Chapters in My Life – 1

Title            : Chapters In My Life

Author        : Cassie

Cast            : Choi Min Ho, Shin Na Ra

Genre          : Romance

Length        : Twoshot

Disclaimer  : Choi Min Ho is (NOT) mine, but the story is mine.

Sinopsis      : When it’s about time, what should go will go no matter how hard you make a grip on it

Petugas dan perawat yang berjaga di depan pintu dengan sigap menarik sebuah ranjang dorong ke bagian belakang mobil ketika van putih itu mendekat dan berhenti dengan bagian belakang menghadap pintu masuk. Sesaat kemudian tubuh seorang gadis diangkat keluar dari dalam mobil dan diletakkan di atas ranjang dorong. Tubuh gadis itu bergeming. Wajahnya pucat dan di hidungnya terpasang alat yang terhubung ke sebuah tabung oksigen.

Terdengar beberapa suara berseru menyuruh mereka bergerak cepat. Ranjang segera didorong menjauh, bergerak memasuki lorong rumah sakit. Petugas yang tadi berada dalam ambulans melaporkan kondisi si pasien kepada koleganya sementara mereka berlari. Seorang perawat lain bergabung dengan kelompok kecil itu, memberitahukan bahwa si dokter sudah siap di ruang gawat darurat.

Berbagai keributan itu hanya berkelebat di sekitar telinga Min Ho, seorang namja yang sedari tadi setia menemani gadis itu di dalam ambulans dan kini turut berlari di sisi ranjang. Mulutnya terkatup rapat. Jemarinya dengan erat mencengkeram tepi ranjang. Keringat dingin, buah dari rasa cemas yang memuncak, mengalir menuruni pelipisnya. Meski tidak bicara sepatah katapun sejak menelepon ambulans sekitar empat puluh lima menit yang lalu, dalam hati namja itu tidak berhenti menjeritkan doa demi keselamatan gadis yang terbaring di hadapannya.

‘Maaf, Tuan. Anda hanya dapat mengantar sampai di sini.’ Seorang perawat menghentikan langkah Min Ho. ‘Selanjutnya biar kami yang tangani.’ Dikendalikan oleh rasa kalut, Min Ho hanya bisa diam dan menurut ketika perawat itu tersenyum dan berbalik menyusul teman-temannya. Sepasang pintu ganda di depannya tertutup dengan bunyi dua kayu saling beradu seolah menjadi pertanda bagi berakhirnya semua suara dan hiruk pikuk.

Min Ho terduduk lemas pada salah satu kursi di ruang tunggu. Kini dia bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu dan hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan larinya barusan. Digigitnya bibir bawahnya untuk meredam gemuruh di dadanya lalu menyandarkan kepalanya di dinding. Seandainya dia bisa berada di dalam. Seandainya dia bisa menggenggam tangan gadis itu dan berbisik di telinganya, menguatkannya. Memintanya jangan pergi.

Apa yang terjadi di dalam? Apakah mereka sudah berhasil melewati masa kritis ini? Apakah sudah ada kemajuan? Min Ho menajamkan pendengarannya, berharap dapat mendengar meski hanya secuil suara. Tapi nihil. Justru detik jarum jam yang semakin menyiksa batinnyalah yang terus memenuhi rongga telinganya.

Kenapa mereka lama sekali? Seseorang keluarlah dan katakan sesuatu. Tanpa sadar Min Ho mengepalkan tangan dengan erat. Saat itu terasa olehnya sesuatu yang tebal dan cukup keras terselip di antara tangannya. Min Ho membuka mata untuk melihat benda apa itu. Sebuah buku.

Buku yang tadi diberikan Shin Na Ra dengan sisa tenaganya sebelum dia akhirnya jatuh pingsan. Min Ho meneliti buku itu sesaat sebelum membuka halaman pertama. Di situ tertulis besar-besar nama gadis itu dalam huruf-huruf hangul yang ramping dan cantik. Di tepinya, Shin Na Ra menggambar sulur-sulur tanaman dan kupu-kupu dalam berbagai warna. Min Ho tersenyum pahit melihat ini. Dengan susah payah dia menelan ludah lalu membalik halaman.

Maret, 2010

Musim Semiiiiiii!!!!!!

Aku sudah tidak sabar memakai baju terusanku lagi! Dan rok! Dan blouse!

Bye bye jaket tebal..

Bye bye baju berlapis-lapisssss…

Bye bye sepatu boot….

14.03.2010 –> White Day!

Aku ingin tahu apa yang disiapkan para pasien. Hihihi…

10.38

Huwaaa~ mereka memang pasien hebat. Aku heran bagaimana mereka membeli semua hadiah itu.

Jung Min haraboji dari bangsal jantung memberi sebungkus besar marshmallow pada perawat Yoo Hee. Teman seperjuangannya, Jeong Suk haraboji, memberi perawat Sung Ri satu kotak besar coklat berisi kismis. Dia tahu itu favorit perawat Sung Ri! Siapa yang memberitahunya adalah misteri bagi kami. Err… bagi perawat Sung Ri dan teman-temannya maksudku (kekekeke~)

Dan mereka semua yang ada dalam bangsal itu memberi kepala perawat satu ikat bunga besar dan sekotak camilan. Bunganya benar-benar indah! Aku tidak akan pernah melupakan wajah terharu dan mata berkaca-kaca kepala perawat. Dia benar-benar layak mendapatkannya.

Oh, dan kami berpesta marshmallow hari ini. Para ajussi itu bilang marshmallow-marshmallow itu mengingatkan mereka pada pipiku. Aaah~ aku tidak tahu harus bahagia atau sedih.

Yang paling mengejutkan datang dari si kecil Park Chu Young. Dia memberiku sekotak coklat almond dan setangkai bunga! (Padahal bulan lalu aku hanya memberi mereka semua kue coklat buatanku sendiri. Aku sudah cukup bersyukur kue-kue itu tidak memparah kondisi kesehatan mereka.)

Bocah ini. Aku memeluk dan mengecup keningnya. Leukimia menemukan lawan yang tangguh ketika memutuskan untuk hinggap di tubuh kecil Chu Young.

Tapi…

Hadiah paling indah hari ini ternyata datang menjelang sore.

15.47

Aku bertemu dengannya.

Dia… pemain sepak bola itu!

Choi.Min.Ho.

Dia kelihatan sedih.

Tentu saja, dia bergerak dalam kursi roda. Mana ada pemain bola yang bahagia dengan kondisi seperti itu?

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi kuberi dia apelku.

Ternyata benda itu adalah sebuah buku harian. Kenapa Shin Na Ra memberikan ini padanya? Dada Min Ho semakin nyeri. Tingkah gadis itu seperti sedang menyampaikan salam perpisahan padanya. Min Ho membanting buku itu menutup lalu meletakkannya asal di kursi sebelahnya. Pandangannya mulai mengabur. Namun ingatannya sangat jelas. Pertama kali dia menginjakkan kaki di rumah sakit ini dengan cara yang sama seperti Shin Na Ra. Bedanya, saat itu dia sadar.

Sudah tiga hari Min Ho terkurung dalam kamarnya. Tendangan tidak sengaja lawan tandingnya tempo hari tidak hanya  mencederai hamstring-nya, tapi terlebih telah merampas kebebasan dan kesenangannya berlari di lapangan hijau. Min Ho mengarahkan kepalan tangannya pada ranjang. Dia tidak bisa terus berada di dalam kamar seperti ini. Setidaknya dia perlu berkeliling di luar ruangan.

Tak berapa lama setelah membunyikan bel untuk memanggil perawat, seorang perawat muncul di kamar Min Ho. Mereka melalui perdebatan kecil sebelum perawat itu menyetujui permintaan Min Ho untuk keluar kamar dan memanggil seorang teman untuk membantunya mendudukkan Min Ho di kursi roda.

Lagi-lagi mereka harus berdebat ketika Min Ho berkeras untuk berkeliling sendiri tanpa pendampingan. Setelah menjanjikan ini dan itu, akhirnya si perawat kembali menyanggupi permintaan Min Ho. Entah karena dia melihat wajah frustasi pasiennya yang benar-benar sedang ingin sendiri atau karena dia takut melihat urat-urat marah yang mulai nampak di wajah Min Ho.

Sinar matahari dan udara luar membuat mood Min Ho jauh lebih baik. Untuk melepas rasa rindunya pada lapangan rumput, Min Ho menggerakkan kursi rodanya ke taman rumah sakit. Kakinya bagai tersengat listrik begitu melihat hamparan rumput yang meski tidak seluas lapangan bola. Rasanya dia ingin melompat turun dari kursi yang serasa mengikatnya ini dan berlari sekencang-kencangnya. Min Ho memejamkan matanya rapat-rapat. Berjuang keras antara menuruti dan melawan desakan hatinya untuk mencoba berdiri. Saat itulah sebuah suara mengagetkannya.

‘Sedang menikmati jalan-jalan sore, Tuan?’

Seorang yeoja dengan rok terusan berwarna salem dan  rambut dalam kuncir kuda tersenyum padanya. ‘Anda mau ini?’ Yeoja itu mengulurkan sebuah apel padanya. ‘Anda terlihat sangat letih, mungkin apel bisa membantu. Airnya segar dan baunya harum,’ kata yeoja itu lagi karena Min Ho bergeming. Kali ini Min Ho balas mengulurkan tangan, menerima apel itu. Dia tidak memakannya, hanya meletakkan buah itu di pangkuannya.

Mereka melewati sisa sore dengan terduduk dalam diam. Yeoja itu duduk di bangku taman, tak jauh dari tempat Min Ho menghentikan kursi rodanya. Sesekali dia menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk, memandang berkeliling, memakan apelnya, atau diam menikmati hembusan angin. Tapi dia tidak mengajak Min Ho bicara. Dan Min Ho bersyukur karenanya. Tadinya dia sudah kesal ketika yeoja itu muncul, padahal dia sedang menikmati kesendiriannya. Ah, bukan, dia sedang menikmati kebersamaannya dengan hal-hal yang disukainya. Namun kenyataannya, yeoja itu sama sekali tidak mengganggunya. Mereka hanya secara fisik ada di sana.

Ketika matahari telah mengintip di ufuk barat, bersiap menyampaikan salam perpisahan untuk hari itu, Min Ho membuat sedikit gerakan dengan kursi rodanya untuk menarik perhatian yeoja itu. Benar saja, yeoja itu menoleh pada Min Ho. Min Ho segera memanfaatkan kesempatan ini dengan tersenyum padanya, sebagai tanda bahwa dia akan segera pergi dari situ. Yeoja itu balas tersenyum. Sekejap kemudian, baru dia berbicara, ‘Mau saya antar?’ Tapi Min Ho tak menghiraukannya dan terus menggelindingkan roda kursi dengan tangannya sendiri.

Min Ho memejamkan mata, membukanya kembali, lalu menghela nafas. Sungguh bukan pertemuan pertama yang menyenangkan bagi mereka berdua. Saat itu dia sedang frustasi sehingga kemunculan Shin Na Ra bukanlah di saat yang tepat.

Setidaknya, dia berusaha memperbaiki hal itu dalam pertemuan kedua mereka.

Min Ho berjalan tertatih-tatih dengan salah satu sisi tubuh bertumpu pada tongkat. Seperti dugaannya, dia akan menemukan yeoja itu di taman rumah sakit. Kali ini dia memakai kemeja biru langit cerah dan rok putih yang bergerak lembut jika tertiup angin. Dan dia tidak sendiri. Seorang bocah laki-laki kecil sedang mengoceh di pangkuannya.

Min Ho bergerak mendekati mereka. Yeoja itu mendongak ketika merasakan sesosok tubuh menaunginya. ‘Ah, Tuan, kondisi Anda sudah semakin baik kelihatannya,’ sapa yeoja itu, sebuah senyum mengiringi setiap kata yang diucapkannya. ‘Anda mau duduk?’ tawar si yeoja pada Min Ho yang lagi-lagi bergeming. Dia bergeser sedikit untuk memberikan lebih banyak ruang tersisa di bangku taman.

‘Terima kasih untuk apelnya.’ Min Ho yang pada akhirnya memecah keheningan yang lagi-lagi muncul di antara mereka setelah dia duduk. ‘Nona…’

‘Na Ra. Shin Na Ra,’ jawab Shin Na Ra yang selama keheningan tadi sibuk meladeni ocehan bocah yang bersamanya.

Min Ho tersenyum. ‘Apelnya benar-benar segar dan harum.’

Shin Na Ra balas tersenyum canggung. ‘Syukurlah kalau Anda suka.’ Tarikan-tarikan kecil pada bajunya membuat perhatian Shin Na Ra kembali pada anak laki-laki di pangkuannya. ‘Noona, aku tahu siapa Tuan ini,’ tunjuk anak itu pada Min Ho.

‘Kau tidak boleh menunjuk orang seperti itu, Chu Young-ah. Tidak sopan,’ bisik Shin Na Ra seraya menurunkan tangan anak yang dipanggilnya Chu Young itu.

Tapi Min Ho mendengar pembicaraan kecil mereka dan menjadi tertarik untuk bertanya pada Chu Young kecil. ‘Kau tahu siapa aku?’

Chu Young mengangguk. ‘Em. Anda adalah pemain bola terkenal itu. Choi Min Ho.’

‘Kau benar. Aku Choi Min Ho. Dan siapa namamu, pria kecil?’ Min Ho mendekatkan wajahnya pada bocah yang diajaknya bicara.

Chu Young merosot turun dari pangkuan Shin Na Ra. Dia membungkuk dengan hormat pada Min Ho. ‘Joneun Park Chu Young-imnida.’ Matanya berkilat penuh semangat ketika dia menatap kembali pada Min Ho. ‘Suatu hari nanti, aku juga akan menjadi pemain sepak bola yang hebat seperti Tuan.’

‘Seperti kata pemain bola masa depan ini,’ kata Min Ho seraya mengacak rambut Chu Young. ‘Aku Choi Min Ho. Mannaseo bangapseumnida,’ katanya pada Shin Na Ra.

‘Aaa~ Min Ho-ssi. Mannaseo bangapseumnida.’ Shin Na Ra setengah membungkuk padanya. Untuk pertama kalinya sore itu, Shin Na Ra melihat senyum Choi Min Ho.


‘Jadi, apa kau perawat di sini?’ tanya Min Ho. Mereka berjalan menyusuri taman, menikmati siraman cahaya jingga matahari senja itu.

‘Aniyo. Aku…’ Shin Na Ra menggaruk belakang kepalanya. ‘Aku juga tak pernah jelas apa statusku di sini. Aku datang setiap hari. Menengok beberapa pasien.’

‘Memberi mereka apel?’ tebak Min Ho.

Tawa malu Shin Na Ra terdengar. ‘Kadang-kadang. Rumah sakit sudah memberi mereka cukup banyak apel.’

‘Lalu apa yang kau lakukan tepatnya?’ Mereka berhenti di dekat sebuah pohon sakura besar yang ranting-ranting gundulnya sudah mulai dihiasi kelopak-kelopak berwarna merah muda.

‘Mengajak mereka ngobrol. Yah, tidak ada yang spesial. Aku justru merasa seperti pengangguran yang mengganggu pekerjaan perawat dan  ketenangan pasien di sini.’ Shin Na Ra menyingkirkan beberapa helai yang menutupi wajah ke belakang telinganya.

‘Menurutku, kau seperti malaikat yang mengubah tempat ini menjadi eden.’

Sisi wajah Shin Na Ra memanas. Dan ini tidak ada hubungannya dengan matahari yang menyorot mereka sedari tadi. ‘Eh? Anda berlebihan, Min Ho-ssi.’

‘Kau tidak percaya? Tanyakan saja pada malaikat kecil itu.’ Min Ho mengedik pada Chu Young yang sedang berlari mengitari kolam air mancur.

Shin Na Ra tersenyum lalu berseru, ‘Chu Young, hati-hati. Jangan sampai jatuh.’

‘Kenapa dia dirawat di sini?’

Senyum Shin Na Ra melemah. ‘Dia…’

Park Chu Young. Anak itulah yang telah memompa semangatnya untuk segera sembuh dan mensyukuri kesempatan yang diperolehnya. Jika tidak bertemu anak itu, mungkin dia masih memaki atas kondisinya saat itu.

Min Ho juga menemukan tulisan Shin Na Ra mengenai pertemuan kedua mereka ketika pada akhirnya, dia memutuskan untuk membuka kembali buku itu.

17.03.2010

Aku bertemu dengannya lagi!

Ooh~ aku hampir mati saking cepatnya jantungku berdetak. Semoga saja pendengarannya tidak sesuper kakinya.

Oh, bicara soal kakinya… Dia sudah berjalan menggunakan tongkat sekarang. Dan wajah murung itu sudah bisa tersenyum. Tersenyum! Ya, tersenyum! Tahu kan semanis apa senyumnya? Aku hampir saja berlari memeluknya kalau tidak berhasil mengendalikan diri.

Hari ini kami berkenalan 🙂

Dia menyebutkan namanya, ‘Choi Min Ho’ 🙂 🙂 🙂

Aku sudah tahu, tentu saja.

Pada halaman berikutnya, Min Ho menemukan gambar sebuah apel merah besar menghiasi latar belakang lembar itu. Senyum Min Ho terkembang melihatnya, jemarinya bergerak menelusur gambar itu sebelum kembali membaca.

30.03.2010

Dia punya panggilan untukku sekarang.

Yeogwa.

Hahahaha… nama yang aneh..

Tapi aku suka.

Di luar kendalinya, bibir Min Ho tertarik membentuk senyuman membaca kalimat ini. Hatinya tergelitik oleh rasa geli. Bukankah nama yang gadis itu berikan padanya lebih aneh lagi?

Ranting dan dahan pohon sakura di taman rumah sakit kini telah berwarna merah muda seutuhnya.

Beberapa helai kelopaknya terkadang lepas dan jatuh ke bumi atau melayang sejenak terbawa angin sebelum mengikuti jejak teman-temannya. Min Ho menatap pemandangan itu dengan senyum terkembang. Dia akan meninggalkan rumah sakit hari ini. Ironisnya, dia merasa berat melakukan hal yang setengah bulan lalu sangat didambakannya. Sampai dia melihat pohon sakura ini dan mendapat ide. Sekarang dia sedang menunggu idenya itu terealisasi.

‘Min Hooo…’ Min Ho menoleh pada suara yang berteriak memanggilnya. Shin Na Ra sedang berlari ke arahnya membuat ekor kudanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. ‘Min Hoh,’ engah gadis itu begitu berhadapan dengan Min Ho. Dia membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Nafasnya terdengar sangat keras dan tidak teratur. Setiap tarikan terdengar sangat dipaksakan.

‘Kau berlari dari mana? Kedengarannya lelah sekali.’ Min Ho memegang kedua lengan Shin Na Ra, membantunya menjaga keseimbangan. ‘Mau minum?’ Shin Na Ra menggeleng. Mimik mukanya menunjukkan bahwa dia sedang berkonsentrasi mengendalikan nafasnya.

‘Ayo kita duduk,’ usul Min Ho mulai cemas. Dia bersiap membimbing Shin Na Ra ke bangku taman, namun gadis itu menghentikannya. Dia memejamkan mata, menjepit hidung dengan ibu jari dan telunjuk, lalu membuka mulutnya. Melalui mulut itulah dia bernafas. Min Ho hanya dapat mengamati sementara Shin Na Ra melakukan aksi penyelamatan untuk dirinya sendiri.

Setelah 30 detik yang terasa berjam-jam, Shin Na Ra membuka mata dan membebaskan hidungnya. ‘Hmph…’ dia membuang nafas keras-keras.

‘Gwaenchanhayo?’ tanya Min Ho.

‘Ne,’ Shin Na Ra mengangguk. Lalu dia tersenyum lebar untuk meyakinkan lawan bicaranya. Ketika melihat keraguan masih terlintas di wajah Min Ho, Shin Na Ra meneruskan bicara, ‘Aku baru tahu kau akan pulang hari ini,’ katanya setengah cemberut. ‘Dan perawat Yoon bilang kau ingin bertemu denganku di sini. Jadi aku buru-buru ke sini. Aku takut kau sudah pulang duluan.’

‘Dan kenapa kau takut?’ Tangan Min Ho bergerak mengambil sehelai kelopak sakura yang terjatuh di puncak kepala Shin Na Ra.

‘Aku…’ Shin Na Ra menolehkan wajahnya ke tanah. Puncak kepalanya terasa geli.

‘Aku akan menunggu sampai kau datang. Jadi kau tidak perlu berlari.’

‘Ada apa sebenarnya?’ tanya Shin Na Ra, berusaha mengalihkan perhatian dari rasa kikuk yang tiba-tiba menyerangnya. Min Ho tersenyum, perhatiannya kembali mengarah  pada rerimbunan sakura.

Bunga sakura hanya mekar dalam seminggu kemudian gugur dan meninggalkan ranting dan dahannya dalam kondisi telanjang lagi. Namun dalam satu minggu itu, bunga berwarna merah muda ini memberikan banyak keceriaan dan senyum bagi orang-orang yang memandangnya. Tak heran namanya jadi termasyur dibanding bunga-bunga yang lain.

Keelokannya yang menghiasi jalanan kota menjadi simbol khas musim semi. Kemunculannya yang sangat singkat dalam satu tahun selalu dinanti. Setiap orang tak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati keindahan bunga ini. Puluhan keluarga mengadakan piknik mereka di bawah rerimbunannya. Pasangan-pasangan yang sedang memadu kasih memperkaya memori indah mereka dengan melangkah di antara jajaran pohon itu dalam tangan saling mengait. Tak ketinggalan, sekumpulan remaja yang menghabiskan jam setelah pulang sekolah mereka dengan tertawa bersama teman-teman sambil menikmati pemandangan sekali setahun itu. Seperti yang tampak oleh Min Ho dan Shin Na Ra hari itu. Anak-anak itu masih mengenakan seragam sekolah mereka. Kemeja berwarna biru cerah dipadu rok kotak-kotak biru navy untuk yeoja dan celana panjang untuk namja. Tak ada jas tebal yang menutupi tubuh. Atau berjalan cepat agar segera tiba di dalam ruangan untuk menghindari hawa dingin di luar. Segala atribut dan kebiasaan di musim dingin telah lenyap. Berganti dengan keceriaan dan harapan musim semi yang bermekaran bersama dengan bunga aneka warna.

‘Sayang sekali kita kehabisan tempat,’ ujar Min Ho, mengacu pada lapangan tempat orang-orang berpiknik menikmati bunga sakura yang baru mereka tinggalkan.

‘Begini juga tak apa kok.’ Shin Na Ra menengadah, menikmati beberapa helai sakura dan sinar matahari yang jatuh ke wajahnya. Hangat. Dia suka perasaan damai seperti ini. Sekelilingnya begitu hening, hanya ada suara angin yang menderu lembut di telinganya. Suara tawa dan obrolan orang-orang terdengar jauh sekali, seakan berasal dari dimensi yang lain.

Tiba-tiba dia mengerjap. ‘Bagaimana dengan kakimu?’ tanyanya panik pada Min Ho. ‘Sebaiknya kita mencari tempat duduk. Itu di sana,’ tunjuknya pada sebuah bangku taman tak jauh dari mereka.

Min Ho tersenyum kecil. ‘Nan gwaenchanha. Hajiman… duduk bukan ide yang buruk. Kajja.’ Shin Na Ra mengangguk dan memulai langkahnya di sisi Min Ho. Tak disangka-sangka Min Ho menyelipkan jemarinya di sela-sela jari Shin Na Ra. Gadis itu sontak menoleh. Namun namja yang dipandangnya hanya menatap santai ke tempat tujuan mereka. Shin Na Ra menekuk kepalanya sehingga yang ada dalam jangkauan penglihatannya kini hanyalah sepatu dan jalanan di bawahnya. Rasa kesemutan menjalar di bagian tengah dadanya. Dia menghisap bagian dalam mulutnya untuk menahan senyumnya mengembang terlalu lebar.

Mereka tiba di bangku tujuan bersamaan dengan sepasang lansia. Pasangan kakek dan nenek itu tampak sangat kelelahan. Raut wajah mereka tampak sangat lega ketika melihat sebuah tempat untuk melepaskan lelah. Beberapa senti dari bangku, si kakek terhuyung membuat istrinya yang sama lelahnya dengan dirinya turut kehilangan keseimbangan. Berbekal pengalaman di rumah sakit selama bertahun-tahun, dengan sigap Shin Na Ra meraih lengan si nenek sebelum tubuhnya menyentuh tanah. Sementara si kakek sudah diselamatkan oleh Min Ho yang refleknya sudah terlatih dalam setiap latihan dan pertandingan bola yang dijalaninya. Bahkan si kakek sudah duduk dengan nyaman di bangku, meski nafasnya masih terengah-engah. Dia tersenyum penuh terima kasih sekaligus lega ketika istrinya menyusul duduk di sebelahnya.

Ucapan terima kasih yang datang dari sepasang tenggorokan yang telah lama digunakan terus ditujukan pada Min Ho dan Shin Na Ra. Keduanya tersenyum dan membalas ungkapan tulus itu. Setelah keramahtamahan yang berlangsung beberapa menit, mereka membungkuk berpamitan. Sebelum pergi, Shin Na Ra menarik sesuatu keluar dari tasnya. ‘Ini, haraboji, halmoni, apel bagus untuk kekuatan paru-paru,’ katanya menyodorkan dua butir apel pada pasangan di hadapannya. Sekali lagi mereka mengucapkan terima kasih.

‘Aku suka melihat pasangan kakek dan nenek seperti itu,’ kata Shin Na Ra begitu mereka di laur jangkauan pendengaran objek pembicaraan. ‘Mereka terlihat… abadi. Kesetiaan, kepercayaan, dan kebersamaan adalah hal-hal yang selalu terlintas saat aku melihat mereka. Saling mengisi ketika dunia sudah tidak lagi memandang mereka. Berjalan bersama dalam langkah mereka sendiri meski dunia bergerak amat cepat di sekeliling mereka.’ Shin Na Ra menarik nafas di ujung kalimatnya.

‘Bukan sesuatu yang mustahil untuk kau miliki, kan? Kau hanya perlu menemukan orang yang tepat.’ Shin Na Ra menanggapi kata-kata Min Ho ini dengan senyum lemah. Ada nanar dalam sinar matanya. Suatu ekspresi yang saat itu belum dapat dimengerti Min Ho.

‘Kau mau?’ Sebuah apel muncul di hadapan Min Ho. Kali ini Min Ho langsung mengambil dan menggigitnya. Air apel yang segar langsung memenuhi rongga mulutnya. ‘Kau sangat suka apel, ya?’

Shin Na Ra yang saat itu sedang menggosokkan permukaan apel ke bajunya tersenyum lalu memulai gigitannya sendiri. ‘Hmmm, kalau begitu aku akan memanggilmu yeogwa,’ gumam Min Ho. (A/N: yeoja+sagwa)

‘Mwo? Yeogwa?’

‘Ne, gadis apel.’ Min Ho tersenyum lebar dan menyejajarkan level matanya dengan Shin Na Ra. ‘Baegopeuda. Aku lapar,’ katanya ketika menarik diri ke posisi semula. ‘Ayo kita makan.’

‘Ya, tunggu aku.’ Shin Na Ra berjalan sedikit lebih cepat untuk menyusul Min Ho yang sudah lebih dulu mengambil langkah.

Dalam sekejap mata mereka telah berada di sebuah kedai mie. Bahkan Min Ho sudah menandaskan mangkuk pertamanya dan sedang menyiapkan sumpit untuk memulai yang kedua.

‘Kau sangat suka ramyeon ya?’ Shin Na Ra tertegun melihat helai demi helai mie yang meluncur masuk kerongkongan Min Ho dengan mulus. ‘Waktu di rumah sakit kau juga makan ramyeon dengan lahap.’

‘Ramyeon di sini adalah yang paling enak di seluruh Seoul.’

‘Hmmm,’ Shin Na Ra menusuk-nusukan ujung sumpit ke bibirnya. ‘Kalau begitu aku akan memanggilmu namyeon,’ katanya, mengimitasi Min Ho.

‘Mwo? Namyeon?’ tanpa sadar, reaksi Min Ho pun sama dengan Shin Na Ra.

‘Ne, atau ramja. Kau mau yang mana?’ Mata Shin Na Ra membulat senang.

‘Bagaimana bisa aku menjadi namyeon atau ramja?’ protes Min Ho.

‘Tapi kau memanggilku yeogwa,’ balas Shin Na Ra tak mau kalah.

Sanggahan Min Ho berikutnya mengawali perdebatan panjang mereka sore itu.

Senyum di wajah Min Ho bercampur dengan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya. Kejadian itu seakan sudah bertahun-tahun lamanya. Saat itu mereka, ah bukan, dia lebih tepatnya, dapat tertawa dengan bebas tanpa tahu bayang-bayang gelap yang siap mengambil tawa itu kapan saja.

Di halaman berikutnya, Min Ho mendapati satu kalimat yang ditulis dengan huruf latin besar-besar. Kalimat itu memenuhi dua halaman buku sekaligus.

A NEW CHAPTER IN MY LIFE

Awan-awan dan bintang bertebaran di sekitar tulisan itu. Beberapa kalimat berukuran lebih kecil disisipkan di bawahnya.

Kurasa saat ini akan menjadi masa yang baru

Dengan adanya seseorang yang baru dalam hidupku

Kurasa…

Suatu perasaan yang aneh menyisip ke dada Min Ho membuatnya segera membalik halaman. Tepat saat ia akan mulai membaca, bunyi dua kayu beradu terdengar. Seolah ini merupakan alarm baginya, Min Ho segera bangkit dan menemui perawat pertama yang keluar dari ruang gawat darurat. Meninggalkan buku harian Shin Na Ra terbuka pada bagian yang hendak dibacanya tadi. Di situ tercetak dalam tulisan yang seolah ditulis oleh tangan gemetar.

23.27

Bisa terjadi kapan saja sekarang.

Serangan yellow pi dust.

Orang-orang mungkin akan terserang penyakit pernapasan.

Tapi aku…

Paru-paruku mungkin akan membunuhku

•Part 2•

Advertisements

One thought on “Chapters in My Life – 1

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: