bertiup semakin kencang. Dingin.

Key segera merasakan kejanggalan ini. Angin dingin bertiup. Dia mendongak ke atas. Matahari perlahan menghitam. Tidak mungkin. Tidak sekarang!

Key melompat turun dan segera berlari meninggalkan tempat itu. Dia harus segera menemui Han Chae Rin.

***

‘Lama menunggu?’ sapa Minho pada seorang gadis berambut panjang yang berdiri di dekat gerbang.

‘Ah, aniyo,’ Shin Na Ra berbalik. Gerakan yang dibuatnya tidak hanya menggetarkan udara di sekitarnya, tapi juga bel dalam kepala Minho. Mereka terdiam. Sementara Minho sebenarnya menikmati denting dalam kepalanya. ‘Apa kita akan langsung membuat tugas kelompok kita?’

‘Apa kau lapar?’

Nara mengangguk dengan bibir manyun. ‘Sangat. Memangnya kau tidak?’

‘Sekalipun aku bukan manusia, aku akan tetap merasa lapar.’

Nara tertawa mendengar kata-kata Minho, tidak mengetahui tingkat keseriusan dari kata-kata tersebut. ‘Baiklah, makan apa kita?’

‘Menurutmu apa?’

‘Apa yang kau suka?’

‘Emmm… ramyeon,’ jawab Minho.

Shin Na Ra menggerak-gerakkan kepalanya sementara berpikir. ‘Ada kedai mie yang enak di ujung jalan sana.’

Minho mengikuti arah yang ditunjuk Nara lalu mengangguk. ‘Sepertinya kita akan bertemu seseorang di sana.’

Sosok Onewlah yang pertama Minho cari ketika dia memasuki kedai mie itu. ‘Hyung,’ sapa Onew melihat Minho. ‘Kemari Hyung, duduk bersama kami.’ Dia menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.

Minho menatap Shin Na Ra meminta persetujuannya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum. ‘Kami tidak mengganggu, kan?’ tanyanya mengambil tempat di sebelah Hyo Rin.

‘Tidak, sama sekali tidak,’ jawab Hyo Rin. ‘Sunbae mau makan ramyeon? Biar aku ambilkan.’ Dia bangkit lalu masuk ke dalam.

Onew menatap Minho dan Shin Na Ra bergantian lalu tersenyum kecil. Hal ini tampaknya diketahui oleh Shin Na Ra yang bertanya, ‘Kenapa?’

‘Ah, anni,’ jawab Onew. Sementara Minho menatapnya memperingatkan.

‘Mie-nya datang,’ seru Hyo Rin yang menghambur dari dapur dengan senampan mie.

‘Waaah akhirnya. Aku sudah sangat lapar.’ Shin Na Ra mengusap-usap perutnya. ‘Gomawo,’ katanya, menerima semangkuk ramyeon dari Hyo Rin yang memberikan dua mangkuk lainnya pada Minho dan Onew lalu duduk menghadapi mangkuknya sendiri.

‘Jal meokgessseumnida,’ kata Hyo Rin dan Shin Na Ra bersamaan. Mereka tertawa lalu menyiapkan sumpit di tangan masing-masing.

Sementara Minho dan Onew duduk dalam diam, memperhatikan mie di mangkuk mereka. Alis Minho bertaut. Dilihatnya Shin Na Ra siap memasukan ramyeon ke mulutnya. Dia mencegah tangan gadis itu di saat yang sama dengan terdengarnya seruan Onew, ‘Jangan dimakan!’

‘Mwo?’ tanya Shin Na Ra yang tangannya digenggam Minho.

‘Wae?’ tanya Hyo Rin, merasa tidak ada yang salah mie buatannya.

Minho menarik mangkuknya. Menuang isinya ke pot tanaman di dekatnya. Dalam hitungan detik tanaman itu layu lalu runtuh menjadi debu.

Hyo Rin ternganga. ‘Tapi… tapi… aku…’

‘Bukan kau Hyo Rin,’ Onew menenangkan. Minho bergegas keluar. Ketika mendongak, didapatinya matahari yang telah menghitam sebagian. ‘Sudah dimulai,’ bisiknya ketika ketiga temannya menyusul keluar.

***

‘Sampai kapan kau akan terus lari?’ tanya Jonghyun pada gadis di depannya.

‘Sampai kapan kau akan terus mengejarku?’ Jung Ga In balas bertanya.

