Posted in romance, twoshot

Cooking Class – Part 1

Title          : Cooking Class
Author      : Casper Sie
Cast          : Kim Hyung Joon (SS501), Cha Mi Rae
Genre        : Romance
Length      : Twoshot

Cha Mi Rae melangkah menjauhi keramaian aula menuju koridor yang remang-remang. Menyebalkan rasanya jika desakan ke kamar kecil muncul saat pesta sedang berlangsung. ‘Aduh, kenapa koridor ini harus remang-remang begini.’ Mi Rae melangkah buru-buru, selain agar daapt segera menyelesaikan urusannya juga agar dia dapat segera kembali ke aula yang ramai dan terang.
‘Ada apa, Oppa? Apa yang mau Oppa katakan?’
Tiba-tiba terdengar suara seorang yeoja dari suatu tempat di dekat Mi Rae. Siapa itu? pikir Mi Rae. Sepertinya sepasang kekasih yang sedang menjauhi keramaian.
Mi Rae berniat mengacuhkan apa yang didengarnya dan kembali fokus pada tujuannya semula.
‘Aku…’ Langkah Mi Rae terhenti mendengar suara namja yang menjawabnya. Mi Rae mengenali suara itu.
‘Ya?’ suara si yeoja terdengar lagi karena lama si namja tidak melanjutkan kata-katanya.
Ya, ya, sekarang Mi Rae juga bisa mengenali suara si yeoja. Dia merapat ke dinding, ke ujung koridor yang berbelok ke kiri. Lalu mengintip. Seluruh organ tubuhnya serasa tertarik oleh gravitasi. Ya, dia mengenal kedua orang itu.
Tidak, dia bahkan lebih dari sekedar mengenal mereka.
‘Na,’ si namja memulai lagi, ‘neun saranghaeyo.’
Sekarang tidak hanya organnya, seluruh tubuhnya jatuh mengikuti gravitasi. Dia tidak tahu apa jawaban si yeoja. Dia tidak bisa mendengarnya. Dia bahkan tidak bisa merasakan udara hangat  yang ada di sekelilingnya. Atau lantai tempatnya terduduk. Dia tidak bisa merasakan dirinya. Dia tidak bisa merasakan apapun.
***
Mi Rae menyampirkan tasnya di pundak, sekali lagi mematut diri di cermin. Hari ini hari pertamanya mengikuti kelas memasak. Kelas memasak? Kalau bukan karena eomma-nya, Mi Rae akan lebih memilih jalan-jalan dengan Karin, sahabatnya, untuk mengisi liburan semester ini. Bukankah selama ini juga begitu?
‘Sekarang kau sudah mahasiswi, Mi Rae. Kau juga harus mengisi waktumu dengan hal-hal yang berguna,’ jawab eomma-nya waktu Mi Rae memprotes.
‘Jalan-jalan kan juga berguna, Eomma,’ Mi Rae masih tidak terima.
‘Kelas memasak itu kan hanya tiga kali dalam seminggu, masih ada banyak waktu untuk jalan-jalan,’ eomma-nya tak mau kalah.
‘Eomma~~~’
Bukannya Mi Rae tidak suka memasak atau apa, tapi di kelas itu pasti hanya ada ajumma-ajumma, ibu-ibu muda, atau eonni yang bersiap-siap menikah. Pasti membosankan, pikir Mi Rae. Meski begitu, dia tidak bisa mengelak lagi ketika suatu hari eomma-nya pulang dan berkata, ‘Eomma sudah mendaftarkanmu, Mi Rae. Kelas memasakmu dimulai besok lusa.’
Jadi, di sinilah Mi Rae sekarang, di kelas memasak yang seperti dugaannya mem.bo.san.kan. Di sebelah kanannya sekitar 5 ajumma sibuk membanggakan anak masing-masing. Sementara di sisi yang lain, beberapa eonni membicarakan pernikahan mereka yang baru seumur jagung. Eonni yang sudah menikah tampaknya merasa jadi senior bagi mereka yang baru akan menikah dan membagikan tips-tips serta kisah bulan madu mereka sambil cekikikan.
