Cooking Class – Part 2 (End)

Title          : Cooking Class

Author      : Casper Sie

Cast          : Kim Hyung Joon (SS501), Cha Mi Rae, Jung Yong Hwa (C.N. Blue), Seo Hyun (SNSD)

Genre        : Romance

Length      : Twoshot

Cooking Class 1

Hyung Joon sedang membuka lemari untuk mengecek bahan apa saja yang ada di sana ketika ruangan menjadi gelap. ‘Tsk, kenapa mati lampu di saat seperti ini? Mi Rae, tunggu…,’ kalimatnya terhenti ketika berbalik dan menyadari Mi Rae tidak lagi berdiri di tempatnya. Dia menangkap sosok gelap sedang berjongkok dan menghampirinya. ‘Mi Rae, gwaenchanayo?’

Mi Rae tidak menjawab. Dadanya naik turun, susah payah memasukkan sebanyak mungkin udara.

Dalam panik, Hyung Joon mengedarkan pandang ke sekitarnya, tapi dia tidak menemukan apa-apa selain kegelapan. Tatapannya kembali pada Mi Rae. Matanya yang mulai beradaptasi dengan cahaya yang minim membuatnya dapat melihat penderitaan yeoja itu. Tanpa banyak berpikir lagi dia menggendong Mi Rae dan membaringkannya di sofa yang ada di ruang depan. ‘Aku akan mencari sesuatu yang dapat menerangi kita. Aku segera kembali.’

Hyung Joon segera berlari ke ruang-ruang lain. Dengan terburu-buru memeriksa seluruh tempat yang ada. Tangannya gemetar ketika dia berhasil menemukan lilin dan korek. Dia segera berlari ke ruang depan dan menyulut sumbu lilin itu.

‘Mi Rae,’ bisik Hyung Joon, berlutut di sisi Mi Rae. Tak ada suara selain nafas terengah-engah Mi Rae.

‘Aish, satu lilin masih kurang terang.’ Hyung Joon berdiri dengan panik. ‘Apa tidak ada sesuatu di tempat ini?’ Dia menghentakkan kaki dengan kesal. Dia baru akan mencari sesuatu yang lain ketika lampu kembali menyala. Sontak Hyung Joon kembali berlutut di sisi Mi Rae.

Wajah yeoja itu tampak pucat. Keringat dingin membanjiri wajahnya. Bibirnya bergerak-gerak lemah dan nafasnya masih belum teratur.

‘Aku akan membuatkan sesuatu untukmu.’ Hyung Joon setengah berlari kembali ke dapur.

Sesaat kemudian dia kembali dengan secangkir coklat hangat. Diletakkannya cangkir itu di meja lalu menghampiri Mi Rae dan menghapus keringat dari wajahnya yang tampak lemah. Wajah yang beberapa waktu lalu masih tampak bersemangat dan ceria.

Pelupuk mata Mi Rae bergerak perlahan. Sekarang setelah mata itu terbuka, Hyung Joon dapat melihat betapa sayunya mata itu. Seolah kegelapan telah menyedot sinar yang ada di sana.

Mi Rae mengerang.

‘Mi Rae.’

‘Oppa,’ gumam Mi Rae lirih.

‘Kau tidak apa-apa?’

Mi Rae menggeleng lemah seraya mencoba bangkit duduk. Hyung Joon memegang kedua lengannya, membantunya.

Mi Rae memasrahkan seluruh punggungnya pada sandaran sofa, masih berusaha mengatur nafasnya.

‘Ini. Minumlah.’ Hyung Joon menyodorkan secangkir coklat hangat kepada Mi Rae yang mengangguk lemah dan bergumam ‘terima kasih’ sebelum menarik cangkir itu ke bawah hidungnya.

***

Mi Rae menyesap coklat itu kemudian sedikit menjauhkannya dari mulutnya, membiarkan udara hangat menerpa wajahnya. Mi Rae menghirupnya dalam-dalam, merasakan udara itu membasuh tenggorokannya dan mengisi paru-parunya. Rasa nyaman menjalari tubuhnya. Rasa nyaman yang sama, rasa hangat yang sama yang sesaat tadi dirasakannya ketika kegelapan menyelimutinya.