‘Sampai kau berhenti lari dariku.’

‘Bagus, kita tidak akan berhenti kalau begitu.’

‘Apa kau tidak lelah?’

‘Kau sendiri?’

‘Tidak,’ jawab Jonghyun, pantang menyerah.

Ga In menarik nafas dalam-dalam lalu berbalik tiba-tiba membuat Jonghyun kewalahan menghentikan langkahnya. ‘Bagaimana kalau aku lelah?’

‘Maka berhentilah.’ Senyum kemenangan mengikuti kata-katanya.

‘Kalau aku berhenti, apa yang akan kau lakukan?’

‘Menangkapmu.’

‘Meskipun aku akan meninjumu?’

Jonghyun mengangguk. ‘Baik, rasakan ini.’ Ga In mengangkat tinjunya. Jonghyun bersiap menerimanya. Tapi kepalan itu berhenti di udara.

‘Ada apa? Kau tidak tega? Kau berubah pikiran?’ tanya Jonghyun, senyumnya terkembang semakin lebar.

‘Lihat itu.’ Ga In menunjuk ke belakang Jonghyun. Senyumnya segera lenyap begitu dia menoleh. Kegelapan sedang turun.

Tidak, itu bukan kegelapan. Selimut hitam itu terbentuk dari jutaan kelelawar. Dan mereka menuju ke arah Jonghyun dan Ga In.

***

Seperti kata Eun Hye, perpustakaan begitu hening. Taemin menyukainya. Dia suka keheningan ini. Di hadapannya, Eun Hye menerangkan materi yang tadi ditunjuk dengan asal saja oleh Taemin. Dia tidak perlu bimbingan. Penjelasan dari Eun Hye hanya didengarnya sambil lalu, tapi dia menikmati mendengar suara gadis itu. Dia menikmati denting yang terus terdengar di kepalanya.

Tiba-tiba Taemin merasakan sesuatu. Sesuatu dalam dirinya mengatakan ada bahaya yang sedang mendekat.

‘Taemin-ssi, apa kau mendengarkanku?’ Suara Eun Hye menarik Taemin kembali ke dunia di hadapannya.

‘Ah, mianhae, aku sedikit melantur tadi.’

‘Mungkin kita sudah perlu beristirahat. Bagaimana kalau kita sudahi dulu?’ Eun Hye menawarkan.

Taemin tidak menjawab. Firasat itu kembali. Dia tertunduk menatap meja, berkonsentrasi pada apa yang sedang mendekati mereka. Tidak menghiraukan Eun Hye yang terus memanggil namanya.

Sesuatu itu semakin dekat. Gerakan tangan Taemin begitu cepat. Detik ini tangan itu masih tergeletak di meja, detik berikutnya tangan itu sudah mencengkeram wajah makhluk yang dilihat dari posisinya sudah siap menggigit Eun Hye.

Taemin meninjunya di dada, tepat di daerah jantung semestinya berada. Makhluk itu langsung hancur menjadi debu. Eun Hye hanya sempat melihat sosoknya yang menakutkan dan sayapnya yang mirip sayap kelelawar. ‘Apa itu?’ bisiknya dengan suara gemetar.

Menyadari apa yang terjadi, Taemin segera menghubungi teman-temannya. Dia meneriakkan kata-kata dalam otaknya, ‘Minho, Key, Jonghyun, Onew, bawa pure heart ke tempat kita pertama datang. Kita kembali ke Ring Ding Dong.’

‘Lee Taemin!’ bentak Eun Hye yang sudah pulih dari keterkejutan dan sekarang kesal karena terus diabaikan. ‘Apa yang terjadi?’

‘Tidak ada waktu untuk itu. Ayo.’ Dia menarik tangan Eun Hye dan membawanya melesat pergi.

***

Setengah matahari sudah berubah menjadi hitam ketika Key tiba di minimarket tempat Chae Rin bekerja. Dia mendorong pintu minimarket itu hingga menjeblak terbuka.

‘Key?’ tanya Chae Rin terkejut. ‘Tidak biasanya kau datang sesore ini. Oh, apa jamku yang salah ya?’ Dia menatap bingung pada suasana di luar yang sudah menggelap dan jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 5 sore.

‘Kita harus pergi.’ Tanpa menunggu jawaban dia menarik tangan Chae Rin dan membawanya menuju tempat yang diinstruksikan Taemin.