Aigoooo… Mi Rae mendengus bosan. Kedua tangannya menjadi tiang penyangga bagi kepalanya yang sudah berat oleh keributan di sekelilingnya. Di mana pula sonsaengnim yang akan mengajar kami? Gerutu Mi Rae dalam hati. ‘Dia terlambat sepuluh menit di hari pertama, tsk,’ decaknya seraya melongok jam.
Tiba-tiba pintu di sebelah kiri terbuka. Dari baliknya, meluncur dengan cepat sesosok manusia yang segera mengambil tempat di balik meja dapur.
‘Annyeong haseyo,’ dengungan di sekitar Mi Rae terhenti seketika. ‘Joneun Kim Hyung Joon-imnida. Saya yang akan membimbing Anda semua di kelas memasak ini.’ Namja yang memperkenalkan diri sebagai Kim Hyung Joon itu membungkuk dan mengakhiri perkenalannya dengan senyum manis.
Senyum paling manis yang pernah dilihat Mi Rae. Ah, tidak, senyum termanis kedua yang pernah dilihat Mi Rae.
Bagaimanapun, kemunculan Kim Hyung Joon tidak hanya telah menarik tulang punggung Mi Rae hingga ia duduk sangat tegak, tapi juga menarik semangatnya untuk berada di kelas memasak itu. Dalam hati dia berseru, ‘Eomma, gomawo~~~’
Dua jam berlalu tanpa terasa. Suara Hyung Joon yang terdengar memberi petunjuk-petunjuk benar-benar memanjakan pendengaran Mi Rae. Belum lagi bila pembimbingnya itu mulai mengitari kelas dan mengamati aktivitas tiap peserta, jantung Mi Rae akan berdebar keras sekali. Dia harus berusaha sekuat tenaga agar tidak mengiris jarinya sendiri ketika si pengamat mencapai mejanya. Dan Mi Rae yakin dia hanya satu mili dari pingsan ketika di akhir kelas Hyung Joon mengatakan masakannya enak.
Namun, dunia selalu punya cara yang unik untuk mengubah mood seseorang. Sekarang Mi Rae kembali menunggu dengan bosan karena hujan tak kunjung berhenti sejak kelas memasak usai lima belas menit yang lalu. Peserta yang lain sudah pulang, entah dijemput oleh suami atau calon suami masing-masing. Tinggallah Mi Rae sendiri. Dia memanyunkan bibir melihat langit yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan memperkecil debit airnya. Sekali lagi Mi Rae menghembuskan nafas dan membulatkan tekad akan menunggu setidaknya 15 menit lagi lalu pulang tidak peduli apa yang terjadi.
‘Belum pulang?’
‘Ah~~ sonsaengnim,’ tangan Mi Rae gemetar seketika mengetahui pembimbingnya itu muncul di dekatnya dan… tersenyum.
‘Bukankah kau Cha Mi Rae?’
‘Ne,’ jawab Mi Rae singkat, tapi hatinya bersorak, ‘dia ingat namaku! Dia ingat namaku!’
‘Tidak ada yang menjemputmu?’
‘Aniyo,’ Mi Rae menggeleng, teringat pada appa-nya yang sedang bertugas di luar kota dan eomma-nya yang harus pulang malam karena rapat.
‘Aaaa~~~ begitu. Di mana rumahmu?’ Mi Rae menyebutkan alamat rumahnya. ‘Kita searah kalau begitu,’ sahut Hyung Joon. Dia menoleh pada Mi Rae, ‘Mau pulang bersama?’ tawarnya seraya membuka payung.
Mi Rae tersentak. Jantungnya serasa hampir lepas. Pulang bersama namja semanis sonsaengnim? Omo! Mimpi apa aku semalam? serunya dalam hati. Ternyata dunia memang memiliki cara-cara unik.
Saking histerisnya, Mi Rae hanya bisa mengangguk menanggapi tawaran itu lalu dengan canggung melangkah ke bawah payung, ke sisi Hyung Joon.
‘Sepertinya kau yang paling muda di antara peserta kali ini,’ kata Hyung Joon mengawali pembicaraan.
‘Ye. Sepertinya begitu.’
Hyung Joon tertawa kecil. ‘Kau tidak banyak bicara ya?’
‘Eh?’ Mi Rae terkejut mendengar komentar itu. Memang dari tadi dia tidak banyak bicara, tapi bukan karena dia seorang pendiam. Hanya saja saat ini otaknya terlalu sibuk mengatur agar jantungnya berdetak normal sehingga tak ada waktu memikirkan kata-kata untuk diucapkan.
‘Kenapa kau ikut kelas memasak? Apa kau suka?’
‘Ah… itu, eomma yang menyuruhku. Katanya akan lebih baik jika aku mengisi liburan semester dengan sesuatu yang berguna.’
‘Kau masih sekolah?’
Mi Rae menggeleng. ‘Lulus tahun lalu.’
‘Aaaa~~~ mahasiswa juga rupanya.’
‘Juga? Apakah sonsaengnim…?’
‘Mahasiswa tingkat 3 jurusan memasak,’ sahut Hyung Joon bangga. ‘Wae? Apa aku terlihat terlalu tua sebagai mahasiswa?’ godanya dan entah kenapa senyum manis selalu mengiringi apapun ekspresi yang dibuatnya. Ini membuat Mi Rae gelagapan.
‘Ah, aniyo. Hanya saja kukira sonsaengnim adalah koki profesional,’ jawab Mi Rae polos yang disambut dengan tawa oleh Hyung Joon. ‘Aku terima itu sebagai pujian.’
Tetes hujan semakin jarang seiring dengan semakin hangatnya pembicaraan di antara mereka. Tanpa sadar mereka telah melangkah hingga ke depan rumah Mi Rae.
‘Gamsahamnida, sonsaengnim,’ kata Mi Rae seraya membungkuk.
‘Chonmaneyo,’ jawab Hyung Joon ringan. ‘Kalau kau mau kita bisa pulang bersama tiap kelas usai. Bersama teman tentunya lebih menyenangkan daripada sendiri, kan?’
‘Ah~~~ jeongmal gamsahamnida. Pasti menyenangkan memiliki teman seperjalanan seperti sonsaengnim.’
Sekarang Mi Rae sangat bersemangat mengikuti setiap pertemuan kelas memasak. Setiap kali tiba di rumah, dia tersenyum bahagia dan tidak sabar menanti kelas berikutnya. Hal ini tentu saja tidak luput dari perhatian eomma-nya. Namun, keterangan yang diterima eomma-nya tidak pernah lebih dari bahwa Mi Rae sangat menikmati kegiatan barunya dan bahwa dia sangat berterima kasih atas anjuran eomma-nya itu.
Yup, memang tidak salah. Mi Rae sangat menikmati kelas yang dibawakan Kim Hyung Joon sonsaengnim. Dia belajar dengan sungguh-sungguh dan sekarang sudah bisa memasak ini dan itu. Sekarang tidak hanya gurunya yang mengatakan masakannya enak, para eonni dan ajumma yang satu kelas dengannya pun memuji masakannya.
Tapi bagian yang paling dinanti Mi Rae datang ketika kelas sudah berakhir. Ketika tiba waktunya bagi dia untuk pulang bersama sang sonsaengnim. Ketika mereka bisa melewatkan waktu berdua menyaksikan suasana kota perlahan berubah menjadi malam yang ramai oleh cahaya-cahaya lampu. Menyaksikan satu demi satu pedagang menutup toko atau menyaksikan penjual ramyeon mulai menata mejanya. Kadang mereka mampir ke toko kue, makan es krim, atau membeli ttukbokki.
‘Sonsaengnim, kenapa memilih untuk jadi koki?’ tanya Mi Rae suatu hari dalam perjalanan pulang mereka.
Hyung Joon menelengkan kepalanya sesaat ketika dia berpikir. ‘Eomma selalu mengatakan makanan adalah sesuatu yang sangat penting. Makanan menentukan apa yang bisa kita hasilkan dari diri kita. Makanan menjadi dasar bagi kehidupan. Tuangkanlah seluruh cintamu ke dalam makanan yang kau buat agar orang yang memakannya bisa merasakan sebanyak mungkin cinta. Maka dari itu, meski ada pembantu di rumah, eomma selalu memasak sendiri makanan untuk keluarganya.’ Hyung Joon terhenti sesaat. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seraya mendongak menatap langit malam. ‘Ketika eomma meninggal, aku berjanji akan melanjutkan apa yang telah eomma lakukan. Bahkan lebih dari itu. Aku ingin bisa membagikan cintaku pada lebih banyak orang. Aku ingin menjadi koki yang tidak hanya bisa memasak,’ Hyung Joon mengalihkan pandangannya pada Mi Rae, ‘tapi juga bisa memasukkan cinta ke dalamnya.’
Mi Rae tersenyum seraya menepuk pundak Hyung Joon, ‘Sonsaengnim hebat. Aku…’
‘Apa?’ tanya Hyung Joon karena Mi Rae menghentikan kalimatnya. ‘Apa kau jadi kagum padaku?’ godanya.
Mi Rae menyambutnya dengan tawa. ‘Aku hanya berpikir, sebentar lagi eomma berulang tahun dan… bagaimana kalau sonsaengnim mengajariku membuat sesuatu,’ berondong Mi Rae. ‘Sesuatu yang spesial. Untuk kuberikan pada hari ulang tahunnya,’ dia memasang wajah memohon.
‘Bukankah dua minggu ini aku sudah terus mengajarimu?’
Mi Rae menggeleng. ‘Aku ingin sesuatu yang lain. Aku sudah mencoba semua masakan itu di rumah.’
‘Benarkah?’ Hyung Joon menatapnya tak percaya.
‘Tidak,’ Mi Rae nyengir. ‘Aku bohong.’
‘Oh, ayolah, sonsaengnim,’ Mi Rae kembali memohon. ‘Ajari aku membuat sesuatu.’
Hyung Joon mengerutkan kening seolah sedang mempertimbangkannya. ‘Baik, tapi…’ Tinju kemenangan Mi Rae yang sudah teracung terhenti di udara. ‘Tapi apa sonsaengnim?’
‘Mi Rae, bukankah kita hanya berbeda 2 tahun? Aku tidak ingin mendengarmu memanggilku sonsaengnim kalau kita tidak sedang di dalam kelas. Kedengarannya seolah aku sudah tua sekali.’
‘Oh, lalu aku harus memanggil apa?’
Hyung Joon menatap Mi Rae, tepat ke dalam matanya. Entah bagaimana tatapan itu menimbulkan tekanan yang luar biasa di jantung Mi Rae, membuat darahnya berpacu lebih cepat.
‘Panggil aku Oppa.’ Suara Hyung Joon terdengar jauh sekali bagi Mi Rae, seolah berasal dari pulau di seberang lautan. ‘Hyung Joon Oppa.’
Tiba-tiba kesadaran Mi Rae kembali. Dia bisa merasakan jalan di bawah kakinya, hangat tubuhnya, dan mendengar suara Hyung Joon yang masih melayang-layang di udara sekitarnya. ‘Ah~~ ne, H-hyung Joon Oppa.’
‘Ne, Mi Rae-ah,’ Hyung Joon tersenyum dan mengusap kepala Mi Rae. Rasa panas muncul di daerah itu dan menyebar hingga ke wajahnya. Ah, gawat, apakah wajahnya memerah? Eotteoke?
Mi Rae cepat-cepat memalingkan wajahnya, mencoba berkonsentrasi pada satu billboard yang menampilkan iklan ponsel. Dia bisa mendengar Hyung Joon berdeham. ‘Apa yang mau kau buat?’
Mi Rae menatap kembali lawan bicaranya. ‘Untuk eomma-mu,’ tambah Hyung Joon.
‘Entahlah, Oppa,’ ada suatu rasa menggelitik menyusup ketika Mi Rae mengucapkan kata terakhir. ‘Emmm… apa makanan pertama yang Oppa buat?’
Hyung Joon menelengkan kepala, alisnya bertaut. ‘Makanan pertamaku? Makanan pertamaku adalah… sandwich,’ serunya setelah sesi mengingat selama beberapa detik. ‘Kenapa kau menanyakan itu?’
‘Aniyo,’ jawab Mi Rae lemah. Dia tidak menyangka akan mendengar ‘sandwich’ sebagai jawaban atas pertanyaannya. ‘Aku tadi berpikir mungkin kita bisa membuat makanan pertama Oppa.’
‘Aaa~ tapi sepertinya sandwich terlalu sederhana,’ kata Hyung Joon, salah mengartikan kelesuan Mi Rae. ‘Aku akan memikirkan sesuatu yang tepat untuk kau buat. Tenang saja.’
Tidak, sandwich tidak terlalu sederhana. Sandwich sama sekali tidak sederhana. Sandwich menyimpan terlalu banyak kenangan. Kenangan pedih. Kenangan yang seharusnya dibuang Mi Rae jauh-jauh.
***
Ponsel Mi Rae bergetar. Dalam sekejap benda itu sudah berpindah dari meja ke tangan Mi Rae yang dengan segera membuka inbox-nya. Dari Hyung Joon Oppa, gumam Mi Rae.
Aku sudah menemukan makanan yang tepat.
Jangan lupa nanti malam kau ada kelas khusus denganku kekeke~
Mi Rae membalas SMS itu lalu menghapusnya. Segera setelah SMS itu dihapus, SMS pendahulunya tampak di layar. SMS yang dikirim sekitar satu tahun yang lalu. SMS biasa yang dikirim oleh seorang yang luar biasa bagi Mi Rae. Seorang yang tidak pernah bisa dilupakan Mi Rae seberapapun hebatnya dia berkata pada dirinya sendiri untuk melupakan orang itu. Mi Rae tidak sanggup. Sama seperti dia tidak sanggup menghapus file-file foto namja itu atau nomor ponselnya atau SMS tidak penting di hadapannya ini. SMS yang dia yakin tidak hanya dikirim pada dirinya, tapi juga pada semua teman sekelasnya. SMS yang dikirim pada malam kelulusan mereka dari SMA, malam yang sangat membahagiakan bagi banyak orang, kecuali Mi Rae. Malam itu adalah malam terburuk bagi Mi Rae. Malam di mana dirinya serasa dicabik oleh sepasang tangan tak kasat mata.
♫Cause you were my sun, the moon
Nae jeonbuyeotdeon nae bange itneun
Modeun geotdeuli neol geuriweohanabwa
Neol wihae chatda jichyeoseo neol jamsi ijeodo
Sumgyeonoheun uriwi chueogi
Gadeug nama cause you’re still in my room♫
You were my everything and
Everything in my room seems to miss you
If I get tired putting myself in harms way to find you
and forget for a moment
our hidden memories still linger
cause you’re still in my room)
(song credit: In My Room-SHINee)
Mi Rae memukul pipinya sendiri agar tersadar. ‘Bangun Mi Rae. Bangun. Bangkitlah dan lupakan masa lalumu.’ Dia menghela nafas, mencoba tersenyum lalu menekan tombol ‘back’ beberapa kali hingga layar ponselnya kembali menampilkan wallpaper bergambar foto dirinya, meninggalkan inbox dalam keadaan sama seperti sebelum SMS Hyung Joon menggetarkan ponselnya.
***
‘Sonsaengnim,’ panggil Mi Rae.
‘He?’ Hyung Joon tampak tidak terima. ‘O~~ppa,’ dia meralat Mi Rae.
‘Tapi kan kita sedang…’
‘Aku mengajarimu sebagai teman, bukan guru.’
‘Ah~~ ye. Oppa.’
Hyung Joon tersenyum. Manisssss sekali sampai Mi Rae harus menggigit bibir bawahnya untuk menyeimbangkan rasa kesemutan yang tiba-tiba menyerang dadanya.
‘Kau tadi mau bicara apa, Mi Rae-ah?’
‘Oh,’ Mi Rae tersadar. ‘Apa yang harus kulakukan setelah ini?’ Dia menunjuk adonan yang sudah mengembang di depannya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya sibuk menggerak-gerakkan mixer.
‘Masukkan menteganya,’ jawab Hyung Joon kemudian celingukan mencari benda yang dimaksud. Mi Rae mengikuti langkahnya dan menemukan yang dicarinya di ujung sebelah kanan meja. Dia menggapai benda itu dan ups… dia membentur Hyung Joon yang tampaknya juga sudah menemukan si mentega.
Mi Rae tercekat. Wajah Hyung Joon begitu dekat dengan wajahnya. Selama sekian detik, waktu serasa benar-benar terhenti bagi Mi Rae. Dan dia berharap waktu berhenti selamanya karena ketika dia bisa mendengar lagi suara Hyung Joon yang bergumam, ‘Ups, maaf’, dia juga merasakan panas tubuhnya naik ke kepala. Wajahnya panas sekali.
Mi Rae menerima mentega yang disodorkan Hyung Joon lalu cepat-cepat menghadapi adonannya kembali. Lalu membodoh-bodohkan dirinya sendiri ketika sadar dia lupa mengucapkan terima kasih.
‘Nah, tinggal kita panggang,’ seru Hyung Joon lalu membuka oven.
Mi Rae mengangkat loyang dengan kedua tangannya, hati-hati memasukkan benda itu ke dalam oven. ‘Hati-hati panas,’ Hyung Joon memperingatkan.
‘Selesai..,’ kali ini Mi Rae yang bersorak, puas menatap hasil kerjanya yang sedang menempuh tahap akhir. Dan lega. Setelah insiden mentega itu, suasana menjadi sangat canggung dan menegangkan bagi Mi Rae.
Hyung Joon tersenyum melihat tingkahnya lalu menepuk puncak kepala Mi Rae. ‘Sambil menunggu ayo kita minum sesuatu. Kau mau minum apa?’
‘Emmm… apa ada minuman yang spesial juga?’
Hyung Joon tertawa kecil. ‘Minuman spesial? Apa kau berulang tahun?’
Mi Rae mengerucutkan bibirnya. ‘Apa harus berulang tahun untuk bisa makan makanan spesial dan minum minuman spesial?’ Dia bisa mendengar tawa Hyung Joon yang kini memunggunginya, mengecek isi lemari.
Tiba-tiba ruangan menjadi gelap. Mi Rae tidak dapat melihat apa-apa. Rasa kaget merayapinya, sontak tangannya bergerak mencari sesuatu yang dapat memberikan walau hanya secercah cahaya. Tapi dia hanya merasakan gelap yang semakin pekat, membungkusnya rapat-rapat. Kepekatan itu mencekiknya. Tenggorokannya tersumbat. Paru-parunya serasa dicengkeram dengan erat. Dia tidak bisa bernafas. Oh tidak, tidak, dia tidak mau mati…
…..part 2…..
Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

3 thoughts on “Cooking Class – Part 1

  1. Jerit-jerit sendiri pas joon bilang “panggil aku Oppa”
    kyaaaa~~ siap oppaaa, oppa oppa oppa oppa #dikemplang

    pas banget ni ff castnya babyjun, favorit aku di SS
    kyaaaa~ sayang aku nggak bisa masak kayak Mi Rae >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s