Ketika Mi Rae membuka mata lagi, cahaya terang menyambutnya membuat rasa leganya meningkat berlipat-lipat hingga tanpa sadar dia tersenyum. Bukan hanya dia yang tersenyum. Ada senyum lain dalam cahaya itu. Senyum yang memberinya secercah rasa hangat.

‘Sudah merasa lebih baik?’

‘Em,’ Mi Rae mengangguk, menghisap coklatnya banyak-banyak. ‘Gomawo, Oppa.’

‘Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kau…’

Mi Rae menggeleng. ‘Tidak ada. Aku hanya butuh udara segar.’

‘Apa kau yakin? Kau…’

‘Bagaimana kalau kita pulang sekarang, Oppa?’ sela Mi Rae seraya berdiri. ‘Sepertinya aku benar-benar perlu menghirup udara bebas.’

‘Oh, baiklah.’

Tanpa menunggu lagi, Mi Rae menghambur keluar dari ruangan.

Dulu dia tidak begitu. Dulu dia baik-baik saja berada dalam kegelapan. Tapi tidak sejak hari itu. Sejak hari kelulusannya dari SMA. Sejak… Kenapa dia tidak bisa melupakan kenangan-kenangan itu? Kenangan-kenangan yang mencekiknya. Kenapa dia tidak bisa melupakannya?

‘Aaaaaah….’ seru Mi Rae seraya berputar-putar dengan kedua tangan terentang lebar. ‘Rasanya segar sekali.’

Hyung Joon mengikutinya melangkah menuju udara malam, kedua tangannya berada dalam saku. ‘Awas, nanti kau jatuh.’

Mi Rae berhenti berputar, senyumnya terkembang. Rasanya dia sudah membuang semua bebannya ketika berputar tadi. ‘Oppa,’ seru Mi Rae pada Hyung Joon yang berjarak beberapa langkah darinya. ‘Terima kasih banyak untuk hari ini.’

‘Gwaenchanha,’ Hyung Joon balas berseru. ‘Aku senang melakukannya.’

Mi Rae menggeleng lalu berlari kecil mendekati Hyung Joon. ‘Aku akan mentraktir Oppa karena sudah banyak membantuku hari ini. Bagaimana kalau kita makan ramyeon?’ tanyanya, menunjuk kedai mie yang tidak jauh dari mereka.

‘Kau yang traktir? Baik. Ayo,’ ajaknya, menggamit tangan Mi Rae.

Kedai itu tidak ramai, hanya ada tiga orang lain yang sedang menikmati mie mereka ketika Mi Rae dan Hyung Joon tiba. Setelah menyebutkan pesanan, mereka duduk dan menunggu. ‘Oppa,’ panggil Mi Rae, ‘apa istimewanya kue yang kita… omona!’ Mi Rae menepukkan kedua tangannya ke kepala. ‘Aku lupa! Bagaimana nasib kue kita?’

‘Tidak apa-apa. Kita buat lagi saja lain kali.’

‘Aah~ aku sudah mengacaukannya.’ Mi Rae tertunduk lesu. ‘Bagaimana kalau kita…,’ Mi Rae menelan ludah sebelum menyelesaikan kalimatnya.

‘Kalau kita apa?’ tanya Hyung Joon.

‘Aniyo. Kita buat lagi saja lain kali,’ jawabnya lalu memamerkan sebuah cengiran. Tadinya dia berpikir untuk kembali dan melanjutkan memanggang kuenya, tapi tidak. Rasanya dia belum siap kembali ke ruangan itu. ‘Ah, mie kita datang,’ seru Mi Rae, mencoba mengalihkan pikirannya ke hal lain.

Untuk sesaat mereka terdiam. Hanya terdengar suara sumpit beradu dengan mangkuk dan suara mie yang meluncur cepat masuk ke mulut mereka. ‘Jadi, apa istimewanya kue itu?’ tanya Mi Rae.

Hyung Joon menelengkan kepala tanda tak mengerti.

‘Kata Oppa, kita akan membuat sesuatu yang tepat untuk Eomma.’

‘Oh..’ Hyung Joon mengaduk-aduk mienya sebelum menjawab, ‘Kue itu… aku sendiri yang membuat resepnya. Aku ingin mempersembahkannya untuk Eomma, tapi… Eomma tidak akan bisa mencicipinya. Jadi… aku ingin membuatnya untuk orang yang paling kusayangi.’

‘Aaa~~ Oppa menyayangi eomma-ku kalau begitu?’ sahut Mi Rae diiringi tawa. ‘Tidak apa-apa, Oppa boleh menganggap Eomma sebagai eomma Oppa juga.’ Dia menepuk-nepuk tangan Hyung Joon yang berada di meja.

Hyung Joon tersenyum mendengar ini. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya mengacak rambut Mi Rae.

Mi Rae menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan Hyung Joon saat itu. Tatapan itu seolah berkata dia kehilangan. Tatapan itu berkata dia rindu akan sesuatu. Dia menginginkan sesuatu. Dan memberontak akan sesuatu.

‘Aissh, babo. Baru 2 minggu kau mengenalnya dan sudah 2 kali kau membuatnya teringat pada eomma-nya. Payah kau Mi Rae,’ rutuk Mi Rae dalam hati. Dia baru memikirkan cara untuk membuat penolongnya itu gembira lagi ketika seseorang masuk ke kedai mie itu.

Ah, tidak. Dua orang.

Atau lebih tepatnya, sepasang.

Mereka memesan makanan lalu bergerak mencari tempat duduk.

‘Mi Rae-ah,’ suara Hyung Joon mengejutkannya. ‘Ada apa?’ tanya Hyung Joon ketika Mi Rae menoleh padanya. Ternyata sejak kedua orang itu masuk, Mi Rae hanya terdiam sambil memperhatikan mereka.

‘Aniyo.’ Dia kembali menghadapi mangkuknya dan hendak mengajak Hyung Joon keluar dari situ ketika namanya disebut. Mi Rae membatu seketika. Bukan hanya karena dia sangat mengenal suara yang menyebut namanya barusan, tapi juga karena inilah yang tidak diinginkannya sejak melihat dua orang itu masuk.

‘Mi Rae,’ Hyung Joon mengguncang tangannya. Mi Rae mendongak perlahan, menatap namja di depannya. ‘Dia memanggilmu,’ tambah Hyung Joon, mengedik ke arah dua orang itu duduk. ‘Kau mengenal mereka?’

Mi Rae menggigit bibir bawahnya lalu menoleh ke arah orang-orang yang sangat dikenalnya. Dia tersenyum kecil.

Jung Yong Hwa melambai dari tempatnya duduk. Sementara Seo Hyun tersenyum lalu mengangguk ke arahnya.

Mi Rae kembali menatap Hyung Joon. Memberinya tatapan memohon agar segera membawanya pergi dari tempat itu karena mulutnya tidak dapat melakukan hal lain selain menggigit bibir bawahnya.

‘Mi Rae, lama sekali tidak bertemu.’ Terlambat, pasangan itu sudah menghampiri mejanya sekarang.

‘Bagaimana kabarmu?’

‘Baik,’ jawab Mi Rae, berusaha sebisa mungkin agar suaranya tidak bergetar.

‘Ah, ini Seo Hyun,’ Yong Hwa menunjuk yeoja di sebelahnya yang membungkuk seraya berkata, ‘Annyeong haseyo’. ‘Kau ingat? Adik kelas kita.’

Mi Rae tersenyum kecil lalu berdiri dan balas membungkuk pada Seo Hyun. ‘Ne, aku ingat.’ Bagaimana mungkin aku tidak ingat? batin Mi Rae seraya menelan senyum pahitnya.

Mereka terdiam. Masing-masing sepertinya sedang menunggu Mi Rae melakukan sesuatu. Sementara satu-satunya hal yang ingin dilakukan Mi Rae adalah pergi dari situ. Kerongkongannya sudah sakit sekarang. Mi Rae mengalihkan pandangan dari teman masa SMA-nya itu dan menangkap satu sosok yang sedang bangkit dari tempatnya.

‘Annyeong haseyo, Kim Hyung Joon-imnida,’ kata Hyung Joon lalu membungkuk pada Yong Hwa dan Seo Hyun.

Ah, iya. Itu yang mereka tunggu. Seharusnya dia memperkenalkan Hyung Joon. Untunglah Oppa segera mengambil tindakan sendiri, kata Mi Rae dalam hati. Mereka mengobrol sekarang. Apa yang mereka bicarakan?

Apa mereka berencana untuk melanjutkan pembicaraan ini lebih jauh?

Tidak. Tidak bisa. Tidak boleh.

‘Mianhae,’ ucap Mi Rae cepat, tidak peduli apakah suara bergetar atau tidak. Atau apakah dia terkesan tidak sopan. ‘Tapi kami sudah selesai dan harus buru-buru pergi.’ Mi Rae membungkuk singkat lalu bergegas meninggalkan kedai mie itu.

Samar-samar dia mendengar Hyung Joon berkata, ‘Joesonghamnida, kami sedang terburu-buru. Mungkin lain kali…’ sebelum melangkah menyambut udara malam.

Kali ini benda tak tampak yang mengelilinginya itu tak sanggup mengurangi beban hatinya. Kenapa? Kenapa?

Dia tidak pernah bertemu Yong Hwa sejak dia tidak sengaja mendengar namja yang disayanginya itu menyatakan perasaannya pada Seo Hyun. Bahkan dia sengaja menghindar. Dia tidak pernah datang jika teman SMA-nya mengadakan reuni.

Tapi kenapa? Kenapa sekarang dia harus bertemu dengannya?

Kenapa dia harus bertemu dengan mereka?!

Apakah genangan kenangan yang menghantui hidupnya selama satu tahun ini belum cukup membuatnya menderita?!

Mi Rae menghentikan langkahnya. Nafasnya memburu. Kerongkongannya sakit. Lambungnya tidak nyaman. Seharusnya dia tidak usah makan saja tadi. Seharusnya… Dia tidak bisa menahannya lagi. Dia akan meledak. Sesuatu merayap naik di kerongkongannya, menusuk pangkal tenggorokannya, menusuk belakang matanya…

Mi Rae merosot di tempatnya berdiri. Air matanya tumpah.

Dia bisa merasakan Hyung Joon bergerak mendekat lalu berlutut di sebelahnya.

***

Hyung Joon terus mengikuti Mi Rae dalam diam. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa mereka? Kenapa Mi Rae berubah drastis ketika bertemu mereka?

Satu demi satu pertanyaan itu ditelannya kembali. Dia tahu dia tidak bisa menanyakannya sekarang.

Yeoja di depannya itu akhirnya berhenti. Untuk sesaat Hyung Joon mengira apa yang terjadi beberapa saat lalu di ruang kelas memasaknya sedang terjadi lagi. Ternyata tidak, Mi Rae jatuh berlutut, bahunya berguncang keras.

Apakah dia menangis?

Ragu-ragu Hyung Joong mendekat. Apa yang harus dilakukannya?

Dia melihat air mata membanjiri wajah Mi Rae ketika dia tiba di sisinya. Sesuatu dari dalam dirinya menggerakkannya. Dia berlutut di sisi yeoja itu dan menarik kepalanya ke dadanya. Tangis Mi Rae semakin keras.

Hyung Joon membelai kepalanya. Dia tidak mengira akan melihat Mi Rae seperti ini. Dia tidak mengira akan mengalami hari seperti ini. Satu hari di mana dia tidak henti melihat wajah Mi Rae yang tanpa senyum, wajahnya yang begitu menderita.

‘Kenapa aku harus bertemu mereka?’ dia mendengar Mi Rae berkata di antara tangisnya.

‘Yang kuinginkan hanya menghapus kenangan tentangnya.’