***

Minho, Onew, Jonghyun, dan Taemin beserta pure heart mereka telah berkumpul ketika Key tiba di tempat itu. Masing-masing berusaha melawan makhluk-makhluk bersayap sambil melindungi pure heart mereka.

Melawan makhluk-makhluk itu bukanlah hal yang sulit karena mereka mudah ditaklukkan, tapi jumlah mereka yang banyak dan terus bertambah membuat kelima orang itu kewalahan.

‘Mereka banyak sekali,’ kata Onew.

‘Sebaiknya kita segera pergi dari sini.’ Minho mengkarambol dua makhluk sehingga keduanya hancur sekaligus.

‘Key, sudah datang,’ seru Jonghyun, menendang satu makhluk ke dinding. Makhluk itu menabrak temannya membuat mereka hancur bersama.

‘Ayo kita kembali,’ kata Key menyingkirkan sekumpulan makhluk di hadapannya seperti menyibak tirai kemudian mengernyit jijik.

‘Kita kembali,’ kata Taemin menyingkirkan makhluk yang ada di hadapannya.

So Eun Hye tidak tahu apa yang sedang terjadi dan dia kesal sekali. Makhluk-makhluk menyeramkan terus bermunculan dan dengan sekali hajar mereka hancur, menyebarkan debu ke mana-mana.

Dia melihat wajah-wajah ketakutan dari adik-adik kelasnya dan menyadari bahwa mereka sama tidak mengertinya seperti dia.

‘Kita kembali.’ Dia mendengar Taemin berkata. Detik berikutnya namja itu mendekap tubuhnya erat. Dari sela-sela yang ada dia bisa melihat sayap terkembang di tubuh Taemin. Benarkah itu sayap? Siapa sebenarnya Lee Taemin ini?

Atau lebih tepatnya, apa sebenarnya dia?

Berikutnya, Eun Hye merasa melayang. Dia merasa begitu ringan. Angin dingin membelai pipinya lembut. Sekarang dia bisa melihat langit. Langit di mana-mana.

Keanehan demi keanehan yang muncul membuatnya hanya memikirkan satu hal saat itu. Untung dia tidak takut ketinggian, kalau tidak, dia bakal muntah.

Beberapa saat kemudian So Eun Hye mencoba berdiri dengan susah payah, berusaha melawan tubuhnya yang limbung setelah sensasi yang baru dirasakannya. Pemandangan paling indah yang pernah dilihatnya terhampar di depannya. Hamparan rumput hijau dan bunga dalam aneka warna. Kupu-kupu beterbangan di sekitar bunga-bunga itu. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah kastil besar berwarna abu-abu gelap yang berdiri megah beberapa meter dari mereka.

Teman-teman manusianya yang sudah mulai dapat menguasai diri tampaknya juga sama terpukaunya dengan dirinya. Dengan sisa kemarahan yang masih ada, Eun Hye berbalik untuk menghadapi kelima namja yang telah membawa mereka ke tempat itu, ‘Lee Taemin! Jelaskan pada kami apa yang…’ Seolah kejutan-kejutan yang diterimanya belum cukup, yang berdiri di depannya kini bukan lagi cowok-cowok bersayap.

Sayap mereka telah lenyap dan sekali lagi mereka berganti kostum. Masing-masing mengenakan busana bernuansa terang, kecuali Taemin yang memakai pakaian hitam dengan jubah berwarna merah melambai. Namun bukan hal ini yang membuat kalimat Eun Hye terhenti. Aura mereka berlima tampak berbeda. Mereka tampak sangat berenergi, sangat kuat, sangat… mengerikan.

Taemin menarik kedua ujung bibirnya, ‘So Eun Hye-ssi, Shin Na Ra-ssi, Han Chae Rin-ssi, Jung Ga In-ssi, Kang Hyo Rin-ssi, selamat datang di Dunia Ring Ding Dong.’ Kedua tangannya terbuka selayaknya seorang tuan rumah yang mempersilahkan tamu-tamunya.

>> Part 2 >>

Advertisements

One thought on “Ring Ding Dong vs Lucifer (Part 1)

Add yours

  1. ow… waktu pertama baca aku bingung… umurnya diganti ya??
    taemin = leader = paling tua?
    jelasin doong? hehehe

    komen dikit: bagus, Key, jgn gampang suka sama cewek manusia (lain selain saya) =P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: