Posted in fiction

My Only Wish

Aku memandangi piala baruku yang berkilau dengan cantiknya di meja lalu menghela nafas. Oppa bahkan tidak datang pada Baeksang Award kemarin. Dan apa artinya penghargaan Best New Comer itu tanpa Oppa yang bisa kupeluk untuk meluapkan kebahagiaanku, tanpa senyum Oppa, tanpa belaian lembutnya di kepalaku.

Bersama dengan helaan nafasku yang berikutnya, aku menutup pintu dan melangkah menembus udara malam. Aku menendang batu pertama yang kutemui dengan kesal. Kesal karena Oppa tidak ada di acara yang begitu penting bagiku kemarin. Aku masih ingat bagaimana reaksi yang lain. Bagaimana mereka tertawa, bagaimana mereka turut bahagia bersamaku, bagaimana mereka mengerti betapa penghargaan ini menjadi sesuatu yang sangat spesial bagiku karena datang di saat yang tepat. Tapi Oppa tidak ada. Oppa tidak pernah ada sekarang. Bahkan Oppa tidak ada di hari ulang tahunku!

Sekarang Oppa selalu sibuk bekerja.

‘Kau harus memahami keadaan Hyong. Ada kalanya Hyong tidak bisa bersamamu,’ itu yang dikatakan Lee Hong Ki siang ini. Selain Oppa, cowok yang dekat denganku adalah sahabatku ini, Lee Hong Ki. Pukul 7 pagi dia sudah menerobos masuk rumahku dan menyeretku turun dari tempat tidur, padahal kami baru pulang dari Baeksang Award jam 2 pagi! Dia memang tega! ‘Hari ini kan ulang tahunmu, kau harus menikmatinya seharian penuh,’ begitu jawabnya ketika aku memprotes. Hong Ki… dia yang selama ini bersamaku ketika Oppa tidak ada.

‘Baik, menurutmu bagaimana sebaiknya aku menikmati hari ini?’ tantangku dengan tangan terlipat di dada.

‘Makan es krim…,’ jawabnya dengan senyum lebar dan tangan bergerak ke mulut seolah sedang melahap sesuatu.

‘Asiiiikkkkk kau mentraktirku?’

‘Tentu saja kau yang mentraktirku,’ katanya sambil memukul kepalaku. ‘Memangnya siapa yang berulang tahun?’

Aku memegang kepalaku dan membalas, ‘Justru karena aku berulang tahun makanya kau harus mentraktirku.’

‘Gadis yang berulang tahun merayakan pertambahan umurnya. Karena itu, dia harus mentraktir temannya.’

‘Begini saja, aku mentraktirmu karena aku ulang tahun dan kau mentraktirku karena aku ulang tahun.’

‘Sepakat,’ jawabnya cepat lalu tertawa. Dari tatapannya, aku tahu dia memikirkan kata ‘dasar bodoh’ yang tak terucapkan. ‘Ayo,’ katanya seraya merangkul leherku.

Dalam sekejap mata kami sudah tiba di Baskin Robbins dan menghabiskan satu liter es krim berdua. Entah kenapa ingatan ini membuatku bergidik, meski udara musim panas sangat hangat di sekelilingku.

Aku menautkan kedua lenganku dan berjalan semakin jauh menyusuri jalan yang sangat kukenal. Sebenarnya tidak adil juga kalau aku bersungut-sungut seperti ini. Hong Ki sudah berbuat banyak untuk membuatku menikmati hari ini.

Kami pergi ke taman ria usai makan es krim dan dia membawa semuanya! Semuanya! Semua orang yang kukenal di Korea: Yoon Eun Hye Eonni, Kim Jeong Hoon Oppa, Park Eun Hye Eonni, Jang Geun Seok Oppa,….

“Nuna!” Jantung serasa meninggalkan tempatnya ketika mendengar suara ini. Aku tidak percaya. Hong Ki bahkan mengajak Hanguk namja paling manis ini.

“Sudah berapa kali kubilang? Jangan panggil aku nuna,” ajaibnya suaraku terdengar sangat wajar ketika berbicara.

Choi Min Ho tersenyum. “Lalu apa aku harus memanggilmu dongsaeng?”

Aku memandangnya dengan tatapan kesalku yang biasa, yang hanya untuknya. Dia tertawa lalu memelukku dan memberi ucapan selamat ulang tahun.

Kami melalui hari yang mengagumkan (setidaknya menurutku). Aku hanya berharap Oppa ada untuk membuatnya sempurna. Hong Ki sepertinya tidak main-main dengan kata-katanya mengenai menikmati hari ini sepenuhnya. Usai bermain, kami pergi makan malam.

Entah bagian dari rencana sahabatku itu atau bukan tiba-tiba Min Ho berdiri dan berkata, “Untuk gadis yang berulang tahun hari ini, aku tahu kau tidak suka aku menganggapmu sebagai nunaku, hajiman… hanbonman… ijinkan aku memanggilmu nuna. Yang terakhir kalinya, aku janji,” tambahnya cepat ketika mimikku memprotes.

Yang dilakukannya berikutnya membuat semua protesku lenyap dalam sekejap. Nuna Neomu Yeppeo mengalun dengan indah di dalam ruangan itu, mengalir dari celah di antara senyum Min Ho.

Pendengaranku tiba-tiba kabur. Kabur karena otakku sibuk meragukan hal ini, meragukan kenyataan bahwa Choi Min Ho menyanyikan lagu itu untukku. Untukku! Oleh Choi Min Ho!

Entah sudah berapa lama aku mengharapkan ini. Aku selalu berpikir jika benar terjadi maka ini akan jadi hadiah terindah untukku. Tapi nyatanya… aku masih tetap merasakan sesuatu yang kurang. Sesuatu yang hilang…

Aku tiba di taman yang kutuju dan duduk di salah satu bangkunya. Sekarang pukul 11.30 malam dan di hadapanku, si sisi seberang sana, seorang gadis kecil dan kakak laki-lakinya sedang berkejar-kejaran sambil tertawa gembira. Dadaku langsung sesak. Aku tidak mau sendirian. Tidak mau. Kenapa yang lain pergi? Lalu apa makna menikmati hari ini seharian penuh kalau mereka meninggalkanku setengah jam sebelum hari ini berakhir?

Aku tidak sendirian. Sebuah suara muncul entah dari bagian mana di dalam diriku.

Bukankah Oppa sudah berjanji?

Waktu itu kami baru saja menyelesaikan balap sepatu roda kami dan duduk kelelahan di sini. Tepat di bangku yang kududuki ini. Keadaannya pun mirip dengan saat ini, hening, hanya bintang-bintang yang terus berkedip di langit malam. Tiba-tiba Oppa berkata, ‘Aneh, kenapa orang mengucapkan permohonan pada bintang yang jatuh?’.

Aku mendongak dan melihatnya sedang menatap jauh ke langit. ‘Seharusnya mereka mengucapkannya pada sesuatu yang bergerak naik, iya kan?’ Oppa menoleh menatapku, tersenyum sekilas lalu menatap langit lagi. ‘Kalau kau punya kesempatan di mana satu permintaanmu bisa terkabul, apa yang akan kau minta?’ kembali Oppa menatapku.

‘Ah, itu… entahlah Oppa, aku punya banyak keinginan yang ingin sekali kucapai. Mendapat Baeksang Award misalnya,’ cengirku. Saat itu, Oppa menatapku, tersenyum. ‘Kau harus berkerja keras kalau begitu,’ katanya seraya mengusap kepalaku. ‘Fighting!’

Aku membalas senyum Oppa dan mengangguk. Tapi sesuatu mengganjal dalam diriku. Jika satu permintaanku dapat dikabulkan…

‘Jika satu permintaanku dapat dikabulkan aku akan meminta Oppa untuk jadi oppaku.’

Oppa menatapku dengan wajah terkejut dan bertanya-tanya waktu itu, ‘Apa?’

‘Oppa mau jadi oppaku? Jadi kakak laki-lakiku?’

‘Jadi oppamu? Memilikimu sebagai dongsaeng?’

Aku mengangguk ragu-ragu. ‘Sejak dulu aku selalu ingin punya kakak laki-laki. Seorang kakak yang akan menemaniku bermain sepatu roda setiap hari, menemaniku makan es krim, menemaniku… menemaniku ke manapun, melakukan apapun.’ Aku nyengir. Nyengir pada kebodohanku yang telah mengucapkan kata-kata bodoh.

Oppa tersenyum. ‘Kau harus memikirkan permintaan yang lain.’ Kemudian mengacak rambutku. ‘Karena permintaan yang itu sudah terkabul.’

Aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi saat itu. Semua sangat kabur. Semua terjadi begitu cepat. Tapi yang jelas aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak sanggup. Aku hanya memeluk Oppa. Memeluk Oppa erat. Dan sejak itu aku memanggilnya Oppa, Oppa karena dia adalah kakak laki-lakiku.

‘Nah, Oppa-mu ini akan menemanimu mencapai keinginanmu yang banyak itu.’ Kata-kata Oppa itu bergema dalam pikiranku. Terasa kuat sekali dalam keheningan malam ini. Ingin rasanya memukul-mukul pohon besar di depanku. Ingin rasanya…

‘Aku tahu kau akan ada di sini.’ Aku menoleh cepat ke arah yang menurutku merupakan sumber datangnya suara.

Oppa muncul dari balik pohon. Tersenyum. Senyumnya hangat. Selalu hangat.

‘Oppa,’ bisikku.

‘Saengil chukahae,’ Oppa bergerak mendekat lalu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Aku terperanjat. Seribu burung kertas.

‘Seribu. Satu keinginan satu burung. Apakah cukup? Kalau tidak, aku akan membuat lagi hingga cukup.’Aku tidak bisa berkata-kata. Lidahku kelu.

Oppa berlutut di hadapanku sehingga pandangan kami sejajar. ‘Mianhae. Mianhae karena tidak bisa menemanimu kemanapun, melakukan apapun. Tidak ada saat kau menerima penghargaan yang kau impikan. Tidak ada di hari ulang tahunmu ini.’

Aku menggeleng. ‘Tidak. Tidak, Oppa. Aku yang harus minta maaf. Aku… Aku…’ Oppa menghentikanku. ‘Katakan saja gwaenchanha, Oppa, gwaenchanha. Aku memaafkanmu.’

‘Tapi…’

‘Waktumu kurang dari setengah jam untuk merayakan ulang tahun dengan oppamu ini. Apa kau mau melewatkannya dengan berdebat?’

Kerongkonganku tercekat. Dadaku sesak. Oppa kenapa kau begitu baik? Kenapa senyummu begitu penuh kasih sayang? Kenapa seharian ini aku sibuk menggerutu dan marah kepadamu? Oppa…

Mataku serasa tertusuk-tusuk sekarang. ‘Hei… kenapa menangis?’ bisik Oppa lembut seraya mengusap air mataku.

‘Oke,’ kataku dengan suara tercekat. ‘Aku mau minum soju dan makan ramyeon, jalan-jalan ke Bushan, wisata ke Jeju, main-main ke taman bermain,’ sengalku sambil menunjuk satu burung tiap kali menyebutkan permintaan, ‘melihat festival kembang api, main layangan di pantai, nonton resital piano, naik sepeda, mendaki gunung…’ aku berhenti dan menatap wajah Oppa yang mendengarkan dengan sungguh. Dengan senyum mengembang. Aku meletakkan kedua tanganku di pipinya. ‘Aku hanya ingin permintaanku yang satu ini terkabul. Aku ingin Oppa tetap jadi oppa-ku,’ aku mendekatkan wajahku, ‘selamanya.’

Oppa tersenyum. Senyumnya maniiiisssss sekali. ‘Baik,’ kata Oppa lantang. ‘Aku, Kim Nam Gil, adalah oppa-mu.’

‘Selamanya,’ tambahnya.

Aku balas tersenyum dan memeluknya erat. Eraaaattttt sekali. Aku punya oppa. Aku punya oppa. Kalimat itu terus berpacu dalam jantungku. Aku punya oppa!

Oppa melepaskan pelukanku. Oppa mengacak rambutku lembut dan berkata, ‘Dongsaengku tersayang, ayo kita makan ramyeon.’

Aku mengangguk dan kami beranjak menuju kedai mi kesayangan kami. Beberapa langkah berjalan aku berhasil membuat Oppa menggendongku. Kebahagiaanku meluap, meledak dalam tawa.

Di punggung Oppa yang hangat aku berbisik dalam hati, “Oppa saranghae. Gomawo karena mau jadi oppa-ku.”

♫Happy Together-Super Junior♫

oneuldo nal gida lyuhjoon neh moseub nan giukheh

i remember the image of you who waited for me again today

gaggeumshik himi deul ddehmyun nan hangsang nul senggakheh

from time to time, when things get though, i always think of you

gomawuh gibbeul ddehmyun dagatchi ootgo uhnjena sarang haneun mam choongboonheh thank you..

when i’m happy we all laugh together.. and loving hearts are always

abounding geujuh batgiman hetdun nuh eh maeum ijen da dollyuh joolgeh

now, having just received your heart, i’ll give everything back to you

jogeum duh gaggai sarang nuhwa nehga jigeum idehlo hangsang nuhleul jikyuhjoolgeh

a little bit closer, love.. i’ll always protect you so we’re like how we are now

ddehloneun jichyuhsuh apeugo himdeulmyun geujuh nun gidehmyun dweh

when you’re feeling exhausted and hurt and pained.. all you have to do is lean on me

youngwonhi HAPPY TOGETHER

always, HAPPY TOGETHER

jogeumman daleul bboonindeh chagaoon geu shisundeul

it’s just a little bit different.. even if those there are cold glares or someone says

geu nooga mwuhla handehdo nuh maneun byunchi ankil

something, i just hope that you wont change

gomawo himdeul ddehmyun dagatchi oolgo uhnjena hamggeh hamyuh jikyuh jwuhsuh

thank you.. for crying all together when i’m feeling down.. for always staying together and protecting each other

geujuh batgiman hetdun nuh eh maeum ijen da dollyuh joolgeh

now, having just receieved your heart, i’ll give everything back to you

jogeum duh gaggai sarang nuhwa nehga jigeum idehlo hangsang nuhleul jikyuhjoolgeh

a little bit closer, love.. i’ll always protect you so we’re like how we are now

ddehloneun jichyuhsuh apeugo himdeulmyun geujuh nun gidehmyun dweh

when you’re feeling exhausted and hurt and pained.. all you have to do is lean on me

youngwonhi HAPPY TOGETHER

always, HAPPY TOGETHER

sesangeh galyuhjin noonmool heulligo isseul ddehdo

even when the tears that are hidden from the world flow

noonbooshin geudehga issuh himneh uh ooseul soo itneun

because the dazzling you is with me, i can gain strength and laugh again..

hangsang HAPPY TOGETHER

always, HAPPY TOGETHER

nun na eh junbooya nun na eh chwegoya neh saram geudeh nooga mwuhlehdo neh sarang

you’re my everything.. you’re my best.. my person.. no matter what anyone says, you’re my love~

jogeum duh gaggai sarang nuhwa nehga jigeum idehlo uhnjehlado gyutteh issuh

a little bit closer, love.. i’ll always be by your side so we’re like how we are now

ddehloneun jichyuhsuh apeugo himdeulmyun geujuh nun gidehmyun dweh

when you’re feeling exhausted and hurt and pained.. all you have to do is lean on me

an dwendago malgo shilpeh handa malgo

don’t say that you can’t. don’t say that you’ll fail

nooga mollajwuhdo geuden halsoo itjyo

even if noone acknowledges you, you can do it

ijen byunchi malgo hamggeh oosuh bwayo

now don’t change and smile all together..

yuhgi itneun modoo hangsang hengbok hagi

everyone here will now always be happy

sarang hengbok jigeum bootuh

love, happiness..from now on

sarang hengbok youngwon torok

love, happiness.. forever and ever

sarang hengbok nuhwa nehga

love, happiness.. you and me

sarang hengbok hamggeh hagi

love, happiness.. doing it together

yongwonhi HAPPY TOGETHER

forever, HAPPY TOGETHER

Note: this isn’t just an ordinary fanfic. this is a hope. this is a pray. ^^

Advertisements

Author:

a human being... trying to have a meaningful life...

4 thoughts on “My Only Wish

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s