‘Yang kuinginkan hanya berhenti merasakan sakit ini.’ Mi Rae terisak.

Hyung Joon hanya bisa mendekap Mi Rae lebih erat.

Dia berharap dia bisa melakukan sesuatu.

Dia berharap dia bisa membasuh sakit itu.

Dia berharap dia bisa mengembalikan senyum itu.

***

Mi Rae menutup kandang ayam setelah memastikan semua penghuninya telah masuk. Hari ini adalah gilirannya memberi makan ayam-ayam yang menjadi objek tugas biologinya. Dia sedang berjalan menyusuri lorong kelas ketika seseorang memanggilnya.

‘Mi Rae!’ Seorang namja, teman satu kelasnya, sedang berlari ke arahnya. ‘Belum pulang?’

‘Baru selesai memberi makan ayam. Tugas biologi,’ jawab Mi Rae, menunjuk ke arah kandang ayam yang baru saja ditinggalkannya.

Yong Hwa mengucapkan ‘oh’ tanpa suara. ‘Ayam-ayamku entah bagaimana nasibnya. Seekor lagi mati kemarin.’

‘Benarkah? Itu sudah yang ketiga dalam seminggu ini. Kurasa tugas pengamatan kalian tidak akan berhasil kalau masih terus jatuh korban.’

Yong Hwa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berujar santai, ‘Siapa bilang? Kami bahkan sudah menemukan kesimpulannya. Ayam akan mati kalau tidak makan.’

Mi Rae tertawa. ‘Ayam-ayam kalian yang lain pasti sedang cemas.’

Yong Hwa ikut tertawa. ‘Ah! Bicara soal makan, apa kau lapar?’

Mi Rae mengerutkan kening. Kenapa dia bertanya begitu? tanya Mi Rae dalam hati. Temannya itu sekarang sibuk mencari dalam tasnya. Sejurus kemudian dia kembali menatap Mi Rae dengan sandwich di tangannya.

‘Aku punya dua sandwich. Kau mau?’ Yong Hwa menyodorkan salah satu sandwich padanya.

‘Kenapa kau membawa dua sandwich?’ tanya Mi Rae, menggigit sandwich yang diberikan Yong Hwa padanya. Mereka sekarang duduk menghadap lapangan sekolah yang sudah sepi.

‘Kalau kukatakan tadinya mau kuberikan pada seseorang, apa itu menyakiti hatimu?’

‘Kenapa tidak jadi kau berikan padanya?’

‘Aku tidak berhasil menemuinya.’

Mi Rae ragu-ragu. Pertanyaan itu sudah tiba di pangkal tenggoroknya. Apakah sebaiknya dia menanyakannya? ‘Untuk anak kelas 1 itu ya?’

Yong Hwa menoleh pada Mi Rae. ‘Ne,’ jawabnya sambil tersenyum. ‘Gosip cepat beredar ya?’

Kedua tangan Mi Rae gemetar seketika.


Mi Rae menerawang menatap langit gelap di luar jendela kamarnya. Sudah dua hari ini dia hanya berkubang dalam kamarnya. Bahkan dia melewatkan kelas memasaknya hari ini.

Mi Rae hanya ingin bergelung. Melindungi dirinya. Melindungi hatinya.

Sebuah SMS menggetarkan ponselnya. Mi Rae hanya menatapnya sampai berhenti bergetar lalu meletakkan kepala secara miring di meja. Yang ada dalam jangkauan penglihatannya hanya ponselnya sekarang. Benda itu masih menyala meski getarnya sudah berhenti.

Mi Rae meraihnya. Satu pesan dari Hyung Joon. Mi Rae mengerutkan kening lalu membukanya.

Mi Rae-ah, gwaenchanhayo?

Aku jadi yang termuda di kelas tadi karena kau tidak datang :<


Mi Rae tersenyum. Oppa…

Tiba-tiba melintas dalam benak Mi Rae apa yang mungkin di kelas memasak sore itu. Terbayang olehnya senyum manis Hyung Joon yang tidak pernah absen ketika memberi instruksi. Atau pujiannya yang membuat murid-muridnya senang setengah mati. Atau ekspresinya ketika mencicipi masakan yang memiliki rasa aneh.

Mi Rae teringat tawanya.

Mi Rae teringat suaranya.

Tiba-tiba Mi Rae ingiiin sekali Hyung Joon ada bersamanya.

Apakah dia masih ada di sana? Mi Rae melirik jam. Jam 7. Kelas baru saja selesai. Mungkin masih bisa. Kalau dia berangkat sekarang, mungkin dia masih bisa bertemu Hyung Joon Oppa. Dalam ketergesaannya menekan tombol ‘back’, Mi Rae menemukan pesan itu di bawah pesan dari Hyung Joon.

Untuk sesaat Mi Rae terdiam. Ibu jarinya bergerak-gerak di atas keypad. Kemudian dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan mantap. Semantap ketika dia menekan tombol ‘delete’ dan memusnahkan SMS itu dari inbox-nya.

Mi Rae tersenyum lebar lalu beranjak dari kamarnya.

Bangunan di hadapannya tampak kosong, tapi Mi Rae mencoba memasukinya. Dia melewati ruang depan yang sepi. Baru kali ini dia merasa langkahnya bergema keras dalam ruangan itu. Dia melangkah perlahan hingga tiba di ruang yang ditujunya.

Tadinya dia berharap melihat tempat itu terang dengan satu orang di dalamnya. Satu orang yang berdiri di balik konter sedang memasak entah apa. Tapi tidak. Dapur itu gelap. Mi Rae melangkah masuk.

Mi Rae seolah bisa melihat guru memasaknya berada di seberang ruangan sedang mengocok telur seraya tak henti memberi petunjuk. Mi Rae melangkah dan berhenti tepat di mana Hyung Joon berdiri. Dia tersenyum mengingat peristiwa 2 malam lalu ketika mereka memasak bersama di sini.

Khayalan Mi Rae buyar ketika lampu ruangan tiba-tiba menyala.

***

Hyung Joon menyusuri koridor sekedar memastikan semua pintu telah terkunci ketika dia melihat seseorang memasuki dapur kelas memasak. Orang itu tidak menyalakan lampu. Bukankah itu Mi Rae? Apa yang dilakukannya di dalam sana?

Hyung Joon menyusulnya ke dapur kemudian menyalakan lampunya. ‘Mi Rae?’

Mi Rae sedikit terlonjak. ‘O-oppa?’

‘Apa yang kau lakukan di sini?’

Mi Rae menggerakkan tangannya tak beraturan lalu menjawab, ‘Aku.. aku… sedang berpikir untuk membuat kembali kue untuk Eomma,’ jawabnya cepat lalu nyengir lebar.

Hyung Joon menelengkan kepala. Dia merasa ada yang disembunyikan Mi Rae, tapi dia senang melihat Mi Rae. Dia senang melihat Mi Rae tersenyum. ‘Dalam kegelapan?’ godanya sambil berjalan mendekati Mi Rae.

Mi Rae hanya menjawabnya dengan dengungan dan garukan kepala.

Hyung Joon terkekeh. ‘Kenapa kau tidak datang tadi? Apa kau sakit?’ tanyanya, menempelkan telapak tangan di dahi Mi Rae.

‘Aku… aku…’

‘Aku akan membuatkan kue untukmu. Bagaimana?’

‘Mwo? Oppa akan membuatkan kue untukku?’

Hyung Joon mengangguk. ‘Spesial untuk murid dan teman yang paling kusayangi ini.’ Hyung Joon sedikit membungkuk sehingga matanya berada dalam satu level dengan Mi Rae membuat gadis itu sedikit menarik mundur kepalanya. ‘Apa yang kau suka? Coklat? Keju? Strawberry? Karamel?’

‘Aku mau coklat,’ seru Mi Rae.

Hyung Joon tampak berpikir sebentar. Setelah memilih kue yang akan dibuatnya, dia berkata, ‘Baik. Duduklah dulu di sini.’ Dia menuntun Mi Rae ke bangku yang berhadapan dengan konter.

Hyung Joon tidak tahu dengan pasti apa yang terjadi pada Mi Rae waktu itu. Mungkinkah dia namja yang disukai Mi Rae? Sebegitu besarkah cinta Mi Rae padanya? Hingga menimbulkan sakit yang begitu dalam. Dua hari ini dia memikirkan cara untuk membuat Mi Rae kembali ceria. Tapi hari ini tiba-tiba dia muncul dengan senyum di wajahnya. Dia sungguh merasa lega sekaligus khawatir senyum itu akan sirna lagi dan saat itu dia akan kembali tidak tahu harus berbuat apa. Jadi sekali ini. Sekali ini saja… Dia ingin memberikan sesuatu untuk Mi Rae. Sesuatu yang berasal dari dalam hatinya.

***

Mi Rae menatap coklat yang dipanaskan Hyung Joon meleleh perlahan bersama mentega yang menemaninya menebarkan aroma asin dan manis yang sedap.

Dia suka tempat ini. Di sini dia selalu bisa tersenyum. Di sini dia selalu bisa tertawa. Di sini dia merasa hangat. Di sini dia merasa tak punya masalah. Di sini dia merasa tak memiliki masa lalu. Di sini…

‘Tadaaaa….,’ seru Hyung Joon memamerkan Choco Lava-nya yang sudah jadi. Mi Rae bertepuk tangan menyambutnya. ‘Cobalah,’ Hyung Joon meletakkan satu cup Choco Lava di hadapan Mi Rae lalu duduk di sebelahnya.

Mi Rae memotong bagian tengah kue itu dengan sendok membuat coklat di dalamnya mengalir keluar. ‘Hmmm…. Enak sekali, Oppa.’ Mi Rae menarik sendok keluar dari mulutnya.

‘Tentu saja, aku memasukkan seluruh cinta yang kumiliki ke dalamnya.

‘Aku tahu,’ sahut Mi Rae tanpa memandang Hyung Joon, sibuk menyendok potongan kuenya yang kedua.

‘Aku serius.’

‘Iya, aku tahu Oppa serius. Bukankah…’

‘Tidak, kau tidak tahu,’ sela Hyung Joon. Mi Rae mendongak, sekarang menatap Hyung Joon dan menyadari tidak hanya suaranya yang berubah serius, tapi juga raut wajahnya. ‘Aku benar-benar memasukkan seluruh cintaku ke dalamnya,’ kata Hyung Joon tanpa mengalihkan tatapannya dari Mi Rae. ‘Untukmu,’ tambahnya.

‘Oppa,’ bisik Mi Rae. Tatapan serius Hyung Joon yang tertuju ke matanya seakan menghisap seluruh energinya.

‘Naneun saranghae, Cha Mi Rae.’ Kalimat ini melesat bagai anak panah, menancap ke jantung Mi Rae. Tapi tidak, kali ini jantungnya tidak sakit. Jantungnya bekerja cepat mengalirkan darah dan rasa hangat ke seluruh tubuhnya. Termasuk ke wajahnya, lehernya, belakang telinganya…

‘Oppa…,’ Mi Rae memulai. ‘Gomawo,’ tuntasnya lalu tersenyum.

Hyung Joon tampak terhenyak mendengar jawaban singkat Mi Rae, tapi hanya dalam hitungan detik dia menegakkan punggung. Dengan raut wajah yang kembali santai, dia berkata, ‘Gomawo? Hanya itu?’ senyum jahilnya mengembang. Tangannya bergerak untuk menyentuh puncak kepala Mi Rae, tapi Mi Rae meraih tangan itu.

‘Gomawo,’ karena telah menjadi cahaya di tengah kegelapanku, karena menjadi coklat hangat bagi hatiku yang kedinginan dan rapuh,’ karena telah membuatku terlalu sibuk merindukan Oppa untuk bisa merindukan namja lain.’ Mi Rae mengecup pipi Hyung Joon. ‘Naneun  do saranghaeyo, Oppa.’

Kini panah itu menancap pula di jantung Hyung Joon, mengembangkan senyumnya. Ketika menatap Mi Rae, dia berkata dalam hati, ‘Aku tidak akan berkata jangan bersedih lagi, jangan menampakkan mata sayu itu lagi, tapi aku akan berkata pada diriku sendiri aku tidak akan membiarkanmu bersedih lagi, aku tidak akan membiarkan mata itu sayu lagi.’ Kemudian dia memeluk Mi Rae erat.

♫LET ME BE THE ONE, nega itteosa naega jonjaehaneungeol

LET ME BE THE ONE FOR ALL YOUR ANSWERS, geu sarami narago

LET ME BE THE ONE, sesange hada , LET ME BE THE ONE WHO CARES.

LET ME BE THE ONE, byeonhajianha, dasi taeanandaedu

BABY IT’S YOU

LET ME BE THE ONE, neomanui saram. naega dwigosipdago (LET ME BE THE ONE)

LET ME BE THE ONE, nan harujongil, neoman saenggaghandago (geu sarami narago)

LET ME BE THE ONE, na yagsoghalge, neoreulwihae sandago (LET ME BE THE ONE)

LET ME BE THE ONE, na yeongweonttorog, (WOULD YOU LET ME BE) neoman saranghandago (OH LET ME BE)♫

{LET ME BE THE ONE, I exist because of you
LET ME BE THE ONE FOR ALL YOUR ANSWERS, that person is me
LET ME BE THE ONE, the only one in the world, LET ME BE THE ONE WHO CARES.
LET ME BE THE ONE, It won’t change, even if I am born again
BABY IT’S YOU

LET ME BE THE ONE, the only one for you. I want it to be me (LET ME BE THE ONE)
LET ME BE THE ONE, the entire day, I only think of you (That person is me)
LET ME BE THE ONE, I’ll promise you, that I’ll live for you (LET ME BE THE ONE)
LET ME BE THE ONE, for eternity, (WOULD YOU LET ME BE) I’ll love only you (OH LET ME BE)}

(song credit: Let Me be the One-SS501)

***

Kim Hyung Joon melangkah menuruni tangga dengan perasaan lega. Dia baru saja membimbing kelas memasak angkatan keduanya. Tidak begitu buruk, pikirnya, meskipun dia terlambat beberapa menit. Idenya memulai kelas memasak sendiri ternyata memang tidak buruk. Apalagi dia bisa memanfaatkan rumahnya yang semakin sepi sejak orang tuanya meninggal dan satu demi satu hyung-nya memiliki keluarga sendiri.

Ketika menapaki anak tangga terakhir, matanya menyapu sesosok yeoja yang berdiri di dekat pintu. Dia mengenali yeoja itu. Dia adalah salah satu muridnya dalam kelas memasak tadi.

Tiba-tiba rasa kebas menjalari kakinya seolah jantungnya berhenti memompa darah ke daerah itu. Kim Hyung Joon ragu sejenak. Kedua tangannya yang berada dalam saku celana mengepal erat.

‘Baik,’ dia membuat keputusan,’ aku akan mencoba peruntunganku.’

==FIN==

Advertisements

6 thoughts on “Cooking Class – Part 2 (End)

Add yours

  1. kyaaaa~ aku juga mau dibuatin choco lava sama babyjuuuuunn #dieees

    cas, perlu aku bilang kalo aku suka cerita ini?
    kekeke…

    aih, tapi kurang panjang cas, aku kok ngerasa Mi Rae belum sepenuhnya suka sama jun ya? ==
    panjangin lagi dong, panjangin lagi.. #gimanacoba

  2. iya, kecepeten ya? tau2 dianya suka gt aja.
    panjangin? *pingsan*
    oh *bangun lagi* jd inget kalo mau bikin sekuelnya ini, tp krn si author org yg malas, ga slese2 deh hehe,,

  3. Wehh.
    Trnyata aq blm mninggalkn jejak d sini..

    Cicik.. U know me so well
    *ngedance SMASH*

    rini ngiri yaaa??
    Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: